
Tepat hari ini adalah ulang tahun pertama si quartet. Acara ulang tahun dibuat semeriah mungkin walaupun hanya mengundang keluarga juga anak yatim piatu serta anak-anak panti asuhan. Aska satu pemikiran dengan Aksa, tidak boleh merayakan dengan meriah. Cukup syukuran dan didoakan oleh anak-anak yang doanya akan diutamakan oleh Tuhan.
Jingga dan Aska sudah memakai baju senada. Begitu juga dengan si quartet. Mas Abdalla akan selalu cool di manapun dia berada. Ahlam atau Abang akan terus menebar senyum. Sedangkan Arfan atau Kakak akan menjadi perusuh di manapun dia berpijak, dan yang paling cantik di antara ketiga kakaknya akan selalu bersikap centil bagai belatoeng nangka.
Di sebuah mall seorang bocah masih nampak bingung dengan apa yang ingin dia berikan kepada empat sepupunya. Dia bersama Pak Joe yang tak lain adalah bodyguard Gavin masih memutari mall. Jujur, Gavin bingung.
"Mending beli es krim aja, Pak."
Pak Joe malah tertawa. Anak majikannya ini selalu saja membuat orang gemas. Dari ketampanannya, cara bicaranya juga ucapannya yang terkadang nyelekit.
"Mentahnya ajalah," gumamnya.
Riana terus menghubungi Joe karena putranya belum kembali dari sekolah. Joe pun menjelaskan dan membuat hati Riana lega.
Ghea, anak itu sudah sangat cantik dengan gaun berwarna pink. Empat kado yang cukup besar pun sudah Riana siapkan.
.
Di rumah besar sudah ramai para tamu undangan juga anak yatim. Sayangnya Arfan malah tak mau diam. Dia terus berlari ke sana dan ke sini. Tak peduli dia menabrak tubuh siapa.
"Dek, mending ikat anak kamu yang satu itu. Bahaya," titah sang mommy. Aska pun mengangguk dan pada akhirnya kaki Arfan diikat dan dia tidak bisa ke mana-mana.
Semuanya sudah berkumpul mengikuti acara demi acara yang sudah disiapkan. Anak-anak nampak gembira begitu juga dengan para orang tua yang tertawa bersama. Apalagi Gio mengadakan acara kuis untuk para anak-anak. Siapa yang bisa jawab mendapat uang seratus ribu rupiah.
"Pertanyaan pertama. Negara apa yang penduduknya paling banyak?" Itu adalah pertanyaan anak SD karena anak yatim piatu yang datang memang rata-rata usia sekolah.
Semua orang tercengang karena anak usia lima tahun mengangkat tangan. Siapa lagi jika bukan Gavin.
"China."
Terkejutlah mereka semua mendengar jawaban dai Gavin. Sang kakek tersenyum bangga kepada cucu pertamanya.
"Cucu gua tuh," ucap Rion dengan begitu bangganya.
"Giliran yang baik-baik lu akuin cucu, giliran tuh anak bangor cucunya si Gio itu mah." Arya memperagakan ucapan sahabatnya. Rion pun berdecak kesal dan ingin sekali mencekik leher Arya Bhaskara.
Hampir semua pertanyaan bisa dijawab oleh Gavin. Semua orang pun bertepuk tangan. Ada sepuluh pertanyaan berarti anak itu memegang uang cash satu juta. Namun, ketika dia menerima uang karena menjawab pertanyaan terakhir, Gavin membisikkan sesuatu kepada MC. Pembawa acara itupun terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu serius, Nak?" Gavin pun mengangguk.
Pembawa acara itupun menyampaikan bahwa uang yang Gavin terima dari menjawab pertanyaan akan dia sumbangkan ke panti asuhan kasih Bunda. Aksa dan Riana tersenyum begitu juga dengan Ghea. Jangan ditanya bagaimana ekspresi kedua kakeknya juga sang nenek yang sangat bangga sekali.
"Anak-anak Ayah, tirulah yang baik dari Mas Gavin. Dia adalah contoh untuk kalian." Keempat anaknya masih fokus memperhatikan Gavin yang ada di mini panggung yang sudah disediakan.
Acara inti pun sudah dimulai. Semua orang sudah menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tangan si quartet kompak bertepuk.
"Tiup lilinnya. Tiup lilinnya--"
"Hufft!"
Arfan Sudah meniup lilin yang ada di atas kuenya. Dia juga meniup lilin kedua kakaknya juga adiknya. Akhirnya kompak adik dan kakaknya menangis. Arfan malah bertepuk tangan senang. Aska hanya bisa menggelengkan kepala. Sungguh anak ketiganya ini sangat jahil.
.
Kamar si quartet sudah penuh dengan hadiah. Mereka sangat bahagia dan ingin segera membuka kado. Jingga dan Aska mempersilahkan anaknya menyobek bungkus kado tersebut. Mereka tertawa ketika mendapat kado dari anak-anak panti. Walaupun sederhana, mereka tetap bahagia. Itulah yang membuat Aska dan Jingga bangga.
Nama Rion Juanda tertera di atas kertas kado. Aska penasaran dan menyuruh keempat anaknya membuka kado tersebut. Anak-anaknya bertepuk tangan gembira.
"Apaan ini?" Aska memegang permen kaki satu pak. Cokelat payung satu toples kecil, cokelat koin satu toples kecil juga dan satu pak permen susu.
Hanya Rion yang memberikan hadiah super super sederhana. Beda halnya dengan Aksara, Arya, Echa dan anak-anak Addhitama. Hadiah yang mereka berikan barang mahal semua.
Ada satu kado yang sangat lucu dan imut. Berbentuk kotak. Itu adalah kado terakhir yang tersisa. Keempat anak itu masih semangat membukanya. Ketika dibuka ....
Sebuh celengan lucu ternyata. Ada kunci untuk membuka gemboknya. Ada secarik kertas di sana. Terdapat tulisan tidak rapih dan tak beraturan di atas kertas tersebut.
"Hadiahnya ada di dalam celengan itu." Mas Agha.
Aska dan Jingga tersenyum. Sungguh manis sekali keponakannya tersebut.
"Ini dari Mas Gavin." Keempat anak Aska seakan mengerti dan mereka bertepuk tangan gembira.
"Bunda buka dulu, ya." Jingga sudah memasukkan kunci ke dalam gembok tersebut dan matanya melebar seketika melihat ada empat gelang yang sama beserta uang pecahan dollar Singapura.
__ADS_1
"Ada namanya," ujar Aska.
Uang itu dilinting-linting dan diberi pita. Di atasnya ada nama si penerima. Gehu, Cireng, Cimol, Bala-bala. Aska merasa sangat terharu. Apalagi nominalnya tidak sedikit. Masing-masing anaknya mendapat hadiah seribu dollar.
"Sungguh baik sekali keponakan kita," tutur Aska. Jingga pun mengangguk.
Aska mengeluarkan ponselnya dan ingin berbicara bersama sang keponakan.
"Apa? Mas mau tidur." Anak itu sudah memakai piyama.
"Makasih ya kado buat si quartetnya." Gavin hanya mengangguk dan tersenyum..
"Mas bingung mau kasih hadiah apa ke mereka. Semuanya udah punya." Anak itu berterus terang.
"Gak apa-apa, Mas. Uncle dan Anteu malah sangat berterima kasih."
"Sama-sama Uncle," sahut Gavin. Anak itupun menguap menandakan dia sudah mengantuk. "Uncle, Anteu gelang yang Mas kasih tolong pakaikan ke si kuamplet, ya biar kalau ilang ada benda pengenalnya." Anak itu malah bercanda.
"Jangan dong," sahut Jingga. Gavin pun tertawa.
"Ya udah, Mas mau tidur dulu, ya. Good night."
Keluarga kecil Aska sungguh sedang dilanda kebahagiaan yang tak terkira. Tak hentinya Aska maupun Jingga melengkungkan senyum. Mereka masih berada di kamar si quartet sampai keempat anaknya itu terlelap.
Ketika mereka sudah masuk kamar ada sang ayah dan juga ibu dari Aska yang ternyata sudah menunggunya di kamar pribadi Askara.
"Ada apa, Mom?" Ada raut yang berbeda yang Ayanda tunjukkan.
"Lusa, kamu harus terbang ke Singapur." Dahi Aska mengkerut. Tidak biasanya dadakan seperti ini.
"Berapa hari di sana?" Giondra pun terdiam. Dia manatap lekat ke arah sang putra.
"Dad," panggil Aska karena ayahnya masih bergeming. Jari sang ayah diangkat ke atas dan menunjukkan angka empat.
"Empat hari." Gio menggeleng. "Empat bulan?" Lagi-lagi Gio mengegeleng. "Lalu?" Aska penasaran.
"Empat tahun." Jingga dan Aska syok mendengarnya. "Wiguna Grup Singapore membutuhkan kamu."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...