
Chandra hanya terdiam lalu menganggukkan kepalanya dan mengatakan,
"Ya... awalnya Gue marah, bahkan Gue benci banget sama Rahma, tapi Gue berdoa, Gue shalat Gue minta jalan solusi sama Allah, Gue udah buntu banget waktu itu" ucap curahan hati Chandra kepada Juvi
"Terusss bagaimana keputusannya..?" Juvi penasaran dengan masalah yang di hadapi Chandra
"Ya akhirnya Gue putusin untuk kembali menerima Rahma lagi, Karena Gue rasa, Gue sudah gak ada harapan lagi sama Asri, dan sekarang Gue cuma mau menjalani hidup normal Gue, memberi kesempatan untuk orang menjadi lebih baik, Gue gak salah kan juv?" Chandra bertanya dengan raut wajah sedih
"Ya gak lah, apa yang Lo sudah putuskan itu menurut Gue sudah bijak, Gue yakin jodoh gak akan kemana, kalau Lo takdirnya sama Asri, suatu saat Lo dan Asri pasti bersatu, tapi itu semua cuma rencana Tuhan gak ada yang tahu, dan... sekuat apapun Lo berharap, kalau Tuhan bilang Lo bukan jodoh Asri, ya gak akan sampai Chan... mau Lo jungkir balik juga" kini Juvi menasihati Chandra, Chandra tertawa kecil mendengar nasihat dari Juvi
"Hehe... sepertinya sekarang yang bijak itu Lo deh juv, terus Lo sendiri bagaimana, sudah punya calon pendamping belum?" Juvi pun tertawa kecil mendengar kata itu, merasa sahabatnya satu ini sedang meledeknya
"Haha.. aduh... nanti deh... Gue belum ada niat untuk berumah tangga, amanatnya besar banget Chan, Gue takut belum siap, Gue gak mau tuh kaya Sam, selingkuh diam diam, sama Asri lagi" ucap ceplos Juvi yang tak sadar dengan apa yg dikatakan.
Chandra yang sedang minum tiba tiba ter batuk "Tunggu Lo tahu tentang hubungan Mereka" Juvi pun merasa panik
"Aduh... kok Gue keceplosan ya" ucap Juvi dalam hatinya
"Heh jawab..?"
"Gue... Gue tahu dari Lia" Chandra melengos kan wajahnya dan menghela nafas
"Sudah Gue duga, Asri pasti nih curhat sama Lia, terus Lia keceplosan ngomong sama Lo, dari dulu itu anak memang ember" Juvi pun menepis ucapan Chandra dengan mengatakan,
"Lo jangan salahkan Lia dong, yang buat kesalahan kan Asri sama Sam" Chandra pun memperhatikan gelagat Juvi
"Ya Dia memang ember, coba kalau Lo, atau Lia keceplosan ngomong sama yang lain bagaimana, bisa besar ini urusannya" lalu Juvi berusaha meyakinkan Chandra bahwa Lia gak akan keceplosan dengan siapapun
"Lo ngebela Lia banget Juv, curiga Gue" setelah di perhatikan mimik wajah Juvi Chandra pun langsung menyimpulkan
"Lo suka ya sama lia" pertanyaan itu pun membuat gugup Juvi
"Gak... gak lah.. Dia kan mau nikah, ngaco Lo Chan" setelah itu, Juvi pun langsung berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya, dari pada nantinya Chandra bertanya yang aneh aneh lagi ujarnya dalam hati
"Sudah dulu ya, Gue harus balik kerja nih" Juvi buru buru keluar, Chandra memperhatikannya dan yakin, pasti kalau Juvi memang menyukai Lia. Juvi pun merasa malu dengan kejadian tadi
"Aduh jangan sampai ada yang tahu soal perasaan ini" ucap Juvi dalam hati sambil berjalan.
Sam dan Asri sangat menikmati momen bersama itu, Ia memilih dan memilah gaun yang cocok untuk di pakai ke acara pernikahan Lia
"Mbak... yang seperti ini ada yang couple gak?"
"belum ada Pak" lalu Atasannya mendegar pertanyaan Sam dan langsung menghampiri
"Bapak ingin baju couple yang model ini" tunjuk manajer pegawai toko
"Iya, Mbak kalau ada Saya mau"
__ADS_1
"Bisa kok Pak, tapi paling kita pesan dulu"
"Pesan dulu.. berapa lama ya Mbak..?"
"Kalau mau ekspres sehari bisa kok, tapi bayarannya beda pak, kalau mau menunggu sekitar 2-3 hari" karena pernikahan Lia di langsungkan lusa akhirnya Sam meminta jasa yang ekspres
"Kalau begitu Saya pakai jasa ekspres ya, besok harus jadi berapapun biayanya Saya bayar Mbak"
"Baik Pak, boleh saya minta nomor teleponnya, modelnya silahkan dipilih lagi, nanti jika sudah jadi saya akan kabarkan besok siang ya Pak"
"Ok... Saya pilih yang ini saja, Saya tunggu ya Mbak kabarnya, dan ini untuk DP nya" Sam menyerahkan kredit card kepada pegawai toko, Asri merasa tak ingin merepotkan Sam lalu Dia meminta untuk tidak usah membeli baju couple
"Sudah sayang Kamu tenang saja, Aku mau Kita tampil beda, dan Aku mau Kita terlihat menyatu"
"Tapi Istri kamu bagaimana, Dia juga kan pasti datang Sam" Asri sedikit khawatir dengan hubungannya
"Kamu tenang... itu urusan Aku ok..." Asri pun melingkarkan bola matanya ke atas lalu berkata,
"Ok... terserah kamu" setelah memesan baju couple Mereka pun kembali ke kantor.
Tini datang ke kantor dan menuju ruangan Sam, namun saat sampai di ruangan, ternyata tak ada orang
"Sam kemana ya, wanita itu juga tidak ada" ucap dalam hati Tini.
Lalu Ia bertanya pada Reseptionis kemana Sam dan Asistennya pergi, namun Chandra tak sengaja melihat Tini di reseptionis lalu ia menghampirinya dan menyapa,
"Tin... Kamu di sini?"
"Iya saya Chandra, Kamu lagi tunggu suami kamu ya" Chandra menyapa dengan ramah, lalu Chandra memberitahu bahwa Mereka sedang meeting dengan Pak Andi, Tini sedikit curiga dan bertanya,
"Kok Kamu tahu Mereka meeting, ruangan Kamu kan cukup jauh dari ruangan Sam" lalu Chandra menjelaskan bahwa tadi Ia meminta tolong untuk mewakilinya meeting sebab Ia tak bisa hadir karena istrinya sedang sakit
"Oh begitu".
lalu Asri dan Sam sudah tiba di Kantor, tak disangka Mereka melihat Tini sudah ada di Reseptionis
"Tini kamu kok kesini jam segini lagi..?"
"Ini kan kantor Papah Aku, Aku berhak dong datang kesini kapanpun Aku mau" Tini kini mulai lagi dengan kesombongannya, lalu Tini bertanya,
"Kamu kemana sih, jam segini gak ada di kantor, ini kan jam kerja" lalu Chandra memberi isyarat dari belakang Tini
"Pak Andi" bicara tanpa suara, Sam yang memperhatikan mengerti maksud ucapan Chandra
"Ya memang ini jam Kerja, Aku juga lagi Kerja tin, Aku habis meeting sama Pak Andi" lalu Tini sekarang yakin kalau yang di ucapkan Chandra barusan ternyata benar, Chandra pun permisi pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Aku tanya Kamu tin, Kamu jam segini mau apa kesini?" lalu Tini bicara soal janjinya Sam semalam
__ADS_1
"Tapi kan Aku bilang setelah pulang kerja" Tini melihat Asri lalu ia bicara,
"Heh Kamu, kok kamu masih disini sih" Sam pun langsung menyahuti,
"Bisa gak sih Kamu gak usah bersikap kasar seperti ini, Dia ini Asisten Saya" Sam sedikit geram dengan kelakuan Tini
"Ya Aku tahu Dia ini Asisten Kamu, tapi masa iya kemana mana Dia ngikut terus, Aku sama kamu kan butuh waktu berdua bicara" Asri menyahuti percakapan Mereka
"Maaf Bu Tini, kalau saya menganggu Kalian, kalau begitu Saya permisi dulu, Pak Saya keruangan duluan ya" Asripun pergi menuju ruang kerja
"Ok, Aku gak lupa sama janji ku, Kita ke Rumah Sakit, tapi nanti setelah pulang kerja" lalu tiba tiba Tini merasa mual lagi, Tini pun berlari ke toilet, Sam yang melihatnya hanya bertanya tanya
"Sakit apa si Dia sebenarnya?"setelah itu Sam langsung menuju ruang kerjanya.
Setelah selesai muntah, Tini pun bersedih
"Kenapa si, Sam bukanya datang kesini, tanya keadaan Aku kek atau bagaimana" Tini bersedih dalam hatinya, setelah selesai dengan muntahnya lalu tini pergi ke ruang kerja Sam.
Setelah Sam masuk ke ruang kerja, Asri menanyakan keberadaan Tini
"Istri kamu mana..?"
"Gak tahu di toilet tadi" tiba tiba suara pintu dibuka ternyata Tini yang masuk
"Kamu kesini lagi, mau apa si Tin, ganggu Aku kerja" Tini hanya memandang Sam juga memandang Asri dan mengatakan,
"Aku mau disini tunggu Kamu sampai pulang kerja" ketika mendengar ucapan Tini Asri pun kaget, tak sengaja menyenggol gelas, Tini pun langsung memarahi Asri
"Kamu tuh ya ceroboh banget sih, jadi pecah kan gelasnya"
"Maaf Saya gak sengaja Bu"
"Kamu kenapa? Kamu gak suka ya, Saya ada disini di ruang Kerja Suami saya" Sam melihat Asri di bentak dan di marahi Tini, Ia pun sangat kesal, lalu Sam menyahuti ucapan Tini
"Cuma gelas Tin,, kenapa sih Kamu harus Marah marah seperti itu" Asri tengah membersihkan pecahan gelas tiba tiba tangannya tergores pecahan kaca lalu terluka "Auuu...." Sam pun reflek mendengar suara Asri lalu Sam mendekati
"Ya ampun tangan Kamu terluka, Sudah... biar OB yang bersihkan ini" lalu di tarik lah tangan Asri oleh Sam untuk berdiri, Tini melihat itu semua dan semakin membuatnya kesal
"Sam... Kamu perhatian banget sama Dia" Tini berkata sambil menunjukan jari ke arah Asri
"Kamu gak lihat ini, tangan Asri berdarah, sudah deh Tin, kalau Kamu cuma bisa marah marah gak jelas disini, mending Kamu keruang Papah kamu deh" mata Tini kini terbelalak lebar, Ia menatap Asri penuh kebencian, sebab Sam selalu perhatian dengannya namun dirinya tak pernah dapat perhatian seperti itu dari sam
"Kamu membela perempuan ini..?"
"Dia punya Nama, namanya Asri" Tini mengecilkan kedua matanya lalu mengatakan,
"Kamu sebenarnya ada hubungan apa sih Sama perempuan ini?" Asri melihat situasi ini mungkin akan semakin panas
__ADS_1
"Sudah... sudah Bu, Ibu gak perlu marah marah, Pak Sam, Saya bisa obati luka saya sendiri" lalu Asri pergi ke pantry untuk mencari kotak obat.
Sam sebenarnya ingin menyusul Asri, namun pasti Tini akan semakin curiga dengan hubungannya, Sam pun hanya diam tak berbicara apapun terhadap Tini.