Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
160. Mimpi (Dea)


__ADS_3

Aska dan Jingga sudah tiba di rumah. Aska sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia benar-benar kelelahan, apalagi para remaja putri dan emak-emak gaul memaksanya untuk meminta foto bersama hingga menimbulkan keramaian yang luar biasa.


"Sayang, aku istirahat dulu, ya.


Aska meminta izin kepada istrinya yang tengah membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Matanya enggan terbuka dan dengkuran pun sudah mulai terdengar.


Sang istri yang baru saja selesai membersihkan tubuh tersenyum melihat suaminya terlelap dengan begitu damainya.


"Kang Tae Mo," gumamnya seraya tersenyum.


Jingga menelisik setiap inchi wajah sang suami. Dia tersenyum ketika memang ada sedikit kemiripan di wajah suaminya dengan salah satu aktor di drama Korea business proposal, yakni Ahn Hyo-Seop.


"Suamiku mirip bintang," kekehnya kecil.


Jingga ikut membaringkan tubuhnya di samping sang suami. Dia menatap wajah suami tampannya dan akhirnya matanya pun terlelap. Tak dia sangka, dia bermimpi bertemu dengan mendiang sang putri, Dea.


Kali ini, wajahnya murung. Ketika Jingga ingin mendekat Dea selalu menjauh dengan menggelengkan kepala.


"Semua ini karena aku, Bunda." Kalimat yang membuat Jingga tidak mengerti.


"Ada apa, Sayang?" Dea semakin mundur ke belakang.


"Jangan mendekat, Bunda. Jangan!"


Dea pun berlari menjauh dengan terisak cukup keras. Dia terus menyalahkan dirinya.


"Dea!"

__ADS_1


Jingga pun terbangun, dia seperti orang linglung sekarang. Aska ikut terbangun dan melihat ke arah istrinya.


"Kamu mimpi apa, Sayang?" tanya Askara. Jingga pun menggeleng. Dia tidak mengerti akan mimpinya kali ini.


Aska merangkul pundak sang istri dan mengusap lembut punggung tangan Jingga.


"Aku bermimpi bertemu Dea." Suara Jingga teramat lirih. "Tapi, Dea tidak mau aku dekati. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri."


Aska menghembuskan napas kasar. Dia mengusap lembut rambut sang istri tercinta.


"Mimpi itu hanya bunga tidur. Jangan terlalu percaya akan hal itu."


Aska seakan memberi pengertian kepada istrinya. Ibu hamil pasti mood-nya berubah-ubah. Inilah yang tengah dirasakan Jingga.


"Kita istirahat aja, ya." Jingga pun mengangguk pelan.


.


Sang ayah yang melihat Gavin tengah menatap langit kamar rumah sakit dengan tatapan kosong bertanya, "Mas, kenapa?" tanyanya.


Gavin menoleh kepada sang ayah. Dia menatap penuh tanya kepada pria yang menjadi panutannya.


"Daddy, tenapa atu bita didit tanan Daddy?" tanya anak itu. Dia meminta maaf karena sang ibu mengatakan bahwa Gavin menggigit tangan Aksa sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Itu dilakukan agar gigi atas dan gigi bawahnya yang menyatu karena itu akan lebih berbahaya.


"Mas badannya panas ketika Daddy pulang dari rumah Opa Tama. Mommy nangis karena bola mata Mas sudah ke atas semua dan hanya berwarna putih." Aksa menunjukkan video anak yang mengalami kejang. Gavin tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Mas bedini?" Aksa pun mengangguk.

__ADS_1


Seingatnya kejadiannya tidak seperti itu. Sore harinya, dia melihat Dea di ruang keluarga. Dea selalu mengikutinya. Anak itu lupa jikalau Dea sudah tenang di surga sana.


Malam hari, dia diajak oleh Dea pergi ke suatu tempat. Di sana Gavin ditunjukkan suatu tempat yang penuh dengan kecebong-kecebong kecil.


"Itu adik kamu," tunjuk Dea ke salah satu kecebong yang ada di sana.


Gavin yang notabene adalah anak yang logis, tidak mempercayai begitu saja. Dia manusia, tidak mungkin adiknya hanyalah seekor kecebong. Kepalanya memang mengangguk agar membuat Dea senang. Namun, ketika Dea menunjuk salah satu kecebong tiba-tiba Dea menangis keras. Dia menangis dan terus menangis.


"Ini salah aku!"


Dea seperti menyalahkan dirinya sendiri. Dia seperti sangat terpukul dengan apa yang dia lihat. Gavin melihat secara seksama kecebong yang Dea tunjuk. Dia telisik dengan teliti dan memang benar, ada perbedaan yang dapat Gavin lihat.


Dia menoleh ke arah Dea. Tubuh Dea masih bergetar. Ketika Gavin menyentuh tubuh Dea untuk menenangkan, ternyata tubuh Gavin panas tinggi dan kejang dan sudah membuat gempar kedua orang tuanya.


"Mas hana diadak te tempat tebon tama Dea," lanjutnya.


"Dea?" ulang sang ayah. Gavin pun mengangguk.


"Anat anteu yan tatina Tatu, tapi tetalan udah puna Dua tati."


Aksa mengerutkan dahinya. Dea sudah lama meninggal, dan Gavin masih bisa berkomunikasi dengan Dea. Apa anaknya ini memiliki keistimewaan seperti Iyan dan Aleesa? Atau memang hanya teman imajinasinya saja.


"Dea nanis, Dea telalu bilan talo ini talahna. Mas dak nelti."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2