
"Punya siapa mie dan telur itu?" tanya Aska.
Aleena terdiam, pandangannya masih tertuju pada isi di dalam kantong kresek tersebut.
"Kakak Na," panggilan sang Tante membuat Aleena menoleh ke arah Tante dan pamannya. Wajahnya terlihat sangat murung.
"Ada apa?" tanya Aska lagi.
"Dia sudah menolong Kakak Na," jawab Aleena.
"Siapa?" tanya Jingga juga Aska bersamaan.
"Rangga."
.
Anak laki-laki itu tersenyum ketika melihat seorang pria sudah memeluk tubuh Aleena. Dia juga melihat jikalau Aleena merasa nyaman karena membalas pelukan pria itu. Ketika wajahnya sudah tidak berbentuk lengkungan senyum masih terukir di wajah anak itu. Perlahan dia mulai bangkit dari tempat di mana dia dikeroyok anak punk itu. Dia pergi dengan melupakan kantong keresek yang ada di dalam;am gang tersebut.
Berjalan tertatih dengan menahan rasa sakit di wajah. Dia juga menjadi pusat perhatian semua orang. Hingga dia berhenti di salah satu warung pinggir jalan karena sudah tidak tahan.
"Bu, boleh saya minta air mineral gelas?" tanyanya dengan lemah. "Tapi, saya tidak membawa uang."
Padahal anak itu pantang meminta-minta kepada siapapun. Namun, kali ini dia sudah tidak tahan dan darah di bibirnya nampak tertua mengalir.
__ADS_1
Ibu si pemilik warung pun segera memberikan air mineral yang anak itu minta, Dia menatap iba kepada anak yang seusia dengan anaknya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya sang ibu. Dia juga membantu anak itu mengelap darah yang masih mengalir di ujung bibir anak tersebut.
"Saya diserang oleh anak punk yang ada di gang kecil itu." Anak itu meringis kesakitan ketika ibu pemilik warung itu membersihkan luka di wajahnya.
"Emang anak punk di sana sudah sangat meresahkan. Sudah diusir, tapi datang lagi dan lagi," tutur sang ibu.
"Sudah ada polisi yang berada di sana. Mudah-mudahan mereka ditangkap," ujar anak laki-laki itu.
Anak itu berpamitan kepada sang ibu pemilik warung karena dia tidak enak sedari tadi ibu itu membantunya.
"Rumah kamu di mana?" tanya sang ibu."Biar Ibu antar."
"Tidak perlu, Bu. Sudah dekat kok," tolak halus anak itu.
"Ibu tulus membantu, Nak." Anak itu tersenyum hangat. Meskipun bibirnya masih terasa sakit jika digerakkan.
"Saya bisa pulang sendiri Bu. Sudah dekat kok rumah saya," ucapnya dengan begitu sopan.
"Di mana rumah kamu, Nak?" Si ibu bersikukuh ingin mengantarkan anak itu dan ingin mengetahui rumah anak itu,
"Di panti asuhan Ayah Bunda," jawabnya,
__ADS_1
"Masya Allah, Nak. Naik angkot aja perlu dua puluh menit," ucap ibu itu lagi. Si anak laki-laki itu hantu tersenyum.
"Dekat kok, Bu. Hanya tiga kilometer lagi." Hati ibu itu meringis. Beda halnya dengan anak itu yang malah tersenyum sangat tulus.
"Kalau kamu gak mau diantar, kamu naik angkot aja, ya." Si ibu itupun mengambil uang ke dalam warungnya dan memberikan kepada anak tersebut. Namun, anak itu menolak.
"Tidak perlu, Bu. Lebih baik uangnya untuk membeli barang yang habis di warung ibu ini." Anak itu melihat warung ibu ini sudah kosong, Apalagi ibu itu memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah.
"Nak, tapi-"
"Saya hanya minta air mineral botol sedang boleh?" tanya si anak itu. "Untuk bekal saya di jalan."
Tanpa pikir panjang di ibu itu memberikan air mineral juga air berasa kepada anak itu. Namun, anak itu menolak. Dia hanya mengambil air mineral.
"Makasih banyak, Bu. Semoga jualan ibu laris terus." Anak itu mencium tangan pemilik warung itu dengan begitu sopan. Hati si ibu itu mencelos mendapat perlakuan dari anak malang ini.
"Nama kamu siapa, Nak?" tanya ibu dengan wajah sedih.
"Rangga." Senyum anak itu merekah luar biasa dan mulai melanjutkan perjalannya menuju pantai asuhan di mana dia tinggal.
.
Aska masih memperhatikan Aleena dari spion depan. Dia tengah memangku kantong keresek yang tadi dia temukan. Berisi satu kilo telur dan sepuluh mie instan. Juga ada uang berjumlah dua puluh dua ribu.
__ADS_1
"Kenapa kau pergi, Rangga? Aku belum mengucapkan terima kasih."