Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
241. Kekhawatiran


__ADS_3

"Uncle, cepat pulang. Daddy, Uncle! Daddy!"


Suara anak kecil itu tampak berat dan menahan tangis. Hati Aska sakit mendengarnya. Jingga membeku tatkala samar mendengar kalimat yang dikatakan Gavin.


"Ada apa sebenarnya?" Tatapan penuh tanya Jingga tunjukkan. Namun, Aska masih bergeming.


Mereka sudah menginjakkan kaki di helipad. Seorang pria menggunakan kaca mata hitam menghampiri mereka.


"Mari ki-"


Tangan Aska sudah mencengkeram kerah kemeja pria itu. Menatap wajahnya dengan penuh amarah. Urat-urat di samping dahinya terlihat amat jelas.


"KENAPA.LU GAK BISA JAGA ABANG GUA!"


Deg.


Jantung Jingga berhenti.berdegup. Dia yakin ada yang sudah terjadi. Aska tidak akan semarah ini jika tanpa sebab. Abang, dia sangat yakin jika itu adalah Aksara.


"Kejadian itu terlalu cepat." Teramat pelan kalimat itu dikatakan. Kepalanya pun menunduk dalam.


Jingga meraih lengan Aska. Dia masih menatap penuh tanya. Namun, Aska masih belum mau menjawab. Helikopter sudah membawa Jingga dan Aska menuju Jakarta. Sedari tadi Aska hanya memejamkan matanya. Jingga ingin bertanya kepada Fahri tapi pria itupun seakan menutup mulutnya dengan begitu rapat.


"Uncle, ke sini! Daddy Mas Uncle."


Pikiran jelek sudah berkelana. Kalimat lirih sang keponakan masih mengitari kepalanya. Sudah pasti bukan hanya keponakannya yang sedih, wanita kesayangannya pun merasakan hal yang sama..


Jingga pun tak tinggal diam. Dia mencari tahu perihal apa yang terjadi dengan keluarga suaminya di Jakarta. Namun, tak seorang pun yang menjawab. Hanya ceklis dua. Belum ada yang membacanya.


Jingga terkejut ketika helikopter itu mendarat di helipad salah satu rumah sakit besar. Dia menatap ke arah sang suami. Kedatangan mereka disambut oleh pria paruh baya yang tak lain adalah kaki tangan sang ayah mertua.


"Semuanya sudah dijaga ketat." Aska hanya mengangguk dan ternyata sudah ada salah seorang dokter yang membawa kursi roda.


Kali ini Jingga dibuat penasaran ketika yang mendorong kursi roda itu adalah salah seorang dokter bukan suaminya. Aska sudah terlebih dahulu meninggalkannya.


"Dok, ada apa sebenarnya?" Dokter itu hanya tersenyum dan tidak menjawab apapun.


Jingga menyuruh dokter berhenti mendorongnya ketika melihat sang keponakan memeluk tubuh Aska dengan derai air mata. Juga tiga orang wanita yang tengah dipeluk oleh suaminya masing-masing, kecuali Riana. Dia dipeluk oleh ayahnya. Dia pun tidak melihat keberadaan Ghea.

__ADS_1


"Daddy, Uncle! Daddy di dalam sana."


Kalimat itu mampu Jingga dengar dan dia segera turun dari kursi roda, menuju keberadaan keluarga dari suaminya. Larangan dari dokter pun tidak dia indahkan. Dia terus melangkah.


"Apa yang terjadi?" tanya Jingga. Hanya tatapan pilu yang keluarga Aska tunjukkan.


"Aksara mengalami penusukan." Mata Jingga melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Arya.


Dia menatap ke arah Riana yang sudah berwajah sangat sembab. Sang ibu mertua yang tak henti merapalkan doa dan sang kakak ipar tak mau melepaskan lingkaran tangannya di pinggang sang suami.


"Oleh siapa?" tanya Jingga lagi.


Kode dari Aska membuat semua orang terdiam. Mereka tidak ingin membuat Jingga stres. Riana maupun keluarga Aksara sudah mengikhlaskan kejadian ini.


Ruang operasi, di sanalah mereka berada. Menunggu tindakan dokter yang menangani Aksa. Anak kecil yang berada di dalam gendongan Aska tak hentinya menitikan air mata. Sedangkan Aska seperti masih menyimpan dendam yang amat mendalam.


"Daddy pria yang kuat, Empin juga harus kuat. Gak boleh cengeng." Aska mencoba memberi pengertian kepada sang keponakan. Dia melihat betapa terpukulnya Riana.


"Kalau kenyataan pahit terjadi, siap-siap kamu jadi janda beranak dua."


"Engkong!" bentak Gavin. Dia turun dari pangkuan sang paman. Menatap tajam wajah sang kakek dengan berkacak pinggang.


"Mas gak mau jadi anak yatim. Hua!"


"Tau nih Engkong," omel Aleena. Dia memeluk tubuh Gavin. Dia juga menuntun Gavin menuju sang ibu. Riana dan Gavin berpelukan dengan air mata yang sudah berjatuhan.


"Daddy pasti kuat." Riana mencoba menguatkan putranya. Walaupun dia sendiri masih teringat betapa banyaknya darah yang mengalir di tubuh Aksara.


Jingga mendekat ke arah sang suami. Dia menggenggam tangan Aska dan menatapnya dalam. Hanya tatapan tak bisa ditebak yang Aska tunjukkan. Jingga ingin bertanya lebih lagi, tetapi dia tahu ini bukanlah waktu yang tepat. Dia dapat melihat betapa terpukulnya mereka semua. Jingga dapat melihat pria yang menjadi kaki tangan sekaligus tangan kanan sang mertua membisiki Giondra. Wajah Gio pun sulit ditebak sama seperti wajah Askara.


Terdengar pintu ruang operasi terbuka. Giondra segera mendekat, dan sang perawat terlihat terburu-buru.


"Pasien kekurangan darah." Riana yang hendak berdiri pun terduduk kembali mendengar ucapan dari perawat tersebut.


"Jikalau dari keluarga pasien ada yang memiliki golongan darah A Rhesus negatif, silahkan donorkan darahnya. Pasien memerlukan cukup banyak darah."


Suasana sedih yang sedikit demi sedikit mencair, kini muncul kembali. Rasa cemas dan khawatir kembali hadir. Ayanda sudah tidak bisa berbicara. Hanya wajah tanpa ekspresi yang dia tunjukkan.

__ADS_1


"My, golongan dalah Mas apa? Bial Mas yang donolin dalah buat Daddy." Anak itu memaksa sang ibu. Riana hanya bisa menggeleng.


"Adek Rhesus positif," ujar Askara. Semua orang pun menggeleng. Tidak ada satupun dari mereka yang memiliki darah yang sama dengan Aksara.


"Daddy akan minta bantuan kepada semua anak buah Daddy untuk mencari kantong darah golongan A Rhesus negatif."


Melihat ayah mertuanya yang berkorban terhadap Aksara membuat hati Jingga terenyuh. Sedewasa apapun seorang anak tetap saja dianggap anak-anak oleh kedua orang tuanya.


"Golongan darah aku A Rhesus negatif." Suara seseorang terdengar. Semua orang menoleh. Begitu juga dengan Gio yang menghentikan pembicaraannya melalui sambungan telepon.


"Kak Langga!"


Gavin berlari ke arah Rangga dan langsung menarik tangan anak laki-laki seusia Aleena dan dua saudaranya.


"Kak Langga benelan? Kak Langga gak bohong?" Rangga mengangguk dengan yakin. Kini, anak laki-laki itu menatap ke arah para orang dewasa di sana.


"Di mana tempat donor darahnya?" tanya Rangga. Dia tidak ingin membuang-buang waktu.


Radit mendekat ke arah Rangga. Dia mengusap lembut pundak anak itu. "Cek golongan darah kamu dulu biar-"


"Golongan darah Rangga memang A Rhesus negatif. Dia tidak bohong," tegas ibu panti. Radit pun percaya dan segera membawa Rangga ke tempat di mana dia harus mendonorkan darahnya untuk Aksara.


Aleena hanya bisa menatap Rangga dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Aleesa adalah manusia yang paling santai di antara manusia yang berada di depan ruang operasi.


Suara langkah orang berlari terdengar mendekat. Mata Aska memicing ketika melihat Fahrani terlihat panik.


"Pak Aska, Jomblo's kafe dibakar." Semua orang terkejut. "Pak Ken dan Pak Juno juga terluka."


"Bang sat!" geramnya. "Gak akan gua biarin hidup!"


...***To Be Contunue***...


Tegang gak?


Jangan lupa baca kisah Elyna ya. Masih di Noveltoon kok. Aku tunggu di judul Lihatlah Aku, Suamiku!


Kalau udah dicari tapi belum muncul karya barunya, klik profil aku atau update Noveltoon versi terbaru.

__ADS_1


Jangan lupa baca ya.


__ADS_2