Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
264. Hukuman


__ADS_3

Tidur di ruang tamu seorang diri membuat Aska merasakan kesepian yang mendalam. Kamarnya benar-benar digembok oleh sang ibu. Ponsel istrinya pun sepertinya disita juga. Hanya erangan kesal yang keluar dari mulutnya.


Tidak ada anak, tidak bersama istri rasanya sangat sepi. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya kali ini. Tidur guling ke kiri dan ke kanan. Tidak ada tubuh yang bisa dipeluk. Tidak ada yang aroma tubuh yang dia hirup. Kembali seperti bujangan lagi.


"Tidur!" Suara sang ayah terdengar.


Aska menoleh dan sang ayah sudah menghampirinya. Ayahnya duduk di sofa di mana Aska harus tidur di sana.


"Makanya jangan terlalu parah." Nasihat sang ayah. "Walaupun istri kamu kuat, lihatlah dampak keesokan harinya."


"Ya ... 'kan mumpung gak ada anak-anak, Dad." Askara masih membela.


"Gak gitu juga konsepnya, Dek. Kalau kenapa-kenapa sama bagian bawah istri kamu siapa yang rugi?" tanya sang ayah. "Kamu sih enak bisa nyari lubang lain lagi, istri kamu?"


Barulah Aska terdiam. Dia memang sudah keterlaluan dalam hal ini. Dia pun menunduk dalam.


"Hadapai hukuman yang Mommy buat. Itu semua Mommy lakukan karena Mommy sayang sama istri kamu. Mommy tidak mau terjadi apa-apa dengan istri kamu. Perihal si quartet diungsikan, itu memang sudah keputusan Mommy dan Daddy. Jingga biar fokus pada kesembuhannya dan kamu fokus sama kesalahan kamu."


.


Pagi harinya Aska sudah merengek bagai anak kecil kepada sang ibunda tercinta. Dia ingin bertemu dengan sang istri. Dia ingin melihat kondisi Jingga.


"Gak bisa!" Begitu tegas ucapan sang mommy.


"Mom, tolong dong." Aska benar-benae memohon. "Adek cuma pengen lihat kondisi istri Adek sebelum berangkat kerja. Adek juga khawatir, Mom."


"Ini semua karena ulah kamu!" Ibunya masih sangat marah. Namun, kali ini Aska mengakui kesalahannya.


"Iya, Mom. Adek minta maaf."


Gio yang tidak tega akhirnya membuka suara. Dia ikut memohon kepada sang istri tercinta.


"Adek sudah janji sama Daddy, dia akan menerima semua hukuman dari Mommy. Biarkanlah dia melihat istrinya ketika sebelum berangkat kerja dan juga pulang kerja." Pada akhirnya Ayanda pun menyetujuinya.


Aska menekan gagang pintu. Terlihat sang istri tengah bersandar di kepala ranjang dengan wajah pucat.


"Bunda." Jingga pun mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum dan matanya nanar. Aska mempercepat langkahnya dan memluk erat tubuh sang istri tercinta.


"Ayah kangen Bunda."


"Bunda juga."

__ADS_1


Ayanda menghela napas kasar ketika melihat anak dan menanntunya melepas rindu. Begitu besar cinta di antara mereka berdua.


"Maafkan Ayah, Bun," sesal Aska setelah mengurai pelukannya. Penyesalan nampak terlihat jelas di wajah Aska. Jingga pun menggeleng.


"Ayah gak salah. Bunda gak menyalahkan Ayah." Betapa tulusnya ucapan Jingga.


Giondra tersenyum, dia merangkul lembut pundak sang istri tercinta. Ayanda pun menatap ke arah Giondra. "Apa Mommy salah?" Gio pun menggeleng.


"Mommy berhak menghukum Aska. Anak kita memang sudah keterlaluan," kekeh Gio.


.


Selama seminggu Aska menjalankan hukuman dari sang ibunda tercinta. Dia tidur di ruang keluarga hanya bertemakan guling. Gavin selalu meledek Aska, tapi dia tak pernah mengindahkan.


Sedangkan anak-anak Aska sudah berada di rumah dua hari setelah Aska dihukum. Mereka bisa bermain bersama Aska maupun Jingga. Hari ini adalah hari terakhir Aska dihukum. Namun, karena sudah terbiasa dia pun tidak sadar jika hukumannya selesai.


Deru mesin mobil terdengar. Aska sudah menutup pintu mobil dengan begitu kencang. Tubuhnya sudah sangat lelah karena tumpukan pekerjaan. Ketika pintu rumah dia buka sambutan dari istri dan anak-anaknya membuat Aska terkejut.


"Ya-ya-ya-yah." Balqis sudah meminta digendong. Sedangkan Jingga sudan memegang satu boks donat yang bertuliskan selamat datang ayah.


Aska tersenyum bahagia. Dia menggendong tubuh Balqis dan mencium kening ketiga putranya. Tak lupa dia memeluk tubuh istrinya dan mencium kening Jingga.


"Malam ini mau tidur sama Ayah dan Bunda?"


"Auu!" teriak mereka berempat.


Selesai membersihkan tubuh Aska maupun Jingga menemani keempat anak-anaknya bermain. Bercanda bersama dan meninton serial kartun kesukaan mereka. Waktu sudah menunjukka pukul sepuluh malam, tapi empat anak mereka masih terjaga dan asyik menonton. Jingga dia sudah menguap berkali-kali.


"Bunda tidur aja duluan biar Ayah yang jagain anak-anak." Aska mengusap lembut rambut sang istri.


"Nanti Ayah repot," ujar Jingga. "Mereka harus sikat gigi dan cuci kaki sebelum tidur."


"Enggak. Sekarang gantian Ayah yang jagain mereka." Kantuk yang tidak bisa diajak kompromi membuat Jingga akhirnya mengangguk setuju. Dia naik ke atas tempat tidur dan memejamkan matanya. Aska masih menemani anak-anaknya.


Pukul sepuluh tiga puluh,Aska mematikan televisi membuat mereka berempat menoleh ke dah Aska dengan kompak.


"Sudah malam. Waktunya tidur." Ada kalanya Asak bersikap hangat dan ada kalanya juga Aska harus bersikap tegas.


Abdalla, dia sudah turun dari sofa. Aska tahu apa yang akan dilakukan anak itu. Kemudian, Ahlam ikut turun juga. Disusul Arfan dan terakhir Balqis. Aska tersenyum bahagia sekaligus bangga. Aska menuntun Abdalla dan memasukkan anak pertamanya terlebih dahulu ke kamar mandi. Menyikat gigi Abdalla, lalu mencuci kakinya. Lanjut ke anak-anaknya yang lain. Mereka juga antri dalam meminta susu. Ternyata repot juga mengurus empat orang anak tanpa ada yang membantu. Sungguh beruntungnya dia karena Jingga bukan wanita pengeluh. Dia adalah waniat tangguh. Buktinya bisa membuat anak-anaknya teratur begini.


Lampu kamar dimatikan hanya menyisakan lampu temaram. Keempat anaknya tidur si tengah-tengah dengan memegang botol susu di tangan. Aska memeluk Balqis yang memang lengket dengannya.

__ADS_1


Jam dua pagi keempat anaknya terbangun dan ingin meminta susu lagi. Jingga mengerjapkan mata begitu juga dengan Aska. Jingga yang sudah membuka selimut dilarang oleh Askara.


"Biar Ayah aja." Jingga pun tersenyum. Dia pun kembali memejamkan mata. Dalam hatinya dia berteriak dengan begitu keras. 'Akhirnya Emak bisa merdeka malam ini.'


Tidur bersama kedua orang tua mereka membuat si quartet tidur dengan begitu nyenyak. Jingga terbangun ketika subuh tiba. Dia sudah terbiasa terbangun di jam itu. Biasanya keempat anaknya sudah terbangun. Namun, untuk pagi ini mereka berempat masih terlelap membuat Jingga tersenyum lebar. Perlahan dia menurunkan kakinya dari tempat tidur. Dia ingin berendam air hangat untuk pagi ini. Menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.


Aroma terapi dia teteskan ke dalam bath up. Menghirup aroma terapi itu membuat pikirannya seketika tenang. Baru saja lima menit merasakan ketenangan dan kenikmatan, ketukan pintu kamar mandi dari luar terdengar.


"Bu-bun ... Huwa...."


Jingga pun menghela napas kasar. Ternyata ekspektasinya terlalu tinggi. Keempat anaknya sudah menjerit histeris.


"Sebentar, Nak!" teriak Jingga dari dalam kamar mandi.


.


Pekerjaan Aska sangat menumpuk. Helaan napas berat sering keluar dari mulutnya. Sesekali dia memijat keningnya yang teras berdenyut. Ditambah dia belum bisa menjamah istrinya. Sudah dua Minggu padahal, tapi sang ibu masih melarang dengan dalih bibir bawah Jingga masih merah.


Ponsel Aska berdering, nama istrinya yang tertera di layar ponsel Aska.


"Iya, Bun."


"Ayah, pulang kerja mampir ke apotek, ya."


"Mau ngapain? Anak-anak sakit? Atau Bunda yang sakit?" Jawaban dengan penuh kecemasan terlontar dari mulut Aska.


"Bukan, Yah."


"Terus?" Dia masih bingung.


"Beli te--"


Suara Jingga mulai tidak ada. Aska melihat layar ponselnya, tapi masih tersambung.


"Bun," panggil Aska.


"Huwek! Huwek!"


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2