Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
180. SUDC


__ADS_3

"Ayna!"


Aska segera mengambil Ayna dan menggendongnya menuju lantai bawah. Diikuti Jingga dari belakang dengan langkah gontai. Tak Aska pedulikan kancing kemejanya sudah terbuka.


"Mommy! Daddy!"


Bagai kesetanan Aska sekarang ini. Apalagi melihat mata Ayna yang terus mendelik ke atas. Dia benar-benar takut.


Kedua orang tua Aska menghampiri Aska dan mereka terkejut. Tanpa pikir panjang Gio segera menyuruh Aska untuk masuk ke dalam mobil. Biarlah dia yang mengemudikan mobil itu. Ayanda membantu Jingga untuk berjalan. Menantunya itu sungguh terlihat sedih. Air matanya terus menetes.


"Sabar ya, Nak. Ayna pasti sembuh."


Mereka menuju rumah sakit terdekat. Ayna berada di dalam gendongan Aska dan Jingga terus menciumi kening sang putri.


"Bertahanlah, Nak. Bertahanlah!"


Di dalam hati Jingga terus merapalkan doa. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Ayna. Dia belum sanggup kehilangan Ayna.


.


Bunga yang sengaja Aleesa tanam di halaman samping rumahnya tiba-tiba mati. Padahal tadi pagi bunga itu masih merekah segar.


Si Kerdil memanggil Aleesa dan menunjukkan bunga tanaman Aleesa tersebut. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleesa.


"Om Uwo, apa tadi mobil yang ada di rumah Mimo keluar?" Om Uwo mengangguk.


"Sudah dijemput," ucap Om Uwo.


Aleesa menunduk dalam. Namun, di dalam hatinya ada kebahagiaan yang tak bisa dia ucapkan dengan kata-kata.


"Ikhlaskan lah! Dia akan hidup kembali dan akan membawa kebahagiaan untuk keluarga Wiguna."


.


Kabar kejangnya Ayna sudah sampai pada telinga kedua kakaknya Aska. Aksa dan juga Echa segera bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud. Aleesa berpapasan dengan sang ibu.


"Bubu mau ke mana?" tanya Aleesa. Dia juga melihat sang ayah yang sudah mengenakan jaket dan juga membawakan jaket untuk ibunya.

__ADS_1


"Jaga rumah ya, Kakak Sa. Bubu dan Baba mau ke rumah sakit dulu. Ayna kejang." Aleesa hanya mengangguk.


Dia tahu apa yang akan terjadi, tetapi tidak ada rasa sedih di hatinya. Malah rona bahagia yang dia pancarkan.


.


Aska sudah sangat begitu kacau. Begitu juga dengan Jingga. Dia hanya bisa menangis di dalam dekapan suami tercintanya.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya ketakutan, dan ini bagai dejavu untuk mereka berdua.


"Tidakkah Tuhan baik kepada kita untuk kali ini saja? Jangan ambil Ayna," ucap Jingga dengan suara sangat pelan.


Aska mampu mendengar ucapan istrinya. Dia mengecup ujung kepala Jingga dengan begitu dalam. Dia harus kuat menghadapi cobaan ini. Dia harus bisa menguatkan istrinya.


Aska memejamkan matanya sejenak. Mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya. Namun, tangannya terasa disentuh oleh seseorang. Dia pun membuka mata dan melihat Dea juga Ayna yang bergandengan tangan. Mereka berdua tersenyum hangat ke arah Askara.


"Selamat tinggal, Ayah." Kedua anak itu melambaikan tangan ke arah Askara.


Sebelum pergi, mereka berusaha meletakkan tangan mereka di atas perut Jingga.


"Tunggu kami hadir di sini ya, Bunda. Jangan sedih. Kami sayang Bunda." Kedua anak itu kompak mencium perut Jingga. Wajah mereka terlihat sangat berbinar. Memancarkan kebahagiaan yang tak terkira.


"Kamu dan Jingga dipanggil ke dalam."


Aska melihat ke arah Jingga yang sudah terlihat pucat. Sepertinya dia tidak sanggup untuk melangkah. Dipanggil oleh pihak dokter, dan mendengar kabar buruk. Itulah yang Jingga takutkan. Namun, Aska memaksa Jingga untuk ikut bersamanya ke dalam.


Mereka berdua menguatkan hati untuk menghadapi vonis yang ada. Bertemunya mereka dengan Dea beserta Ayna membuat mereka pesimis. Walaupun sang Abang dan juga sang ibu mengatakan bahwa Ayna baik-baik saja, tetapi feeling-nya sebagai orang tua berkata lain.


Kaki mereka baru saja masuk ke dalam ruang IGD. Namun, mereka disambut dengan wajah sendu para dokter yang menangani Ayna.


"Anak saya baik-baik saja 'kan." Suara lemah Jingga mulai menguar.


Askara sudah merangkul pundak Jingga. Dia harus menguatkan istrinya karena dia merasakan suasana yang berbeda di ruangan itu.


"Maaf, Bu. Anak Ibu tidak bisa kami selamatkan."


Bruk!

__ADS_1


Tubuh Jingga ambruk seketika. Kabar itu membuat Jingga tak sadarkan diri. Aska membawa tubuh Jingga ke luar dan semua orang terkejut.


"Apa yang terjadi?" Gio melihat siluet kesedihan di wajah Askara.


Aksa dan Echa tak sabar. Mereka berdua masuk ke dalam IGD. Hati merek berdua hancur ketika selimut putih sedang ditarik ke atas untuk menutup wajah keponakan mereka.


"Ayna!" jerit Echa.


Aksara yang biasanya setegar karang, dia malah menitikan air mata. Dia bisa merasakan apa yang tengah Aska dan Jingga rasakan. Hatinya ikut hancur dan dia hanya bisa menunduk dalam dengan tubuh yang bergetar.


Mendengar jeritan Echa, Radit dan Gio memilih masuk ke dalam ruang IGD. Dua pria itu benar-benar terkejut dengan apa yang mereka lihat. Radit menghampiri Echa yang tengah memeluk tubuh tak bernyawa Ayna. Dia mengusap lembut punggung sang istri tercinta.


"Kenapa bisa begini?" tanya Radit.


"Anda pasti pernah mendengar istilah Sudden Unexplained Death of Child (SUDC) atau Kematian Mendadak Anak yang Tidak Dapat Dijelaskan," jawab seorang dokter anak. Radit pun mengangguk.


"Inilah yang terjadi pada pasien bayi Ayna," jelasnya lagi.


Sebagai seorang dokter, mereka berdua pernah mendengar istilah tersebut. Namun, hal itu jarang terjadi. Biasanya terjadi di luar negeri. Sekarang mereka melihat kejadian itu pada orang terdekat mereka.


Gio hanya menghela napas kasar. Dia segera menghubungi pihak pemakaman. Dia akan memakamkan cucunya tepat di samping ayahnya. Di pemakaman khusus orang-orang berduit.


Ketika Gio keluar. Ayanda berhambur memeluk tubuh Gio. Dia baru tahu dari ucapan Askara. Jingga pun sudah sadar. Dia hanya tersenyum kecut mendengar kenyataan yang ada.


Dia belum berani mengatakan apa uang dilihatnya. Dia juga tidak menceritakan tentang mimpinya kepada siapapun. Biarlah menjadi rahasianya.


"Kenapa Ayna tinggalin Bunda? Memilih hidup bersama Kakak?". Begitulah batin Jingga berkata.


Aska terus mendekap tubuh lemahnya. Mencoba menguatkan, walaupun dia juga tenggelam dalam kesedihan.


"Kenapa Ayna harus pergi, Dad? Kita gak akan pernah menyia-nyiakan Ayna. Kita akan menjaga Ayna," lirih Ayanda.


"Tuhan memiliki rencana lain untuk kita. Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan hadiah yang indah di balik cobaan ini."


Berkata bijak, walaupun hatinya tercabik-cabik. Itulah gunanya laki-laki dan seorang ayah. Tidak akan menunjukkan kesedihannya kepada siapapun. Mencoba untuk kuat walaupun hatinya menjerit dengan begitu kuat. Menelan pil pahit sendirian supaya tak meracuni hati dan pikiran istri. Selalu bersembunyi dalam kata oke, sedangkan hatinya tidak baik-baik saja.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2