Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
246. Dua Pasang


__ADS_3

"Ayah ini--"


"Ya ampun!" pekik dokter Eki. "Bawa istrimu ke rumah sakit sekarang.. Ketubannya udah pecah."


Aska benar-benar panik. Dia segera membawa Jingga ke rumah sakit. Sedangkan dokter Eki segera menghubungi besannya.


Di kediaman Ayanda kepanikan melanda. Kabar melalu grup chat keluarga membuat rumah itu ramai. Gio sudah menghubungi Aska agar dibawa ke rumah sakit yang sudah dia booking. Dokter yang akan menangani Jingga pun bukan dokter sembarangan.


"Mom, bawa perlengkapan cucu-cucu kita."


Aksa hanya menggelengkan kepala melihat ayahnya. Kepada cucu manapun Giondra akan selalu begitu. Apapun yang dibutuhkan sudah dia persiapkan jauh-jauh hari.


Kembali lagi kepada Askara dan Jingga. Suaminya sudah panik sedangkan Jingga malah santai saja.


"Ayah, Bunda ingin kue pukis itu," tunjuknya ke arah gerobak pinggir jalan.


Aska pun berdecak kesal. Di saat seperti ini masih bisa-bisanya sang istri memikirkan perihal makanan.


"Bunda!" sentak Aska. Dia menatap tajam ke arah Jingga.


"Bunda lapar, Ayah." Wajahnya dibuat sememelas mungkin.


Rasa marah dan panik akhirnya melebur. Aska menepikan mobilnya hanya untuk membeli apa yang diinginkan oleh wanita yang sebentar lagi akan melahirkan.


"Makasih, Ayah." Jingga tersenyum ke arah sang suami. "Kan nanti harus puasa sebelum tindakan." Aska hanya menggelengkan kepala mendengar celotehan Jingga. Tidak ada panik-paniknya sama sekali.


Tibanya di rumah sakit, Jingga sudah dijemput oleh seorang perawat. Tidak tahu kenapa dipersalinan kali ini Jingga lebih santai. Dia tidak panik dan memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.


"Bun, ada yang sakit gak?" Aska benar-benar sangat khawatir. Apalagi Jingga mengandung anak yang cukup banyak, yakni empat.


"Enggak ada, Yah." Jingga masih bisa memainkan ponsel. Mencari nama yang indah untuk keempat anaknya.


Seketika hati Jingga dilanda rasa takut. Dia memandangi wajah suaminya yang tengah sibuk menghubungi keluarganya.


"Ayah," panggil Jingga ketika Askara sudah mengakhiri panggilan.


"Kenapa, Bun?" Aska terlihat khawatir karena wajah Jingga yang berubah sendu.


"Maafkan Bunda, ya ... Jika, Bunda melahirkan anak yang tidak sempurna untuk kedua kalinya." Aska menggeleng dengan cepat. Dia menggenggam tangan Jingga dengan begitu erat.

__ADS_1


"Ayah tidak akan pernah mempermaslahkan apapun perihal takdir fisik anak kita, " tutur Aska. "Sekarang yang paling penting adalah keselamatan Bunda dan anak-anak kita." Kecupan hangat Aska berikan di kening Jingga.


"Kapan tindakannya?" Sang ayah sudah masuk ke ruang rawat Jingga sebelum operasi. Giondra tidak datang sendiri melainkan dengan anggota keluarganya yang lain. Anak-anak serta dua menantunya. Juga satu cucunya yang tampan. Ghea tengah diasuh oleh Beby.


"Tiga jam-an lagi." Aska menjelaskan.


Jingga menatap ke arah keluarga suaminya. Mulutnya gatal ingin mengatakan sesuatu kepada mereka. Namun, ada yang belum datang seorang lagi, yaitu ayahnya.


"Ayah, mana?"


Sejahat apapun ayahnya semasa dulu, tetap saja Jingga tidak bisa membencinya. Ketenangannya kali ini karena ada sang ayah di sisinya. Dia tidak merasa sendiri lagi.


"Ayah di sini, Nak." Dokter Eki didorong oleh perawat laki-laki. Senyum Jingga pun merekah. Dia benar-benar bahagia saat ini.


"Mommy, Daddy, Ayah."


Jingga memanggil semua orang tuanya. Dia tersenyum tulus ke arah tiga orang yang sudah tidak muda lagi.


"Jikalau nanti aku melahirkan anak yang tidak sempurna lagi, tolong dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Jangan membenci anak aku, sejatinya dia juga tidak menginginkan lahir seperti itu." Jingga berkata dengan begitu tenang.


"Jika, kalian semua malu mengakui kepada dunia, itu tidak akan menjadia masalah untuk aku. Aku hanya miminta jangan membenci anakku."


Jingga berkata kepada semua orang yang ada di ruang perawatan. Namun, dokter Eki yang merasa tersinggung. Perkataan Jingga seakan tengah mengejeknya.


"Cucu-cucu dari Giondra Aresta Wiguna tidak akan ada yang disembunyikan. Semuanya akan diperkenalkan ke publik." Gio sudah membuka suara.


Jingga tersenyum lega. Ditambah kakak-kakak iparnya tersenyum ke arahnya. Mereka seperti mengatakan hal yang sama seperti Ayanda juga Giondra.


.


Perawat sudah datang menjemput Jingga. Satu permintaan Jingga ketika sebelum dibawa ke ruang operasi.


"Aku ingin ditemani Ayah."


Aska terkejut mendengarnya sedangkan hati dokter Eki mencelos mendengar permintaan yang ada. Antara percaya dan tidak. Dia tidak menyangka.


"Gak apa-apa 'kan Ayah," ucap Jingga kepada suaminya. Aska pun mengangguk. Dia tidak bisa melarang.


Jingga dan dokter Eki sudah berada di ruang operasi. Ini bukan hal aneh untuk dokter Eki. Dia menggenggam erat tangan putrinya. Tak dia lepaskan barang sedetik pun. Jantung dokter Eki berdegup tak karuhan ketika mendengar dentingan peralatan medis. Dia sangat tahu mereka sedang melakukan apa.

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin ditemani Ayah?" tanya dokter Eki kepada putrinya. Jingga hanya tersenyum sembari menatap wajah senja ayahnya.


"Aku ingin mengulang masa kecilku, Ayah."


Deg.


Jantung dokter Eki seperti berhenti berdetak. Melihat wajah putrinya membuat rasa penyesalan semakin meluap.


"Kata Bunda ketika aku lahir Bunda hanya sendirian. Ayah tidak ada di samping Bunda. Sekarang, aku minta Ayah membayar hutang kepada Bunda untuk menemani aku melahirkan." Tidak ada air mata atau wajah sendu yang Jingga perlihatkan. Hanya mimik wajah bahagia yang Jingga tunjukkan.


"Maafkan, Ayah." Begitu lirih suara dokter Eki. Namun, itu dapat didengar oleh Jingga.


"Semuanya sudah lewat, Yah. Aku sudah tidak ingin tenggelam dalam kesedihan. Sekarang, aku hanya ingin bahagia bersama keluarga kecilku juga orang-orang yang aku sayangi. Salah satunya Ayah."


Dokter Eki tak kuasa menahan laju air matanya. Dia mencium dahi Jingga dengan penuh cinta. Dalam hatinya dia selalu berdoa untuk keselamatan juga kesempurnaan cucu-cucunya yang sebentar lagi lahir ke dunia.


"Anak-anak kamu berjenis kelamin apa?" tanya dokter Eki penasaran. Dia terus mengajak bicara Jingga.


"Katanya sih dua pasang."


"Dua cewek dua cowok?" tanya dokter Eki. Jingga pun mengangguk.


Senyum di wajah dokter Eki melebar. Dia benar-benar bahagia. Dia tengah membayangkan pasti rumahnya akan ramai dengan empat cucu dua pasang yang dia miliki.


.


Di luar ruang perawatan untaian doa mertuanya panjatkan. Aska sudah tidak bisa tenang. Dia mondar-mandir bagai setrikaan.


"Duduk kenapa sih, Dek." Echa merasa terganggu melihat adiknya.


"Gak bisa, Kak. Adek tuh khawatir." Wajah Aska pun tidak bisa berdusta.


"Kak, anak-anak Kakak jenis kelaminnya apa? Kak Aska maupun Jingga belum ngasih tahu ke kita loh." Aska pun akhirnya mau duduk. Semua orang nampak penasaran. Menunggu-nunggu apa yang menjadi jawaban.


"Ceweknya cuma satu. Sisanya cowok," jawab Gavin.


"Ish!" decak sang paman. "Itu mah maunya kamu." Aska tidak membenarkan ucapan sang keponakan. Dia mencubit gemas pipi putih Gavin.


"Iya, gak adil. Cucu Mimo ceweknya ada empat, cowoknya cuma Mas. Jadi, Mas doang yang paling tampan. Bosan tahu jadi olang tampan."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ....


__ADS_2