Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
274. Jenguk Cucu


__ADS_3

Ayanda dan Gio baru sempat menjenguk empat cucunya di Singapura. Mereka sangat antusias dan sangat bahagia ketika melihat keempat cucunya sehat dan terlihat lebih gembil. Semalam Aska pulang terlambat karena dia harus menjemput kedua orang tuanya di bandara. Kedatangan kedua orang tuanya pun terbilang mendadak. Daddy dan Mommy Aska tidak memberitahu terlebih dahulu. Ketika jam sebelas malam mereka menghubungi Aska dan meminta dijemput di bandara. Untung saja ponsel Aska masih hidup. Lima menit setelahnya ponsel itu mati karena kehabisan baterai. Maka dari itu, Jingga tidak bisa menghubungi Aska hingga dia ketiduran di sofa. Menunggu suaminya yang tak kunjung datang.


Menjelang pagi sekitar jam dua, Aska dan kedua orang tuanya tiba di rumah. Lampu ruang tamu sudah mati menandakan bahwa penghuni rumah sudah tertidur. Ayanda dan Gio pun segera beristirahat. Namun, bukan di kamar tamu melainkan di kamar keempat cucunya. Mereka sangat merindukan Abdalla, Ahlam, Arfan dan Balqis.


"Mommy dan Daddy beneran mau tidur di sini? Hanya ada karpet loh." Aska tidak ingin kedua orang tuanya tertidur dengan rasa tidak nyaman. Namun, mereka tetap bersi kukuh ingin tidur bersama keempat cucu mereka.


"Enggak apa-apa, Dek. Justru Mommy dan Daddy ingin terus melihat wajah mereka. Ingin melepas rindu yang menggebu yang baru terbayar hari ini." Wajah Ayanda sangat berseri ketika melihat keempat cucunya tepat di depan matanya. Sudah satu bulan dia hanya bisa melihat cucunya melalui sambungan video. Malam ini dia baru bisa melihat keempat cucunya secara langsung.


Aska pun masuk ke dalam kamar. Lampu masih terang benderang. Dia mencari sosok istrinya yang tidak ada di atas tempat tidur. Ternyata Jingga sudah tertidur di atas sofa. Hati Aska mencelos melihat istrinya. Jingga selalu setia menunggunya pulang bekerja. dia rela menahan kantuk hingga tengah malam tiba. Rasa bersalah pun menerpa hatinya sekarang.


Aska duduk di lantai di bawah sofa. Dia menatap lekat wajah istrinya, dan terlihat gurat lelah di wajah cantiknya. Pipinya terlihat lebih tirus juga lingkar hitam yang berada di bawah matanya nampak jelas. Menandakan istrinya kurang tidur dan juga lelah mengurus anak suami dan juga rumah. Namun, tak pernah sekalipun dia mengeluh.


"Kenapa harus menunggu ayah Bun?" Aska masih memandang lekat wajah istrinya yang tengah terpejam. "Bunda sudah lelah jangan menambah rasa lelah lagi hanya untuk menunggu ayah." kalimat yang begitu lemah yang Aska ucapkan.


Puas memandang wajah istrinya, Aska pun memindahkan tubuh Jingga ke atas tempat tidur. Dia mencium aroma minyak angin. Aska semakin merasa bersalah. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya.


"Sebegitu lelahnyakah dirimu, Bun?" mata Aska masih tertuju pada Jingga. "Hingga minyak angin kini jadi teman tidurmu." Aska membubuhkan kecupan hangat di kening sang istri sebelum dia membersihkan tubuh.


Setelah membersihkan tubuh, Aska naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat. Dia merindukan momen berbincang sebelum tertidur yang kini jarang dilakukan. Sudah Hampir sebulan Aska kerja pulang malam. Tidak ada waktu untuk berbincang karena tubuhnya teramat lelah.


.


Di kamar si kuartet, sang nenek masih saja menatap keempat cucunya dengan senyum yang terus melengkung indah di wajah yang masih cantik, di usia yang sudah tidak muda. Rindunya kini terobati walaupun sang cucu laki-laki pertama masih merajuk. Harusnya mereka pergi bersama Gavin dan juga Ghea berkumpul bersama si quarter di Singapura. Akan tetapi kedua cucunya itu tidak mau terlebih y


Gavin. Dia masih marah kepada Askara yang tidak menepati janjinya.


"Enggak Mimo! Mas tidak mau bertemu dengan Uncle. Uncle pembohong. " Itulah yang Gavin serukan.


"Maaf ya, Mimo tidak bisa membawa Mas dan juga Kakak Ghea." Ayanda seolah berbicara kepada keempat cucunya.

__ADS_1


"Kalian tidak rewel 'kan, Nak? Kasihan Bunda kalian jika kalian rewel. Jangan nakal, ya." Sang Mimo masih berkata kepada keempat cucunya yang tengah terlelap.


Berkali-kali Ayanda dan Gio sudah menawarkan untuk menggunakan jasa babysitter ataupun pembantu rumah tangga untuk mengurus keempat anak Aska dan juga Jingga serta mengurus rumah. Akan tetapi, Jingga selalu menolak. Dia ingin mengerjakannya seorang diri. Walaupun lelah, dia harus terbiasa. Jingga sudah terlalu lama dimanja di rumah besar milik mertuanya.


"Tidak, Mom. Aku masih bisa melakukannya sendiri," tolak Jingga dengan begitu lembut. "Kalau aku sudah tidak sanggup, barulah aku mempekerjakan orang untuk mengurus semuanya." Itulah yang dikatakan Jingga. Selagi masih bisa dikerjakan sendiri, dia tidak akan meminta bantuan kepada orang lain. Dia ingin mendidik anak-anaknya dengan kemampuannya. Juga dia ingin menciptakan kerjasama dengan suaminya untuk mengurus ke-empat anak-anaknya.


Gio maupun Ayanda tidak bisa berbuat apa-apa. Menantunya terlalu keras kepala. Namun, mereka juga bangga bahwa menantu mereka tidak memanfaatkan kekayaan keluarga juga kekayaan suaminya. Seribu satu menantu seperti Jingga. Mereka tidak heran Jingga jika Jingga kekeh ingin melakukan semuanya sendiri. Dia dilahirkan dari keluarga yang sederhana dan hanya dirawat oleh sang Bunda, dan sudah terbiasa hidup mandiri sedari kecil.


.


Keesokan harinya kakek dan nenek si kuartet mengajak keempat cucunya untuk pergi keluar. Tanpa meminta izin kepada kedua orang tua mereka. Keempat anak itu sudah didandani dengan begitu cantik dan tampan. Sengaja Ayanda dan Gio membelikan baju untuk keempat cucunya sebelum berangkat ke Singapura.


"Ayo kita bersenang-senang!" seru kakek dan nenek yang masih terlihat awet muda.


Di lain kamar, Aska merealisasikan ucapannya. Dia tidak memperbolehkan sang istri untuk keluar kamar ataupun mengenakan pakaian. Sudah sebulan ini Aska sudah jarang sekali menyentuh istrinya dikarenakan kesibukannya yang setiap malam harus lembur dan lembur.


"Capek, Yah. Bunda capek, " sahutnya dengan nada yang begitu letih. Keringat yang sudah bercucuran.


"Bunda baru sekali keluar loh," ucap Aska. Sang suami masih bekerja di atas tubuh Jingga. Hingga membuat tubuh Jingga bergetar hebat dan berteriak.


"Ahhh!!"


"Enak nggak?" Jingga hanya mengangguk dengan nafas yang sudah terengah-engah.


"Udah ya, Yah. Bunda udah nggak kuat lagi. Tulang berasa remuk, udah kayak ayam tulang lunak." Sebenarnya Aska tidak ingin menyudahi, tapi melihat kondisi sang istri dia pun mempercepat tempo hingga mencapai apa yang dia inginkan.


Tubuh mereka pun menempel tanpa sehelai benang pun. Rasa lengket karena keringat tidak membuat mereka cepat-cepat beranjak. Masih menikmati cairan yang masih mengalir di bawah sana yang terasa sangat hangat dan juga banyak.


"Maaf ya, Yah. Bunda tidak bisa memberikan servis yang memuaskan," sesal Jingga.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, Bun. begini juga sudah cukup," jawab Aska.


Sebuah kecupan di kening Aska berikan. Kemudian turun ke kedua kelopak mata Jingga. Lalu, ke pipi kiri dan kanan. Terakhir ke bibir manis Jingga. Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih kepada sang istri karena sudah selalu setia berada di sisinya sampai saat ini.


.


Setelah membersihkan tubuh, mereka berdua berbincang santai di ruang keluarga. Jingga yang seolah ingin bermanja dengan sang suami ketika keempat anaknya dibawa oleh sang mertua. dia terus merangkul mesra lengan Aska. Aska pun tersenyum. Dia sangat bahagia karena bisa memiliki waktu berdua lagi bersama sang istri tercinta.


"Bun kalau capek mah mending kita ambil babysitter aja, atau enggak pembantu rumah tangga. Setidaknya mengurangi pekerjaan Bunda biar tidak terlalu capek."


"Tidak, Yah. Bunda masih sanggup." Penawaran yang ditolak untuk kesekian kalinya. Aska sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Walaupun dia memaksa Jingga tidak akan pernah menerima. Wataknya terlalu keras.


"Mau ke salon tidak? Biar Ayah antar." Lagi-lagi Jingga menggeleng.


"Me Time Bunda sekarang hanyalah bersantai dan rebahan tanpa diganggu anak-anak. Apalagi ditemani suami tercinta. Itu lebih menyenangkan ketimbang harus keluar rumah." Aska pun tertawa mendengar ucapan dari istrinya kalimat itu begitu manis di telinga.


"Sejak kapan bisa bicara manis begitu?" Aska menatap wajah Jingga yang juga tengah menatapnya.


"Sejak sang suami tidak pernah ada waktu untuk sang istri. Sejak suami terus bekerja lembur bagai kuda dan pulang entah jam berapa."


Aska pun tergelak. Dia mencubit gemas pipi Jingga. Betapa manisnya istrinya hari ini di matanya. Sudah lama tidak berdua, mereka seolah kembali ke masa pacaran. Masa-masa yang indah dan sulit untuk dilupakan. Banyak gelak tawa juga canda yang tercipta mereka menghabiskan waktu berdoa di rumah selama anak-anak mereka dibawa pergi oleh ayah dan ibu Azka.


"Gimana kalau kita main lagi sekarang? Kita coba di ruang keluarga." Ingin rasanya Jingga menolak tapi dia kalah cepat oleh sang suami.


"Bunda masih lelah, Yah," serunya.


"Sekarang Bunda nggak usah gerak biar Ayah aja yang gerak. Pokoknya bunda itu hanya terima enak."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


__ADS_2