Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
237. Ruang Pemeriksaan


__ADS_3

Dokter Eki masih kepikiran dengan ucapan Gavin. Perkataannya seperti sindiran keras untuknya dari seorang anak yang belum genap lima tahun. Kata-katanya sangat mengena ke hati. Aska yang tidak enak hati berulang kali meminta maaf kepada sang ayah mertua. Namun, dokter Eki hanya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa.


Mulut Gavin pedas sekali bagai cabai domba. Turunan yang tidak bisa dielakkan. Bagaimana tidak, dia juga bermulut pedas. Apalagi Daddy dari bocah itu. Belum lagi kakek dari pihak ibu Gavin yang mulutnya lemes seperti ibu-ibu komplek..


"Jangan dengerin apa kata Gavin, Yah," ucap Aska. Dia tidak mau kondisi ayahnya drop karena terus memikirkan perkataan Gavin yang memang benar.


Dokter Eki meresponnya dengan seulas senyum. Dia belum bisa berkata banyak karena dadanya sering terasa sesak. Jingga juga berkata sama seperti sang suami. Dia juga tidak menyalahkan Gavin karena anak itu berkata sesuai pengetahuannya.


"Ucapan Gavin itu memang benar. Ini adalah karma untuk Ayah. Ayah sudah terlalu jahat kepada kalian. Benar kata Gavin, Adzab Allah itu sangatlah pedih."


Perkataan anak kecil itu jujur. Ada pepatah mengatakan bahwa lebih baik jujur meskipun menyakitkan. Itulah yang kini dokter Eki rasakan. Di saat dia menatap wajah Jingga yang sering kali menahan lelah membuat hatinya menangis keras. Otaknya berputar ke masa lalu, apakah ketika mengandung Ayna Jingga juga seperti ini?


Suara pintu terbuka membuat tiga orang yang ada di ruang perawatan menoleh. Salah satu dokter teman dari Radit memanggil Aska. Pria yang tengah fokus pada layar ponselnya menoleh. Begitu juga dengan Jingga.


"Dokter Radit sudah membuat janji dengan dokter obgyn rumah sakit ini. Silahkan Anda bersiap." Aska mengangguk dan Jingga menatap bingung ke arah sang suami.


"Ayah hanya ingin memastikan anak-anak kita sehat," ucap Aska.

__ADS_1


Dari raut wajah Aska pun Jingga melihat ada kecemasan juga kekhawatiran yang suaminya tunjukkan. Begitu juga dengan hatinya. Pasalnya semenjak berdamai dengan ayahnya, anak-anaknya yang berada di dalam perut tak banyak bergerak.


"Pe-rik-sa-lah, Nak." Ucapan terbata keluar dari mulut dokter Eki. "A-yah i-ngin me-li-hat cu-cu A-yah la-hir."


Kalimat sederhana yang mampu membuat Jingga berkaca-kaca. Ucapan yang dia tunggu selama dia hamil. Betapa bahagianya hati Jingga sekarang.


Aska mengusap lembut pundak Jingga. Terlihat ujung mata istrinya berair. "Kita ke ruang pemeriksaan sekarang." Jingga mengangguk dengan senyum yang mengembang.


"Sehat-sehat terus ya anak-anak, Ayah." Tangan Aska sudah mengusap lembut perut sang istri tercinta. "Banyak yang menanti kehadiran kalian, termasuk Opa."


.


Aska dan Jingga sudah berada di ruang pemeriksaan. Dokter wanita yang sudah berumur yang akan memeriksa Jingga.


"Ada keluhan apa?" tanya sang dokter.


"Udah beberapa hari ini pergerakan bayi saya kurang aktif,, dok," jawab Jingga.

__ADS_1


"Kita periksa, ya."


Dokter menyuruh Jingga berbaring di bed yang ada di ruang pemeriksaan. Dia menyingkap dress yang dikenakan oleh Jingga dan menutup bagian bawahnya dengan selimut.


"Kita lihat, ya." Dokter menggerak-gerakkan alat di atas perut Jingga yang sudah membesar.


"Detak jantungnya bagus," ucap dokter tersebut.


"Dok, apa mereka sehat?" tanya Jingga. Raut wajahnya nampak cemas. Aska masih menggenggam tangan Jingga.


"Sangat sehat." Ada hembusan napas lega yang keluar dari mulut Jingga juga Aska. Dokter terus menggerakkan alat di atas perut Jingga.


"Alat kelamiiin mereka terlihat!"


...***To Be Contunue***...


Komen dong...

__ADS_1


__ADS_2