Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
224. Kegugupan


__ADS_3

Baru saja batin Jingga berkata. Ponsel Fahri berdering dan dia meminta ijin kepada orang-orang yang berada di sana untuk menjawab telepon terlebih dahulu.


Jingga masih memperhatikan Fahri hingga punggungnya sudah tak terlihat lagi. Dia ingin bertanya kepada Rani, tapi sepertinya Rani tidak ingin berkata apapun kepada dirinya. Terlihat sedari tadi Rani menunduk dan menghindari kontak mata dengannya. Semakin penasaran Jingga dibuatnya.


.


"Apa harus sekarang, Tuan?" Fahri masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang yang ada di balik telepon tersebut. Perintahnya amatlah mendadak dan tidak sesuai dengan yang ada di dalam kepalanya.


"Lakukanlah!"


Sebuah perintah yang tidak bisa ditolak. Perintah itu sangat tegas dan tidak bisa dibantah barang sedikit pun. Fahri tidak menjawab apapun. Dia masih mencerna ucapan dari pria yang berada di balik sambungan telepon tersebut. Dia masih menimbang-nimbang baik buruknya.


"Sudah waktunya." Dua kata keluar dari mulut pria itu lagi.


Pada akhirnya Fahri pun mengangguk. Padahal orang yang dari balik sambungan telepon pun tidak mengetahui apa kepalanya lakukan.


"Baik, Tuan."


Hanya itu yang dapat Fahri katakan. Dalam hati kecilnya Fahri masih ragu, tapi perintah atasannya tidak bisa dia bantah. Dia takut terjadi apa-apa dengan Jingga karena ini dirasa sangat mendadak. Ditambah tidak ada suaminya di sini. Urusannya akan lebih rumit dan dia juga yang akan damprat dari adik atasannya tersebut.


"Apa harus saya bicara sekarang?" Helaan napas kasar keluar dari mulut Fahri. Kalimat yang penuh dengan keraguan yang Fahri ucapkan.


Dia pun memilih kembali ke ruangan di mana mereka berkumpul tadi. Saat ini hanya ada Jingga, Echa, dan juga Fahrani. Keempat dokter tadi sudah tidak ada di sana.


"Siapa yang menghubungi kamu?" Echa sudah mulai membuka suara. Jingga sedikit terkejut. Dia baru tahu jikalau Echa dekat dengan Fahri. Dari segi bicaranya tidak terlalu formal dan sepeti seorang teman.


"Biasa, Kak." Fahri menjawab sembari tersenyum. Sedangkan Fahrani sudah menatap Fahri dengan tatapan tak biasa. Kata biasa yang keluar dari mulut Fahri bukanlah kata biasa dalam artian sesungguhnya. Justru sebaliknya.

__ADS_1


Mata Fahrani melebar dengan kedua alis mengkerut. Dari sorot mata Fahrani saja sudah sangat mengintimidasi Fahri hingga sebuah anggukan kecil yang dapat Fahrani lihat sebagai respon dari sang kakak tercinta. Fahrani pun menghela napas kasar. Dia tahu sekarang apa yang tengah kakaknya rasakan dan pikirkan.


Jingga masih memperhatikan interaksi antara kakak beradik itu. Walaupun hanya sebuah tatapan, tapi di mata Jingga itu tatapan juga pandangan Fahri dengan Fahrani sangatlah berbeda.


Dia menduga ada yang tengah Fahri dan Fahrani sembunyikan. Dahi Jingga mengkerut ketika melihat Fahri menghampirinya.


"Bu, bisa ikut saya sebentar?"


Dada Jingga berdetak dengan begitu cepat ketika mendengar ucapan dari Fahri. Perasaannya sudah mulai tidak enak. Apalagi wajah Fahri sudah terlihat sangat serius.


"Ke mana?" Jingga masih berusaha menutupi ketakutannya.


"Ikut saja, Bu. Ini perintah."


Terpaksa Fahri berkata seperti itu agar Jingga tidak banyak bertanya. Fahri sangat yakin jika Jingga bukanlah wanita ngeyel. Namun, Jingga malah menatap ke arah sang kakak ipar yang juga ikut terdiam. Dia seakan meminta persetujuan dari Echa. Bagaimanapun dia tidak boleh pergi atas seizin Echa.


"Ada apa ini?" Hati Jingga terus bertanya, tapi dia tidak mampu mengutarakan pertanyaannya kepada kakak iparnya. Apalagi kepada Fahri yang meminta agar Jingga cepat mengikuti langkahnya.


"Ayo, Bu."


Fahri sudah mengajak Jingga lagi. Kepala Echa pun sudah mengangguk pelan menandakan bahwa Jingga harus mengikuti Fahri sekarang juga. Sorot mata Echa seperti menghipnotis dirinya. Jingga pun segera bangkit dan mengikuti ke mana Fahri membawanya.


Fahrani dan Echa hanya saling tatap. Ada sorot penuh kepiluan yang mereka tunjukkan. Meskipun bibir tak bisa berkata, tapi wajah tak bisa berdusta.


"Tuan sudah memerintahkan." Fahrani mulai mengungkapkan. Echa pun mengangguk. Tidak mungkin Fahri melakukan sesuatu tanpa mendapat aba-aba dari tuannya.


"Saya takut ... kalau Bu Jingga ...."

__ADS_1


"Doakan yang baik-baik saja. Semoga hati Jingga bisa terketuk dan bisa memaafkan semuanya."


"Amin."


Echa bisa berkata lantang seperti itu, tetapi hatinya pun ikut berdegup tak karuhan. Dia takut hati Jingga sudah terlalu parah sakitnya dan sulit untuk memaafkannya. Sekalipun orang itu adalah ayah kandungnya, tetap saja tidak akan mudah mengobati rasa sakit hatinya.


.


Fahri berhenti di sebuah ruang perawatan. Itu adalah ruang di mana Radit dan tiga dokter yang tadi masuk. Jingga masih mematung. Ada perasaan berbeda yang Jingga rasakan.


"Ini ruangan siapa?" Jingga mencoba menutupi kegugupannya.


"Masuklah," titah Fahri. Namun, Jingga menggelengkan kepala.


"Kalau Ibu di sini terus, Ibu tidak akan tahu siapa yang ada di dalam sana."


"Makanya beri tahu saya," pinta Jingga. Fahri hanya tertawa. Ternyata semua wanita itu keras kepala.


Demi untuk menghentikan perdebatan. Alhasil, Fahri menekan gagang pintu kamar perawatan tersebut.


"Silakan!" Fahri membuka pintu dengan lebar hingga empat orang dokter di sana menoleh.


"Saya bawa keluarganya."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


Up lagi jangan nih. minta komentar dong ...


__ADS_2