Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
210. Es Krim


__ADS_3

Boleh minta komennya gak? Gratis kok.


...****************...


"Kenapa lu masih baik sama tuh orang?" Aksara sudah ada di ruangan Aska ketika adiknya baru saja datang.


"Bagaimanapun pria itu tetap mertua gua. Belum tentu juga Jingga membenci ayahnya," jawab Aska santai.


Aska menatap ke arah sang Abang dengan wajah serius. "Gua hanya menjalankan tugas sebagai menantu."


Aksa hanya menghela napas kasar. Dia hanya tidak ingin adiknya itu dimanfaatkan oleh manusia tak berotak itu.


.


Ayanda merasa bingung ketika tidak ada menantunya di kamar calon anak-anaknya. Biasanya Jingga sudah ada di sana untuk ikut menata kamar.


"Mbak, Non Jingga sudah ke dapur?" tanya Ayanda. Biasanya Jingga bolak-balik ke dapur untuk mengambil Cemilan.


"Belum, Nyonya."


Ayanda mengangguk pelan. Dia ingin memastikan jika Jingga baik-baik saja. Terlihat pintu kamar sang menantu terbuka sedikit. Ayanda membuka pelan pintu kamar tersebut. Dia melihat menantunya tengah memandangi sebuah figura dengan kepala yang menunduk.


"Kamu kenapa, Jingga?" tanya Ayanda dengan nada yang sangat pelan. Dia melihat jikalau menantunya itu menyeka ujung matanya yang berair.


Ayanda memilih untuk menutup pintu kembali. Dia tidak ingin mengganggu menantunya. Jingga sepertinya membutuhkan waktu untuk sendiri.


Hanya bisa menduga-duga. Dia juga tidak ingin membuat sang menantu menilai buruk tentang dirinya jika dia terlalu ikut campur atas masalahnya. Satu nama yang ada di kepala Ayanda sekarang ini. Dia menghubungi Askara. Sudah pasti Aska tahu apa yang sedang terjadi dengan Jingga.


Sang putra tak kunjung menjawab telepon darinya. Menandakan bahwa anaknya tengah sibuk. Begitulah anak-anak dan suaminya. Jika, mereka tidak terlalu sibuk mereka akan menjawab panggilan telepon dari Ayanda dengan begitu cepat.


Baru saja dia menyentuh gambar gagang telepon merah suara sang cucu pertama terdengar.


"Loh?" tanya Ayanda heran. Dia melihat ke arah jam tangan dan masih menunjukkan pukul setengah sebelas siang.


"Gurunya rapat, Mimo. Makanya pulang cepat." Aleena sudah tahu apa yang akan sang nenek tanyakan.


"Kedua adikmu mana?" tanya Ayanda lagi.

__ADS_1


"Kakak Sa main ke rumah si Sensen, Aleeya-" Aleena menjeda ucapannya dan mampu membuat sang nenek menukikkan kedua alisnya.


"Aleeya ke rumah Om Ipang," lanjutnya lagi.


"Emangnya ada Kalfa di sana?" tebak sang nenek. Tidak biasanya Aleeya mau sendiri ke rumah peninggalan Addhitama jika tidak ada Kalfa. Aleena pun mengangguk pelan dengan raut yang berubah.


Ayanda merangkul pundak sang cucu pertamanya. Dia memberikan nasihat kepada Aleena Addhitama.


"Kalau jadi seorang kakak tertua jangan pernah egois," ucap Ayanda. Aleena hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia tahu apa maksud dari ucapan neneknya.


Semua orang tahu bahwa Aleena dekat dengan Kalfa. Namun, sekarang ini Aleeya pun terlihat dekat dengan Kalfa. Itulah yang membuat semua orang menasihati Aleena. Setiap kali Kalfa ingin bermain atau berbincang dengan Aleena, dia yang akan menjaga jarak. Walaupun hatinya pun sedih.


"Kakak Na boleh ajak Kak Jing-jing keluar gak?" Anak perempuan itu sebenarnya ingin sekali pergi ke panti asuhan ayah bunda. Hanya tempat itu yang mampu membuat hatinya tenang. Namun, dia tidak berani sendirian. Hendak mengajak Gavin anak itu tengah sedikit demam. Jadi, dilarang oleh orang tuanya.


"Boleh," jawab sang nenek. "Coba ketuk pintu kamar Tante kamu," titah Ayanda.


Tanpa berlama-lama Aleena berlari ke arah kamar sang Tante. Dia mengetuk pintu kamar Jingga dengan cukup keras karena sedari tadi tidak ada jawaban dari dalam.


Pintu kamar terbuka dan Aleena menunggingkan senyum yang menawan kepada Jingga. Seketika senyum itu pudar ketika melihat sang Tante memasang wajah sendu dengan hidung merah bak tomat.


"Kak Jing-jing, temani Kakak Na makan es krim yuk," ajak anak itu. "Es krim langganan Kakak Na dijamin akan membuat Kak Jing-jing tersenyum dan berseri kembali." Anak perempuan itu bagai marketing salah satu produk es krim yang menjajakan dagangannya kepada khalayak umum.


"Kakak Na tunggu di ruang keluarga, ya." Jingga pun menjawab dengan sebuah teriakan. Anak pertama Radit itu menggelengkan kepala melihat tingkah laku tantenya.


"Tante Jingga mau?" tanya sang Mimo yang mengagetkannya. Pasalnya anak itu tengah mengambil susu kotak kesukaannya.


"Iya."


Ayanda pun tersenyum bahagia. Akhirnya, menantunya mau keluar kamar juga. Tak lama kemudian Jingga sudah rapi dengan pakaiannya juga sandal flat yang dia gunakan.


"Ayo!"


Malah sekarang Jingga yang tidak sabaran dan membuat keponakannya mendelik kesal. "Sabarlah!"


Ayanda hanya menggelengkan kepala melihat interaksi keduanya. Ada rasa bahagia di hatinya karena Jingga mulai dekat dengan para keponakannya yang comel-comel dan cenderung menyebalkan.


.

__ADS_1


Baru pertama kali Jingga masuk ke sebuah tempat es krim ini. Langkahnya terhenti ketika dia melihat para pekerja di sana adalah para kaum difabel semua. Hatinya terenyuh ketika dia melihat dalam keterbatasan yang mereka derita, tapi mereka masih cekatan dalam bekerja.


"Hai, Aleena!" sapa seorang karyawan yang hanya memiliki satu tangan.


"Hai, Kak," sahut Aleena dengan senyumnya.


"Seperti biasa?" tanya karyawan itu.


"Iya, tapi sekarang pesan dua, ya."


Karyawan itu hanya menunjukkan ibu jari juga telunjuk hingga berbentuk huruf O. Aleena pun tersenyum dan langsung mengajak Jingga untuk duduk di sebuah meja dekat kaca. Terlihat wajah Jingga berubah. Aleena hanya tersenyum saja.


"Kakak tahu gak," ujar Aleena. "Pemilik kedai ini adalah orang yang memiliki fisik yang sempurna. Tidak seperti mereka." Mata Aleena berbinar-binar ketika menjelaskan kepada Jingga.


"Banyak orang yang beranggapan bahwa kedai yang dijaga atau dilayani orang seperti mereka selalu memiliki rating renda. Namun, bagi mereka yang tahu akan namanya kenikmatan juga arti sedekah mereka akan terus berdatangan ke sini."


Jingga tidak menyangka bahwa keponakan Aska ini memiliki hati yang sangat lembut juga memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Tengah asyik memandang wajah cantik sang keponakan seorang pelayan datang dan membawa nampan berisi dua buah mangkuk berisi es krim dengan banyak toping. Aleena memesan dua porsi es krim cokelat untuk memperbaiki mood.


"Silahkan dinikmati."


Aleena membalasnya dengan sebuah senyum dan tak lupa dia mengucapakan terima kasih. Jingga benar-benar tidak menyangka bahwa sifat asli keponakannya seperti ini.


"Ayo makan, Kak," ucapnya.


Jingga mengangguk, satu sendok es krim sudah masuk ke dalam mulut Jingga dan mata Jingga melebar ketika rasanya sangat enak sekali. Aleena sudah tersenyum.


"Gimana?" tanya Aleena.


"Enak banget."


Jingga melahap kembali es krim yang ada di hadapannya. Diam-diam Aleena mengambil gambar sang Tante dan mengirimnya kepada seseorang.


"Jangan lupa seratus dollarnya." Ketiknya di aplikasi pesan. Kemudian, dia mengirimnya kepada sang paman.


Aska yang baru selesai menandantangani berkas meraih ponselnya yang bergetar. Bibirnya tersenyum ketika melihat sang istri sudah mau keluar kamar dan makan es krim dengan wajah yang bahagia. Namun, dahinya mengernyit ketika membaca isi pesan dari keponakannya.


"Kenapa nih anak ketularan si Empin? Mata Dollaran!"

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa komen


__ADS_2