Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
234. Mengelilingi


__ADS_3

Jingga menunduk dalam, hatinya lebih sakit dari apa yang dia rasakan sebelumnya. Cacian, makian dari sang ayah masih bisa dia terima. Namun, melihat ayahnya tersiksa seperti ini membuat dirinya tidak tega. Punggungnya bergetar sangat hebat.


"Bangunlah, Ayah. Aku sudah memaafkan Ayah." Air mata tidak bisa berhenti menetes. Juga bulir bening di ujung mata dokter Eki mengalir deras.


"Kita mulai semuanya dari nol, Ayah. Kita sama-sama lagi dan aku janji aku akan merawat Ayah."


Sungguh anak yang sangat berbakti. Seumur hidupnya dibuang, tidak dianggap oleh ayah kandungnya. Namun, masih dengan lapang dada memberikan maaf. Malah dia terlihat sangat terluka ketika melihat ayahnya terbaring lemah seperti ini. Ucapan dan nasihat Echa juga Radit membuatnya membuka hati dengan sangat lebar. Dia ingin hidup tenang dan bahagia. Dia ingin seperti Echa, hidup dengan kebahagiaan setelah melewati rangkaian kesedihan yang tak berkesudahan.


"Sebentar lagi aku melahirkan, Ayah. Temani aku, aku tidak ingin sendirian lagi."


Fahrani yang tengah mengintip Jingga dari sela-sela pintu yang dibuka sedikit memegang dadanya. Sedih sekali mendengar ucapan dari istri atasannya tersebut. Dia melihat air mata juga kesedihan Jingga datang dari lubuk hatinya terdalam. Tidak ada kepura-puraan. Itulah cara dua mengungkapkan.


"Kamu layak mendapatkan Aska karena kamu adalah manusia berhati malaikat," gumam Fahrani.


.


Aska sengaja tidak segera kembali ke rumah sakit. Dia masih di rumah sang kakak berbincang dengan Echa juga Radit.


"Jingga itu sama kayak kakakmu," terang Radit. Echa segera menatap tajam ke arah sang suami yang tengah membahasnya. "Pura-pura kuat, tapi aslinya sangat rapuh." Aska setuju dengan ucapan Radit tersebut.

__ADS_1


"Untuk apa menunjukkan kerapuahn kita ke semuah orang? Bukannya dipuji malah akan dibully," sanggah Echa. "Cukup rasakan dan bicara pada diri sendiri. Berdamai dengan kata hati agar semuanya bisa normal lagi."


Aska tersenyum mendengar ucapan dari sang kakak. Setiap kalimat yang dia utarakan menyimpan makna yang menakjubkan.


"Pada intinya berikan ruang untuk dia sendiri. Ketika urusan hatinya selesai, dia akan mencari lu." Hanya hembusan napas berat yang keluar dari mulutnya.


"Gua takut pikirannya yang terlalu berat mempengaruhi kesehatan dan juga perkembangan anak-anak gua." Sebuah ketakutan yang coba Aska utarakan.


"Apalagi semenjak kejadian ini anak-anak gua jarang berbuat onar. Biasanya akan buat Bundanya kesakitan," jelas Aska dengan nada cemas.


"Besok gua akan atur jadwal pertemuan Jingga dengan dokter obgyn rumah sakit di sana," sahut Radit. Aska mengangguk setuju.


"Pak ke sini sekarang!"


Pesan dari Fahrani membuat dada Aska bergemuruh tak karuhan. Rasa cemas, takut jadi satu. Dia segera mencoba menghubungi Fahrani, tapi sama sekali tidak dijawab olehnya. Menghubungi Fahri pun sama saja. Umpatan demi umpatan Aska keluarkan. Wajahnya tidak bisa mendusta.


"Ada apa?" tanya Echa yang ikut cemas.


"Adek harus ke rumah sakit sekarang, Kak." Aska sudah berdiri dengan raut wajah tak enak dipandang.

__ADS_1


"Gua antar." Radit sangat yakin ada yang terjadi di sana. Dia juga tidak akan membiarkan adik iparnya ini mengendarai mobil sendirian dalam kondisi seperti ini. Dia tahu penyakit Aska seperti apa.


"Kak, titip Empin, ya." Dalam kondisi genting seperti ini dia masih mengingat keponakan kesayangannya.


"Iya, Adek jangan khawtir."


Apa dikhawatirkan Radit benar terjadi. Wajah takut bercampur cemas menjadi satu. Dia benar-benar panik. Radit hanya menggelengkan kepala, membayangkan bagaimana Askara mengendari mobil dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa ada tambahan pasien di rumah sakit sebagai korban kecelakaan lalu lintas.


"Tenang sedikit kenapa!" sentak Radit kepada adik iparnya tersebut. "Bentar lagi juga nyampe," lanjutnya.


Sontak Aska pun terdiam. Namun, rasa gelisah masih bisa Radit rasakan. Mobil sudah memasuki area rumah sakit. Aska ingin segera cepat turun dari mobil dan menemui istrinya. Bantingan keras pada pintu mobil membuat Radit memegang dada. Dia mengomeli Aska, tetapi sang pelaku malah berlari begitu saja. Ya, dia bukan berjalan, tapi berlari memasuki area rumah sakit.


Menunggu lift terbuka membuatnya tidak sabar. Aska pun memilih melewati tangga. Tak apa tenaganya terkuras. Dia hanya ingin cepat bertemu dengan istrinya.


Matanya melebar ketika tidak ada Fahri dan Fahrani di sana. Dadanya berdegup sangat kencang. Sungguh dia tidak bisa berpikir. Namun, sedikit akal sehatnya membawanya menuju pintu kamar perawatan sang mertua. Seperti ada yang menuntunnya. Tangannya pun mulai menekan gagang pintu tersebut, dan tubuhnya mematung ketika banyak dokter mengelilingi ranjang pesakitan sang mertua. Ditambah dia melihat istrinya tengah dirangkul Fahrani.


"Ada apa ini? Apa jangan-jangan ...."


****

__ADS_1


Komen lagi boleh dong ya.


__ADS_2