
Kebahagiaan sedang menyelimuti hati Jingga. Setelah konferensi pers, dia merasa hidupnya teramat sempurna. Dikelilingi orang-orang yang menyayanginya dan juga putrinya.
Ayna menjadi daya tarik tersendiri untuk kelurga Wiguna. Dia benar-benar menjadi mata untuk semua orang yang melihatnya. Menghindari stress berkepanjangan, akhirnya Aska memutuskan untuk memutus hubungan istrinya dengan sang mertua. Pria seperti itu tidak pantas disebut ayah mertua.
"Gak apa-apa 'kan."
Sebelum bertindak Aska akan bertanya kepada Jingga terlebih dahulu. Jingga pun mengangguk. Nomor lama Jingga Aska buang dan dia ganti dengan nomor juga ponsel yang baru. Hadiah untuk istri tercintanya.
Ayna sudah terlelap, tinggal ayah dan bundanya yang masih terjaga. Aska merealisasikan ucapannya dan memulai apa yang ingin dia lakukan kepada istrinya. Dia ingin segera melepas dahaga panjang yang dia pendam selama dua bulan ini.
Satu per satu kain yang menempel di kulit mereka masing-masing Merkea tanggalkan, dan kini hanya menampilkan sebuah kesempurnaan. Walaupun terlihat guratan luka bekas operasi Caesar yang sudah terlihat samar karena obat yang diberikan oleh dokter sangat bagus.
Mengarungi lautan kenikmatan dengan suara khas yang membuat mereka semakin terbang melayang. Untung saja Ayna tidak terbangun karena suara gaduh yang mereka keluarkan. Itu menandakan mereka benar-benar menikmatinya dan meninggalkan kesedihan yang pernah mereka rasakan.
Hanya rasa nikmat dan tak ingin menyudahi yang mereka rasakan. Hingga denyutan hebat membuat mereka berteriak dengan suara tercekat. Mencapai puncak secara bersamaan adalah hal yang paling mengasyikkan.
"Makasih, Sayang."
Kecupan hangat Aska berikan di kening Jingga. Dia menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuh istrinya.
"Bang, aku lapar."
Aska pun tertawa. Dia mencium singkat bibir indah Jingga.
"Buat mie hijau aja mau?" Jingga pun mengangguk.
Di rumah besar itu hanya ada mie sehat yang disediakan. Jika, menginginkan mie enak mereka harus membelinya sendiri. Aska turun ke lantai bawah dan membuatkan mie untuk istri tercintanya. Dia pun menambhakan sayuran hijau juga protein hewani agar gizinya lengkap.
Selang setengah jam, Aska sudah selesai dengan acara masak mie-nya. Dia membawa nampan berisi mie juga teh hangat untuk Jingga. Terlihat sang istri baru keluar dari kamar mandi.
"Kok cuma satu?" tanya Jingga.
"Aku gak lapar, ini sengaja aku buatin buat kamu."
Jingga pun tersenyum. Aska mengajak Jingga untuk duduk di sofa dekat pintu. Dia tidak ingin mengganggu putrinya yang tengah terlelap.
"Aku suapin, ya."
Perlakuan lembut Aska membuat Jingga terharu. Tatapan teduh Aska, juga keikhlasa hatinya menerimanya membuatnya tidak bisa berkata.
__ADS_1
"Aku sayang kamu."
Sebuah kalimat yang membuat Aska segera menatap wajah istri tercinta.
"Love you, Ayah."
Aska tersenyum dan dia membalas ungkapan cinta yang terlantar dari bibir istrinya. Jarang sekali Aska mendengar ucapan itu.
"Kayaknya modus nih," goda Aska.
Jingga malah merengutkan wajahnya. Dia tidak terima dibilang seperti itu oleh sang suami. Aska malah terbahak dengan begitu lebarnya.
"Bercanda, Sayang," ucapnya. "Love you too, Bunda."
Setelah selesai makan dan bercanda ria, akhirnya Jingga terlelap dengan begitu nyamannya. Jingga tengah berada di mode manja. Dia benar-benar tidak menginginkan jauh dari suami tercintanya. Aska malah senang, apalagi sang putri seakan memberikan ruang kepada ayah bundanya untuk berduaan.
Seminggu setelah diadakan konferensi pers, rumah tangga Aska dan jingga semakin terlihat bahagia. Ditambah Ayna yang semakin gembul membuat semua orang gemas terhadapnya.
Aksara menuju ruang adiknya dengan tergesa. Tak dia hiraukan ada Fahrani di sana. Aska yang tengah fokus pada benda segiempatnya dibuat bingung dengan kehadiran Aksa yang terlihat serius.
"Kenapa?" tanya Aska.
"Bukan di Indo 'kan." Aska masih belum menangkap apa yang terjadi.
"Singapura."
Aska mengembalikan ponsel sang Abang. Dia kembali fokus pada layar segiempat di depannya.
"Gua sih berharap itu mertua laknat gua biar dia ngerasain gimana rasanya hidup cacat."
Suara Aska sangat lantang mengatakan itu semua. Hatinya sangat sakit mendengar penjelasan dari Jingga maupun Riki. Apalagi dia melihat dengan jelas jikalau Jingga sangat terluka akan perkataan juga pernyataan ayah kandungnya sendiri.
"Itu memang dokter Eki."
Tangan Aska yang sedang menari-nari di atas keyboard menggantung seketika. Dia menatap ke arah sang Abang dengan tatapan tak percaya. Aksara melebarkan gambar yang ada di ponselnya dan menunjukannya kepada Aska. Terlihat wajah dokter Eki di sana.
"Dia kembali gila dari seminggu yang lalu. Pada malam hari dia berlari dengan telandjang bulat ke arah jalanan. Dia ditangkap oleh polisi sekitar dan dibawa ke rumah sakit jiwa karena terus berteriak tak jelas."
Mata Aska melebar mendengar penuturan dari Aksara. Seminggu yang lalu, sebuah clue yang Aska terima dari Aleesa. Apakah ini jawabannya?
__ADS_1
"Terus kenapa bisa terjadi seperti itu?" tanya Askara serius.
"Dia kabur dari rumah sakit jiwa, tenyata tindakannya itu diketahui oleh pihak rumah sakit. Dikejarlah tuh orang. Dia malah lari ke tengah jalan dan ada motor yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi menyerempet dia hingga di tersungkur dan dari arah berlawanan ada mobil truk yang melintas dan melindas kedua kakinya. Hanya kedua kakinya," terang Aksara. Aska hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Tuhan gak pernah tidur. Apa yang dia tanam dulu, itulah yang dia tuai sekarang," sahut Aska.
Tidak ada rasa iba yang Aska tunjukkan. Inilah jawaban atas kepasrahan sang istri. Jingga menyerahkan semuanya pada pengadil yang seadil-adilnya, yakni Tuhan.
"Lu akan beritahu Jingga?" tanya Aksa.
"Buat apa? Gua gak mau istri gua kembali sedih," sahutnya. "Itu karma untuknya. Banyak hati yang sudah dia sakiti. Banyak manusia yang sudah menjadi kekejaman atas dirinya. Sekarang, dia harus mempertanggungjawabkannya."
Informasi ini Aksa terima dari Arya dan juga Rion. Mereka berdua yang menjadi saksi bisu perihal kecelakaan yang menimpa dokter Eki.
"Gua gak mau cacat!"
Teriakan dokter Eki terus seperti itu sampai saat ini. Dia bagai orang yang tidak waras. Menunjuk-nunjuk ke arah depannya dengan mulut yang bersungut-sungut. Padahal di depannya tidak ada siapa-siapa.
"Dasar anak-anak cacat! Anak pembawa sial!"
Arya dan Rion menggelengkan kepala mereka. Dalam kondisi seperti ini saja dokter Eki masih mampu berkata kasar. Bagaimana Tuhan tidak murka kepadanya.
"Orang ini benar-benar gila," ucap salah seorang yang ada di sana.
Arya dan Rion mengikuti dokter Eki hingga ke rumah sakit. Pria itu sepertinya tidak merasakan kesakitan karena sedari tadi mulutnya masih mengomel tak jelas.
"Gara-gara kalian, saya cacat!" seru dokter Eki ke arah depannya.
"Gua rasa sih tuh si Eki diikutin teman-teman setannya di Iyan sama si Aleesa," bisik Arya di telinga Rion.
Rion pun hanya tertawa. Dia juga sepemikiran dengan Arya. Namun, itu semua bukan ulah teman-teman dari Iyan juga Aleesa. Itu ulah Dea dan adiknya.
"Makasih Opa. Kaki Opa adalah tumbal untuk kami bisa berkumpul dengan Bunda dengan tubuh yang normal," ujar Dea.
"Selamat merasakan bagaimana menderitanya jadi kaum difabel." Adik Dea bermata indah juga ikut berbicara.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1