
Tibanya di rumah, Aska masih mencari tahu perihal Keysha. Dia mencoba menghubungi Beeya. Namun, sepupu dari Keysha pun tidak tahu. Padahal mereka sangat dekat.
"Mamah cuma bilang kalau Kak Key akan pergi dari Singapura. Bee gak tahu Kak Key akan pergi ke mana?" Itulah yang Beeya katakan.
Masih dirundung rasa penasaran, Aska memaksa sang kakak pertama untuk mengorek informasi kepada Kano. Echa sangatlah dekat dengan Kano.
"Kak Kano hanya bilang kalau Keysha ingin menenangkan hati dan pikirannya sejenak. Keysha tengah berada di titik hancur sehancur-hancurnya."
Bukan hati Keysha saja yang hancur. Aska pun merasa hatinya sangat sakit. Dia tidak menyangka jalan hidup Keysha akan semenyakitkan ini. Dia sama sekali belum menemukan titik temu. Sang istri sudah naik ke atas tempat tidur dan melingkarkan tangannya di pinggang Askara.
"Udah ada titik terang?" tanya Jingga.
Aska menggelengkan kepala. Terlihat wajah Aska yang nampak sendu. Jingga membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.
"Aku kok kasihan sama Mbak Elyna, ya," ucap Jingga. "Aku gak bisa bayangin bagaimana kalau aku ada di posisi dia," lanjutnya lagi.
Aska tersenyum, dia meletakkan ponselnya di atas nakas. Membiarkan pikiran tentang Keysha menguap dengan sendirinya. Di saat sang istri bermanja seperti ini, dia harus melupakan apa yang tengah dia pikirkan. Dia harus memfokuskan pikirannya kepada sang istri tercinta. Aska pun mengecup ujung kepala istrinya dengan sangat dalam.
"Gak usah dibayangin. Kenyataannya kamu itu bukan dia. Kamu adalah milik aku. Ratu di dalam hati aku," paparnya.
Gombalan kecil, tapi masih mampu membuat Jingga tersenyum bahagia. Dia mencubit gemas pipi sang suami.
"Boleh 'kan Ayah jenguk Adek?" tanya Aska seraya mengusap lembut perut Jingga. Jingga pun mencebikkan bibirnya.
"Tentu boleh dong, Ayah."
Aska pun tersenyum puas. Dia segera mengecup lembut bibir manis sang istri. Jingga pun tak tinggal diam, dia terus membalas dan tangannya pun sudah menyentuh bagian sensitif dari suaminya. Memulai pergulatan tanpa pemanasan membuat mereka kurang nyaman dan puas. Suara Dajjal lah yang menjadi penyemangat untuk mereka berdua. Itulah yang membuat mereka mampu berlama-lama dan enggan terburu-buru mencapai puncak.
Sudah setengah jam, mereka masih bergantian dalam melakukan pemanasan. Sosis peyot kini sudah menjadi pisang tanduk. Namun, masih Jingga mainkan. Dia seperti tengah memakan permen lollipop. Terlihat dia sangat menikmati. Begitu juga dengan Aska yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena rasa ngilu yang terkira.
Semenjak kehamilan Jingga menginjak dua bulan, dia selalu rindu akan pisang tanduk sang suami. Gesekan juga sodokan pisang tanduk selalu membuatnya menjerit kenikmatan. Dia ingin terus mengulang, apalagi jika pisang itu sudah sampai gang buntu. Ingin rasanya Jingga menjerit sekuat tenaga.
"Belum puaskah, Sayang?" Aska sudah mengusap lembut rambut sang istri. Jingga pun menggeleng.
"Enak, Bang."
Aska hanya tersenyum. Rasanya pisang tanduk itu ingin menyemburkan bisanya karena selalu kepalanya yang menjadi incaran oleh sang istri tercinta. Urat-urat yang terlihat jelas itu sudah berkedut tak karuhan.
"Yang, cepetan masukin," pinta Askara. Jingga menggeleng, dia sangat menikmati pisang tanduk sang suami yang semakin mengeras dengan urat yang terlihat bagai cacing kalung.
Tanpa menunggu lama, Aska sudah merobohkan tubuh istrinya. Dia sudah sangat tidak tahan. Namun, dia tahu istrinya belum mengeluarkan jeritan kenikmatan. Aska melakukan apa yang selalu Gavin nyanyikan ketika menonton serial kartun Ninja Hatori.
__ADS_1
Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke Samudera
Bersama istri bertualang
Lirik itu yang seperti cocok untuk menggambarkan apa yang tengah Aska dan Jingga lakukan. Keringat bercucuran pun tak mereka hiraukan karena sungguh permainan ini adalah permainan yang meminta diulang lagi dan lagi. Mereka sekarang tidak pernah merasa puas.
Pisang tanduk sudah ingin masuk. Benda panjang nan keras itu ingin segera menyeruduk dan merindukan suara ringisan penuh kenikmatan. Pelumas sudah berceceran dan jleb, teriakan terdengar. Namun, teriakan itu kini berubah menjadi suara orang yang tengah berpacu dan mengalami kelelahan. Napas ngos-ngosan menandakan perjalanan mereka sangatlah menyenangkan. Namun, mereka tidak ingin cepat-cepat mengakhiri perjalanan panjang yang tengah mereka lalui.
Aska maupun Jingga sudah memejamkan mata, menandakan mereka akan mengeluarkan muntahan yang berada di dasar benda keramat yang mereka miliki. Sudah berada di ujung.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu terdengar semakin nyaring. Namun, dua manusia itu seakan menjadi manusia tuli.
"Askara! Buka pintunya!"
Mata dua manusia yang tinggal dua meter lagi mencapai puncak segera melebar. Pekikan suara Nyonya besar terdengar. Siapa lagi jika bukan sang bunda.
"Arrgh!" erang Aska. Konsentrasinya Buyar seketika.
"Askara! Gavin demam dan sekarang dirawat di rumah sakit."
Seruan itu membuat Jingga mendorong tubuh suaminya hingga pisang tanduk yang sudah tertancap dalam menyembul keluar dan tubuh Aska pun terjerambab ke belakang.
"Empin," ucap istrinya yang sudah turun dari tempat tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun. Dia segera menuju ke kamar mandi.
Aska menjambak rambutnya sendiri. Dia mengikuti istrinya. Mengetuk pintu kamar mandi di mana oleh sang istri dikunci.
"Sayang, lanjutin dulu, yuk. Nanti kepala aku pusing ini," rengek Aska.
"Enggak! Kalau dilanjutin yang ada durasinya kaya durasi awal. Makin lama," sahut Jingga dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi pun terbuka. Wajah sang istri sudah segar dan tubuhnya sudah bersih.
"Kamu sayang sama aku apa enggak sih?" hardik Askara. "Dosa tahu nolak keinginan suami," tambahnya lagi.
"Aku sayang kamu, Ayah. Tapi, aku lebih sayang sama Empin."
__ADS_1
Jawaban Jingga mampu membuat pisang tanduk yang sudah seperti rudal menciut seketika. Bisa-bisanya dia tergantikan oleh keponakannya.
"Ngapain masih bengong," omel Jingga. "Mandi sana," titahnya.
Aska memasang wajah kesal dan menghentakkan kakinya menuju kamar mandi.
"Nanti aku kasih paku di lantai kalau setiap ngambek kayak bocah," omel Jingga lagi.
Di dalam kamar mandi Aska sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memarahi keponakannya. Sudah pasti orang tuanya yang lebai. Hanya demam biasa, tetapi minta dirawat.
"Bang As cepet ih."
Jingga sudah menggedor-gedor pintu kamar mandi. Aska pun mendengkus kesal. Ketika keluar dari kamar mandi tak sedikit pun dia tersenyum ke arah sang istri tercinta.
"Buruan!" seru Jingga.
Selama diperjalanan, sang ibu terus menyerukan agar Aska membawa mobilnya lebih cepat lagi. Tibanya di rumah sakit, Gio yang melihat Rion segera memanggilnya. Mereka semua bergegas ke kamar perawatan di mana Gavin berada.
"Kenapa lu baru kasih kabar ke gua?" sergah Gio kepada Rion.
"Gua lagi nongkrong di WC mana tau ada telepon masuk. Gua mah bukan manusia yang lagi setor terus mainin hape," jawabnya bersungut-sungut.
Besan dan besan tengah beradu mulut. Aska hanya menggelengkan kepala dan melangkahkan kakinya dengan sangat malas. Jingga kesal sendiri dan segera menarik tangan suaminya. Tatapan tajam Jingga berikan.
Tibanya di kamar perawatan, semua orang merasa iba ketika melihat Gavin yang ceria tengah digendong sang ibu yang tengah hamil empat bulan. Aska yang awalnya ingin memarahi bocah itu mengurungkan niatnya. Melihat wajah pucat sang keponakan saja dia tidak tega.
"Suami lu mana, Ri?" tanya Askara.
"Abang lagi di ruang IGD, tangannya tadi digigit Empin sepanjang perjalanan menuju rumah sakit," terang Riana dengan suara berat.
"Empin sempat kejang?" Riana mengangguk mendengar pertanyaan dari sang ibu mertua.
"Kasihan cucu Mimo." Ayanda mengusap lembut rambut Gavin. Anak itu pun menoleh.
"Antel, telen Tan!"
Mata semua orang melebar ketika anak itu malah memamerkan tangannya yang tengah diinfus menggunakan bantalan infus di tangannya. Senyumnya pun merekah.
"Taya sendata Powel lenjel."
...****************...
__ADS_1
Komen lagi atuh, udah lebih dari satu bab nih ....