
Aska berjalan menuju rumahnya dengan langkah gontai. Bukan hanya pusing memikirkan pria dewasa yang belum bisa menerima kenyataan. Dia juga harus melawan rasa kantuk yang menerpa dirinya. Matanya sudah tinggal lima watt.
Tangannya sudah menekan gagang pintu. Dahinya mengkerut ketika melihat sang istri sedang terduduk di atas sofa khusus yang diperuntukkan untuknya beristirahat. Tangan sang istri pun tengah menggenggam ponsel miliknya.
"Bunda," panggil Aska.
Wanita yang tengah terduduk pun menoleh ke arah Askara dengan mata yang sudah nanar. Aska segera menghampiri Jingga dan memeluk tubuh istrinya.
"Ayah dari mana?" tanya Jingga dengan suara berat.
"Maaf ya, Bunda," sesal Aska dengan tangan yang mengusap lembut punggung Jingga. "Ayah tadi keluar sebentar menemui pria bodoh," jelasnya.
Jingga tahu siapa yang dimaksud oleh suaminya. Dia hanya mengangguk pelan bertanda dia mengerti.
"Jangan begini lagi," larang Jingga. "Bunda takut," lanjutnya lagi.
Aska pun mengangguk dan membelai lembut rambut Jingga. Belaian lembut itu membuat Jingga merasakan kenyamanan yang luar biasa. Tak lama berselang, dengkuran halus pun terdengar. Aska malah tertawa. Betapa manjanya istrinya ini. Dia tidak menyangka istrinya akan seperti ini. Istri yang biasanya mandiri kini malah seperti ini.
Aska meletakkan tubu Jingga dengan pelan di atas sofa. Lengkungan senyum terukir di wajah Askara. Untuk kesekian kalinya dia mencium kening istrinya. Kemudian, dia turun ke area perut sang istri yang sudah membukit.
"Buatlah Bunda tidur nyenyak malam ini ya, Nak."
__ADS_1
Kalimat itulah yang sering Aska katakan kepada anak-anaknya yang ada di dalam perut isteri tercintanya. Mulut Aska pun menguap dengan begitu lebarnya menandakan bahwa dia juga sangat mengantuk. Dia pun merebahkan tubuh di karpet berbulu yang ada di bawah sofa tersebut.
Baru saja hendak memejamkan mata, suara anak kecil menggangu tidurnya. Matanya pun mencari sosok yang mengganggunya tersebut.
"Uncle, pelut Mas mules."
Mendengar kata mulas membuat mata Aska melebar. Mulutnya pun menganga tidak percaya.
"Cepat, Uncle." Anak itu sudah menarik tangan sang paman dengan keras.
Dut!
Auto Aska menutup hidungnya. Sudah pasti gas yang dikeluarkan sang keponakan sangat beracun. Ditambah anak itu terus menarik tangan sang paman.
Seharusnya anak ini diurus oleh istrinya. Berhubung istrinya baru saja terlelap, dia tidak ingin menggangu. Biarkanlah dia belajar menjadi seorang ayah. Menunggu sang keponakan di luar kamar mandi dengan mata yang sudah terkantuk-kantuk. Aska pun menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Hoam!"
Berkali-kali Aska menguap. Dia menutup mulutnya lagi dan lagi. Sungguh lama sekali Gavin di kamar mandi.
Aska sudah melipatkan kedua tangannya di atas dada. Matanya pun sudah mulai terpejam karena sungguh dia tidak sanggup membuka mata.
__ADS_1
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ibu hamil pun terbangun karena dia ingin pipis. Dahinya mengkerut ketika tidak ada suaminya di bawah Sofa. Juga sang keponakan tidak ada di ranjang miliknya yang ditempati oleh Gavin.
"Pada ke mana?" tanya Jingga heran.
Air seninya tidak bisa di tahan dan alhasil dia segera melangkah menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat sang suami sudah tertidur di dinding samping kamar mandi dalam posisi duduk.
"Loh!"
Jingga melihat suaminya terlihat kelelahan. Jingga pun memberanikan diri untuk membangunkan suaminya.
"Ayah," panggilan lembut Jingga. Aska masih memejamkan matanya dengan tangan yang masih ada dilipat di depan dada. Jingga menyentuh lengan sang suami dan dia pun sedikit terkejut. Perlahan dia membuka mata dan sudah ada istrinya di sana.
"Kok tidur di sini?" Pertanyaaan Jingga membuat dirinya teringat akan satu hal.
"Empin!"
Aska segera bangkit dari posisi awalnya dan membuka pintu kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi di buka, aroma bunga raflesia Arnoldi sangat menyengat. Namun, si manusianya malah tidur nyenyak di atas kloset dengan mulut yang menganga.
"Astaga Empin!"
...****************...
__ADS_1
Minta komennya boleh dong ya ...