
Mengurus empat anak sekaligus nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi anak Jingga dan Aska yang bungsu terbilang rewel dan manja. Selalu ingin digendong sang ayah. Jika, belum dipegang ayahnya pasti akan rewel terus.
Jingga pun kewalahan dengan ketiga anak laki-laki yang dia lahirkan. Mereka seakan rebutan minum ASI dan terus menyedot dengan sangat kencang. Seakan ingin dimiliki seorang diri.
Ringisan kecil terlihat di wajah Jingga. Ayanda hanya tersenyum. Begitulah jika menyusui di awal-awal.
"Lecet ini," tunjuknya pada sesuatu yang menonjol di atas gunung kembar.
"Susu formula ajalah, Bun. Yang ada nanti aku gak kebagian." Ayanda tak segan memukul pundak sang putra yang asal jika bicara. Sedangkan Gio hanya tertawa saja.
"Asi lebih bagus!"
"Tahu, Mom. Masalahnya ini empat, bukan satu. Kasihan bundanya. Pasti kewalahan." Aska juga tidak tega melihat istrinya yang terus terbangun sedari tadi karena ulah si quartet.
"Kalau mau susu formula, berikan yang paling bagus." Sudah memberi nasihat, Gio juga memberikan sebuah kartu kepada Askara.
"Apa ini, Dad?"
"Jatah susu dari Daddy."
Rezeki si quartet sangat bagus. Mereka terus mendapatkan hadiah dari orang-orang yang menyayangi ayah juga bunda mereka.
"Gak usah, Dad. Adek juga masih mampu jika untuk membeli susu mah." Aska bukan anak yang akan menggunakan kesempatan. Dia malah merasa tidak enak. Belum bisa memberi, jadi tidak boleh meminta.
"Jangan ditolak," ujar Gio. "Daddy memberikan kartu kepada semua cucu Daddy. Termasuk si triplets, Gavin dan Ghea. Daddy tidak ingin membeda-bedakan."
Benar kata orang, jasa orang tua itu tidak bisa dibalas dengan apapun. Memberi tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Selama tiga hari di rumah sakit, Aska dengan setia menemani Jingga. Sang istri pun sudah aktif mengurus keempat anak mereka. Aska pun ikut serta menjaga anak-anaknya.
Senyum Aska akan terukir dengan sempurna ketika putri perempuannya bermanja dengannya. Anak itu akan tertidur pulas dan tersenyum ketika dia gendong. Dia seperti melihat perpaduan Dea juga Ayna.
"Ayah, udah tanya ke dokter anak susu apa yang paling bagus?" tanya Jingga. Dia ingin mengambil baby girl untuk diberi ASI.
"Udah, susunya itu jarang dijual di minimarket," papar Askara.
"Lalu?"
__ADS_1
"Ada di supermarket itupun cuma sedikit."
"Kalau begitu, yang biasa aja atuh," sahut Jingga..
"Gak akan diperbolehkan, Bunda Sayang." Aska mencubit gemas pipi istrinya. "Semua cucu Daddy dan Mommy harus meminum susu yang sama. Terbukti, mereka semua gembul dan pintar."
Jingga mengikuti apa yang dikatakan suaminya. Dia tidak bisa melarang. Dia juga pasti ingin yang terbaik untuk keempat anaknya.
Aska tersenyum ketika melihat istrinya duduk di samping Aska dengan menghembuskan napas begitu lelah.
"Kenapa? Lelah?" Jingga malah bersandar di pundak sang suami. Dia tidak ingin berkata seperti itu. Anak-anaknya adalah anugerah yang Tuhan berikan kepadanya.
"Jika, Ayah kerja Bunda pasti kewalahan." Aska hanya tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Jingga.
"Pasti banyak yang akan membantu Bunda merawat si quartet. Kalau capek, panggil aja Kak Echa dengan senang hati pasti dia akan bantu."
Jingga memang merasakan bagaimana diperhatikan oleh keluarga Askara. Mereka semua sangat perhatian. Sampai Echa membelikan obat paling ampuh untuk mengeringkan luka operasi. Padahal obat itu memiliki harga yang tidak murah.
Seperti sekarang ini, banyak makanan yang dikirimkan oleh keluarga Aska. Apalagi Riana yang sudah niat sekali memesankan makanan cathering untuk sang adik ipar.
"Ya Allah, kenapa mereka sangat baik sekali."
"Enak banget," ucap Jingga. Matanya berbinar. Dia baru merasakan masakan bening tapi rasanya tak kalah dengan masakan yang penuh dengan bumbu.
"Kalau selera makanan Riana jangan diragukan."
Baru juga menghabiskan makanan yang Riana berikan, datang lagi salad buah dan salad sayur yang dibawa oleh pihak keamanan. Jingga menggelengkan kepala.
"Ini mah namanya penggemukan," ujar Jingga.
"Gemuk dari mana coba," sergah Aska. "Gak ada diet-dietan pasca melahirkan. Ayah mencintai Bunda apa adanya. Bukan ada apanya." Aska sudah memperingatkan.
.
Tiba sudah mereka keluar dari rumah sakit. Jingga seperti memiliki bodyguard. Banyak para wanita yang berjejer menjemput si quartet. Ada kedua Tante mereka, sang nenek juga istri Arya. Mereka terlihat sangat bahagia sekali.
Mobil yang menjemput mereka pun adalah mobil ternyaman yang sudah Gio siapkan. Ada rasa bahagia di hati Jingga. Namun, ada hal yang kurang. Ada seseorang yang tidak nampak di sana.
__ADS_1
"Ayah," gumam Jingga.
Ada kekhawatiran di hati Jingga. Padahal sebelumnya dia sudah diberitahukan oleh Aska jikalau ayahnya tidak bisa ikut menjemput dikarenakan kondisi dokter Eki sedikit kurang sehat. Namun, sebagai seorang anak dia tidak bisa memungkiri rasa khawatir yang dia rasakan.
Selama perjalanan menuju kediaman sang mertua pun Jingga merasakan ketidaktenangan. Pikirannya masih tertuju pada sosok ayahnya.
"Ayah Eki benar 'kan tidak apa-apa?" Jingga memastikan.
Aska mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan isi pesan yang dikirimkan oleh perawat mertuanya. Jingga membacanya dengan pelan dan sangat hati-hati. Dia pun akhirnya bisa bernapas dengan lega.
"Udah, ya. Jangan mikirin apapun. Fokus saja kepada anak-anak." Jingga pun mengangguk.
Sesampainya di rumah, kedatangan Jingga disambut bahagia oleh para keponakan. Gavin memeberikan buket uang berwarna biru, juga si triplets yang memberikan buket cokelat ratu perak kepada sang Tante. Jingga tak hentinya terharu mendapat perlakuan seperti ini.
"Kenapa repot-repot?" Jingga memeluk tubuh tiga ponakan kembar Aska.
"Enggak repot, kok. Ini adalah jatah cokelat dari Opa yang selalu kami simpan." Aleeya menjawab dengan begitu jujur. Jingga malah tertawa.
Kehadiran si quartet pun disambut oleh Nesha, istri Rindra juga Elyna istri dari Rifal.
"Selamat jadi ayah ya," ucap Nesha kepada Aska.
"Makasih banyak, Nyonya Rindra." Nesha hanya tertawa. Aska adalah pria yang menyenangkan dan juga humble.
"Suatu kehormatan dijenguk oleh Nyonya Rifal." Elyna hanya tersenyum tipis. Wajahnya nampak pucat dan tubuhnya terlihat lebih kurus.
Mereka semua masuk ke dalam rumah Giondra. Di sana sudah disediakan prasmanan. Juga banyak aneka jajanan yang menggiurkan.
Si quartet pun sudah disediakan boks khusus di ruang keluarga. Selama seminggu ini mereka akan tidur di sana. Begitu juga dengan ayah dan bunda mereka. Itu adalah kemauan Jingga. Dia ingin merasakan seperti orang-orang kampung. Jikalau, ada salah seorang saudara yang melahirkan mereka akan menginap dan tidur bagai ikan teri. Di mata Jingga itu adalah sebuah kebersamaan yang mengasyikkan.
Benar saja keramaian tercipta ketika malam datang. Empat keponakannya selalu saja beradu mulut dan terus berteriak sempit dan panas. Untung saja keempat sepupu mereka anteng.
"Begini kali ya kalau punya anak banyak." Echa pun tidak bisa tidur. Dia malah bersila di atas sofa.
Ketika tengah malam mereka baru bisa terlelap..Tidak ada suara dan keadaan hening. Hanya lampu temaram yang menerangi ruangan itu.
"Nak, maafkan Ayah. Ayah harus pergi."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....