Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
198. Kak Langga


__ADS_3

Aska dan Jingga tengah duduk di atas tempat tidur. Mereka berdua tengah membahas perihal Aleena. Aska juga sudah mendapat kabar jika lima anak punk itu sudah dibawa oleh pihak polisi.


"Lebih baik kita bilang kepada Kak Radit dan Kak Echa," ucap Jingga.


Aska pun berpikir seperti itu, Dia tidak akan menyembunyikan hal seperti ini karena dia takut Aleena akan mengalami syok jika tidak buru-buru ditangani. Apalagi tidak banyak kata yang Aleena katakan setelah kejadian sore tadi.


"Iya, nanti aku bilang ke Kak Echa dan si Bandit."


.


Malam ini Echa dan Radit pun datang ke rumah Ayanda. Kebetulan kedua orang tua mereka sedang pergi. Hanya ada mereka berempat yang ada di ruang keluarga sekarang.


"Ada apa?" tanya Radit. Dia dapat melihat mimik wajah Aska yang berbeda.


"Kemarin Aleesa diganggu anak punk."


Mata Echa dan Radit melebar mendengar jawaban dari Jingga, Istri dari Aska itupun menceritakan semuanya. Dada Radit sudah turun-naik. Dia tidak akan tinggal diam. Apalagi Aska sudah memberitahukan di mana anak-anak punk itu diamankan.


"Tapi, katanya-"


Ucapan terhenti ketika mendengar suara keponakannya tampannya memanggil dirinya, Juga Ghea yang sudah bisa mengoceh. Pandangan mereka berempat itupun teralihkan pada kedua anak dari Aksa juga Riana. Gavin sudah mencium perut JIngga, Itulah kebiasannya kali ini.


"Semoga gantengnya kaya Mas."

__ADS_1


"Amin." Jingga mengaminkan dengan sangat keras doa yang selalu Gavin panjatkan.


Sejenak empat orang itu melupakan apa yang mereka bahas tadi. Kelucuan dua anak Aksa dan Riana membuat amarah dan kesedihan mereka berempat melebur.


"Uncle, kasihan tahu tadi teman Mas," ucap Gavin.


Aska yang sedang mengajak bermain Ghea menoleh. Menatap keponakannya dengan penuh tanya. Gavin adalah tipe anak yang ingin didengar jika tengah berbicara dengan orang yang dia panggil.


"Teman yang mana?" tanya Aska.


"Teman Mas yang di panti."


Sejak kapan anak ini memiliki teman di panti asuhan. Apa keponakannya ini tengah mengkhayal. Aska pun melirik kepada sang Abang.


"Teman Mas wajahnya memal gitu. Telus di ujung bibilnya walna ungu kalna dalahan."


"Kok bisa?" tanya Aska.


"Kata ibu panti dia itu dipukulin sama anak-anak nakal."


"Dipukulin apa emang dia berantem?" sergah Aska.


"Dipukulin, Uncle," bela Gavin. "Dia itu anak baik dan gak pernah belantem-belanteman," tambahnya.

__ADS_1


"Anak itu memang anak yang baik. Sepulang sekolah dia akan bekerja di rumah salah seorang donatur dan akan dikasih upah tujuh puluh lima ribu. Uangnya pun dia berikan kepada ibu panti atau dia belikan makanan untuk anak-anak di sana," terang Aksa.


"Baik sekali anak itu," puji Echa.


"Iya, Kak. Semua donatur sayang sama dia termasuk Ri dan juga Abang," tutur Riana.


"Mas juga sayang Kakak itu," ujar Gavin. Riana dan Aksa tersenyum, mendengar ucapan dari anak pertama mereka.


"Terus kondisi anak itu gimana?" tanya Radit. "Biasanya setelah mengalami seperti itu akan demam."


"Anak itu udah gua bawa ke rumah sakit. Dia memang demam tinggi. Sama ibu panti cuma dikasih Paracetamol doang. Untungnya gua tadi ke sana karena Empin terus merengek ingin bertemu dengan anak itu. Gua juga meminta anak itu divisum dan memperkarakan kejadian ini." Semua orang pun mengangguk mengerti. Jika, sudah berurusan dengan Aksa pasti tidak akan selamat.


"Nama anak itu siapa?" tanya Aska.


"Kak Langga," sahut Gavin.


Aska dan Jingga saling tatap. Kini, dia menatap ke arah keponakan tampannya.


"Rangga?" Kepala Gavin pun mengangguk.


...****************...


Komen dong

__ADS_1


__ADS_2