
Dua pasang itulah yang dikatakan oleh dokter kandungan ketika melakukan USG secara berkala. Sangat yakin dengan apa yang dokter itu lihat.
"Kalau dua cowok, dua cewek, cowok tetap kalah dong," keluh Gavin. Semua orang tertawa. Ada saja kelakuan bocah satu itu.
Suara pintu ruang operasi terbuka. Nama Aska pun dipanggil. Calon ayah itupun bergegas menghampiri. Terlihat perawat berbincang singkat dengan Aska hingga akhirnya Aska masuk ke dalam ruang operasi tersebut.
Dada Aska berdegup tak karuhan ketika perawat membawanya menuju anak-anaknya. Terdengar suara tangis yang sangat nyaring. Ada rasa bahagia di hati Askara sekarang ini.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat bayi mungil yang tengah dibersihkan menangis nyaring. Ada keharuan yang menjalar di hatinya.
"Silahkan adzani, Pak." Aska pun tersadar. Dia mengikuti arahan dari sang perawat. Mengadzani dari anak pertama hingga keempat.
Anak pertamanya adalah laki-laki. Aska sangat bahagia. Anak keduanya masih laki-laki, Aska pun teramat senang. Anak ketiga dan keempatnya pasti perempuan. Begitulah pikirnya.
Namun, anak ketiganya memakai gelang berwarna biru. Cukup terkejut, tapi tidak apalah. Dia dan Jingga pun berusaha untuk menerima apapun dan bagaimanapun kondisi anak-anaknya.
Askara masih terfokus pada jenis kelamin tanpa dia cek bagaimana kondisi fisik anak-anaknya. Dia berusaha untuk ikhlas dan biarlah dia tahu bersama dengan istrinya. Sekarang, beralih pada anak keempat. Lengkungan senyum terukir di wajah tampannya. Bayi berbulu mata lentik itu memakai gelang berwarna pink. Sungguh bahagia rasanya.
"Ya Allah, terima kasih atas anugerah yang telah Engkau berikan." Aska sangat bersyukur hingga dia melakukan sujud syukur dan membuat para perawat terharu.
Ketika Aska keluar dia sudah diberondong banyak pertanyaan oleh keluarganya. Wajah berbinar menandakan Aska sangat bahagia. Dia berhambur memeluk tubuh sang ibunda. Tangis pun pecah. Ayanda mengusap lembut punggung anak bungsunya.
"Bagaimana dengan cucu-cucu Mommy?" tanya Ayanda. Tidak ada kekhawatiran yang Ayanda tunjukan.
"Alhamdulillah, Mom."
Ada kelegaan di hati mereka semua. Ucap syukur pun mereka panjatkan.
"Cowoknya belapa?" Anak itu masih mempertanyakan anak Aska yang laki-laki.
"Dualah, Mas," jawab sang ibu.
"Tidak, Ri. Anak gua tiga cowok satu cewek."
"Hore!" Gavin malah bersorak gembira. Dia berjingkrak-jingkrak pula.
"Bikinin Mas lapangan futsal, Dad. Mas mau main futsal sama mekeka." Sebegitu antusiasnya seorang Gavin Agha Wiguna mendengar sepupunya lahir.
Semua orang merasa sangat bahagia. Walaupun tidak sesuai dengan apa yang dikatakan dokter, mereka tetap bersyukur karena keempatnya lahir dengan selamat.
"Bagaimana dengan kondisi fisiknya?" Echa bertanya bukan untuk merendahkan. Hanya memastikan.
__ADS_1
"Adek belum tahu, Kak. Adek belum ingin cari tahu dulu. Setelah istri Adek masuk ke dalam ruang perawatan barulah Adek mencari tahu."
Echa mengangguk mengerti. Adiknya pun tahu kakaknya tidak bermaksud apa-apa. Hanya memastikan karena tidak dipungkiri mereka pun pasti khawatir.
.
Dua jam berselang barulah Jingga dibawa keluar dari kamar perawatan. Dia sudah memberikan senyuman terhangatnya untuk sang suami.
"Makasih, Sayang." Aska berkata dengan begitu lembut. Dia juga mencium kening Jingga dengan begitu dalam. Tangan mereka terus bertaut meskipun Jingga berada di atas brankar rumah sakit.
Lima keponakan tampannya sudah menyambut Jingga dengan suka cita. Kamar itu didekor sedemikian rupa dan ada balon berwarna biru juga pink di sana. Jingga merasa sangat terharu. Dia benar-benar merasakan kebahagiaan luar biasa. Ditambah ayahnya pun hadir di sana.
Anak dari orang tua kaya, lima keponakannya memberikan kado untuk saudara sepupu mereka yang baru saja lahir. Jingga terharu sekali.
"Ini hasil dari patungan kita, Kak," ujar Aleena. Mereka bertiga patungan mengumpulkan uang untuk membeli kado untuk anak-anak sang paman. Empat buah kado yang mereka berikan kepada Jingga.
"Emangnya anaknya jadi dua pasang?" Pertanyaan Aleesa membuat semua orang menggelengkan kepala.
"Bahasamu itu loh!" Echa mencubit pipi putih Aleesa hingga dia mengaduh kesakitan.
"Gak jadi!" Aska menjawab dengan cukup lantang. Sedangkan Jingga sudah tertawa.
"Terus?" jawab mereka bertiga kompak.
Gio tengah membayangkan bagaimana rumahnya nanti. Diisi oleh lima cucu saja cukup membuat gendang telinga berdemo. Apalagi ditambah empat. Dia berharap Aksa maupun Aska akan menambah anak, masing-masing satu agar tercipta kesebelasan.
Keempat anak Jingga dan Aska belum disatukan dengan ibu mereka. Mereka harus dipisahkan sementara untuk dilakukan pengecekan kesehatan.
Bukan hanya si triplets yang memberikan hadiah, Ghea si gemas pun memberikan hadiah untuk sepupunya. Jingga sangat bahagia. Apalagi Ghea adalah bayi yang baik. Suka memberi, apapun yang mereka minta pasti dikasih.
"Makasih, Embul." Ghea malah tertawa sambil menunjukkan gigi yang baru tumbuh beberapa saja.
Kali ini Aska akan menodong sang keponakan. Biasanya dia yang selalu kena sial jika berhadapan dengan tuyul milik sang Abang.
"Mas, yang lainnya pada ngado. Masa Mas enggak?" sindir Aska.
Gavin meliriknya sekilas. Tatapan menyebalkan dia berikan kepada sang paman.
"Malu atuh, katanya anak Sultan. Masa gak ngasih kado sama si quartet." Aska terus memaksa denban lembut.
"Apaan? Kumplet?"
__ADS_1
"QUARTET!" Aska geram sendiri dan mereka yang ada di ruangan itu hanya tertawa. Sungguh kehadiran Gavin memberi warna yang berbeda.
"Oh." Jawaban yang Gavin berikan sangat menyebalkan di telinga.
Pintu ruangan terbuka. Petugas keamanan kewalahan membawa dua puluh dus diapers ke dalam kamar perawatan Jingga.
"Dari siapa ini?" Aska dan semua orang bingung dibuatnya.
"Dari gua." Suara seorang duda terdengar.
"Gak sekalian WC portable lu kasih?" cibir Gio.
"Masih aja lu nawar!" sungut Rion kepada Giondra. "Bangkrut gua ngasih ke anak si Aska mah. Banyak banget kayak anak kucing. Harusnya ngasih satu malah empat."
Jiwa kekikirannya meronta-ronta. Namun, semua orang hanya menganggap itu sebagai gurauan belaka. Begitulah Rion Juanda.
"Itu 'kan pempes yang plomo." Gavin membuka suara. "Beli satu kaldus besal glatis satu dus besal. Cuma beda ukulan."
Ingin sekali Rion menenggelamkan cucunya ini ke dasar lautan, tapi sayang Gavin adalah cucu kesayangan.
Semua orang pun tertawa lagi dengan ucapan Gavin. Apalagi dia sudah meminta tolong sambil tertawa karena sedang digelitiki oleh sang kakek.
"Ampun, Engkong! Ampun!"
Banyak sekali kado yang keluarganya berikan dan hampir memenuhi ruang perawatan. Jingga merasa sangat terharu karena banyak yang menanti kehadiran si quartet.
Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Dua orang perawat beriringan membawa boks bayi berisi masing-masing dua bayi di dalamnya. Sudah dibedong agar mereka merasa hangat. Kulit bayi masih sangat tipis dan sesnsitif.
Anggota keluarga Aska sudah mengerumuni dua boks bayi tersebut. Pujian cantik, lucu dan menggemaskan dapat Aska dengar. Dia dan Jingga membiarkan keluarganya untuk melihat empat anak-anaknya.
"Ayah, sudah tahu bagaimana fisik anak kita?" tanya Jingga dengan wajah sendu. Aska pun menggeleng. Namun, dia berusaha menguatkan istrinya. Dia meminta kepada Jingga untuk ikhlas.
"Apapun yang terjadi kita hadapi sama-sama." Sebuah ucapan yang menjadi kekuatan untuk Jingga.
"Sus, mau tanya." Aska membuat dua perawat itu menoleh.
"Bagaimana kondisi anak-anak saya? Sempurnakah atau-"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1
Yang belum baca kisah Om Ipang sama Elyna silahkan baca, ya. Aku tunggu kalian di Lihatlah Aku, Suaminku!