
Semua keluarga merasakan ada perubahan pada diri Jingga. Mereka semua melihat tingkah Jingga yang aneh. Hingga akhirnya Aska dipanggil oleh Ayanda. Aska yang tengah bergelut dengan pekerjaannya memilih menghentikannya sejenak. Dia pun menghampiri ibunya untuk berbicara serius.
"Ada apa, Mom?" tanya Aska.
"Ada apa dengan Jingga?"
Dahi Aska mengkerut mendengar pertanyaan sang ibu. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ibunya.
"Selama seminggu ini Mommy melihat ada yang berubah dari diri Jingga. Mommy hanya takut terjadi apa-apa dengan dia."
Sebagai seorang ibu pasti mengkhawatirkan kondisi anaknya. Walaupun hanya menantu, tetap saja Ayanda mengkhawatirkannya. Begitulah yang dirasakan oleh Ayanda. Dia sangat cemas dengan kondisi Jingga. Apalagi belum lama ini dia baru kehilangan putrinya. Ayanda hanya takut, Jingga depresi.
Aska hanya melengkungkan senyum. Dia meraih tangan sang ibu, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Istri Adek tidak apa-apa." Begitulah jawab Askara.
Bibir Aska terus melengkung dengan sempurna. Rona kebahagiaan terpancar di wajah tampannya.
"Mommy jangan khawatir."
Selalu disuruh jangan khawatir. Padahal hati Ayanda sudah ketar-ketir. Namun, melihat wajah Aska yang bahagia Ayanda memilih untuk percaya.
.
Setiap malam, mereka berdua pasti akan selalu melakukan ritual jenguk bayi. Jingga maupun Aska seakan memiliki power yang luar biasa dalam hal ini. Aska pun selalu melakukannya dengan penuh kelembutan.
"Enak gak, Yang?" Jingga hanya mengangguk. Dia sudah menelusupkan wajahnya di dada polos sang suami.
Aska terus mengusap lembut rambut sang istri tercinta. Dia pun mengecup kening Jingga juga ujung kepala istrinya.
"Besok malam kita adakan pertemuan bersama keluarga besar."
Kalimat yang dikatakan oleh Aska mdmbuat kedua alis Jingga menukik dengan sangat tajam.
"Mommy sepertinya curiga," ungkap Aska.
Jingga malah tersenyum. Dia juga merasakan hal yang sama. Ibu mertuanya itu sangatlah perfeksionis. Dia bisa melihat perubahan kecil yang ada pada diri Jingga.
"Aku mah ikut Bang As aja," jawabnya.
Aska tersenyum dan untuk kesekian kalinya dia mengecup kening Jingga dengan begitu dalam. Semakin ke sini sikap Aska semakin manis dan mampu membuat Jingga semakin tidak ingin lepas dari Aska.
Sore harinya, Aska dan Jingga sudah bertemu dengan dokter Gwen. Dokter Gwen terkejut dengan apa yang sepasang suami-istri ini katakan. Kemudian, dia memeriksa kembali kondisi di dalam perut Jingga. Sungguh dia tidak bisa berkata-kata. Keajaiban Tuhan itu memang nyata.
Dokter Gwen pun mendengar kabar duka perihal anak Aska dan juga Jingga. Belum lama ini dia mendengarnya. Namun, sekarang dia malah mendengar kabar baik. Tak tanggung-tanggung empat benih yang tumbuh di rahim Jingga. Dia ikut menitikan air mata.
__ADS_1
"Selamat, ya."
Air muka dokter Gwen terlihat sangat bahagia sekaligus terharu. Pelukan hangat dokter Gwen membuat Jingga merasa disayangi. Mengikhlaskan ayahnya yang gila itu membuatnya memiliki banyak keluarga baru. Keluarga yang memang benar-benar tulus menyayanginya.
"Orang tua kalian sudah diberi tahu?" Jingga menatap ke arah Aska dan dokter Gwen hanya tertawa.
"Pasti belum," tebak dokter Gwen.
Aska tersenyum dan sudah pasti dokter Gwen tahu kenapa dia datang ke sini.
"Kamu dan abang kamu itu memang identik." Aska malah tertawa lepas.
Aska meminta bantuan dokter Gwen untuk hadir di acara makan malam nanti. Memang sengaja Aska kumpulkan semua keluarganya juga keluarga sang kakak. Rion Juanda sudah dia anggap sebagai keluarga
inti.
Dokter Gwen mendengarkan bagiamana rencana Aska. Dia hanya mengangguk kecil menandakan dia juga mengerti.
Tiba sudah di mana akan diadakannya makan malam. Aska dan Jingga sudah memakai pakaian senada dan semua orang malah berpenampilan biasa. Sudah biasa rumah besar Giondra ini sering mengadakan acara kumpul seperti ini.
"Dalam rangka apa ini?" tanya Rion yang baru saja datang. Rumah yang paling dekat, tapi datang paling akhir. Begitulah kebiasaan duda karatan tersebut.
"Hanya makan malam saja, Ayah."
Rion mengangguk mengerti. Dia ikut bergabung bersama mereka semua. Aska tersenyum bahagia melihat semuanya berkumpul tanpa terkecuali. Beeya, si gadis cantik itupun ikut hadir.
Sudah banyak bakso-baksoan dan aneka seafood untuk mereka bakar. Juga tempat lesehan yang sudah pelayan siapkan.
"Ada apa ini?" tanya Gio heran. Sama halnya dengan Ayanda yang merasa tidak mengerti dengan apa yang Aska buat.
"Akan ada tamu spesial," ujar Aska. Dia masih memeluk pinggang Jingga.
Dahi kedua orang tua itu mengkerut. Mereka sangat tidak suka jika anak-anaknya mengajak mereka bermain teka-teki.
Aleesa, dia terus menyunggingkan senyum. Dia sangat bahagia melihat kebahagiaan dari om dan tantenya.
"Ketidaksempurnaan yang Ayna miliki, mampu menyempurnakan hidup Om dan Kak Jing-jing yang terus berteman sedih."
Batin Aleesa berkata dengan hati yang lega. Walaupun dia tahu ke depannya akan seperti apa, tetapi kebahagiaan itu akan selalu ada pada keluarga om dan tantenya.
"Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Dari balik ujian itu ada hadiah yang sudah Tuhan siapkan. Sekarang, Om dan Kak Jing-jing sudah mendapatkannya. Bagi manusia mustahil, tapi tidak ada yang mustahil untuk Tuhan. Terima kasih, Ayna. Terima kasih, Dea."
Tak lama berselang, kehadiran dokter Gwen membuat semua orang tercengang. Dahi dan sepasang alis mereka menukik dengan tajam. Ada apa ini? Begitulah batin mereka semua.
"Selamat malam semua," sapa dokter Gwen dengan begitu hangat. "Maaf. saya ke sini diundang oleh Aska."
__ADS_1
Kini, tatapan tajam beralih pada Aska yang sudah melengkungkan senyum. Tangannya pun terus menggenggam tangan Jingga dengan begitu eratnya.
"Ada apa, dokter Gwen? Jangan buat kami takut."
Dokter Gwen malah tertawa terbahak-bahak. Ayanda masih seperti dulu. Gampang takut dan cemas. Wajar, dia seorang wanita berhati lembut.
"Baiklah, saya tidak akan berbicara panjang lebar. Saya ke sini untuk memberikan ini kepada kalian."
Dokter Gwen memberikan amplop cokelat kepada orang dewasa yang ada di sana. Mereka masih kebingungan dengan apa yang dilakukan dokter Gwen.
"Bukalah amplop itu," titah dokter Gwen.
"Duit bukan isinya."
Ucapan Rion Juanda membuat semua orang tertawa. Ada saja candaan yang terlontar dari mulut Rion. Suasana tegang pun mulai mencair kembali.
"Silahkan buka," titah dokter Gwen lagi.
Mereka semua membuka isi amplop yang dokter Gwen berikan. Mata mereka melebar apalagi melihat nama siapa yang tertera di sana dengan sebuah foto yang terlampir di sana.
"Benarkah?"
"Seriusan?"
"Aku gak salah lihat."
Kalimat itulah yang keluar dari mulut semua orang dewasa yang ada di sana.
"Jelaskan, Gwen. Kami tidak mengerti," pinta Gio.
Dia paham akan hal ini. Begitu juga dengan Radit. Namun, penjelasan dokter ahli itu lebih berarti. Dokter Gwen tersenyum dan mengangguk. Dia pasti akan menjelaskan semuanya kepada mereka. Kabar bahagia ini tidak boleh ditutup-tutupi.
"Itu adalah foto hasil USG dari Jingga." Suasana pun mendadak hening. Sedangkan Jingga sudah tersenyum dengan tangan yang tak dilepas oleh Aska.
"Jingga sudah hamil tujuh Minggu."
Syok, terkejut, jadi satu. Mereka semua terdiam dengan mata yang tertuju ada Aska dan Jingga.
"Kemungkinan besar anak yang berada di kandungan Jingga kembar empat."
"APA?"
Mereka kompak mengatakan itu semua. Arya sudah menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia pikir Echa saja yang menjadi pemecah rekor hamil kembar banyak. Kini, ada lagi yang lebih banyak dari Echa.
"Asli, keluarga si Andra sama si duda maha peranakan kucing. Sekali hamil brojolnya banyak."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...