Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
Episode. 21


__ADS_3

"Sial. Wanita jalang itu tidak juga menyerah walau sudah aku perlakukan seperti itu. Huh. Pokoknya aku harus cari cara supaya dia enyah dari rumah ini dan tidak memiliki kesampatan untuk merebut Akhtar dari ku." geram Tania kesal.


Berbagai cara telah gunakan hanya untuk membuat Arumi menyerah dan meninggalkan Akhtar, tapi semuanya sama sekali tak membuahkan hasil. Tania sampai terheran dan bertanya-tanya, apa yang membuat Arumi bertahan sampai sejauh ini.


Ya, Tania tak akan pernah tahu jika yang membuat Arumi dapat bertahan selama ini hanya ada satu, yaitu besar cintanya pada Akhtar. Demi mempertahankan rumah tangganya tentu segala cara akan ia lakukan meski itu sakit.


Menurut Arumi, apapun halangan dan rintangan yang ada didepan matanya tak akan pernah membuatnya menyerah begitu saja pada Akhtar. Kecuali Akhtar sendirilah yang akan memintanya pergi dan pada saat itu terjadi maka ia akan pergi, meski dengan berat hati.


Tania berpikir keras di dalam kamarnya dan menyusun rencana untuk mengusir Arumi yang sering ia sebut wanita jalang itu. "Ohh. Ya, ya. Sepertinya tidak ada cara lain kecuali itu."


Sepertinya sebuah ide telah muncul di benak Tania. Entah ide gila apa lagi yang akan ia lakukan saat itu nanti. Hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkannya.


***


"Serius..?" ucap Beno tak percaya akan cerita dari sahabatnya, Akhtar.


Akhtar baru saja menceritakan, jika mamanya perlahan sudah mulai membaik. Juga sudah mau menerima Arumi sebagai menantunya dan tak lagi menuduhnya sebagai wanita perebut milik orang.


Tentu Akhtar bahagia saat mamanya mengakui, dia telah menerima Arumi. Awalnya memang tak percaya, tapi Akhtar telah membuktikan dengan mata kepalanya sendiri. Mamanya sudah bisa tersenyum pada Arumi dan sangat perhatian juga pada istrinya.


Saat mendengar cerita Akhtar, Beno sedikit merasa janggal. Karena menurutnya tidak mungkin bagi tante Tania dapat berubah dalam waktu yang singkat. Tapi Beno tak akan bersuara akan hal itu, melihat Akhtar dengan bahagia menceritakan perubahan mamanya membuat Beno urung menyampaikan pendapatnya.


"Ya syukurlah, jika tante Tania sudah membaik dan mau menerima Arumi. Kan kasihan juga Arumi jika harus disiksa sama tante."


"Emm."


"Tapi ngomong-ngomong, nggak mungkin kan kamu nyuruh aku kesini hanya untuk curhat tentang ini?"


Hampir saja Akhtar melupakan niat awalnya ia mengajak bertemu Beno di caffe milik Dania. "Tentulah. Eh, Dania mana?"


Akhtar celingak celinguk mencari keberadaan istri sahabatnya itu, karena biasanya Dania selalu standby di caffe. Tapi sejak tadi Akhtar tak melihat batang hidung Dania, meski telah duduk lama disana.


"Kok malah nyari Dania, kan tadi yang kamu telpon aku."


"Iya, niat sebenarnya itu mau ketemu Dania tapi nggak mungkin kan aku ketemu dia tanpa kamu. Nanti bisa salah paham kan."


"Trus nyari Dania kenapa?"

__ADS_1


"Ada yang mau aku tanyakan sama dia."


"Apa?"


"Nggak bisa nanya sama kamu harus sama Dania. Cepat panggilkan Dania kesini."


"Ck. Dania dirumah, dia nggak ada disini. Dania lagi hamil jadi mama khawatir kalau dia sering-sering keluar apa lagi buat ngurus caffenya."


"Hah. Sia-sia dong kesini."


"Lha, emang mau nanya apa sih ke Dania. Kasih tahu aku, entar aku tanyakan sama Dania."


"Hemm, apa sih tanda-tanda kehamilan?"


"Hah? Tanda-tanda kehamilan? Arumi hamil?"


"Belum pasti sih, hanya sepertinya dia agak gemukan gitu. Tapi itu belum tentu hamil kan. Makanya aku mau tanya Dania waktu dia pertama tahu jika hamil itu bagaimana."


"Kamu kan dokter, masa hal kecil gitu aja tidak tahu."


"Aku dokter bedah, bukan dokter kandungan."


"Hemm, tapi Arumi nggak pernah minta aneh-aneh ditengah malam."


"Ya, coba tes pack aja lah. Kan lebih praktis nggak usah nebak-nebak."


"Oh, iya ya. Kok nggak kepikiran ke situ, ya."


"Otak kamu pendekkan sih."


***


Akhtar baru saja tiba dirumah, deru mesin mobilnya terdengar hingga kedalam rumah. Arumi yang mendengar itu sangat senang, karena penderitaannya akan berakhir jika suaminya berada dirumah.


Tania yang sedang duduk dan menunggu Arumi mengupaskannya buah, tiba-tiba saja merebut pisau buah yang ada di tangan Arumi. Kejadian itu begitu cepat seperti kilat. Tania menjerit kesakitan saat lengan kanannya tertusuk pisau buah. Arumi terkejut bukan main, mendapati darah begitu banyak keluar dari lengan Tania.


Takut jika mertuanya akan melukai dirinya lagi, Arumi merebut pisau buah yang di tangan Tania. "Ya Tuhan, kenapa mama menusuk lengan sendiri."

__ADS_1


Arumi berniat meraih tangan Tania yang terluka, tapi tangannya di tepis begitu saja. "Apa yang kamu lakukan? Apa salah mama sama kamu? Bukankah kamu sudah senang karena mama menerima mu sebagai menantu. Hu..hu..hu.."


Arumi mematung, ia tak mengerti dengan maksud perkataan mama mertunya. "Mama bicara apa sih, aku tidak mengerti. Aku mau nolongin mama menghentikan pendarahannya."


Darah di lengan Tania masih saja mengalir. "Mama tahu, mama sebelumnya berbuat jahat sama kamu tapi mama kan sudah minta maaf. Kalau memang kamu mau bunuh mama ayo bunuh sekarang."


Arumi sungguh tak mengerti alur dari kata-kata mertuanya. "Mama bicara apa sih, Ma. Sini ayo kita segera obatin lukanya."


Arumi berusaha meraih lagi tangan Tania yang terluka, tapi lagi-lagi ditepisnya dan tiba-tiba Tania juga berteriak histeris. "Aaaaa... Tolong. Jangan bunuh saya. Tolong ampuni saya. Toloong..."


"Mama..!" pekik Akhtar. Ia yang baru saja masuk rumah, begitu terkejut dengan kondisi mamanya. Dengan segera ia berlari menghampirinya.


"Akhtar, mama takut. Istri kamu mau membunuh mama. Aaaaa jangan .." Tania terus berteriak histeris.


Akhtar menoleh pada Arumi dan melihat sebuah pisau buah yang berlumur darah berada ditangan Arumi. Menyadari sesuatu, Arumi langsung membuang pisau di tangannya.


"Mas, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Masuk kamar..!" bentak Akhtar tanpa berpikir panjang.


Arumi begitu terkejut ketika mendengar Akhtar membentaknya. Airmatanya terjun begitu saja, ada rasa sakit yang ia rasakan. Ini untuk pertama kalinya selama ia menikah Akhtar membentaknya.


"Mas, aku nggak-"


"Masuk kamar sekarang.!!" untuk kedua kalinya Akhtar membentak Arumi. Tanpa harus menjelaskan lagi Arumi berlari ke kamarnya.


"Rin.. Ririn..!" terika Akhtar.


Ririn yang sedang berada di dapur segera menghampirinya. "Iya, Tuan. Ya Tuhan, Nyonya tangan anda kenapa bisa terluka?" Ririn begitu terkejut mendapati tangan Tania yang berlumuran darah.


"Cepat kamu ambilkan kotak P3K."


"B-baik, Tuan."


Dengan segera Ririn membawakan kotak P3K yang baru diambilnya kepada Akhtar. Dengan hati-hati Akhtar membersihkan luka di lengan Tania dan kemudian membalutnya.


"Sayang, mama sangat takut. Hikss..hikss.. Dulu mama sering memukulnya, mu-mungkin dia mau balas dendam. Mama takut kalau dia masih disini, dia akan melukai mama lagi. A-atau bisa jadi dia akan membunuh mama. Hiks..hiks." adu Tania pada Akhtar.

__ADS_1


Antar percaya atau tidak. Menurut Akhtar, Arumi memang tidak mungkin melakukan hal keji seperti ini, tapi sudah sangat jelas buktinya pisau buah itu berada di tangan Arumi. Akhtar sungguh sangat pusing dibuatnya. Entah dia harus percaya pada siapa.


***


__ADS_2