Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
157. Simulasi


__ADS_3

Aska dan Jingga menggelengkan kepala melihat tingkah Gavin Agha Wiguna yang di luar ekspektasi mereka. Dua kakeknya pun ikut menggelengkan kepala tak percaya melihat reaksi dari Gavin.


"Kamu itu, ya. Mana ada diinfus keren," omel Ayanda. Gavin hanya tertawa.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat Aksara masuk ke dalam kamar Gavin Dnegan tangan yang diperban. Rasa bersalah mulai menghampiri hati anak itu.


Aksa menghampiri putranya yang terlihat sendu. Sedangkan dia sudah menyunggingkan senyum yang menawan.


"Maaf," sesal Gavin. Dia tidak berani menegakkan kepala.


Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut Gavin. "Daddy tidak apa-apa," terangnya.


"Apapun akan Daddy korbankan untuk kamu."


Hati semua orang yang berada di sana mencelos mendengarnya. Mereka menatap ke arah Aksa yang sudah ingin menggendong tubuh sang putra. Sudah pasti Riana tidak sanggup berlama-lama menggendong tubuh berat Gavin.


"Gua aja yang gendong Empin." Aska sudah maju dan menyuruh abangnya untuk beristirahat bersama sang istri. Dialah yang akan menggantikan Aksa sekarang. Jingga pun ikut mendekat. Dia juga bersedia menggantikan Riana.


Gio tersenyum bangga kepada Askara. Dia sangat yakin, ketika anak Askara dan Jingga lahir pasti Aska akan menjadi ayah yang luar biasa.

__ADS_1


Aska menggendong Gavin yang sudah terkantuk-kantuk. Riana berkata jikalau Gavin tidak ingin diletakkan. Dia hanya ingin digendong. Maka dari itu, pinggang Riana terasa sakit sekarang.


Jingga terus memperhatikan sikap Aksa kepada Riana. Aksa dengan lembut memijat pinggang Riana. Bibir Jingga melengkung dengan sempurna. Dia berharap suaminya akan seperti itu nantinya. Jingga menatap sang suami yang tengah menggendong Gavin dengan tak mengenal lelah. Aska membiarkan Aksa beristirahat sejenak. Dia tahu luka yang gigitan di tangan Aksa pasti sangat dalam. Hingga harus diperban seperti itu.


Gio dan Rion ingin menggantikan Aska. Namun, anak itu tidak mau. Dia hanya nyaman berada di pelukan Aska maupun Aksa.


.


Aska menyuruh Aksa dan Riana pulang. Dia merasa kasihan kepada kedua kakaknya itu. Riana yang terus meringis dan Aksa yang sama sekali tidak terpejam karena dia takut jikalau Gavin kembali kejang. Ini kali pertama anak itu mengalami demam tinggi.


"Iya, Mbak. Mending Mbak istirahat sampai sore biar aku dan Bang As yang jaga Empin."


"Mommy, Daddy, dak apa-apa pulan ada. Mas tama antel dan anteu ada di tini.


Suara cadel keluar dari mulut Gavin yang baru saja bangun tidur. Rambutnya masih awut-awutan.


"Ya udah, Mas Mommy lap dulu, ya."


"Biar aku aja, Mbak." Jingga melarangnya karena dia tahu keadaan Riana sedang sulit untuk bergerak.

__ADS_1


"Empin lapnya sama anteu aja, mau?" Anak itupun mengangguk.


Jingga mengusap lembut rambut Gavin dan dia menoleh ke arah Riana dengan tersenyum bahagia.


"Jangan pada bandel lu-lu pada," omel Aska. "Anak lu udah ngijinin lu pergi."


Aksa dan Riana pun berpamitan terlebih dahulu kepada Gavin. Anak itu mencium tangan kedua orang tuanya dengan senyum ceria. Ada kelegaan di hati mereka karena sang anak sudah kembali seperti sedia kala.


"Dadah My." Gavin melambaikan tangan kepada sangat ibu. "Dadah Dad."


Gavin bagai anak Jingga dan juga Aska. Istri dari Aska membawa Gavin ke kamar mandi. Dia mengelap lembut tubuh Gavin agar bersih. Kemudian, dia membawa Gavin kembali ke tempat tidur dengan baju yang berbeda.


"Mau nonton Ninja Hatori?" tawar Aska. Gavin pun dengan cepat menganggukkan kepala.


Aska memberikan ponselnya dan biarkan Gavin mencari episode yang ingin keponakannya tonton. Bertepatan dengan itu, bubur sarapan untuk Gavin datang. Dia sudah meraih nampan berisi makanan tersebut.


"Empin, sekarang makan dulu, ya." Anak itu mengangguk. Jika, tengah asyik menonton seperti ini anak itu akan menjadi anak yang penurut.


Jingga menyuapi Gavin dengan sangat telaten. Anak itu juga terus membuka mulutnya. Aska tersenyum dan mengusap ujung kepada Jingga juga Gavin.

__ADS_1


"Simulasi punya anak," ujar Aska. Jingga pun tertawa.


__ADS_2