
Mengurus empat buah hati nyatanya sangat melelahkan. Kegiatan yang monoton, tapi itu tidak menjadi masalah. Jingga sangat menikmati itu. Mengeluh pasti pernah. Namun, hanya sesaat. Ketika melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat, keluhan itu akan menjadi sebuah kebahagiaan yang luar biasa.
Perihal perkataan Aleesa, Jingga berharap itu hanya sebuah alarm peringatan saja. Dia tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Aleesa. Bukan tidak memikirkan, mencoba untuk melupakan lebih tepatnya.
Setiap lengkung senyum yang terukir di bibir keempat anaknya akan mejadi sebuah rasa bahagia tak terkira. Apalagi pagi ini dia bisa melihat ketiga anaknya tengkurap. Jingga bertepuk tangan gembira. Ada rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia benar-benar terharu. Inilah alasan kenapa dia tidak ingin memakai jasa baby sitter. Dia ingin melihat tumbuh kembang anak-anaknya sendiri.
Sedangkan Balqis, atau lebih sering dipanggil Bala-Bala hanya bisa mengoceh bagai burung yang akan dilombakan.
"Abubu. Abubu. Ya-yah."
Jingga terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Balqis. "Sekali lagi, Dek. Tadi bilang apa?" tanya Jingga.
"Ya-ya-ya-yah."
Jingga mengecup gemas pipi Balqis. Dia bahagia walaupun bukan kata bunda yang anak bungsunya katakan untuk pertama kalinya. Melainkan Ayah.
Setiap malam Aska akan mendengar laporan tentang empat anak-anaknya dari Jingga. Dia tersenyum bahagia. Apalagi melihat sang istri selalu merasa happy.
"Bunda capek gak?" tanya Aska. Jingga pun menggeleng.
"Jangan bohong." Aska menarik tangan Jingga ke dalam pelukannya. Mengecup ujung kepala Jingga dengan begitu lembut.
"Kalau Bunda capek, Ayah dan Mommy akan cariin baby sitter buat anak-anak." Jingga menggeleng dengan cepat.
"Bunda masih bisa mengurus mereka sendiri, Ayah."
Ya, begitulah Jingga. Dia benar-benar keras kepala. Aska juga tidak bisa memaksa. Ada alasan yang membuat Jingga tidak ingin memakai jasa baby sitter. Dia belajar dari kejadian Dea. Ketika itu
Dea dirawat oleh baby sitter. Jadi, Jingga tidak tahu perkembangan Dea setiap harinya. Hingga pada akhirnya Tuhan mengambil Dea darinya. Itulah fase di mana Jingga menyesal. Dia tidak memiliki banyak waktu bersama Dea. Dia juga tidak banyak memiliki banyakn kenangan bersama keponakannya. Dari situlah Jingga tidak ingin memakai jasa pengasuh. Dia sadar anak adalah titipan. Jadi, dia ingin memperbanyak waktu juga mengukir kenangan banyak-banyak bersama empat buah hatinya.
Aska maupun Jingga tak pernah absen menanyakan kabar dokter Eki. Mereka berdua tidak pernah mengabaikan pria difabel itu. Malah setiap hari Jingga selalu mengirimkan makanan untuk ayahnya.
Pagi ini perasaannya sungguh tak enak. Dia tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi dengan hatinya. Di lain rumah Iyan dan Aleesa tengah saling pandang. Ada yang mereka berdua rasakan.
__ADS_1
"Sa," panggil Iyan. Aleesa pun mengangguk pelan. Mereka berdua menghembuskan napas kasar.
.
Sudah setengah harian ini keempat anak Jingga tak berhenti menangis. Mereka ingin selalu digendong dan membuat Jingga kewalahan.
"Kalian kenapa, Nak?" Bukan perkara mudah mengurus empat anak ketika menangis. Mereka seakan kompak. Sudah empat jam si quartet menangis tak mau berhenti.
Aska pulang ketika jam makan siang. Itupun dihubungi oleh Jingga karena dia merasa tidak sanggup menghandle sendiri. Mertuanya sudah dua hari ini pergi ke Bandung. Kakak iparnya yang satu bekerja dan satunya lagi tengah ada acara di sekolah putra sulungnya. Setiap anak-anaknya menangis, dia pun ikut menangis.
"Bunda."
Jingga segera memeluk tubuh Aska. Dia benar-benar lelah dan merasa gagal jadi seorang ibu.
"Udah, Bunda jangan nangis. Tidak ada yang menyalahkan Bunda."
Biasanya ketika Aska datang, keempat anaknya akan berhenti menangis dan kembali ceria. Namun, ini makin menjadi. Dua jam sudah Aska bersama Jingga menenangkan si quartet. Namun, tetap tidak bisa.
Ayanda dan Giondra yang berniat akan kembali ke Jakarta sore hari akhirnya mengubah niatan mereka. Gio sengaja meminta helikopter menjemputnya juga istrinya di Bandung. Dia juga sudah menghubungi dokter keluarga. Takut keempat cucunya merasakan sakit, tapi tidak bisa berkata. Hanya bisa menangis karena mereka masih bayi.
Riana yang seharusnya ada jadwal pertemuan dengan para wali murid sosialita akhirnya membatalkan. Dia lebih memilih datang ke rumah sang mertua dengan membawa Gavin juga Ghea.
Radit dan Aksa pun melakukan hal sama. Begitulah kekompakan keluarga Wiguna. Mereka akan sigap jikalau terjadi sesuatu pada salah satu anggota keluarga Wiguna.
Dokter sudah memeriksa Abdalla, Ahlam dan Arfan. Juga Balqis si bala-bala. Namun, dahi dokter itupun mengkerut. Dia tidak menemukan ada sebuah gejala penyakit pada tubuh empat bayi tersebut.
"Bagaimana dengan anak-anak saya, Dok?" Dokter hanya menggeleng.
"Semuanya baik," jawab dokter dengan jelas.
"Baik gimana, Dok? Anak saya terus-menerus menangis." Aska sedikit geram dan tidak puas dengan jawaban dokter keluarganya.
"Mungkin mereka lapar."
__ADS_1
"Sedari tadi saya sudah memberikan mereka susu, tapi mereka tidak mau. Malah menangis keras dengan air mata tak pernah surut." Jingga mulai sedikit emosi.
Suara langkah kaki terdengar. Aska segera menarik tangan pria yang baru memasuki rumah besar.
"Apaan?"
"Periksa anak gua!" Aska sudah terlihat panik. Radit hanya berdecak kesal.
"itu udah ada dokter Hendrik. Kenapa gua-"
"Cepet, Bang! Aku mohon!"
Radit menjadi tambah bingung. Ada apa dengan pasutri ini. Pada akhirnya Radit memeriksa keempat keponakannya. Tidak ada masalah pada mereka berempat.
"Semuanya baik," ujar Radit.
Jingga dan Aska saling pandang. Mereka semakin bingung kepada si quartet. Kenapa anak-anak mereka masih saja menangis dengan cukup keras. Digendong pun tangisnya tak kunjung reda.
Echa teringat akan seseorang. Dia segera menghubungi adiknya, Iyan. Feeling Echa mengatakan bahwa keempat keponakannya bukan menangis biasa.
Iyan datang dengan langkah lamban. Dia takut apa yang dia lihat bersama Aleesa terjadi. Rumah besar mantan istri dari ayahnya sangat ramai. Riana segera menarik tangan adiknya dan membawanya ke arah si quartet yang masih menangis. Dugaan Iyan memang benar. Dia lun menghembuskan napas kasar.
"Yan," panggil Aska. Iyan menoleh, tapi hanya sebuah senyum kecil yang dia berikan.
Iyan mendekat ke arah si quartet yang tengah menangis. "Si Gehu, cireng, cimol, bala-balanya taruh aja di tempat tidur."
"Tapi, Yan-"
"Gak apa-apa." Iyan memotong ucapan dari sang kakak.
Empat anak bayi itu semakin keras menangis. Namun, masih Iyan biarkan. Mata Iyan melihat ke arah seseorang yang tengah menangis sambil memandangi si quartet.
"Saya hanya ingin berpamitan. ingin melihat mereka terakhir kalinya."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
komen dong ....