
Sedangkan Tini saat ini tengah galau karena Sam sudah tak berada disisinya lagi, Dia pun penasaran kemana Sam pergi, sepertinya Dia tak mendengar kabar apapun tentang Sam hari ini.
"Aku harus coba cek di rumah Asri apa setelah kedatangan ku tadi, Sam masih di perbolehkan atau tidak ya bertemu Asri" ucap Tini dalam hatinya
Tini pun bangkit dari tempat tidur, lalu Dia bersiap untuk melihat keadaan di rumah Asri.
Saat tengah melewati ruang tengah, Bu Heni sedang menonton tv dengan Pak Herman yang sedang duduk meminum kopi, Bu Heni pun melihat Tini lewat lalu menyapa,
"Tin... Kamu mau kemana, Kamu itu harus banyak istirahat, Kamu kan habis di kuret" lalu Pak Herman menyahuti
"Memangnya Kamu mau kemana sih?" tanya Pak Herman juga Bu Heni
"Aku cari Sam Mah, Pah Aku ingin tahu keadaan Dia" Bu Heni pun langsung berdiri ketika Tini mengatakan tentang Sam
"Tini sudah lah apa lagi yang Kamu cari dari Sam, Kamu mau mengemis dan mengejar Sam lagi seperti waktu itu, sampai membuat Kamu keguguran" Bu Heni berbicara dengan nada emosi, lalu Pak Herman juga berkata,
"Dia tinggal di apartemen Tin"
"Apartemen Pah, kok Aku gak tahu kalau Dia punya apartemen selama ini" sambil membaca koran Pak Herman mengatakan,
"Dia dapat hadiah dari Pak Ammar karena Dia mampu membuat Pak Ammar puas dengan kinerjanya, sebenarnya sangat di sayangkan jika Sam keluar dari Retro karena jujur Papah akui kinerja Sam itu sangat bagus Tin, tapi Papah tidak mau siapapun menyakiti Kamu jadi Papah harus keluarkan Sam dari Retro supaya Dia sadar kalau hanya Papah lah yang bisa memberikan Dia fasilitas hidup yang nyaman" Pak Herman mulai lagi dengan kesombongannya
"Sudah ya, Kamu di rumah saja" namun Tini menolak permintaan Ibunya
"Gak Mah Kau tetap ingin cari udara luar, Aku akan sangat bosan jika di rumah terus" ucap Tini dengan suara tegas, lalu Tini pun pergi meninggalkan Heni yang masih terdiam berdiri, lalu Pak Herman mengatakan,
"Sudah Mah biarkan saja, yang penting Anak kita tidak stres" Pak Herman berusaha menenangkan Istrinya, lalu Bu Heni duduk dan berkata,
"Mamah takut Tini melakukan sesuatu di luar dugaan Kita, Papah tahu sendiri kan sikap Tini seperti apa" namun Pak Herman tak menjawab, lalu Pak Herman melipat koran dan menaruhnya di atas meja.
Sam berusaha menghubungi Asri lewat telepon, ponsel Asri pun berbunyi namun Bu Anita sebelumnya sudah menyita ponsel Asri kini Bu Anita melihat panggilan dari nomor tanpa nama, Bu Anita pun mengangkat panggilan.
"Halo.." seketika Sam terdiam mendengar bukan suara Asri
"Asri apa ini Kamu?"
"Ternyata Kamu tahu ya kalau ini bukan suara Asri, Sam Saya berulang kali bilang tolong Kamu tinggalkan Asri jangan Kamu temui Asri bahkan Kamu hubungin Dia lagi" ucap tegas suara Bu Anita
"Tante Aku sudah pergi ke pengadilan untuk menggugat Tini, Tante Saya serius dengan Asri, Saya mohon Tante jangan pisahkan Kami" Sam memohon kesekian kalinya kepada Bu Anita, namun Bu Anita menjawab,
"Sebelum status Kamu sendiri jangan harap Kamu bisa temui Anak saya, ingat itu... dan ini terakhir kalinya Kamu hubungi Asri, Saya tidak mau dengar alasan apapun dari Kamu, selamat sore!" panggilan pun di putus oleh Bu Anita, dan Bu Anita mematikan ponsel Asri lalu mencabut kartu di dalam ponsel Asri, Sam pun berusaha untuk menelpon Asri lagi, namun yang di dengar adalah
"Maaf nomor yang anda hubungin sedang tidak aktif" Sam pun jadi melemah dan berkata,
__ADS_1
"Asri... sampai kapan Kita tak bertemu, Aku sungguh rindu padamu" ucap Sam dengan raut wajah bersedih.
Lalu Asri datang masuk ke kamar Bu Anita untuk meminta ponselnya di kembalikan
"Mah... Aku boleh minta ponsel Aku?" Asri meminta dengan suara pelan
Bu Anita menatap tajam mata Asri, seakan ingin marah namun Bu Anita takut Asri akan seperti tadi jika keduanya marah
"Ini silahkan Kamu ambil" Asri pun senang lalu mengambil ponsel dari tangan Bu Anita, namun setelah di pegang Dia kebingungan mengapa ponselnya mati
"Mamah sudah cabut kartu di ponsel Kamu, lebih baik Kamu beli kartu baru, dan mulai sekarang Mamah mohon Asri, jangan temui Sam lagi ya, Mamah itu sayang sekali sama Kamu tolong Kamu bisa kan turuti kemauan Mamah" pinta Bu Anita untuk kesekian kalinya namun Asri tak menjawab.
"Kamu sayang juga kan sama Mamah, kalau Kamu sayang Kamu pasti akan ikuti arahan dari Mamah" Setelah cukup lama terdiam akhirnya Asri bicara
"Baik... Aku tidak akan bertemu Sam lagi, tapi Mamah juga harus janji, kalau Sam sudah menepati janjinya dengan keseriusannya, Mamah harus merestui hubungan Kita kan?" tanya Asri memastikan tentang hubungannya dengan Sam, Bu Anita tersenyum lalu mengatakan,
"Iya sayang... kalau memang itu sudah saatnya Mamah pasti akan menyetujui hubungan Kalian, Mamah janji" ucap Bu Anita sambil menggenggam tangan Asri, dan akhirnya Mereka berdua pun berpelukan.
Tini tengah berdiri agak jauh dari rumah Asri Dia sedang memantau dan melihat pergerakan Asri, namun yang Dia lihat suasana sepi seperti tak bertuan
"Apakah Asri ada di dalam, atau dirumah itu sedang tidak ada orang ya" ucap Tini pada dirinya sendiri
Dia merasa sia-sia cukup lama Dia berdiam diri memantau pergerakan Asri namun tak ada hasilnya, Tini pun memutuskan untuk menyuruh orang saja, untuk mengikuti Asri kemanapun Dia pergi, dan Tini langsung menelpon orang suruhannya setelah itu Dia kembali pulang ke rumah.
Sambil menunggu Chandra Lia dan Juvi duduk di ruang tamu rumah Rahma, Juvi pun memulai obrolan
"Gak usah Juv, Dia pasti ga akan mau ikut soalnya Mamah Alya lagi sakit"
"Sakit... sakit apaan? tapi Lo sudah izinkan sama Makmun kalau mau jenguk Asri sama Rahma" Lia pun terdiam Dia ingin sekali rasanya bercerita soal semalam, akhirnya Lia pun berkata jujur
"Sebenarnya Gue sudah izin dari semalam, minta untuk jenguk Asri, tapi karena Mamah Alya sakit terus Papah lembur mau gak mau Gue harus batalin reancana itu, dan hari ini Gue sudah izin sih, cuma gak tau deh Makmun akan marah atau ga sama Gue" Juvi pun menyimak cerita Lia dengan menganggukkan kepala
"Nanti pulang dari rumah sakit Lo saja ya yang antar Gue pulang ke rumah"
"Makmun gimana, nanti Dia marah lagi sama Gue" Juvi merasa tak enak dengan Makmun
"Itu biar jadi urusan Gue, pokonya lo antar Gue saja... ok..." ucap Lia dengan tersenyum.
Chandra pun selesai dari mandinya dan sudah bersiap membawa pakaian ganti Rahma
"Ok.. Gue sudah selesai nih, yuk Kita berangkat"
"Chan.. Gue bareng Juvi ya, sepertinya naik motor lebih segar udaranya"
__ADS_1
"Ok.. silahkan saja" kemudian Lia pergi bersama Juvi.
Saat di tengah jalan Lia merasa lapar dan haus Lia pun meminta Juvi berhenti sejenak
"Ada apa Li" tanya Juvi sambil membuka helmnya
"Gue lapar banget"
"Ya sudah kalau gitu Kita cari tempat makan" lalu Juvi mengajak Lia untuk makan
"Tapi Gue maunya makan nasi liwet sepertinya enak Juv" pinta Lia memilih makanan yang ingin di beli.
Juvi hanya diam kebingungan biasanya Lia selalu mau makan apa saja jika sudah lapar, tapi malam ini Dia minta nasi liwet merasa aneh... tapi ya sudahlah permintaan Lia pun di turuti Juvi dan Mereka berdua mencari rumah makan yang punya menu nasi liwet.
Ketika sampai di Rumah Sakit Chandra turun dari mobil, melihat ke kanan dan ke kiri, namun Ia tak menemukan Lia juga Juvi
"Mereka berdua kemana sih, masa iya nyasar" Chandra bicara pada diri sendiri dengan suara kecil, tak lama Chandra menerima SMS dari Juvi yang berisi
"Chan.. Gue dan Lia lagi cari makan dulu, paling setengah jam lagi kita sampai" Chandra pun tersenyum kecil mengatakan,
"Oh.. jadi si Lia minta ikut pergi sama Juvi mau cari makan dulu" setelah menaruh ponselnya di kantung baju, Chandra pun langsung berjalan menuju ruang rawat Rahma.
Sam mondar mandir di dalam apartemen Dia merasa hati seperti tak tenang, lalu Dia berkata,
"Ada apa ya, kenapa perasaan Aku gak enak" tak lama Arif adik dari Sam menelepon dirinya, Sam pun mengangkat panggilan itu
"Arif... kenapa de.. Kamu telepon Mas" Arif pun bersedih terdengar suara Isak tangis kecil
"Kamu kenapa Rif, Arif jawab" Sam bertanya dengan rasa khawatir
"Mas.. Ibu... jantung Ibu kumat lagi, sekarang Ibu belum sadarkan diri" mendengar berita ini Sam pun menjadi melemah
"Mas akan pulang sekarang, Kamu jaga ibu Ya, tunggu mas" telepon pun langsung di putus, Sam mengemas sebagian pakaiannya untuk di bawa ke Cirebon kampung halaman Sam
"Pantas saja dari tadi perasaan Ku tak enak, ternyata Ibu dalam keadaan tidak baik" ucap Sam dalam hatinya, setelah selesai mengepak Sam pun bergegas pergi.
Saat dalam perjalanan Sam berhenti di depan rumah Asri, Dia turun ingin berpamitan dengan Asri bahwa dirinya akan pulang untuk sementara.
Sam mengetuk pintu sebenarnya Dia gugup karena takut Bu Anita tak mengizinkan untuknya bertemu dengan Asri, Dia berharap Asri lah yang membuka pintu ini.
Ternyata di bukalah pintu itu oleh Bu Anita, Bu Anita pun langsung membelalakkan matanya ketika melihat Sam
"Kamu mau apa lagi kesini, Saya sudah bilang Saya melarang Kamu bertemu Asri"
__ADS_1
"Maaf Tante kalau Saya lancang datang kesini, Saya hanya ingin berpamitan dengan Asri Saya harus pulang ke kampung karena Ibu Saya masuk rumah sakit"
mendengar alasan Sam Bu Anita berubah raut wajahnya yang tadinya seperti tak senang kini menjadi merasa iba, lalu Sam meminta kepada Bu Anita agar bisa bertemu Asri sebentar saja.