Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
HARUS DI RAWAT


__ADS_3

Sambil menunggu Asri di periksa Dokter, dan menunggu kedatangan Sam, Chandra pun menghubungi Bu Anita untuk memberitahukan keadaan Asri saat ini


"Halo Tante..."


"Halo Chandra.. ya Allah Chan.. Kamu lama sekali kabari Tante, bagaimana Chan.. apa Asri ketemu bagaimana keadaannya?" Bu Anita bertanya panjang lebar khawatir dengan keadaan Asri


"Sabar Tante.. Alhamdulillah Aku sudah menemukan Asri, dan keadaan Asri memprihatinkan Tante" Bu Anita syok mendengar jika Asri kondisinya tidak baik


"Maksud Kamu apa Chan.. tapi Asri selamat kan..?" Bu Anita kini berbicara dengan suara terisak-isak


"Asri selamat Tante.. Asri hampir di perkosa, seluruh badannya penuh luka, yang paling parah Kaki Asri Aku gak tahu apa kakinya baik-baik saja" Bu Anita pun kini menagis tersedu-sedu, lalu Bu Anita langsung bersiap menuju Rumah Sakit.


Sesampainya Sam dan Juvi di Rumah sakit, Juvi pun langsung membawa Sam untuk di periksa Dokter, namun Sam menolak.. Dia ingin bertemu Asri terlebih dahulu


"Gue mau bertemu Asri Juv.."


"Sam tapi Lo juga terluka, sudah Lo lebih baik di obati dulu, baru setelah itu Lo ketemu Asri" namun Sam tetap menolak Ia pun berjalan mecari Asri dengan sempoyongan


"Asri... Asri..." Juvi tak tega melihat keadaan Sam seperti itu, lalu Dia pun mengantar Sam untuk menemui Asri


"Ok.. Kita ke ruangan Asri, tapi setelah ini Lo harus di obati"


"Iya Juv.. Gue janji.."


Akhirnya Juvi sampai di depan ruangan Asri, lalu Juvi memanggil Chandra


"Chan..." Chandra menoleh Dia pun terkejut melihat keadaan wajah Sam yang begitu parah


"Astagfirullah... Sam, Lo sampai bonyok begini" Chandra merasa pengorbanan Sam lebih berat dari pada dirinya, Dia hanya melawa satu orang, sedangkan Sam melawan 5 orang Preman dengan keadaan di ikat


"Asri mana Chan.. Gue mau lihat keadaannya"


Tak lama Dokter keluar dari ruangan Asri dan menjelaskan mengenai keadaan Asri


"Keluarga pasien"


"Ya Dok.. Kami semua keluarga pasien" jawab Chandra


"Pasien mengalami trauma berat, dan kakinya mengalami patah tulang, untuk saat ini Bu Asri tidak dapat berjalan dengan normal" semua terkejut mendengar diagnosa Dokter lalu Sam menyahuti ucapan Dokter


"Tapi Asri masih bisa berjalan normal lagi kan Dok..?"


"Bisa.. tapi mungkin sangat tipis sekali harapannya" Sam semakin melemah mendengar ucapan Dokter


"Asri.. kasihan Kamu harus menanggung ini semua" Chandra berkata dengan suara terenyuh


lalu Sam mengingat kata-kata preman itu kalau kejahatan ini adalah sebuah misi, Sam pun membicarakan ini kepada Chandra


"Chan... Gue tadi sempat dengar kejahatan ini adalah sebuah misi, apa Lo tahu maksud semua itu"


"Ya... Gue tahu semua... Tini dalang di balik semua ini" Sam sangat terkejut mendengar semua ini Dia pun marah emosi dan semakin membenci Tini


"Dasar wanita Iblis.. jadi ini semua rencana Dia, sungguh sangat keterlaluan Dia bisa senekat ini"


"Ya.. cuma satu alasan Dia melakukan ini semua, itu karena Kamu Sam, Dia tak ingin kehilangan Kamu, maka dari itu Dia lakukan semua ini membalas dendam sakit hatinya melalui Asri" Sam terdiam merenungi ucapan Chandra, Dia sangat merasa begitu bersalah pada Asri karena dirinya lah Asri menjadi korban sakit hati Tini


"Sam.. Gue gak tahu apa lagi yang akan Tini lakukan untuk Asri setelah ini, mungkin setelah Dia tahu Asri selamat Dia akan semakin dendam pada Asri"


"Pelakunya apa sudah di laporkan Chan..?"

__ADS_1


"Sudah..Gue berhasil melawan dan polisi sudah menangkap orang itu, dan besok Gue harus ke kantor polisi untuk memberi kesaksian atas kasus ini" setelah itu Sam dan Chandra juga Juvi pun masuk ke ruangan Asri.


Sam terenyuh melihat keadaan Asri yang saat ini terbaring merasakan sakit di sekujur tubuhnya, lalu Sam berjalan mendekati Asri dengan perlahan kemudian Dia menggenggam tangan Asri


"Asri...." Asri menoleh dan melihat wajah Sam, betapa terkejutnya reaksi Asri saat tahu kondisi Sam dengan wajah babak belur


"Sam.. Ya Allah.. Kamu.. " Asri berusaha bangun dan meraih Sam, Dia pun langsung membelai wajah Sam dengan lembut


"Sam.. wajah Kamu..." Asri terenyuh melihat itu, Dia pun langsung memeluk Sam sambil menangis


"Kamu jangan menangis, rasa sakit ini tidak seberapa di banding rasa trauma Kamu dan rasa sakit di sekujur tubuh Kamu" Sam membelai rambut Asri sambil memeluknya


"Maafkan Aku.. Aku tidak bisa menyelamatkan Kamu, Aku berusaha untuk datang dan mencari Kamu tapi.."


"Sudah... Aku gak sanggup dengar itu semua" Juvi dan Chandra pun ikut terharu melihat Asri dan Sam begitu saling mencintai.


Saat tengah semuanya sedang bersedih tiba-tiba Bu Anita datang.


"Sayang... Asri.." Sam langsung melepaskan pelukannya


"Nak.. Kamu baik-baik saja, ya Allah Mamah khawatir Asri" Bu Anita berbicara terengah-engah lalu Bu Anita bertanya untuk apa dirinya keluar malam-malam


"Maaf Mah...Aku gak bilang sebelumnya Sama Mamah, Aku baca pesan dari Sam yang ingin bertemu Aku, karena besok Dia ingin pergi pulang kembali ke Cirebon"


"Pesan dari Sam" Bu Anita pun murka dengan alasan Asri, Bu Anita ingin memarahi Sam namun saat melihat Sam Bu Anita terkejut dengan kondisi wajahnya


"Ya ampun Sam.." saking terkejutnya Bu Anita bicara sambil menutup mulutnya


"Kamu.. sampai bebak belur seperti ini" lalu Sam langsung menjelaskan mengenai pesan yang Asri ceritakan itu


"Maaf Tante sebelumnya Aku nekat mendekati Asri tanpa meminta izin Tante terlebih dahulu, Aku hanya khawatir dengan keadaan Asri, dan soal pesan itu Aku sama sekali tidak pernah mengirim pesan apapun terhadap Asri" kini Chandra pun mengerti ini memang jebakan yang sudah di rencanakan oleh Tini


Melihat situasi yang seperti ini, kini Bu Anita beranggapan kedekatan Asri dengan Sam sangatlah membahayakan keselamatan Asri.


"Sam.. Tante pernah melarang Kamu berhubungan lagi dengan Asri sebelum Kamu menyandang status duda, mungkin ini jawabannya Sam, jika Asri dekat dengan Kamu nyawa Asri terancam, dan Tante tidak akan membiarkan sesuatu terjadi terhadap Asri, Sam.. Kamu mengerti kan maksud Tante, tolong Sam.. jika Kamu mencintai Asri, tolong jauhi Asri" Bu Anita berbicara panjang dan lebar menjelaskan dan memohon terhadap Sam


"Tapi Aku tidak bisa berjauhan dengan Asri Tante, Kami saling mencintai, Aku tahu Aku lah penyebab semua ini terjadi, tapi ini tidak akan terjadi kalau saja Tante tidak memblokir nomor Aku" Bu Anita pun terdiam mendengar ucapan Sam


"Jadi Kamu sekarang menyalahkan Saya"


"Bukan seperti itu Tante"


"Sudah.. Saya tidak ingin berdebat.. Saya tetap akan melarang Kalian berhubungan, biarlah waktu yang akan mempersatukan Kalian" Bu Anita berkata dengan jelas dan tegas terhadap Sam juga Asri.


Melihat situasi semakin panas, Juvi pun mengajak Sam untuk keluar


"Sam.. sebaiknya Kita keluar"


"Tapi Juv Gue gak bisa tinggalkan Asri" sedangkan Asri hanya bisa memandang Sam dan tangan Asri berusaha ingin meraih Sam, namun Bu Anita menghalanginya.


"Sam..." Asri memanggil Sam dengan suara bersedih


"Sudah lah Nak.. biarkan Sam menjalani hidupnya, kalau Kalian berjodoh suatu hari nanti kalian akan di dipersatukan namun untuk saat ini nyawa Kamu lebih penting" Asri menangis terisak-isak dan Bu Anita memeluk Putrinya supaya Asri mengerti dnegan maksud perkataannya.


Setelah itu Juvi mencoba menasehati Sam supaya untuk saat ini lebih baik memang tidak usah bertemu Asri dulu


"Tapi Gue gak bisa Juv.." Sam kini mulai emosi dnegan Juvi


"Gue tahu perasaan Lo.. tapi sekarang Lo lihat keadaan Asri, Lo sayang kan sama Dia" Sam terdiam mendengar ucapan Juvi Dia pun melemah lalu menyandarkan badannya ditiang tembok

__ADS_1


"Sudah.. sekarang lebih baik Kita obati luka Lo dulu" akhirnya Sam menuruti perkataan Juvi.


Setelah selesai di obati luka di wajah dan di pergelangan tangan Sam, Dokter pun menyarankan untuk di rawat 2 hari saja disini, supaya suster bisa menggantikan perban setiap harinya


"Jadi Saya harus di rawat Dok"


"Iya Mas.. paling tidak 2 hari saja" mau tak mau Sam menuruti permintaan Dokter, Dia pun kini teringat jika besok dirinya harus mengantar Ibunya ke Rumah Sakit untuk periksa kesehatan.


Lalu Sam mencoba menghubungi Ibunya melalui telepon, dan di angkat lah oleh Arif adik Sam


"Halo Mas... ada apa telepon malam-malam seperti ini"


"Arif.. Ibu sedang apa..?"


"Ibu sudah tidur Mas, kenapa memang Mas..?"


"Mas mau minta tolong besok Kamu antar Ibu ya untuk periksa kesehatan, donor jantungnya sudah ada, tinggal tunggu kepastian dari Dokter untuk operasi"


"Loh.. memangnya Mas gak pulang besok"


"Mas maunya juga pulang, tapi Mas kena musibah disini Rif"


"Musibah... musibah apa Mas..?" tanya Arif dengan suara yang khawatir


"Kamu tenang dulu, Mas habis kena Rampok, tapi Mas baik-baik saja Kok, hanya harus di rawat sehari saja disini" Arif kaget mendengar berita buruk itu


"Ya Allah Mas.. nanti Aku akan katakan sama ibu, terus apa Mas terluka, lalu apa yang hilang Mas?"


"Biasa wajah Mas kena pukulan oleh perampok itu, yang hilang hanya uang cash di dompet, belum sempat mengambil mobil Alhmdlilah banyak warga yang datang membantu Mas" Sam sengaja berbohong dengan mengatakan habis di rampok, sebab jika Ia menceritakan yang sebenarnya Ibunya pasti akan lebih khawatir dan mungkin nekat untuk datang kesini.


"Sudah ya.. Mas mau istirahat, salam untuk Ibu"


"Iya mas.. Mas cepat sembuh ya, Assalamualaikum" lalu Sam menjawab salam adiknya.


Bu Alya sedang di dapur lalu Ia melihat kamar mandi begitu kotor, Bu Alya mendekati dan memperhatikan dinding kamar mandi, Kasih pun datang dan bertanya,


"Bu.. ada apa..?"


"Ini kamar mandi licin banget.. kotor lagi"


"Iya Bu.. maaf ya, Aku belum sempat bersihkan, ya sudah Aku akan kerjakan sekarang" lalu Bu Alya melarangnya untuk membersihkan kamar mandi


"Eh.. jangan.. Kamu kan capek seharian kerja, sudah besok lagi"


Lalu datanglah Lia ingin ke toilet, Lia pun melihat Ibu mertuanya dan Kasih sedang mengobrol


"Kalian sedang apa disini..?


"Eh.. Lia.. kebetulan ada Kamu.. Kamu bersihkan kamar mandi ya sekarang"


"Aku.. tapi kan Kasih ada Mah.."


"Iya.. Mamah tahu, tapi kasihan Kasih sudah capek seharian kerja disini"


"Mah.. itu kan tugas Dia" lalu Kasih menyahuti percakapan Bu Alya dengan Lia


"Bu.. sudah.. biar Saya yang mengerjakan"


"Jangan.. Saya bilang jangan, Lia.. Kamu itu menganggap Mamah ada gak sih, Mamah kan minta tolong sama Kamu, kenapa sih cuma suruh bersihkan toilet saja Kamu gak mau" Lia sungguh tak mengerti dengan pemikiran Bu Alya, mengapa menyuruhnya sedangkan ada pembantu di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2