
"Asal Anda tahu, ketika Anda menyumpahi anak saya dengan kata-kata teramat menyakitkan. Dari situlah saya sudah menganggap Anda mati. MATI!"
Sadis sekali ucapan Jingga kali ini. Suaranya pun sangat lantang bagai Tarzan. Ayanda yang mendengarnya dari arah ruang tamu hanya dapat mengelus dada. Hatinya sangat perih. Hatinya sangat sakit. Inilah luka yang menganga yang Jingga rasakan. Inilah kesakitan yang sedari dulu Jingga pendam. Semua beban baginya dia luapkan dengan penuh emosi.
Ayanda tidak menyalahkan. Wajar jika Jingga seperti itu. Untung saja menantunya tidak stress karena perbuatan ayah kandungnya yang tak memiliki hati.
"Sekarang, silahkan Anda pergi. PERGI!" usirnya. "Saya sudah tidak Sudi melihat wajah Anda lagi," tambahnya.
Jingga pun menutup pintu rumahnya dengan begitu keras. Air matanya meleleh begitu saja. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu rumah besar tersebut. Hatinya bergejolak hebat. Bagaimanapun ada rasa tidak enak di hatinya ketika dia mengatakan itu semua. Dia merasa seperti anak yang durhaka. Namun, ayahnya lebih durhaka kepadanya. Dia masih bisa menerima jika ayahnya menghinanya. Namun, dia tidak bisa menerima jikalau ayahnya menghina putri tercintanya. Anak yang sudah dia lahiran dengan mempertaruhkan nyawa.
"Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku."
Ayanda bersembunyi di sana. Dia sangat melihat betapa terlukanya menantunya itu. Sungguh kesakitan yang menantunya alami tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dari cara Jingga memegang dada pun sudah terlihat jelas. Betapa hatinya terluka. Namun, menantunya juga memiliki hati yang sangat tulus. Setelah membentak ayahnya, dia merasa bersalah.
Jingga mengusap kasar air matanya. Dia memilih masuk ke dalam kamar. Rasa lapar yang tadi mendera, kini sudah menghilang. Hanya rasa perih di dada yang dia rasakan. Melihat sang ayah kehilangan dua kaki membuat Jingga sedih sekali. Ternyata karma dokter Eki dibayar kontan oleh Tuhan.
"Bunda jangan sedih. Nanti kita bisa bertemu lagi. Kami sudah mengambil kaki orang yang paling jahat di dunia ini untuk menggantikan kaki kami yang tidak sempurna ini."
Kalimat yang Dea katakan ketika Ayna dipanggil Yang Maha Kuasa. Ketika Ayna dinyatakan meninggal, tengah malam Jingga setengah bermimpi bahwa Dea datang kepadanya. Dia menuntun Ayna. Namun, bibirnya terus melengkung sempurna. Mereka berdua sepertinya sangat bahagia.
Kalimat itulah yang Membuat Jingga maupun Aska tegar. Apalagi, kecupan hangat Dea dan Ayna terasa nyata di pipi mereka berdua. Sekarang Jingga tahu, orang jahat yang kedua anaknya maksud adalah ayahnya sendiri yang tak lain adalah kakek mereka, yakni dokter Eki.
.
Dokter Eki tak patah arang. Ditolak Jingga dia menuju kantor Wiguna Grup. Dia ingin menemui Askara. Dia ditolak oleh pihak keamanan di sana. Hanya orang-orang yang sudah membuat janjilah yang bisa masuk ke kantor itu. Apalagi perihal membuat janji dengan direktur utama. Itu sangat sulit. Fahrani lebih selektif dalam hal itu.
"Saya mertuanya!"
Dokter Eki membentak pihak keamanan yang menghadangnya. Namun, pria berpakaian hitam itu tidak percaya dengan begitu mudah. Banyak orang yang mengaku-ngaku sekarang ini.
Security itu segera menghubungi security lantai atas di mana Aska berada. Mereka diwajibkan untuk tidak asal menerima tamu karena banyak orang jahat yang akan menjatuhkan perusahaan itu.
__ADS_1
Fahrani terkejut ketika mendengar ucapan dari pihak keamanan lantai tersebut. Dia harus memastikan sendiri ke bawah. Dia juga tidak boleh main-main perihal ini.
Langkah Fahrani terhenti di jarak lima meter dari kursi roda tersebut. Kedua alisnya menukik dengan sangat tajam. Rasa penasaran menghantuinya. Dia segera menghampiri pria itu.
"Permisi," ucap Fahrani dengan begitu sopan. Ketika dia melihat siapa yang tengah duduk di kursi roda dia malah tersenyum lebar.
"Ternyata Anda masih hidup."
Fahrani mengetahui perihal dokter Eki dari Fahri. Dokter yang tidak memiliki hati nurani.
"Lancang sekali mulut kamu," bentak dokter Eki. Fahrani hanya tersenyum. Dia melihat dari atas hingga bawah bentukan dokter Eki sekarang ini. Sudah begini saja masih bersikap sombong.
"Saya ingin bertemu Askara." Dia benar-benar memaksa.
"Peraturan di sini Anda harus membuat janji terlebih dahulu dengan direktur utama," jawab Fahrani dengan begitu lantang.
"Persetan dengan janji," ujar dokter Eki. "Saya tahu kamu itu siapa," ucap dokter Eki. "Kamu mau merebut Aska dari putri saya 'kan."
Sungguh lancang sekali mulut dokter Eki itu. Fahrani hanya tersenyum sinis. Dia mendekatkan wajahnya ke arah dokter Eki.
"Kenapa kamu di sini Fahrani?" Suara Gio terdengar cukup jelas di telinganya.
Dokter Eki tersenyum penuh kemenangan. Apalagi melihat air muka Gio yang tidak bersahabat.
"Kenapa kamu memperlakukan besan saya seperti itu?" hardik Giondra.
Fahrani hanya menunduk dalam. Dia sangat hafal watak Giondra seperti apa.
"Pecatlah pegawaimu yang sok itu," omel dokter Eki sambil menatap ke arah Fahrani.
"Akan saya pertimbangkan." Gio menjawab dengan begitu hangat. Sedangkan Fahrani sudah mendengkus kelas di dalam hati.
__ADS_1
Gio menyuruh pihak keamanan membawa dokter Eki ke lantai atas di mana Aska berada. Dokter Eki sudah tersenyum penuh kemenangan. Ternyata keluarga Aska masih mau menerimanya.
Tibanya di lantai atas, Gio sama sekali tidak membantu dokter Eki. Biarlah dia mengayuh kursi rodanya sendiri. Gio pun kembali ke ruangannya.
Ketukan pintu membuat Aska mengijinkan orang itu masuk. Dahinya mengerut ketika melihat mertuanya datang dengan menggunakan kursi roda. Dia juga tidak merasa terkejut ketika melihat kedua kaki sang mertua diamputasi.
"Askara," panggil dokter Eki lirih. Aska hanya menghela napas berat.
"Ayah ke sini untuk meminta maaf kepada kamu. Ayah sudah memiliki banyak kesalahan kepada kamu juga Jingga. Ayah menyesal."
Aska hanya tersenyum mendengar ucapan dari dokter Eki. Sungguh enteng sekali mengatakan itu semua.
"Lihatlah, Ayah. Ayah sudah mendapat karmanya." Wajah dokter Eki pun sudah mulai sendu. Namun, Aska tidak bereaksi apa-apa. Dia masih menatap wajah orang itu dengan datar.
"Ayah sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ayah tidak mungkin hidup sendiri dengan kondisi seperti sekarang ini."
Aska beranjak dari duduknya mendengar ucapan dokter Eki. Wajah dokter Eki dibuat sememelas mungkin agar menantunya iba. Benar apa yang dipikirkan dokter Eki. Aska mendekat ke arahnya dan bersimpuh di hadapannya. Raut wajahnya pun nampak sedih. Inilah kesempatan dokter Eki untuk terus berpura-pura.
"Hanya anak kalian lah yang Ayah miliki." Tanagan dokter Eki sudah berada di pundak Aska.
Suami dari Jingga itu melirik ke arah pundaknya yang dipegang oleh dokter Eki. Buburnya tersenyum sinis.
"Lepaskan tangan kotor Anda di pundak saya," ucap Aska dengan nada penuh ketidaksukaan. Kini, dokter Eki yang terkejut.
"Ketika harta Anda sudah ludes dengan mudahnya Anda mengiba dengan memperlihatkan kondisi fisik Anda kepada kami," hardik Askara. "Sedangkan ketika kami membutuhkan Support karena kami mengalami cobaan yang cukup berat perihal anak kami. KE MANA SAJA ANDA?" Aska benar-benar marah.
"Masih ingatkah apa yang Anda katakan kepada istri saya perihal Ayna? Masih ingatkah bagaimana sikap Anda kepada Dea?" Aska meminta dokter Eki untuk falshback.
"Saya harap Anda tidak amnesia."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....
Nanti UP lagi.