Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
DOA SAM


__ADS_3

Pak Herman mengatakan jika waktu kemarin Pak Faris telah menolak bekerjasama dengan Retro hanya karena ada Asri di kantor ini, lalu Pak Herman mengatakan jika Asri sudah resign kemudian Herman menceritakan jika Anita adalah Ibu dari Asri, Pak Faris terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Herman.


"Kalau Anda tidak percaya silahkan tanya langsung pada Karyawan Bapak, yang bernama Sam"


"Sam.. Anda mengenalnya?"


"Oh tentu Pak.. Dia menantu Saya"


Kali ini Pak Faris sungguh terkejut tidak di sangka ternyata Sam adalah menantu dari seorang pemilik perusahaan ternama di Jakarta


"Baik Pak, Saya akan pikirkan hal ini terlebih dahulu"


"Ya Saya mengerti, Saya hanya ingin katakan jika Kita bisa bekerjasama sudah dipastikan produk Anda akan cepat terjual, karena marketing dari perusahaan Kita" Pak Faris sepertinya tergiur dengan tawaran Herman


Setelah selesai berbincang panggilan pun di akhiri, Pak Faris berpikir keras, apa harus Ia terima tawaran dari Herman, dalam pikirannya mengatakan, jika Ia terima kerjasama itu sudah pasti omset akan melesat dengan cepat.


Pak Herman sangat yakin jika tak ada yang bisa menolak tawaran darinya karena perusahaan ternama siapa yang tak ingin bekerjasama dengan Retro.


Sam terbangun di waktu subuh, Ia menunaikan ibadah shalat subuh, Sam berdoa dengan segenap hatinya dalam doanya ialah,


"Ya Allah.. Aku sungguh masih berharap jodoh terakhir ku adalah Asri, namun jika takdir tidak memihak Ku, Aku mohon hilangkan lah Asri dalam pikiranku, tapi jika takdir memihak pada Aku, mudahkan lah jalannya ya Allah"


Sam berdoa dengan hati yang begitu terenyuh, hingga Ia meneteskan air matanya, dan di akhir doanya Ia bersujud lama sekali, Ia sungguh menyadari semua kesalahannya selama ini, Ia hanya menginginkan bisa bersama orang yang di cintainya sampai akhir hayat.


Setalah itu Sam bersiap berangkat bekerja, Ia duduk di meja makan namun sama sekali tak menyapa Tini apa lagi menegurnya, Bu Fatma sebenarnya merasa kasihan dengan Tini, namun Bu Fatma tak ingin ikut campur urusan rumah tangga Anaknya.


Tini terlihat bersedih Ia terdiam sambil memandangi Sam lalu Ia mengambil sarapannya, merasa hening Bu Fatma memulai obrolan


"Sam.. Kamu lembur atau tidak hari ini"


"Kurang tahu Bu, memangnya kenapa Bu?"


"Tidak apa, Tini enak sarapannya?"


"Enak Bu.. maaf Aku gak bisa bantu Ibu di dapur" lalu Sam langsung menyahuti


"Harusnya Ibu gak boleh capek-capek, Kamu saja yang siapkan semuanya dan beres-beres Rumah ini"


"Aku mau saja sih.. tapi kalau Kamu diam acuh terhadap Aku rasanya percuma capek tapi tidak di perhatikan"


"Aku rasa itu mau Kamu" jawab ketus Sam


"Apa... mau Aku.. apa maksud Kamu Sam" Sam tak menjawab ucapan Tini, Ia terus melanjutkan sarapan paginya, sementara Tini masih terus melirik Sam dengan tajam, setelah selesai makan barulah Sam berkata,


"Aku tidak pernah meminta Kamu kembali pada Aku, itu mau Kamu... jadi jangan pernah bertanya mengapa Aku jadi begini, Kamu mengerti kan..?"


Tanpa mendengar jawaban Tini, Sam langsung pergi dari ruang makan, lalu Ia pamit pada Ibunya, dan melewati Tini begitu saja.


Tini merasa sedih dengan sikap Sam, Ia harus bagaimana, jika Ia lawan Sam dengan emosi pasti hanya akan bertengkar ujungnya, tapi jika mengalah terus begini, tetap saja tak ada hasil apapun, Tini pun tidak jadi sarapan, Ia kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kantor, Sam langsung ke ruang kerjanya, seperti biasa membuka laptopnya untuk memulai pekerjaannya, Tak lama datang Pak Faris ke ruangan Sam


"Pak Faris.. ada apa Pak.. pagi-pagi begini ke ruangan Saya"


"Begini Sam, Saya ingin berbicara penting sekali, Saya baru tahu kalau Kamu menantu Pak Herman pemilik perusahaan Retro Advertising, apa itu benar Sam" Sam mulai merasa tak enak dengan topik obrolan ini


"Ya Pak..itu benar, memangnya kalau Saya menantu Pak Herman kenapa Pak...?"


"Ya Saya tidak menyangka saja, padahal Kamu bisa loh bekerja di perusahaan Mertua Kamu...." belum selesai Pak Faris bicara Sam langsung memotongnya


"Pak.. tolong bicara yang jelas, intinya saja Pak.."

__ADS_1


"Tenang Pak Sam.. kenapa harus emosi"


"Maaf Saya bukan emosi, tapi soal menantu atau tidak, Saya punya kehidupan sendiri, tidak harus bergantung pada Mertua Saya"


"Ok ok.. begini Pak.. Saya ingin membatalkan kerjasama Saya dengan Ibu Anita"


Sam langsung mengerutkan keningnya merasa tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Pak Faris.


"Tunggu Pak.. kenapa di batalkan, prosesnya tinggal setengah lagi Pak"


"Ya Saya tahu, tapi Saya pikir kerjasama dengan Retro lebih menguntungkan, soal itu nanti Saya akan bayar separuhnya dengan Bu Anita, jadi sekarang juga Pak Sam ke Jakarta ya, untuk menyelesaikan pembatalan kontraknya"


Sam sungguh membenci Herman Dia yakin jika Pak Faris pasti sudah terhasut dan tergiur dengan tawarannya, mau tak mau Sam harus mengikuti perintah dari Pak Faris.


"Lalu bagaimana Saya harus mengatakannya Pak, Saya bingung"


"Sam.. kenapa harus bingung, katakan saja jika Kita tidak jadi memproduksi minuman itu, atau apalah terserah Kamu"


Sam kini bersedih dalam hatinya, tak ada hentinya Herman mengganggu keluarga Asri, setelah Pak Faris pergi ke ruangannya, Sam langsung menghubungi Pak Herman untuk bertanya soal ini.


Pak Herman melihat panggilan dari Sam Ia langsung mengangkat panggilan itu


"Halo Sam ada apa?"


"Pak Herman kenapa Anda melakukan ini, bukankah Anda berjanji juga untuk tidak menggangu Asri dan keluarganya"


"Hey.. tunggu Sam.. Kamu ini sedang bicara apa..?"


"Pak tak usah pura-pura, Anda kan yang menyuruh Pak Faris untuk membatalkan kontrak dengan toko Bu Anita secara mendadak"


"Oh.. soal itu, Sam ini dunia bisnis Saya tidak menggangu Asri dan keluarganya, Saya hanya menawarkan kerjasama dengan Pak Faris, Saya tidak menyuruhnya, itu keputusan Dia Sam, bukan karena Saya" Pak Herman hanya tersenyum-senyum di balik telepon


"Alasan saja, ingat Pak.. Putri Anda ada disini, Saya bisa saja membuat Putri Anda menderita disini"


"Hey.. Kamu mengancam Saya, Sam jangan lupa dengan hutang Kamu, Kalau Saya mau, Saya akan laporkan Kamu ke Polisi sekarang, dengan tuduhan pelanggaran kontrak"


Sam kini terdiam tak dapat menjawab, Dia sendiri paham dan tahu, konsekuensi dari perjanjian itu, tanpa bicara lagi.. Sam langsung menutup panggilan tersebut, Pak Herman hanya tersenyum jahat dan menaruh ponselnya di meja.


"Sialan... lagi-lagi kekuatan uang dan uang yang menang, kenapa Aku harus berurusan dengan si Herman itu"


Sam marah pada dirinya sendiri, Dia sungguh menyesali telah mengenal Tini dan Herman, lalu Sam bersiap untuk pergi ke Jakarta saat ini juga.


Disaat jam makan siang Andi menghubungi Kasih untuk jangan lupa bersiap nanti sore Dia akan menjemputnya, Kasih sungguh senang dan bersemangat tak sabar rasanya ingin cepat sore hari.


Dan Bu Heni menghubungi Tini supaya nanti setelah Sam pulang kerja segera datang ke Jakarta untuk mengahdiri acara ulang tahun Andi


"Jadi sore ini Mah di mulai acaranya, Aku pikir besok"


"Sore ini Sayang, karena hanya keluarga yang hadir, jadi Kamu dan Sam datang"


"Iya Mah.. nanti Aku bilang pada Sam"


"Sampai bertemu nanti sayang"


Tini harus segera memberitahukan Sam soal ini, Ia takut jika Sam lembur mendadak, Di perjalanan Sam mendapatkan pesan dari tini yang mengatakan jika setelah pulang kerja Kita harus ke Jakarta menghadiri acara Andi.


"Ya ampun... jadi Aku hari ini harus bulak balik Jakarta 2 kali, keluarga Tini sungguh membuat Aku sangat capek"


Sam menggurutu dalam hatinya, dan Sam hanya menjawab kata "Ya" saja kepada Tini.


Sam telah sampai di Jakarta di toko Bu Anita, Ia merasa gugup takut juga bingung bagaimana harus menjelaskan tentang pembatalan kontrak ini, Ia pun memberanikan diri masuk untuk bicara terus terang

__ADS_1


"Permisi.." seorang pegawai mengenali Sam


"Loh Pak Sam, ingin bertemu Bu Anita ya"


"Iya, Saya ada perlu tentang kontrak kerjasama"


"Tapi Pak... saat ini Bu Anita sedang menemani Mbak Asri cek ke dokter"


"Jadi sekitar jam berapa beliau sampai disini"


"Biasanya Bu Anita kesini siang hari setelah jam makan siang Pak, atau Saya telepon saja supaya kesini sebentar"


"Jangan.. biarkan saja jika sedang cek untuk putrinya" jika mengenai kesehatan Asri Sam tidak ingin mengganggu


"Saya akan kembali kesini lagi setelah jam makan siang"


"Baik Pak.."


Sam keluar dari toko, lalu Ia menghubungi Pak Faris jika dirinya mungkin akan pulang jam 2 siang nanti. Sambil menunggu Bu Anita, Sam berniat ingin membeli kado untuk Andi di mall Jakarta.


Asri dan Bu Anita kini berada di rumah Sakit, kaki Asri sedang di periksa Dokter lalu Dokter berkata,


"Alhamdulillah.. perkembangannya bagus Bu, sudah mulai terasa, semoga cepat berjalan ya, obatnya silahkan di tebus di apotek ya"


"Terimakasih ya Dok, kalau begitu Kami permisi"


Setelah keluar ruangan Dokter Bu Anita langsung menuju apotek untuk mengambil obat Asri, selagi menunggu... Asri ingin mencoba berdiri lagi dan belajar melangkah lagi.


"Aku pasti bisa, harus bisa" ucap Asri dalam hatinya


Asri berusaha berdiri Ia mulai stabil dalam berdiri, sekarang Ia mencoba melangkahkan kaki dengan perlahan, Asri sangat bahagia saat ini Ia bisa melangkah hingga 5 langkah, Asri tersenyum senang


"Alhamdulillah.. Aku bisa, Aku coba lagi"


Asri mencoba lagi untuk ke dua kalinya, Ia berdiri sejenak mengumpulkan tenaga untuk melangkah, satu langkah berhasil, dua langkah berhasil untuk langkah ke tiga Asri mulai goyah Ia pun terjatuh


"Aduh.." tiba-tiba seorang Dokter datang membantu Asri


"Ya ampun.. Kamu gak apa-apa"


Dokter itu langsung membantu Asri bangun dan memopoh Asri hingga duduk di kursi rodanya


"Terimakasih Dok, maaf merepotkan" Dokter itu tersenyum lalu menjawab,


"Tidak.. ini adalah tugas Saya untuk membantu semua pasien disini, Kamu sendiri saja disini?"


"Aku bersama Mamah, Mamah sedang menebus obat di apotek"


"Oh begitu, apa perlu Saya temani hingga Ibu Mbak datang"


"Gak usah Dok.. Saya tadi hanya sedang berlatih jalan sambil menunggu Mamah"


"Kaki Kamu kenapa?"


"Kaki Saya mengalami patah tulang tapi sudah di betulkan hanya saja saat ini Saya belum bisa berjalan, tapi Dokter mengatakan ada kemungkinan besar Saya bisa kembali berjalan" Tiba-tiba Dokter itu membungkuk lalu memijat kaki Asri dengan lembut


"Dok.. tidak perlu seperti ini, ini sangat tidak sopan"


"Tidak apa.. ini namanya terapi pijat kaki, harus sering-sering dilakukan, supaya melenturkan urat-urat dan otot kaki, lama-lama nanti akan mulai terasa dan insyaallah secepatnya Kamu bisa berjalan"


Lalu datanglah Bu Anita

__ADS_1


"Sayang.. Kita pulang yuk, Mamah sudah selesai"


Dokter itu pun berdiri dan wajahnya mengahadap ke arah Bu Anita, kaget bukan main Bu Anita saat melihat wajah Si Dokter.


__ADS_2