
Tini sedang berada di atas balkon, Dia berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di perut, Dia melamun memikirkan di mana Sam berada,
"Di apartemen Dia tak ada, di rumah Asri pun Dia tak ada, sebenarnya Sam kemana ya..? 4 hari lagi sidang itu di mulai, apakah Aku akan berpisah benar-benar terpisah"
Tini pun bersedih meneteskan air matanya, kemudian Andi mengetuk pintu kamar Tini, Tini langsung mengusap air matanya lalu membukakan pintu dan berkata,
"Ada apa.. ?" tanya Tini dengan ketus
"Gue pengen ngobrol sama Lo, Kita kan sudah lama sekali gak bertemu" Tini terdiam melihat wajah Andi kemudian Tini berkata,
"Masuk deh .. Kita ngobrol di balkon" ucap Tini kemudian Mereka berdua pun duduk di kursi di atas balkon.
Andi pun langsung bertanya mengenai hubungannya dengan Sam
"Tini... sory memangnya Sam itu kenapa bisa sampai selingkuh" tanya Andi pemasaran dengan masalah yang sedang Tini hadapi
Tini menjawab bahwa Asri sudah menggodanya, Tini berkata seakan-akan semua salah Asri, Dia pun menjelekkan Asri di depan Andi, namun Andi merasa Asri tidaklah seperti itu, Andi berpikir jika Asri sangat kasar dan jahat, sudah pasti saat Dia menyelamatkan Asri, Asri akan bersikap buruk, tapi yang Dia lihat, justru Asri sopan dan tersenyum berterimakasih, Andi hanya menyimak setiap perkataan Tini, namun Andi tak ingin memberikan pendapatnya tentang Asri, karena Dia pun baru kenal sesaat, dan Tini pun terlihat membenci Asri, Setelah banyak mengobrol Andi mengatakan,
"Lo yang sabar ya, Gue yakin Lo akan dapat pengganti yang lebih baik dari Sam" namun sayang ucapan itu di tepis oleh Tini Dia berkata,
"Gak... Aku gak bisa terima ini Andi, kalau Aku gak bisa memiliki Sam, gak ada seorangpun yang berhak memiliki Dia" Andi hanya tercengang diam mendengar kata-kata dari Tini.
Kata-kata itu mirip seperti ancaman, tapi Andi tak ingin tahu terlalu jauh masalah Tini, Dia pun permisi untuk turun ke bawah, dengan alasan ingin mengobrol dengan Pak Herman soal penempatannya di Retro.
Lia selesai membereskan semua pekerjaan di rumah, dari meyiapkan makanan keluarga, lalu Dia mengepel lantai kemudian membersihkan meja makan, kini sekarang Lia sedang mencuci piring, karena Makmun sudah tak sabar ingin memadu kasih dengan sang istri, Makmun pun menghampiri Lia.
"Sayang.. mau Aku bantu gak, biar cepat selesai" ucap Makmun sambil senyum menyeringai, Lia pun tersenyum malu ketika melihat Makmun mendekatinya dengan genit
"Aku selesaikan dulu baru setelah itu Aku ke kamar, Kamu tunggu saja ya sebentar kok" Makmun tersenyum lalu kemudian mencium pipi Lia dengan mesra
Tak disangka Bu Alya datang dan melihat adegan itu, Makmun pun jadi salah tingkah,
"Mamah... belum tidur?" tanya Makmun dengan suara gagu
"Mamah haus.. kalau mau cium ciuman itu ya di kamar bisa...!" Makmun pun merasa malu ketika di kritik oleh Ibunya
"Lia Aku ke kamar duluan ya" kemudian Makmun pun pergi ke kamar dengan wajah malu.
Setelah pekerjaan selesai semua, Lia pun bergegas masuk ke kamar Ia melihat Makmun yang sudah siap hanya menggunakan ****** ***** saja, Dia tersenyum genit padanya kini Lia merasa dirinya sekarang menjadi buronan yang di tunggu-tunggu untuk di tangkap.
__ADS_1
Lia pun tersenyum kemudian mendekati Makmun dan langsung saja Makmun membukakan semua pakaian Lia setelah itu Ia memulai aksinya dengan gairah dan pertempuran pun terjadi.
Kini Sam dan Bu Fatma pulang ke rumah, Bu Fatma merasa senang, akhirnya bisa istirahat di kamarnya sendiri, dan Sam pun kini masuk ke kamarnya yang sudah lama sekali Ia tinggalkan, Dia melihat begitu banyak kenangan di kamar ini, dari sejak kecil hingga dewasa tak ada yang berubah dari kamar ini.
Ia pun memandangi foto almarhumah Ayahnya, Dia merasa rindu dengan sosok sang Ayah, dan sekarang kini Sam hanya memikirkan untuk mencari pekerjaan di Cirebon, karena tidak mungkin juga Ia meninggalkan Ibunya dengan keadaan seperti ini, apa lagi soal donor jantung itu belum di dapatkan.
Sedangkan Asri tak bisa tidur Ia merindukan Sam sudah beberapa hari ini tak bertemu, andai saja Chandra mau memberikan nomor kontak Sam mungkin rasanya tak akan tersiksa seperti ini, begitu pun Sam Dia saat ini juga sedang memikirkan Asri Dia rindu sekali ingin bertemu, sekarang Mereka berdua hanya bisa saling merindu, kemudian Sam mencoba mengirim pesan kepada Juvi yang isinya
"Juv Lo punya kontak Asri yang sekarang gak, Nomor yang dulu sudah tidak aktif" Juvi sedang bersantai di teras rumah merokok sambil ngopi, lalu ponselnya mendapat pesan dari Sam, Dia pun membacanya lalu kemudian menjawab,
"Sory Sam, Gue belum sempat minta nomor yang baru, tapi Chandra punya sepertinya, karena sekarang Chandra menempati posisi Lo, jadi Manager Marketing" Sam terkejut membaca pesan dari Juvi yang mengatakan kini Chandra menempati posisinya lalu mulailah pikiran negatif muncul dalam benak Sam
"Berarti Chandra satu ruangan dengan Asri, kenapa Asri gak cerita ya, kemarin waktu Aku telepon" Sam bertanya pada dirinya sendiri, kini Sam merasa cemburu dan berpikir Chandra pasti mengambil kesempatan di setiap ada peluang untuk dekat-dekat dengan Asri, kini Dia pun tak bisa tidur karena merindukan Asri sekaligus memikirkan dan membayangkan ketika Mereka satu ruangan.
Pagi yang cerah tiba, sekarang cuti Makmun sudah berakhir Dia kembali bekerja hari ini, Lia sudah bersiap untuk berangkat Mereka pun sarapan bersama kemudian Bu Alya berkata,
"Makmun Kamu sudah masuk kantor ya"
"Ya Mah.. memangnya kenapa Mah...?" tanya Makmun sambil mengambil lauk untuk nasinya
"Jadi Mamah sendirian dong, Papah kerja, Kamu kerja, Lia juga kerja" ucap Bu Alya dengan wajah bersedih, lalu Pak Helmi menyahuti dan berkata,
"Ya ... mungkin Mamah akan sendiri terus kecuali kalau Lia mau resign dari kantor, pasti Mamah akan ada teman di rumah" ucap Bu Alya dengan tersenyum lebar.
Lia pun merasa tersindir dengan ucapan Ibu mertuanya, lagi lagi dan lagi Bu Alya selalu membahas soal ini, namun Lia tak menjawab apa-apa Dia takut ujungnya akan jadi pertengkaran, setelah selesai sarapan Lia berkata pada Makmun,
"Aku tunggu Kamu di mobil ya, Pah.. Mah..Aku duluan ke depan" Bu Alya pun terheran dengan sikap Lia lalu berkata,
"Mun... istri mu kok ga sopan sekali sih, harusnya Dia itu kan keluar bareng Kamu sama Papah, lah kok ini pergi begitu saja" Makmun hanya terdiam ketika Ibunya berkata seperti itu, namun Pak Helmi menjawab,
"Mah.. sudahlah tadi kan Lia sudah pamit, mungkin Dia malas lama-lama disini karena Mamah ngomel terus" lalu Pak Helmi bangun dari kursi dan bersiap untuk berangkat, kemudian Makmun pamit kepada Ibunya,
"Mah.. Aku berangkat ya, sudah Mamah jangan sedih, nanti juga ada waktunya kok Lia akan resign temenin Mamah di rumah" kemudian Makmun mencium kening Ibunya lalu berangkat.
Lia masih menunggu Makmun dengan wajah kesalnya Dia berkata,
"Semalam saja minta maaf, sekarang begitu lagi sepertinya Mamah itu gak akan berubah" Lia menggerutu pada dirinya sendiri, lalu Makmun datang dan masuk mobil
"Yuk.. berangkat.. " Lia hanya menganggukkan kepalanya tanpa bicara, selama di perjalanan Lia hanya diam tak berbicara
__ADS_1
"Sayang Kamu kenapa?"
"Aku gak kenapa-kenapa" Lia pun baru ingat bahwa dirinya sudah pindah Divisi dan naik jabatan Lia ingin mengatakan ini kepada Makmun sebelum Makmun akan marah nantinya
"Mun... Aku lupa mau memberitahu sesuatu sama Kamu" Makmun kini melihat Lia dengan wajah serius
"Mau memberitahu tentang apa?" tanya Makmun sambil tetap fokus mengendarai mobil
"Aku kemarin dapat informasi kalau Aku naik jabatan tapi pindah Divisi"
"Naik jabatan... jabatan apa, dan divisi apa" ucap Makmun penasaran dengan ucapan Lia, Lia pun tersenyum lalu menjawab,
"Mulai hari ini Aku akan menempati posisi Manager Keuangan" Makmun terkejut mendengarnya
"Apa... Manager Keuangan kok bisa, Kamu kan masih baru jadi Karyawan, kok secepat itu dapat Promosi kenaikan Jabatan" Makmun merasa aneh mungkin di hati Makmun ada kecemburuan sosial, karena dirinya sudah lama bekerja di Retro namun sampai saat ini belum ada promosi kenaikan jabatan untuknya
"Ya Aku gak tahu, alasan Pak Romi sih Dia bilang posisi ini cocok jika di tempati oleh perempuan, dan Pak Romi juga kan melihat CV Aku, dulu Aku kuliah bagian accounting" Makmun hanya terdiam tak berkata lagi, kemudian Lia berkata,
"Kamu... gak mau beri selamat untuk Aku apa, bilang apa kek.. gitu..."
"Ya... Selamat ya sayang semoga Kamu betah sama posisi Kamu sekarang, berarti gaji Kamu lebih besar dari Aku dong" Makmun tersenyum menyindir soal gaji
"Sayang... soal gaji mau besar atau kecil, Aku tetap Istri Kamu, dan uang itu kan untuk Kita juga, Aku mau Kita punya rumah dan bangun keluarga kecil Kita" Makmun hanya tersenyum sinis seperti tak suka.
Lia pun merasa kini serba salah, mengapa pekerjaannya selalu jadi masalah untuk keluarga Makmun
"Kamu kenapa sih, Kamu gak suka Aku naik jabatan, Kamu gak terima gaji Aku lebih besar dari Kamu, Aku heran deh gak Kamu gak Mamah Kamu selalu saja gak bisa menerima Aku apa adanya" Lia kini mulai merasa emosi lalu Lia berkata lagi,
"Mau Kamu apa sih Mun.." Makmun terdiam sejenak lalu berkata,
"Kamu pasti tahu lah mau Aku apa" saking kesalnya kemudian Lia berkata,
"Ok.. Aku akan resign kalau Kita sudah punya rumah sendiri dan Kita pindah ke rumah itu" Makmun pun langsung melihat Lia dengan tatapan bingung, kemudian Lia berkata lagi,
"Aku janji itu, tapi kalau Kita belum punya rumah dan belum tinggal berdua Aku akan tetap bekerja" ucap Lia dengan tegas kepada sang Suami.
Setelah sampai di kantor Lia turun dari mobil lalu langsung berjalan tanpa diiringi Makmun, Makmun tau jika Istrinya itu kesal dan marah, Makmun berkata dalam hati
"Baru saja kemarin berdamai, sekarang sudah bertengkar lagi, begini banget ya rasanya punya Rumah tangga" ucap gerutu dan keluh Makmun sambil berjalan memasuki gedung Retro.
__ADS_1