
Setelah selesai melakukan hubungan intim, Lia mengoceh soal Ibunya tadi
"Aku heran sama Mamah Kamu, kenapa sih Mamah Kamu seperti tak mengerti dengan pengantin baru, masa ia sih Mun Kita harus selalu ada di ruang tamu terlihat Mamah terus, ada kalanya kan Kita butuh privasi, coba kalau pintu gak di kunci mungkin Mamah Kamu masuk terus menonton Kita lagi berhubungan" ucap Lia dengan nada kesal, Makmun pun meminta maaf atas sikap Mamahnya yang seperti ini
"Maafkan Mamah ya sayang, mungkin maksud Mamah kan baik ingin mengajak Kita makan, Kamu jangan marah dong" Makmun membujuk Lia supaya tak marah lagi
"Aku gak marah kok sayang, hanya saja Aku merasa kok Mamah kamu sekarang jadi agak gimana ya, Aku bingung menjelaskannya" Makmun kini menjadi merasa serba salah, dari pada ribut tak karuan Makmun pun mengajak Lia untuk makan malam bersama dengan Ibu juga Ayah Makmun
"Sudah dong.. yuk Kita makan Kamu lapar kan" Lia tersenyum malas terhadap Suaminya lalu mereka keluar kamar dan makan bersama.
Asri sedang menyantap makan malamnya, merasa sendiri tak ada yang menemani, Asri ingin sekali mengajak Ibunya makan bersama namun Bu Anita sudah tertidur, Asri berusaha membangunkan Ibunya untuk makan menemaninya.
"Mah... Mah bangun, sudah makan belum" tanya Asri sambil menggoyang-goyangkan pundak Bu Anita.
Tak sengaja Asri melihat sebuah foto yaitu foto Bu Anita dengan seorang laki-laki, lalu Asri mengambil dan melihatnya, Dia bertanya-tanya siapa laki-laki yang ada di foto ini.
Asri pun membolak-balikkan foto itu lalu ada sepenggal tulisan di balik foto tersebut Asri pun membacanya, tulisan tersebut isinya adalah,
"Kamu orang yang sangat Aku cintai namun Aku juga sangat membenci Kamu" Asri terus memandangi foto tersebut, Dia beranggapan apakan ini foto Ayahnya yang selama ini Asri tidak pernah tahu.
karena setiap Asri meminta foto atau berbicara soal Ayahnya Bu Anita selalu bilang bahwa foto-fotonya tertinggal di rumah neneknya di Bandung, tak lama Bu Anita terbangun mengusap-usap wajahnya lalu melihat Asri sedang memegang sesuatu, saat sadar yang di pegang adalah foto sang suami dengan dirinya Bu Anita langsung mengambilnya dari tangan Asri.
Asri kaget ketika Ibunya sudah bangun dan tiba-tiba mengambil foto tersebut.
"Mah... Itu siapa, apa itu Papah Mah" tanya Asri yang begitu penasaran.
Bu Anita bingung ingin menjawab apa, namun Ia merasa Asri berhak tahu wajah Asli Ayahnya, tapi jika untuk menceritakan masa lalunya Bu Anita berfikir belum saatnya Asri harus tahu, lalu Bu Anita menjelaskan,
"Iya sayang, ini foto Papah Kamu, Kamu dapat dari mana foto ini"
"Aku dapat dari meja itu, jadi benar Mah ini foto Papah, Papah tampan ya Mah Aku baru ini tahu wajah Papah" Asri berkata dengan senyum bahagia di wajahnya, lalu Asri menanyakan soal tulisan di belakang foto tersebut
"Mah.. tapi di balik foto itu ada tulisan, artinya apa itu Mah apa Mamah benci Papah" lagi-lagi Bu Anita di buat bingung dengan pertanyaan Asri
"Sayang.. Sudah ya, soal tulisan itu nanti juga Kamu tahu, tapi untuk sekarang Mamah belum bisa cerita semuanya sama Kamu" ucap Bu Anita sambil membelai rambut Putrinya.
"Oh ya, Kamu ke kamar Mamah, mau apa Nak..?"
"Aku mau mengajak Mamah makan malam, Aku bosan Mah dari kemarin Aku makan sendiri terus, Mamah di kamar terus"
"Iya deh.. Maafkan Mamah ya, habis Mamah lagi sibuk si sekarang mengurus investasi di PT. Jaya Abadi"
__ADS_1
"Investasi Mah.. PT. Jaya Abadi itu dimana, sepertinya di Jakarta belum ada Mah"
"Ya memang gak ada Nak, itu perusahaan advertising di Cirebon"
"Cirebon.. Jauh sekali Mah sampe harus kesana" lalu Bu Anita menjelaskan tentang penghasilan yang di dapat selama ini untuk memenuhi kebutuhan rumah
"Ya sayang memang jauh, tapi kan bisa di kerjakan disini sekarang kan jaman sudah canggih kita kerjakan di laptop lalu kirim, kemudian lihat perkembangannya lewat aplikasi, mudah kan lagi pula Mamah itu investasi di 3 perusahaan Nak termasuk investasi di Retro, Mamah ikut" kini Asri merasa bangga mempunyai Ibu sepintar dirinya
"Mamah...Aku bangga sekali dengan Mamah, Mamah besarkan Aku sendirian, Mamah itu Ibu paling kuat yang pernah Aku temui" lalu Asri memeluk hangat Ibunya, tak terasa air mata pun menetes di pipi Bu Anita, lalu jatuh di kening Asri, dan Asri langsung mengusap air mata Bu Anita dengan berkata,
"Mamah.. jangan nangis, nanti Aku ikut sedih" Bu Anita pun tersenyum lalu mencium kening Asri
"Apapun Nak pasti Mamah lakukan untuk Kamu, Mamah sayang sekali sama Kamu"
"Aku juga sayang Mamah"
"Siapapun tak ada yang boleh menyakiti Kamu termasuk Papah Kamu" ucap Bu Anita dalam hatinya sambil menutup mata.
Bu Alya sudah memasak makanan begitu banyak yang enak dan lezat, membuat Pak Helmi memuji masakan istrinya itu
"Wah... banyak sekali Mah masaknya, ini pasti enak dan lezat"
"Lia harusnya ini Kamu loh yang masak, sekarang kan Mamah punya menantu, tapi kenapa ya kok Mamah masih sibuk di dapur sendirian" ucap Bu Alya yang sedang menyindir Lia, Makmun pun menyahuti ucapan Ibunya itu
"Mah kan Lia kerja Dia pasti capek Mah" Lia merasa Ibu mertuanya kini seperti tak suka kalau Dia bekerja, Pak Helmi pun ikut menyahuti ucapan Istrinya
"Mah.. sudah.. Lia ayo di makan, ucapan Mamah barusan mungkin karena Mamah capek ngurus rumah, jangan tersinggung ya" sikap Papah Makmun berbeda terbalik dengan sikap Ibu Makmun terhadap Lia, yang setiap harinya hanya menyindir dan menyindir, Lia hanya tersenyum pada Pak Helmi, lalu mereka semua pun mulai makan dengan tenang.
Setelah selesai makan malam Lia membereskan semua piring kotor di meja makan, namun Bu Alya berkata,
"Sudah Mamah saja yang kerjakan, takut Kamu nanti capek, Kamu kan habis pulang kerja" mendegar hal itu Lia menjadi geram dan kesal, Lia pun menjawab,
"Mamah kenapa sih, nyindir Aku terus Mamah gak mau Aku bantu ya sudah kalau gitu Aku ke kamar" jawab Lia dengan nada sedikit meninggi sambil menekan menaruh sendok di meja.
Lalu Lia pergi dan masuk kamar, hal itu dilihat oleh Pak Helmi, namun Pak Helmi tak biasa berbuat apa-apa, Dia pun tak ingin menyakiti perasaan Istrinya tapi Ia juga mengerti dengan apa yang di rasakan oleh menantunya, Lia pun masuk ke kamar dalam keadaan kesal dan Ia langsung tidur menutup tubuhnya dengan selimut.
Pak Helmi pun menghampiri Makmun yang sedang merokok di teras rumah dan mengajaknya mengobrol
"Mun... sepertinya Kamu perlu tinggal berdua supaya Kalian mandiri dan berumah tangah dengan nyaman" Makmun melihat dan menatap wajah Papahnya, lalu bertanya,
"Tinggal berdua Pah, maksud Papah Aku dan Lia pergi dari rumah ini" lalu Pak Helmi menjelaskan pada Putranya tentang hubungan Istri dengan Mamahnya.
__ADS_1
"Ya Nak, Kamu beli Rumah, atau kalau belum cukup uang ya Kalian bisa ngontrak dulu, sepertinya hubungan Mamah Kamu dan Lia kini jadi merenggang, tapi Papah gak bisa salahkan Mamah Kamu, karena Mamah Kamu sangat sayang sama Kamu, Kamu mengerti kan maksud Papah?" Pak Helmi berbicara sambil membaca koran.
Makmun mengerti dengan ucapan Papahnya itu, tapi Makmun memikirkan perasaan Ibunya jika Dia tidak tinggal bersama Ibunya, Makmun merasa rumit memikirkan usulan Papahnya Dia pun masuk ke dalam rumah lalu istirahat
"Pah.. Aku masuk duluan ya, soal pindah dari rumah nanti Aku pikirkan lagi" Pak Helmi tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Pagi pun tiba Chandra bangun tepat jam 7, lalu di sambut hangat oleh Rahma
"Chan... Kamu sudah bangun, oh ya hari ini acara bazar Pak Fadli ya" ucap Rahma sambil membereskan tempat tidur
"Iya, Kamu mau ikut ke acara bazar" Chandra bertanya, sambil melakukan olah raga kecil supaya otot-ototnya tidak terlalu kaku
"Memangnya boleh bawa istri"
"Ya boleh dong, mau bawa satu kecamatan juga gak masalah Rahma" Rahma pun tersenyum mendengar guyonan Chandra.
Dan Rahma memutuskan untuk ikut menemani Suaminya, setelah itu Chandra bersiap dan Rahma pun menyiapkan sarapan untuk kelurganya.
Makanan pun siap di meja makan, Rahma Bu Yanti, Pak rohman juga Chandra sudah duduk di meja makan, ketika Chandra ingin mengambil makanan Pak Rohman bertanya,
"Chan hari ini bazar ya"
"Ya Pah hari ini bazar Papah mau datang atau gak, oh ya kalau Pak Herman bagaimana Dia akan datang Pah?"
"Papah kurang tahu Pak Herman datang atau tidak, tapi kemarin sih Dia bilang ingin melihat acaranya, Papah doakan supaya lancar ya Chan" Pak Rohman berkata menyemangati menantunya, Chandra pun tersenyum dan Mereka pun sarapan bersama.
Asri tengah bersiap di dalam kamarnya, Asri memakai baju seragam yang sudah disiapkan agar semua tim memakai baju yang sama, Asri hanya tinggal menunggu Sam menjemput, karena Sam sudah berjanji akan menjemputnya, lalu Bu Anita masuk ke dalam kamar Asri
"Sayang tumben kok pakaian Kamu lebih santai gitu ya" Asri tersenyum pada Mamahnya lalu menjelaskan
"Iya Mah hari ini kan acara bazar, Mamah mau ikut gak banyak banget loh Mah perusahaan yang menjual prodak-prodak berkualitas, siapa tahu Mamah naksir salah satunya" ucap Asri sambil merapihkan Rambutnya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil Sam di depan, Asri menengok dari jendela ternyata benar bahwa itu mobil Sam
"Mah.. Aku ke depan ya, Sam sudah datang jemput Aku" lalu Asri mengambil tasnya, Bu Anita pun ikut ke depan menemani Anaknya, ketika melihat Sam Bu Anita langsung menyapa,
"Sam.. apa kabar Kamu, Tante sudah jarang lihat Kamu"
"Kabar baik Tante, maaf ya Tante Aku juga jarang main ke rumah Asri" Asri menyahuti percakapan Sam dan Ibunya
"Ya sudah Sam ayo kita berangakat, Kita kan harus mengawasi di lokasi, Mamah.. Kita berangakat ya, Mamah kalau mau datang kabarin Aku ya" dan Mereka pun berangkat.
__ADS_1