Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
226. Logika dan Hati


__ADS_3

"Jangan lepaskan!"


Air mata pun jatuh begitu saja membasahi wajahnya. Tangan para dokter yang akan melepaskan semua alat penopang hidup dokter Eki pun menoleh. Mereka menatap ke arah Jingga.


"Jangan, saya mohon." Suaranya begitu lemah.


Mereka malah menatap ke arah Raditya Addhitama. Hanya sebuah anggukan yang Radit berikan. Dia pun menatap ke arah Jingga yang berderai air mata.


"Biarkan alat itu dipasang pada tubuhnya, Bang. Biarkan dia menikmati karmanya." Ucapan Jingga semakin ke sini semakin melemah. Dia juga sudah menunduk dalam setelah mengatakan itu semua.


"Apa kamu ingin melihat dia tersiksa secara langsung?" Jingga menggeleng. Namun, kepalanya masih menunduk dalam.


"Aku belum memaafkannya, tapi aku tidak bisa membencinya." Radit pun tersenyum mendengarnya. Sekeras kepala apapun Jingga pasti dia memiliki titik kelemahan, yakni hatinya yang begitu lembut.


"Urus dia, Bang." Jingga berkata masih dalam kondisi menunduk dalam. "Aku keluar dulu."


Jingga balik kanan sambil mengusap air matanya. Dia sungguh tidak tega melihat ayahnya seperti ini. Ketika mulut tak sesuai hati, inilah yang terjadi.


"Jing-ga."


Mata semua dokter yang ada di ruang perawatan melebar. Mereka saling tatap dan segera memeriksa kondisi dokter Eki. Tubuh Jingga pun menegang. Ingin rasanya dia membalikkan tubuhnya. Namun, ego masih memenuhi hatinya, membuatnya mengabaikan dengan derasnya air mata yang mengalir.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ayah." Hatinya berkata dengan begitu lemah. Tangannya pun sudah meraih gagang pintu. Dia sama sekali tidak menegakkan kepalanya. Mulutnya pun terkatup rapat, Fahri yang membawa dokter obgyn pun terkejut melihat istri dari adik atasannya sudah berada di luar ruang perawatan. Berjalan gontai tanpa ada yang melarangnya.


Echa menggelengkan kepala. ECha tahu apa yang dibutuhkan Jingga sekarang. Dia memberikan ruang sendiri kepada Jingga. Tetap dengan pengawasan dari orang suruhannya.


.


Ponselnya terus bergetar, tapi Jingga membiarkan. Dia masih bergelut dengan hati dan pikirannya. Bayang wajah ayahnya sangatlah menyayat hatinya. Sakit sekali melihat ayah kandungnya seperti itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dengan air mata yang belum juga kering.


Jingga merenung seorang diri. Minuman yang dia pesan tidak dia sentuh sama sekali. Perutnya pun tidak terasa lapar. Anak-anaknya yang ada di dalam perut pun tidak merespon apapun. Hanya pergerakan kecil yang mereka lakukan.


AKu hanya memanggilmu, Ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu, Ayah


Di saat ku jauh draimu


AIr mata yang tadinya hendak mengering kini tumpah kembali. Lagu yang diputar sangat menyayat hati. Sesuai dengan hatinya saat ini yang terus mengingat sang ayah.

__ADS_1


Jingga mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Nama kontak yang tertera di sana bernama William. Pikirannya berkecamuk, hatinya tak karuhan. Bingung harus bagaimana. Abai atau terus menjaga walaupun selalu diabaikan dan tak dianggap.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Jingga. Dia menimbang-nimbang apakah dia akan mengirim pesan tersebut atau membatalkannya.


"Sejahat apapun orang itu, ketika masih bisa kamu bantu, bantulah. Seharusnya kejahatan dibalas dengan kebaikan. Bukan dibalas dengan kejahatan pula."


Jingga menoleh ke asal suara. Ternyata ada seorang ibu yang tengah menasihati putrinya. Terlihat jelas sang putri menunduk dalam.


"Mau diterima atau tidak bantuan kita nantinya, biarkanlah. Yang paling penting niat kita sudah baik."


Pandangan Jingga pun berpaling pada ponselnya lagi. Dia teringat ketika dia menanyakan biaya perawatan juga pengobatan ayahnya kepada pihak rumah sakit. Ternyata memerlukan uang yang cukup banyak. Nilainya pun terbilang fantastis bagi dirinya. Dia memang memiliki kartu hitam, tapi itu milik suaminya. Dia tidak akan menggunakan kartu itu untuk urusan pribadinya.


Akhirnya, pesan itu Jingga kirimkan kepada William.


"Will, saya butuh uang 1M. Saya butuh secepatnya untuk biaya rumah sakit ayah saya."


...****************...


Komen lagi dong ...


Sepi banget ...

__ADS_1


__ADS_2