Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
150. Wanita Berkelas


__ADS_3

Pindahnya keluarga Aksa membuat suasana rumah besar Giondra terasa sepi. Ketika sore menjelang dan malam tiba, suara bocah tiga tahun itu selalu terdengar sedang menyanyikan lagu pembuka serial kartun Ninja Hatori. Namun, suara itu kini sudah tidak terdengar lagi.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska ketika dia baru memasuki rumah besar milik keluarganya. Seperti tidak ada penghuni di sana. Sang ayah akan lebih lama berada di Bali. Menikmati masa menjelang pensiun bersama sang istri. Itu atas permintaan Aksara. Abangnya itu ingin kedua orang tuanya tidak usah pusing lagi memikirkan perihal perusahaan. Aksa sangat yakin jika semuanya akan bisa Aksa dan dirinya pegang.


"Kenapa baru pulang?" tanya Jingga yang sedang duduk di sofa yang berada di kamar.


"Habis rapat penting, semuanya dikumpulin."


Dahi Jingga mengkerut mendengarnya. Dia penasaran dan menatap suaminya yang baru duduk di sampingnya dengan penuh rasa penasaran.


"Abang memutuskan supaya Daddy pensiun. Maka dari itu, tadi semuanya dikumpulin," paparnya.


"Siapa aja?" Tatapan Jingga sudah mulai menyelidik.


"Kamu kenapa sih?" Aska mencubit gemas pipi istrinya.


"Aku hanya ingin tahu," rengeknya.


"Yang pastinya Om Remon, Christian, Fahri-"


"Christina sama Fahrani ada," timpal Jingga.


"Ya ada. Mereka termasuk jajaran Wiguna Grup."


Wajah Jingga sudah ditekuk membuat Aska terlihat bingung. Tidak biasanya istrinya seperti ini.


"Bunda, kenapa sih?" tanya Aska dengan panggilan sayangnya.


"Enggak," jawab Jingga dengan sangat ketus.


Aska memeluk tubuh istrinya dari samping. Dia tahu apa yang tengah istrinya rasakan.


"Profesional kerja saja, Bunda. Gak ngapa-ngapain juga. Di sana juga banyak petinggi yang lain," terangnya. "Lagi pula di sana ada Abang, mana berani dua perempuan itu mendekat," lanjutnya lagi.


"Apa hubungannya sama Abang?" sergah Jingga.


"Dia itu alarm buat aku. Dari kecil Abang itu bagai rem pengendali untuk aku. Abang tidak pernah melarang aku untuk melakukan apapun, tetapi ketika aku berada di jalur yang salah, Abang selalu menjadi penegur pertama dengan mulutnya yang berbisa."


"Sedekat itukah Ayah sama Abang?" Jingga mulai tertarik dengan cerita masa kecil sang suami.


"Dekat, hanya beda frekuensi saja," ungkapnya.


"Maksudnya?"


"Kamu tahu 'kan bagaimana Abang." Jingga pun mengangguk.


"Dia tampan, banyak yang suka, pintar, tapi dingin banget," jawab Jingga.


"Dia itu suka kesunyian, beda dengan aku yang suka keramaian. Kalau teman-teman aku main ke rumah pun, dia pasti akan mengunci pintu kamar."


"Kalau sepintas gak ada yang beda dari kalian, tapi kalau dilihat lebih dekat ada perbedaan yang mencolok di antara kalian berdua."


Aska mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Wajah mereka sama, tetapi kepribadian mereka berbeda.


"Kok aku pengen punya anak kembar, ya." Jingga mengusap lembut perutnya yang masih rata.


"Ya udah yuk, kita bikin anak kembar." Wajah penuh semangat Aska tunjukkan dan Jingga segera memukul pundak sang suami tercinta.


"Yang ini aja belum brojol, gimana mau bikinnya lagi." Aska pun terbahak.


.


"Pokoknya aku ikut ke kantor."

__ADS_1


Jingga sudah bersikukuh untuk ikut dengan suaminya. Apalagi, dia mendengar jika akan ada pertemuan kembali dengan Fahrani juga Christina. Dua orang yang pernah menyukai suaminya.


"Ya udah."


Akhirnya Aska menyerah. Daripada dia harus menerima rengekan dari istrinya terus menerus. Wajah istrinya sangat bahagia ketika mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor Wiguna Grup. Semua mata tertuju pada Aska yang menggandeng seorang wanita cantik. Wanita yang tak asing bagi mereka, tetapi mereka lupa pernah melihat wanita itu di mana.


"Pak," sapa Aska kepada Aksara ketika mereka berpapasan.


Jingga sedikit terkejut, ternyata suaminya bisa serius juga. Aksa menatap Jingga dari ujung kepala hingga rambut. Namun, dia tak berkata apa-apa. Membiarkannya saja. Jika, berada di lingkungan perusahaan mereka kan berbicara dengan sangat formal. Tidak ada yang namanya kakak-adik.


Aska membawa Jingga ke ruangannya. Dahi Jingga mengkerut ketika melihat seorang wanita cantik yang ada di depan ruangan suaminya.


"Dia siapa?" bisik Jingga.


"Sekretaris ku."


Mata Jingga melebar dan dia menatap nyalang ke arah sang suami.


"Pagi, Pak." Sapaan lembut yang keluar dari mulut sekretaris Aska membuat amarah Jingga semakin memuncak.


"Ini jadwal Bapak hari ini."


Sang sekretaris memberikan iPad berisi jadwal kepada Askara. Aska meraihnya dan dia hanya meresponnya dengan sebuah anggukan.


"Mau dibuatkan kopi sekarang, Pak?"


Darah Jingga mulai mendidih mendengar ucapan dari sekretaris suaminya itu. Dadanya berdegup sangat cepat sekarang. Aska masih bersikap santai walaupun dia tahu istrinya akan marah.


"Tidak perlu," sahut Aska.


Dia mengajak Jingga masuk ke dalam ruangannya. Mengunci ruangan itu karena dia sudah tahu apa yang akan terjadi.


Benar saja, wajah murka seorang Jingga Andhira tengah dia tunjukkan. Aska memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat dan Jingga pun mendorong tubuh Aska dengan cukup kuat.


"Dia hanya sekretaris ku, Sayang." Kalimat itu lagi yang terlontar deri mulut Aska.


Seruan itu menggema dan membuat Aska tertawa.


"Ini!"


Aska menunjukkan jari manisnya dan ternyata sudah melingkar cincin pernikahan mereka. Melihat Jingga terdiam Aska mulai mendekat dan memeluk tubuh istrinya.


"Jangan cemburu buta gitu dong," ujar Aska ketika dia sudah mengurai pelukannya.


Aska menarik dagu istrinya dan membubuhkan kecupan manis di bibir Jingga. Menyesappnya penuh cinta juga penuh kelembutan.


Ibu jari Aska mengusap lembut bibir Jingga yang basah karena ulahnya. Dia tersenyum ke arah sang istri tercinta.


"Ayah meeting dulu, ya."


Kalimat manis yang Aska ucapkan. Namun, tangan Jingga masih melingkar di pinggang Aska seolah tidak mengijinkan Aska untuk pergi.


"Setelah rapat selesai, kita makan siang bareng."


Bibir Aska sudah mengecup kening Jingga dengan sangat dalam. Dia sudah banyak mendapat pelajaran dari abangnya. Mood istri hamil itu sering berubah-ubah.


"Nak, Ayah kerja dulu. Sama bunda dulu, ya di sini. Jangan nakal, jangan buat Bunda kewalahan."


Setiap suaminya berbicara dengan sang buah hati yang masih berada di dalam perut, Jingga merasa sangat bahagia.


Pintu ruangan pun Aska buka dan dia menitipkan istrinya kepada sekretarisnya.


"Jaga istri dan calon anak saya di dalam."

__ADS_1


Sekretaris itupun terkejut. Pasalnya dia sama sekali tidak mengetahui bahwa Aska sudah menikah. Ketika mulut sekretaris itu hendak membuka suara lagi, Aska sudah menunjukkan cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.


"No sanggah. No jawab."


Aska berlenggang begitu saja meninggalkan sekretarisnya yang memang cantik. Namun, sayang hati Aska hanya terkunci pada satu sosok, yakni Jingga.


Sekretaris itu nampak masih syok dan tidak percaya. Dia memilih menghampiri Jingga di ruangan Askara. Sedangkan Jingga sedang memandangi foto pernikahan mereka yang terpajang di meja kerja suaminya.


Pintu ruang kerja terbuka dan Jingga sedikit terkejut karena tengah duduk di kursi kebesaran sang suami. Namun, matanya memicing ketika melihat ternyata sekretaris suaminya yang datang.


Wajah sekretaris itu nampak tidak bersahabat dan menatap nyalang ke arah Jingga. Namun, Jingga masih bersikap tenang dan balik menatap sang sekretaris sang suami.


"Saya tidak percaya kamu itu istri dari Pak Askara," imbuh sang sekertaris bernama Filia.


Jingga hanya tersenyum dan dia malah santai duduk kembali di kursi kebesaran suaminya.


"Mau kamu percaya atau enggak, itu bukan urusan saya," papar Jingga.


Filia pun berdecih kesal dan menatap Jingga dengan tatapan nyalang.


"Kamu itu tidak sepadan dengan Pak Askara," tekan Filia.


"Iyakah?" sahut Jingga tak mau kalah. Dia pun dengan berani menatap ke arah Filia dengan tatapan menantang.


"Lalu, perempuan seperti apa yang sepadan dengan Pak Askara?" tanya Jingga.


"Aku," tunjuknya pada dirinya sendiri. Tawa Jingga pun menggelegar.


"Bagai langit dan bumi dong jika kamu menjadi pasangan Pak Askara," ejek Jingga. Mata Filia pun melebar mendengar ejekan Jingga.


"Kamu hanya akan menjadi benalu dalam keluarga Wiguna, dan akan menghabiskan harta dari Pak Askara," tambahnya lagi.


"Kurang ajar!" geram Filia. "jangan mentang-mentang kamu sudah menjadi istri Pak Askara kamu bisa seenaknya dalam berbicara," bentaknya.


"Nah, akhirnya kamu mengakui bahwa aku ini adalah istri dari atasan kamu." Senyum penuh kemenangan terukir di wajah Jingga.


Seperti jebakan Batman untuk Filia. Mulutnya pun terkatup seketika.


"Sudahilah mimpi kamu yang tidak akan pernah jadi kenyataan itu," ucap Jingga.


"Kamu tidak akan pernah bisa bersaing dengan saya," tekannya.


Wajah Filia sudah merah padam. Ingin sekali dia menjambak di depannya ini. Terdengar suara pintu terbuka. Jingga dan Filia menoleh ke arah pintu dan ternyata Aska yang masuk ke ruangan itu. Jingga pun tersenyum ke arah suami tampannya.


"Sayang, kamu bawa permen jeruk gak?" Aska pun menghampiri Jingga dan menatap nyalang ke arah Filia.


Jingga membuka tas kecil yang dia bawa dan dia membuka plastik permen itu. Bukannya diberikan kepada Aska, tetapi dia bagian tengah permen itu dan membiarkan Aska mengambilnya di mulutnya.


"Nakal, ya." Aska pun tersenyum ke arah Jingga dan segera mengambil permen itu dengan bibirnya hingga bibir mereka menempel.


Jangan tanyakan bagaimana reaksi Filia saat ini. Hatinya hancur berkeping-keping.


"Aku ke ruang rapat lagi, ya." Jingga pun mengangguk. Aska mencium kening Jingga sangat dalam.


"Ayah kerja dulu ya, Nak."


Hati Filia semakin hancur dibuatnya. Dia seperti ingin mati sekarang ini. Apalagi, Aska yang sama sekali tak menganggapnya ada. Punggung Aska pun mulai menghilang di balik pintu. Kini, Jingga menatap nyalang ke arah Filia.


"Aku tengah hamil, dan mengandung anak dari Pak Ghattan Askara Wiguna. Jadi, sudahi mimpimu. Takut kamu gila doang nantinya karena cinta tak sampai."


Tangan Filia sudah mengepal dengan cukup keras. "Siapa kamu?" sergah Filia. Tidak mungkin keluarga Wiguna mempermenantukan seorang perempuan sembarangan.


"Jingga Andhira, owner dari JA Jewellery. Kalau kamu seorang wanita berkelas, pasti tahu brand itu."

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa komennya.


__ADS_2