
Lalu ketika Makmun ingin membuka pintunya Bu Alya datang dan berkata,
"Gak usah dibukain itu pelajaran buat Istri Kamu kalau segala sesuatu itu harus izin dulu dengan suami"
"Ya gak gitu juga Mah Aku gak tega lah kalau Lia berada di luar semalaman" wajah Bu Alya pun kini menjadi kesal
"Terserah Kamu lah" ucap Bu Alya dengan suara meninggi setelah itu Bu Alya masuk lagi ke kamar.
Makmun hanya diam tak mengerti Ibunya sampai hati ingin melakukan hal itu kepada Lia, Lia pun terus mengetuk pintu dan memangil suaminya, lalu Makmun membukakan pintu dan memandangi Lia sangat tajam, Lia pun merasa agak takut dengan tatapan itu.
"Sudah selesai jenguk sahabat Kamu itu" Lia langsung menatap Makmun dengan aneh lalu menjawab,
"Kenapa Kamu bicaranya seperti itu Mun?" Makmun masih menahan emosinya
"Besok-besok kalau mau pergi, gak usah bilang Sama Aku, sudah sana Kamu mandi bersih-bersih habis itu makan"
"Aku sudah makan tadi" yang tadinya Makmun ingin berjalan kini Ia menghentikan langkahnya ketika mendengar Lia sudah makan
"Sudah makan, kapan dimana" Lia kini kebingungan kalau Dia jawab jujur pasti akan terjadi pertengkaran
"Makan bersama di Rumah Sakit" Makmun terdiam menatap mata Lia, setelah itu Makmun pun pergi begitu saja meninggalkan Lia.
Lia hanya terdiam memejamkan matanya sejenak lalu berkata,
"Semoga saja Makmun gak permasalahkan Aku pergi tanpa bersamanya" setelah itu Lia pun masuk menutup pintu kemudian segera mandi untuk bersih-bersih badan.
Setelah selesai mandi Lia mendekati Makmun lalu bicara
"Sayang Kamu gak marah kan sama Aku"
"Gak... Aku gak marah" ucap singkat Makmun kepada Lia, Lia merasa belum puas jika Makmun belum tersenyum dengannya
"Kalau gak marah, berarti harus senyum dong" Makmun hanya terdiam tak menjawab ucapan Lia, lalu Lia berkata lagi,
"Katanya Kamu gak marah, terus Aku minta Kamu senyum saja Kamu gak mau" ucap Lia dengan wajah ngambek
Dalam hati Makmun pun ingin sekali tersenyum pada Istrinya tapi dihatinya masih mengganjal sesuatu yang belum ia utarakan akhirnya Makmun berkata,
"Sayang ... apapun yang Kamu minta aku pasti beri, hanya sekedar senyuman setiap hari pun Aku bisa lakukan itu untuk Kamu, tapi Kamu kenapa sih justru membuat aku kesal" Lia langsung menoleh
__ADS_1
"Tadi Kamu bilang gak marah, lalu apa yang buat Kamu kesal" tanya Lia dengan suara sedikit meninggi, Makmun kini menjelaskan unek-unek dihatinya
"Kamu masih tanya Aku kesal kenapa...? Lia Aku gak suka Kamu keluar tanpa Aku, Aku gak Suka Kamu ingin kemana-mana ga izin dulu dengan Aku, apalagi yang baru saja Aku lihat Aku gak suka kalau Kamu di antar atau di jemput sama orang lain, apalagi si Juvi itu" ucap Makmun mengeluarkan semua gerutu di hatinya, Lia pun tertawa sinis lalu mengatakan,
"Aku kan sudah izin sama Kamu Mun, dan Kamu bilang gak apa-apa, dan Aku gak pergi dengan Kamu itu karena Mamah Kamu kan lagi sakit, jadi Aku pikir ya Kamu akan lebih memilih menjaga Mamah dari pada permintaan Aku, terus Kamu bilang apa tadi Juvi... Mun Dia hanya ingin membawa Aku pulang dengan selamat, Kamu janganlah berfikiran negatif Dia itu sahabat Aku, Dia juga pasti tahu batasan, lagi pula Dia juga gak akan mau mengantar Aku kalau Akunya gak izinkan" lalu Makmun melihat Lia dengan sinis dan menjawab,
"Oh... jadi Kamu yang ingin di antar sama Juvi, jadi Kamu yang ke kecentilan begitu sama Dia" Lia pun geram dengan ucapan Makmun
"Kamu itu kenapa sih, Aku gak ngerti tahu gak... sama jalan pikiran Kamu, Aku sudah mengalah kemarin Kita gak jadi pergi, Aku juga sering ngalah sama Mamah kamu kalau bicaranya suka buat Aku sakit hati, terus Kamu suruh Aku seperti apa lagi" Makmun pun terdiam lalu tiba-tiba Dia mengatakan hal di luar dugaan
"Aku mau Kamu berhenti berhubungan dengan teman-teman Kamu" Lia pun tercengang kaget mendengar permintaan Makmun yang tak masuk akal
"Apa... Kamu minta Aku untuk gak berhubungan lagi dengan sahabat-sahabat Aku, Mun dari awal Aku selalu bilang Mereka itu sahabat-sahabat Aku... dan Aku dari dulu sudah meminta tolong jangan pernah Kamu suruh Aku untuk menjauhi sahabat-sahabat Aku... dan Kamu pun mengiakan waktu itu sebelum Kita menikah" Lia berbicara dengan suara tegas
"Tapi sekarang Aku berubah pikiran" ucapan Makmun membuat Lia terkejut untuk kedua kalinya
"Aku merasa gak melakukan kesalahan, Aku merasa masih di batas wajar, sedangkan permintaan Kamu tuh yang sudah di luar batas" ucap Lia dengan membanting tasnya di meja rias, lalu Lia tidur membelakangi Makmun.
Makmun memandangi Lia dari belakang, tiba-tiba Makmun mengatakan sesuatu yang Lia tak mengerti kemana arah pembicaraannya
"Kamu itu sadar gak sih Lia, kalau Juvi itu menyukai Kamu, Dia itu suka Sama Kamu" spontan Makmun berbicara tentang apa yang dirasanya, mendengar ucapan Suaminya itu Lia merasa Dia sudah tak waras, lalu Lia melihat Makmun dengan tatapan tajam
Makmun menghela nafasnya, lalu Dia pun ikut tidur namun sesekali Makmun melihat Lia ingin sekali menegurnya tapi sepertinya kini Lia menjadi marah
"Apa Aku tadi keterlaluan ya, tapi Aku memang gak suka dengan kedekatan Lia dan Juvi" ucap Makmun dalam hatinya, Lia juga mengatakan sesuatu dalam hatinya,
"Kenapa Kamu harus berkata seperti itu sih.. padahal Aku pikir Kamu menerima semua sahabat-sahabat Aku dalam hidup Aku" Lia pun merasa bersedih tak terasa Lia pun tertidur.
Kini Sam sudah sampai di Cirebon dan langsung menuju Rumah Sakit dimana tempat Ibunya di rawat
"Arif dimana Ibu?" tanya Sam dengan wajah yang khawatir Arif merasa senang akhirnya Mas nya datang juga
"Ibu di dalam Mas, kata Dokter Ibu belum siuman" Sam pun bersedih mendengar Ibunya kini masih terbaring tak sadarkan diri, lalu Dokter menghampiri Sam
"Apakah Penanggungjawab Pasien bapak..?" Tanya dokter kepada Sam
"Iya Pak saya Anaknya" kemudian Dokter meminta untuk ikut ke ruangannya sebentar karena Dokter ingin mengatakan hal penting tentang Ibu Fatma Ibu kepada Sam.
Setelah sampai di ruang Dokter, Dokter mengatakan,
__ADS_1
"Pak Sam ada yang harus Saya beritahu mengenai kondisi Ibu Fatma"
"Apa Dok... apakah ada yang serius dengan keadaan Ibu saya" tanya Sam bicara dengan rasa khawatir, lalu Dokter menjelaskan
"Begini Pak, jantung Ibu Fatma Kini sudah rusak keadaanya, apalagi Ibu Fatma kadang tidak datang untuk kontrol Pak, Saya disini menyarankan agar Ibu Fatma melakukan operasi pencangkokan untuk jantungnya, agar bisa terjaga kesehatan Ibu Fatma juga dengan jantungnya" Sam merasa melemah ketika mendengar penjelasan dari Dokter.
"Dokter lakukan apa saja yang menurut Dokter itu bisa membantu penyakit Ibu saya menjadi sembuh"
"Baik Pak Sam, sebisa Kami pasti Kami akan berikan yang terbaik untuk pasien, tapi Pak operasi pencangkokan jantung tidaklah murah, paling tidak Bapak harus mengeluarkan biaya sebesar 40 juta Pak, dan ada resiko juga yang harus di tanggung" ucap Dokter membuat Sam semakin khawatir
"Resiko... maaf Dok resiko apa ya..?" lalu Dokter menjelaskan bahwa operasinya belum tentu berhasil, jika gagal kemungkinan kondisi pasien akan semakin memburuk, tapi jika berhasil... jantung Ibu Fatma akan memompa dengan stabil"
Sam kini bimbang apakah harus menjalani operasi atau tidak, tapi Sam ingin Ibunya kembali sehat, lalu kemudian Sam memutuskan untuk tetap melakukan operasi sesegera mungkin, untung saja Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya kini Ia tak perlu repot pinjam sana sini, setelah selesai berbincang dengan Dokter Sam kembali menemui Adiknya, lalu Arif langsung bertanya prihal obrolan apa yang dibicarakan dengan Dokter.
"Ibu harus operasi Rif operasi cangkok jantung, Kamu doakan Ibu ya, semoga setelah operasi ini Ibu bisa cepat sembuh" ucap Sam kepada Arif lalu Arif memeluk sang Kakak dan mengatakan,
"Amiin Mas... " bicara dengan raut wajah bersedih lalu Arif melepaskan pelukannya dan berkata lagi
"Mas... tapi biayanya... bagaimana..?" tanya Arif dengan wajah bingung, lalu Sam tersenyum dan menjawab,
"Kamu tenang, Mas sudah siapkan biayanya, Kamu gak perlu khawatir, Kamu cukup doakan Ibu supaya cepat sembuh dan Kuliah yang rajin supaya Kamu bisa capai Impian Kamu" ucap Sam dengan penuh kasih sayang terhadap Adiknya.
Kini pagi hari pun tiba, terdengar suara burung berkicau di sekitaran Rumah kediaman Herman Sanjaya, Tini yang masih merasa galau turun dari tangga dengan gairah yang lemas.
"Tini ... perut Kamu masih sakit, sudah dong galaunya dari pada Kamu galau terus lebih baik ikut Arisan yuk sama Mamah" ucap Bu Heni dengan tersenyum kecil
"Gak Mah.. Aku di rumah saja deh, Aku malas mau kemana-mana, perut Aku sudah enakan Kok Mah" tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kediaman Rumah Herman Sanjaya, Herman pun berkata,
"Mah.. itu ada orang bertamu, coba Mamah lihat siapa yang datang" pinta Pak Herman kepada Istrinya untuk membukakan pintu, setelah dibuka Bu Heni pun tak mengenali siapa orang ini
"Maaf Anda siapa, dan cari siapa?" tanya Bu Heni lalu orang tersebut menjawab,
"Selamat pagi Bu... Saya kurir dari Pos, mau mengantar surat dari pengadilan agama Jakarta Selatan" Bu Heni pun terkejut ketika mendengar hal itu lalu meminta surat tersebut
"Mana suratnya, Saya mau lihat" setelah di berikan surat tersebut lalu Kurir meminta tandatangan Bu Heni.
Setelah selesai Bu Heni pun langsung masuk lalu membuka surat tersebut, betapa kagetnya ketika dibaca bahwa surat ini berisi gugatan cerai dari Sam untuk Tini
"Dia benar-benar melakukan ini" ucap Bu Heni dengan suara pelan, lalu Bu Heni menghampiri Tini dan memberikan Surat tersebut di atas meja.
__ADS_1