
Lia sedang menyortir barang masuk dari luar, kemudian Pak Romi bagian HRD menelepon lewat telepon kantor.
"Bu Lia bisa ke ruangan Saya sebentar" pinta Pak Romi dengan suara sopan, setelah itu Lia pun bergegas pergi ke ruang HRD, setelah masuk ruang HRD pak Romi pun tersenyum
"Silahkan duduk Bu Lia"
"Maaf Pak Saya di panggil ada apa ya Pak.. Apakah Saya melakukan kesalahan?" tanya Lia yang sedang penasaran, lalu Pak Romi tertawa kecil
"Saya suka aneh, kenapa setiap Karyawan yang di panggil ke ruang HRD pasti mengatakan apakah Saya berbuat kesalahan" Pak Romi bicara lalu tertawa, Lia pun ikut tertawa dengan terpaksa, kemudian Pak Romi melanjutkan ucapannya
"Ok.. begini Bu Lia, Saya memangil Ibu kesini itu karena Saya ingin memberikan surat pengangkatan jabatan, Ibu pindah Divisi ke posisi sebagai Manager Keuangan menggantikan Posisi Pak Chandra" ucap penjelasan Pak Romi kepada Lia, Lia pun terkejut merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Romi
"Hah... jadi Manager Keuangan, loh Pak bukannya itu posisi Pak Chandra" tanya Lia dengan wajah bingung.
Pak Romi menjelaskan bahwa Pak Chandra sudah pindah Divisi di bagian marketing menjadi Manager pemasaran
"Maksud Bapak, Pak Chandra sekarang menggantikan posisi Pak Sam, dan Saya sekarang menggantikan posisi Pak Chandra, begitu kan Pak"
"Ya ... betul sekali Bu.. Ini sudah resmi Bu, jadi Ibu harus menerima jabatan ini" Pak Romi memberikan surat tersebut kepada Lia.
Lia membaca dengan seksama, Lia pun tersenyum ini yang di harapkan Lia naik jabatan dan berkarir
"Ini serius Pak ... jadi Saya akan menempati posisi Manager Keuangan"
"Iya Bu Lia, dan otomatis gaji ibu naik 2 kali lipat dari gaji yang sekarang" Pak Romi menjelaskan kepada Lia soal gaji, lalu tanpa ragu, Lia pun menerima dengan senang hati posisi tersebut
"Baik Pak.. karena ini resmi permintaan Kantor Saya siap menempati posisi ini, jadi Saya bisa pindah kapan Pak"
"Besok ya Bu.. silahkan besok di bawa barang pribadinya untuk di pindahkan ke ruangan yang baru, hari ini Bu Lia selesaikan pekerjaan di admin gudang dulu, sebab kalau di tangani yang lain, takut ada kesalahan, kalau begitu selamat ya Bu atas kenaikan jabatan untuk Ibu Lia" Pak Romi pun berjabat tangan dengan Lia, kemudian Lia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Lia pun tertawa senang saat sudah di berada di ruang Kerjanya
"Yes... Impian Aku naik jabatan, Wow banget dapat posisi Manager Keuangan, harus banyak belajar dari Chandra nih, Makmun harus tahu kabar bagus ini" Lia pun tersenyum-senyum karena hal ini.
Lalu Juvi datang mengetuk pintu ruangan Lia, Lia menyuruhnya masuk kemudian Lia langsung memeluk Juvi, Juvi pun terkejut ketika di peluk Lia
"Juvi... Lo tahu gak... Gue senang banget hari ini" ucap Lia dengan wajah bahagia, Juvi pun ikut senang walau tak tahu apa yang sebenarnya membuat lia menjadi bahagia
"Lo kenapa... bahagia dapet apaan sih" tanya Juvi yang sedang penasaran.
__ADS_1
Lia pun menceritakan jika Dia naik jabatan dan pindah Divisi menjadi Manager Keuangan, Juvi terkejut dengan kabar tersebut
"Loh.. terus Chandra bagaimana?" tanya Juvi kemudian Lia menjelaskan jika Chandra saat ini sudah berada di posisinya Sam
"Oh.. jadi Dia terima tawaran itu" kini Lia yang jadi penasaran dengan kata-kata Juvi
"Terima tawaran maksudnya?" Juvi pun menjelaskan jika Chandra pernah berbicara soal tawaran untuk menggantikan posisinya Sam
"Oh ya Li... ini hasil audit barang kemarin Lo cek deh, biasanya sih ini kerjaan Makmun, tapi kan Makmun sedang di gantikan sama Anak Magang, Gue takut Dia belum ngerti, maka dari itu Ini gue kasih ke Lo"
"Ok.. ya sudah ini biar jadi urusan Gue, Kita makan bersama yuk nanti sama Asri sama Chandra" Lia mengajak untuk makan siang bersama, Juvi pun tersenyum dan berkata,
"Ya boleh, ya sudah Gue kembali ke ruangan ya" Juvi pun pergi dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Makmun merasa tak tenang, karena Istrinya tak berbicara dengannya, lalu Makmun berinisiatif untuk datang ke Kantor dan membawakan makan siang untuk Lia.
Setelah itu Makmun mencoba memasak sendiri agar Lia menjadi luluh lalu memaafkan dirinya.
Saat di dapur Makmun memasak telor balado tapi saat tengah menggoreng telur tangannya terkena percikan minyak
"Aduh... Aw panas ..." Makmun merasakan perih pada kulitnya karena terkena percikan minyak.
"Ya ampun Makmun, Kamu sedang apa sih Nak, lihat berantakan sekali" Makmun pun tertawa kecil lalu menjawab,
"Mah... maaf ya.. Aku jadi membuat berantakan dapur, Aku sedang memasak untuk Lia makan siang"
"Apa istri Mu yang minta di bawakan makan siang"
"Gak kok Mah.. Lia sama sekali gak tahu, Aku ingin ke kantor Mah, Aku semalam sempat bertengkar jadi Aku mau kesana minta maaf kepada Lia, supaya Kita kembali harmonis lagi" ucap Makmun dengan wajah bersedih.
Bu Alya merasa kasihan melihat Anaknya yang harus berjuang meminta maaf, sedangkan Lia tak pernah patuh terhadap permintaan suami.
"Harusnya Lia yang meminta maaf sama Kamu, kalau Kamu yang meminta maaf Dia pasti besar kepala Mun" Bu Alya sepertinya saat ini Dia tak suka dengan menantunya tak tahu kenapa dan sejak kapan Bu Alya jadi membenci Lia.
"Mah.. jangan seperti itu dong bicaranya, buat Aku siapa saja lah yang meminta maaf, harus ada yang mengalah demi keutuhan rumah tangga" Bu Alya mengangkat kedua bahunya sambil menghela nafas
"Ya sudah.. terserah Kamu Mun, Mamah hanya menasihati Kamu, ya sudah lanjutkan masaknya, mau Mamah bantu?" ucap Bu Alya menawarkan diri
"Boleh Mah.. Mamah mau bantuin Aku" ucap Makmun sambil menyeringai, lalu Bu Alya pun membantu membuatkan makan siang untuk Lia.
__ADS_1
Rahma sedang berjalan-jalan di sekeliling Rumah Sakit ditemani oleh Bu Yanti, kemudian Mereka duduk kursi taman Rumah Sakit, Rahma pun mengeluh kepada Ibunya
"Mah.. Aku bosan deh di Rumah Sakit terus, Aku kapan pulang ya, sudah rindu kamar dan seisi rumah" ucap Rahma dengan tersenyum kepada Ibunya
"Kamu yang sabar dong sayang, Dokter kan belum mengizinkan, makanya Kamu makan yang banyak biar cepat sembuh dan sering-sering kena sinar matahari pagi, itu sangat bagus untuk kesehatan Kamu" Bu Yanti menasihati Anaknya, Bu Yanti pun melihat jam tangan lalu berkata,
"Yuk Kita kembali ke kamar, Kamu sebentar lagi di cek Dokter, semoga saja hasilnya bagus, supaya Kamu cepat pulang" ucap Bu Yanti dengan tersenyum kecil, dan Mereka pun kembali ke kamar rawat.
Sedangkan Sam sedang menyuapi Ibunya sambil mengobrol
"Bu... makan yang banyak ya, biar kondisi Ibu semakin membaik, Ibu yang sabar ya, dokter pasti secepatnya mendapatkan donor jantung untuk Ibu" ucap Sam sambil terus menyuapi sang Ibu.
"Sam ... Asri itu seperti apa sih?" Kamu bisa sangat mencintainya" lalu Sam menceritakan sedetail mungkin tentang Asri kepada Ibunya, Sam menjelaskan kalau Asri itu sangat cantik baginya, senyumnya indah, sifatnya baik, dan Dia sangat menyenangkan, Sam pun bercerita sambil tersenyum-senyum.
Bu Fatma sangat bahagia melihat senyum Sam yang sudah lama sekali Bu Fatma tak melihatnya
"Sam Ibu ingin sekali bertemu Asri"
"Iya Mah.. sebentar Aku coba telepon Chandra dulu ya, siapa tahu Asri sekarang sudah masuk kantor, Aku kan bisa minta tolong Chandra untuk mengobrol dengan Asri sebentar" dan Sam pun berusaha menghubungi Chandra lewat video call.
Sam dan Asri kini berada di ruangan meeting bersama tim marketing untuk membicarakan tender iklan minuman
"Jadi menurut Kamu konsepnya seperti apa ya" tanya Chandra kepada Rio, saat Rio sedang menjelaskan pendapatnya ponsel Chandra bergetar lalu Chandra melihat ternyata Sam yang memangil dengan panggilan video call.
Namun Chandra tak bisa mengangkatnya karena meeting ini sangat penting tak bisa di ganggu, Chandra pun membiarkan ponselnya terus bergetar. Sam menunggu lama sekali hingga beberapa kali panggilan tak di jawab Chandra.
"Sepertinya Chandra sedang meeting Bu, Kita coba lagi nanti ya, sore atau pas makan siang"
"Ya.. gak apa-apa Nak.. kalau Mereka sedang sibuk bisa besok lagi kan" kemudian Dokter datang untuk memeriksa keadaan Bu Fatma
"Selamat pagi Bu Fatma" ucap Dokter dengan ramah, kemudian Bu Fatma di periksa, setelah selesai Dokter mengatakan
"Kondisinya membaik, Ibu Fatma boleh pulang, dan istirahat di rumah, tapi ingat tetap harus minum obat, soal operasi cangkok jantung Ibu sabar dulu ya, Kami sedang berusaha untuk mencari jantung yang pas untuk Ibu"
"Iya Dok... Saya sudah boleh pulang saja, sangat senang rasanya, terimakasih ya Dokter sudah sabar merawat Saya selama ini, karena dari awal Saya kontrol hingga sampai saat ini, Dokter lah yang menangani Saya" ucap Bu Fatma dengan wajah bahagia
"Ya Bu Fatma, Saya juga senang menangani pasien seperti Anda, punya semangat yang luar biasa untuk sembuh, ya sudah kalau begitu Saya permisi dulu ya Pak Sam Bu Fatma"
kemudian Dokter pun keluar Kamar rawat dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
__ADS_1