
Aleena membawa sang Tante ke panti asuhan ayah bunda. Tempat di mana yang katanya Aleena merasa nyaman jika berada di sana. Jingga mengangguk saja, dia juga ingin menenangkan diri untuk sejenak. Perkataan suaminya terus terngiang di kepala.
Tiba sudah mereka di panti asuhan tersebut. Mereka turun dan disambut hangat oleh ibu panti.
"Kenapa ke sini gak bilang dulu?" tanya sang ibu panti. Pasalnya dia tidak memiliki apa-apa untuk disuguhkan kepada Aleena.
"Tadi sekalian mampir aja, Bu," sahut Aleena dengan begitu sopan.
Jingga tersenyum ke arah keponakannya yang memiliki attitude yang luar biasa kepada orang yang lebih tua.
"Kak Aleena!"
Jingga sedikit terkejut ketika banyak anak panti yang manggil Aleena dan tanpa merasa canggung Aleena menghampiri mereka semua. Jingga melihat ibu panti melengkungkan senyum dan tatapannya tertuju pada Aleena dan juga anak-anak panti yang menarik tangan Aleena.
"Aleena disukai oleh semua anak panti di sini." Jingga tersenyum mendengar yang dikatakan oleh ibu panti. Dia melihat itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Semenjak Rangga memutuskan untuk bekerja, anak-anak jadi kehilangan seorang kakak yang membimbing mereka."
"Saya salut sama Rangga," timpal Jingga.
Ibu panti mempersilahkan Jingga duduk di sofa yang sudah sedikit lusuh.
"Rangga adalah anak yang sangat bertanggung jawab. Tak mengenal lelah dan sayang keluarga." Mata ibu panti berkaca-kaca ketika menceritakan Rangga. Anak yang sangat luar biasa. Anak orang kaya yang malang. Anak itu dibuang ketika kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat terbang. Keluarganya malah mengambil warisan Rangga dan dia dititipkan di panti ini.
"Dia pulang jam berapa setiap hari?" Jingga sudah menatap ke arah ibu panti. Dia sangat senang mendengar cerita tentang Rangga.
"Sekolah pulang jam dua belas. Jam satu dia berangkat kerja dan sampai panti lagi Maghrib."
"Apa dia tidak lelah?" tanya Jingga. Ibu panti itu hanya tersenyum.
"Saya juga sempat bertanya seperti itu kepada Rangga," tutur ibu panti. "Nona tahu apa jawabannya?" Jingga pin menggeleng .
"Aku memang bukan robot, tapi aku harus bekerja bagai robot agar aku jadi orang hebat."
Ibu panti menirukan ucapan Rangga. Sungguh hati Jingga terenyuh mendengarnya. Anak seusai Aleena sudah bisa berkata seperti itu. Dia sungguh tidak menyangka.
"Rangga itu dewasa karena keadaan," papar ibu panti.
"Assalamualikum."
Jingga dan ibu panti pun menoleh dan ternyata Rangga baru pulang sekolah. Dia menyapa sopan Jingga. Tak lupa dia mencium tangan ibu panti dengan begitu sopan. Juga tangan Jingga dan mampu membuat Jingga melengkungkan senyum.
"Lebih baik kita makan siang dulu, yuk," ajak Jingga. "Pasti Rangga lapar."
"Maaf Non, ibu-"
__ADS_1
"Ibu tenang saja. Saya sudah bawa ayam cepat saji dari mekdi," potong Jingga. "Semoga anak-anak pada suka."
Wajah Jingga nampak berseri ketika berkata seperti itu. Melihat Rangga seperti melihat dirinya sewaktu remaja. Dia sangat bangga pada sosok anak seperti Rangga.
"Tolong bilang ke Pak sopir, turunin makanan yang ada di bagasi mobil." Jingga menyuruh Rangga dan anak itu mengangguk patuh.
"Anak yang luar biasa," puji Jingga. Lagi-lagi ibu panti hanya tersenyum. Dia merasa bersyukur bisa mengenal keluarga dari Wiguna. Walaupun orang kaya, tetapi senang berbagi kepada sesama.
Tak lama berselang, Rangga dan pak sopir membawa beberapa kantong belanjaan yang cukup besar dan cukup banyak. Terlihat plastik itu dari makanan cepat saji merk ternama. Sengaja Jingga dan Aleena membeli yang kotakan juga ukuran ember kecil untuk lauk makan malam nanti.
"Ya ampun, Non. Banyak sekali," ujar ibu panti.
"Ini bukan saya yang beli, Bu. Melainkan Aleena."
Mendengar nama Aleena tubuh Rangga menegang cukup hebat. Kenapa dia melupakan sosok anak itu? Jelas-jelas di depannya itu sekarang ada tantenya Aleena.
"Ngga, bawa ke halaman belakang. Kita makan di bawah pohon rindang saja."
Rangga masih terdiam tak merespon ucapan sang ibu panti. Hingga senggolan dari pak sopir menyadarkannya. Dia pun menatap ke arah pak sopir.
"Pohon rindang di mana?" tanya pak sopir.
Rangga pun membawa pak sopir itu ke halaman belakang panti di mana ada pohon rindang di sana. Ibu panti sendiri mengambil tikar juga memanggil anak-anak panti yang lain yang tengah bermain bersama Aleena.
Jingga tersenyum bahagia ketika melihat anak-anak itu berlari gembira. Apalagi melihat makanan ayam crispy dengan berinisial huruf M besar. Mereka terlihat sangat antusias.
"Kak Rangga udah pulang?" Rangga tersenyum dan mengusap lembut rambut anak perempuan yang bernama Keke.
"Iya, Ke," jawab Rangga dengan begitu lembut.
Sekarang giliran Aleena yang terdiam seribu bahasa. Hanya bisa memperhatikan Rangga dengan sorot mata yang tidak bisa terbaca.
"Kakak ganti baju dulu, ya." Keke pun mengangguk. Rangga berlalu begitu saja melewati Aleena dan ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya saat ini.
Jingga menegur keponakannya yang sedari tadi hanya berdiri. Berkali-kali memanggil, tapi tak kunjung direspon oleh Aleena.
"Kakak Na!"
Jingga sedikit berteriak dan akhirnya Aleena pun menoleh. Dia tersenyum tipis kepada sang Tante.
"Mikirin apa sih?" tanya Jingga ketika Aleena sudah duduk di sampingnya. Anak itu hanya menggelengkan kepala.
Sedangkan di dalam panti, Rangga sudah menghampiri ibu panti. Dua menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum berbicara.
"Kita makan bareng dulu, Ngga," ajak ibu panti yang sudah membawa buah pisang yang ada di dapur.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Aku harus pergi ke tempat kerja lebih awal." Rangga berkata dengan penuh ppenyesalan. Wajah ibu panti pun nampak sedih.
"Ngga, apa gak bisa kamu makan siang dulu di sini? Gak enak sama Non Jingga dan Neng Aleena."
Sorot mata ibu panti penuh harap, tapi Rangga menggeleng dengan cepat. Semua keputusan yang sudah Rangga ambil tidak bisa diganggu gugat. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut ibu panti.
"Ya udah, ibu mintai jatah kamu ya," ujar ibu panti. "Nanti bisa kamu makan di sana." Rangga hanya mengangguk.
Dia pun meninggalakan ibu panti dan menuju kamarnya. Selepas membuka seragam, dia terduduk di tepian ranjang. Bibirnya terangkat, tetapi raut wajahnya terlihat muram.
Ada kalimat yang terlontar dari seseorang yang membuat dia merasa tidak pantas dekat dengan Aleena. Jangankan dekat, berteman saja tidak pantas.
"Aku harus jadi orang sukses dan bisa mengangkat derajat ibu panti. Terlalu sering aku dikucilkan dan dianggap remeh hanya karena aku tinggal di sini," gumamnya.
Memotivasi diri sendiri itulah yang sedang Rangga lakukan. Ibu panti datang dengan membawa satu kotak makanan cepat saji untuk Rangga.
"Naik angkot ya, Ngga. Jangan jalan, nanti kamu capek."
"Iya, Bu."
Di lain tempat Aleena seakan tidak selera menyantap makan siang hari ini. Dia masih kepikiran tentang sikap Rangga yang acuh padanya. Berkali-kali Jingga menegur, tapi Aleena tetap tak menghiraukan.
Ibu panti sudah bergabung lagu dan Keke menanyakan keberadaan Rangga.
"Kak Rangga sudah pergi kerja," jawab ibu panti.
Aleena segera beranjak dari duduknya dan beralasan ingin ke kamar mandi. Namun, dia ingin berbicara kepada Rangga.
Aleena berlari ke halaman depan panti dan terlihat Rangga sudah menutup pintu pagar panti.
"Rangga!"
Sang empunya nama pun menoleh. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat Aleena berlari. Kini, mereka saling berhadapan.
"Rangga, aku tidak bermaksud-"
"Memang benar ucapan teman kamu itu. Aku beda kasta dengan kalian. Aku tidak pantas berteman dengan kalian," potong Rangga. Aleena terdiam membisu mendengar apa yang dikatakan Rangga.
"Maaf, aku harus berangkat kerja. Aku bukan anak orang kaya yang kerjaannya berleha-leha."
Jleb! Menusuk sekali ucapan dari Rangga.
"Aku permisi."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa komen