
Aska memangku Ayna di sepanjang perjalan hingga tiba di pemakaman. Jingga pun ikut dalam satu ambulance dengan sang suami. Tangannya melingkar di lengan Aska dan menatap bayi mereka yang kini sudah terbungkus kain putih. Air mata mereka sudah surut, tetapi kesedihan mereka masih pasang.
Tiba sudah mereka di pemakaman elit. Aska yang memakai baju Koko putih dan Jingga mengenakan gamis berwana yang sama masuk ke area pemakaman. Dia terlihat begitu tegar. Diikuti keluarga inti dari Giondra. Kepergian Ayna memang sudah menyebar. Ucapan turut berduka cita pun sudah berdatangan.
Jingga pun terlihat begitu ikhlas. Padahal, anggota keluarga yang lain masih dirundung duka yang mendalam.
"Anak itu adalah titipan Tuhan. Ketika Tuhan mengatakan bahwa waktu kita merawatnya sudah habis, kita harus ikhlas dan merelakannya."
Kalimat cukup panjang yang Jingga katakan. Hatinya tengah dilanda kesakitan yang mendalam. Namun, dia harus kuat menjalani ini semua. Setelah semua prosesi pemakaman selesai. Jingga dan Aska belum beranjak dari pusara sang putri.
"Bunda ingin lebih lama lagi merawat kamu, Nak." Kalimat lirih yang Jingga lontarkan.
"Ayah sangat menyayangi kamu," kata Aska.
Ikhlas, itulah yang harus mereka lakukan. Walaupun sulit harus mereka jalankan. Ini adalah serangkaian ujian menuju kebahagiaan.
Mereka semua meninggalakan pemakaman. Jingga dirangkul mesra oleh sang suami. Kondisi tubuh Jingga masih lemas. Tubuhnya pun belum sehat betul. Ketika pintu mobil dibuka, tiba-tiba perutnya terasa diaduk-aduk. Kepalanya sudah pusing dan dia memuntahkan isi perutnya yang kosong. Aska terkejut, begitu juga dengan yang lain.
Aska memijat tengkuk leher Jingga dan Ayanda memberikan air mineral untuk sang menantu
"Kamu belum makan dari kemarin," ujar Ayanda.
Aska menatap wajah Jingga dengan penuh tanya. Jingga hanya terdiam dan dia segera membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Marahnya entar aja. Aku lemas."
Semua orang mengulum senyum mendengar ucapan dari Jingga. Sudah pasti itu akan membuat Aska luluh. Pada akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Sedangkan Aska dan Jingga masuk ke dalam mobil kedua orang tuanya yang dibawa oleh sopir.
Selama diperjalanan, Jingga tak mau lepas dari pelukan Aska. Kedua orang tua Aska tersenyum bahagia melihat anak dan menantu mereka.
Tibanya di rumah, Jingga segera berganti pakaian. Dia memakai piyama karena dia tidak ingin keluar kamar untuk sekarang ini. Gurat kesedihan masih terlihat jelas. Dia meminta kepada Aska untuk memindahkan boks bayi bekas Ayna pakai ke kamar yang lain. Jika, tetap disimpan di sana akan membuatnya terus mengingat Ayna. Dia tidak ingin itu terjadi. Dia sudah ikhlas.
Aska naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya. Hanya keheningan yang tercipta di kamar ini. Biasanya ada suara tangis atau ketawa Ayna. Namun, sekarang sudah berbeda. Sudah tidak ada Ayna di sana.
Melewati hari-hari tanpa Ayna ternyata sangatlah sulit. Air mata Jingga masih menetes ketika mengingat anak yang tidak sempurna yang Jingga miliki. Berdamai dengan masa lalu pun teramat sulit.
__ADS_1
Sudah seminggu berlalu, Jingga masih belum bisa melupakan Ayna. Di hati dan pikirannya Ayna masih tetap hidup. Kondisi tubuh Jingga pun semakin memburuk. Dia sering mengeluh pusing. Namun, dia tidak mau jika diajak memeriksakan kesehatannya. Itulah yang membuat Aska kesal dibuatnya.
Seperti pagi ini, Jingga tidak bisa turun dari tempat tidur karena rasa pusing yang terus mendera. Kepalanya sangat berat dan perutnya terus terasa diaduk-aduk.
"Kamu tidak ingin sehat? Kamu tetap ingin seperti ini?" hardik Aska saking kesalnya.
Jingga hanya terdiam. Dia hanya bisa menitikan air mata. Ketika ada perkataan yang menyinggung dirinya, pasti dia langsung melow dan berujung menangis.
Aska menghembuskan napas kasar. Dia menggenggam tangan Jingga dan mencium kening Jingga. Dia melihat ada bulir bening yang menetes di ujung mata istrinya.
"Maafkan aku, Sayang." Aska merasa bersalah karena sudah berkata sedikit keras kepada Jingga. Seharusnya dia merangkul Jingga. Menggenggam erat tangannya agar dia bisa tenang. Istrinya masih rapuh. Kepergian Ayna menjadi pukulan besar untuk mereka terutama istrinya. Bekas luka Caesarnya saja belum kering, tapi putrinya sudah pergi.
"Siang nanti ke dokter, ya. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu."
Mendengar kalimat sedih yang diucapkan oleh Aska membuat hati Jingga terenyuh. Jingga menatap wajah suaminya secara intens. Dia juga merasa bersalah kepada Aska. Dia sudah membebani Aska. Dia sudah tidak mau menuruti keinginan Aska.
"Mau, ya." Aska sedikit memaksa dan akhirnya Jingga mengangguk. Rasa lega pun terlihat di wajah Askara.
Aska mengecup kembali kening Jingga dengan sangat dalam. Dia tersenyum ke arah istrinya.
"Mau sarapan apa?" tanya Aska lagi.
"Roti bakar selai strawberry." Aska pun mengangguk. Dia segera turun ke lantai bawah dan menuju dapur.
"Buatkan roti bakar selai stroberi yang tebal dan antarkan ke atas." Pelayanan itupun mengangguk.
Aska bergabung bersama kedua orang tuanya. Mereka mencari sosok Jingga yang sudah seminggu ini tidak berada di meja makan
"Istrimu masih sedih?" Aska hanya tersenyum menjawab ucapan dari ibunya tersebut.
"Mengikhlaskan itu lebih sulit dari apa yang kita katakan."
Gio mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aska. Dia bisa mengatakan ikhlas kepada orang lain. Ketika kehilangan menerpa dirinya, dia juga sulit untuk move on dan masih berharap ini hanyalah mimpi belaka.
Setelah selesai sarapan Aska kembali lagi ke kamar dan sang istri tengah menikmati roti bakar dengan selai strawberry segar.
__ADS_1
"Enak?" Jingga hanya mengangguk pelan. Dia menyodorkan roti bakar itu kepada Aska. Namun, sang suami menggeleng.
"Siang aku jemput, ya." Jingga pun mengangguk.
.
Ucapan turut berduka cita masih mengalir sampai saat ini. Namun keluarga Wiguna sudah mulai terbiasa akan hal ini. Mereka malah tidak mengungkit Ayna kembali karena tidak ingin membuat Aska dan Jingga kembali bersedih.
Aksa berpapasan dengan Aska yang keluar dari ruangannya. Dahi Aksa mengkerut karena melihat sang adik sudah keluarga sebelum jam istirahat.
"Mau ke mana?"
"Ke rumah sakit." Kedua alis Aksa menukik sangat tajam. Dia meminta penjelasan lagi.
"Memeriksakan keadaaan Jingga." Akhirnya, Aksa pun mengangguk.
Jingga sudah turun bersama Aska. Mereka saling bergenggaman tangan. Ayanda merasa miris melihat kondisi menantunya.
"Kalau kata dokter suruh diopname, langsung opname, ya." Jingga pun mengangguk. Dia melihat raut penuh kekhawatiran di wajah ibu mertuanya. Ternyata semua orang peduli akan dirinya.
Mobil melaju ke rumah sakit. Perut Jingga terasa diaduk-aduk dan semakin pucat.
"Sayang," panggil Aska. Dia segera menggenggam tangan Jingga dan mampu membuat Jingga sedikit merasa tenang.
Tibanya di rumah sakit, mereka tidak perlu menunggu lama. Dokter sudah memeriksa Jingga. Keluhan yang Jingga katakan membuat dokter melengkungkan senyum. Namun, dia tetap memeriksa keadaan Jingga. Semuanya normal dan tidak ada masalah.
"Saya akan merujuk istri Anda," ucap sang dokter.
Mata Aska melebar, begitu juga dengan Jingga. Jantungnya sudah berdegup sangat cepat mendengarnya. Secarik kertas dokter itu berikan. Aska membaca dengan seksama tulisan yang seperti ceker ayam.
"Dokter obgyn."
...****************...
Komen dong...
__ADS_1