Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
BU FATMA TERSADAR


__ADS_3

Melihat sebuah surat Tini dan pak Herman bertanya,


"Mah.. ini apa...?


"Surat apaan sih ini" ucap Tini kemudian Tini mengambil dan membukanya.


Bu Heni hanya terdiam Dia hanya memikirkan reaksi Tini ketika tahu isinya, setelah di buka Tini pun membaca, seketika mata Tini terbelalak lebar lalu mengatakan,


"Apa... gugatan cerai dari Sam untuk Aku, dan ini jadwal sidang pertama" ucap Tini lalu kemudian Tini merobek-robek surat tersebut dan berteriak histeris


"Tidak... tidak ... Mah.. Pah... ini gak mungkin, kenapa Sam berani melakukan ini" bicara dengan suara keras sambil merobek-robek kertas tersebut hingga hancur berkeping-keping kemudian tiba-tiba Tini menangis lalu terjatuh di lantai.


Bu Heni dan Pak Herman merasa tak tega dengan keadaan Tini saat ini


"Sudahlah Tin Sam tidak menginginkan Kamu lagi, sudah lepaskan Dia, lagi pula Dia tidak akan mendapatkan apa-apa jika kehilangan Kamu, sekarang saja Dia tak bekerja Papah yakin Dia akan kesulitan keuangan setelah melepaskan Kamu" ucap Pak Herman dengan pedenya berkata tentang Sam


"Aku gak perduli dengan itu semua Pah, yang Aku inginkan hanya Sam, hanya Sam..." Tini bicara berteriak di hadapan Papahnya, Bu Heni pun langsung menyahuti


"Cukup Tini, Kamu sudah tidak sopan dengan Papah Kamu, sekarang juga Kamu makan, dan lupakan Sam" lalu Tini bangun kemudian Dia lari ke atas dan masuk ke kamar, Bu Heni pun ingin mengejar Tini namun Pak Herman berkata,


"Sudah Mah.. jangan di kejar, Dia pasti saat ini sedang hancur perasaannya, biarkan dulu Papah harus ke kantor sekarang" dan Pak Herman pun berangakat ke Kantor.


Lia pun kini bersiap berangkat kerja, Lia masih terdiam tak berbicara dengan Makmun, Lia juga sudah menyiapkan sarapan untuk keluarganya, kemudian Bu Alya datang dan berkata,


"Semalam Kamu pulang jam berapa Lia..?" tanya Bu Alya dengan suara sedikit judes, Lia merasa pasti mertuanya ini akan menasihatinya sama seperti Makmun


"Jam setengah 9 Mah" ucap Lia dengan singkat, Bu Alya pun menunjukan wajah juteknya


"Lia ... Kamu itu tahu kalau Mamah sedang sakit, lah kok Kamu lebih mementingkan Teman Kamu dari pada menunggu Mamah di Rumah" ucap Bu Alya menasihati Lia


Lia sebenarnya malas sekali ingin berdebat dengan Ibu mertuanya Lia pun menjawab,


"Kan kemarin Aku sudah di rumah gak kemana-mana, lagi pula Aku cuma jenguk Asri sebentar, kenapa sih Mamah dengan Makmun sepertinya gak suka jika Aku masih berbaur dengan teman-teman Aku" jawab Lia dengan suara tegas, pak Helmi melihat pertikaian terjadi lagi Antara menantu dan mertua


"Sudah.. Sudah... Kita ini mau makan loh, kenapa malah jadi ribut" ucap Pak Helmi melerai pertikaian yang terjadi, kemudian Lia mengambil tasnya lalu berpamitan untuk berangkat kerja, Makmun pun langsung berkata,


"Kamu gak sarapan dulu Sayang" Lia hanya melihat namun tak menjawab ucapan Makmun, lalu Lia pun pamit dengan Ayah mertuanya


"Pah... Aku duluan ya, Aku sarapan di kantor saja" lalu Lia bersaliman dengan Pak Helmi lalu Bu Alya namun Bu Alya memberikan wajah masam kepada menantunya itu, setelah itu Lia bersaliman dengan Makmun.


Lia pun berlalu, baru beberapa langkah Makmun mengejar Lia lalu berkata,

__ADS_1


"Aku sayang sama Kamu, apapun yang Aku ucapkan semalam itu hanya bentuk rasa kasih sayang Aku untuk Kamu Lia" setelah berbicara Makmun pun mencium kening Lia, hal itu membuat Lia menjadi luluh hatinya.


Namun Lia masih gengsi untuk bicara, akhirnya Lia langsung pergi dan naik taksi, Makmun hanya terdiam memandangi Istrinya dari belakang.


Setelah Lia naik taksi Lia pun memandangi rumah Makmun dan dia merasa menyesal tak mengatakan apapun untuk suaminya


"Aku juga sayang Kamu Makmun, tapi kenapa sih Kamu selalu saja marah jika Aku ingin bertemu dengan teman-teman Aku" ucap Lia dalam hatinya.


Asri pun bersiap untuk berangkat kerja, rasa sakit di kakinya mulai menghilang, tinggal rasa sakit di lengannya masih terasa ngilu akibat sayatan pisau, lalu Asri keluar kamar dan duduk di meja makan, Bu Anita pun melihat Putrinya sudah berpakaian rapih


"Kamu mau kerja hari ini, apa sudah baikan lukanya..?"


"Sudah mending Mah... Aku bosan di rumah terus, lebih baik kan Aku kerja, dan kaki Aku juga rasa sakitnya sudah mulai hilang, jadi Aku berangkat gak usah pakai tongkat lagi" ucap Asri dengan wajah tersenyum, Bu Anita pun tersenyum melihat Anaknya tersenyum


"Gitu dong... tersenyum ... kan indah di pandang"


"Jadi.. Sam sudah tak bekerja lagi kan di Retro"


"Ya... Mamah gak perlu khawatir Aku gak akan lagi bertemu Sam, itu kan yang Mamah mau" ucap Asri dengan nada sinis


"Asri.. Tolong Kamu mengerti dengan... " belum selesai bicara Asri langsung memotong ucapan Ibunya


"Dengan permintaan Mamah, yang gak masuk akal buat Aku" kini Bu Anita terdiam, ingin sekali bicara tapi pasti yang ada hanya pertengkaran yang terjadi, Asri pun mengambil sarapannya setelah selesai Asri berpamitan


Setelah masuk mobil Asri terdiam sedang memikirkan biasanya setiap hari Sam selalu menjemputnya dengan wajahnya yang tampan dan senyuman di wajahnya, namun kini Mereka terpisah sementara dan tak tahu kapan Mereka akan bersatu kembali seperti dulu.


Kini Sam masih berada di Rumah sakit, lalu Suster masuk ke dalam ruang Bu Fatma untuk memeriksa keadaan Bu Fatma, tiba-tiba Bu Fatma tersadar Dia berusaha menggerakkan tangannya lalu membuka matanya dengan pelan-pelan, Suster pun senang dan langsung memberitahu keluarga pasien


"Keluarga pasien" ucap Suster yang sedang memanggil


"Saya Sus ada apa Sus?" tanya Sam merasa khawatir lalu Suster mengatakan bahwa Ibu Fatma sudah tersadar.


Sam begitu senang ketika mendengar Ibunya sudah tersadar


"Saya boleh masuk Sus, Saya mau lihat Ibu Saya" ucap Sam dengan suara bahagia, begitu pun dengan Arif Mereka semua senang mendengar kabar ini, lalu Suster mempersilahkan Mereka untuk masuk.


Ketika masuk Bu Fatma melihat seseorang yang sudah lama sekali tak pernah bertemu, ketika sadar yang di lihatnya adalah Putra sulungnya Bu Fatma pun tersenyum


"Sam... Ya Allah Nak.. Kamu ada disini...?" tanya Bu Fatma degan suara bahagia, Sam pun langsung memeluk Ibunya


"Ibu... Aku rindu sekali sama Ibu, Aku sangat senang ketika tahu Ibu sudah sadar, Pokonya Ibu harus sembuh ya" ucap Sam dengan tersenyum bahagia, begitu pun Arif dia berkata,

__ADS_1


"Ibu... Maaf ya Aku jadi menyuruh Mas Sam kesini karena Aku khawatir dengan keadaan Ibu" ucap Arif dengan sopan kepada Ibunya


"Ya gak apa-apa Nak... Sam bagaiman keadaan Kamu, Kamu sehat... ?"


"Bu.. nanti Aku akan ceritakan semuanya sama Ibu, tapi yang penting sekarang, Aku punya kabar baik, Ibu akan operasi cangkok jantung, semoga dengan operasi ini kondisi jantung Ibu bisa membaik" ucap Sam dengan wajah yang senang, namun Bu Fatma belum tersenyum Dia memikirkan biaya operasi pasti sangatlah mahal


"Nak... operasi itu kan biayanya mahal, memangnya Kamu punya uang untuk itu, sudahlah Nak.. Ibu gak apa-apa jika tidak di operasi juga" Bu Fatma bicara dengan wajah memelas, lalu Sam menggenggam tangan Ibunya dan berkata,


"Bu... Ibu gak perlu khawatir soal biaya Aku sudah siapkan itu semua, dan Dokter juga mengatakan sama Aku, kalau Ibu itu harus operasi cangkok jantung, supaya kondisi jantung ibu bisa beroperasi dengan normal, pokonya Ibu harus sehat" ucap Sam dengan penuh kasih sayang terhadap Ibunya.


Kemudian Dokter pun masuk untuk memeriksa kondisi Ibu Fatma, setelah di periksa Bu Fatma sudah siap jika untuk operasi besok, namun masalahnya pada saat ini adalah donor jantung belum di dapatkan, dan Dokter pun memberitahu hal ini kepada Sam.


Kini Sam menjadi merenung bersedih karena belum mendapatkan donor jantung untuk Ibunya


"Sudah Nak... Ibu gak maslah kok jika tidak melakukan operasi" Bu Fatma memberikan pengertian kepada putranya


"Dok... kira-kira akan lama atau tidak ya Kami mendapatkan donor jantung itu" tanya Sam merasa cemas saat ini


"Saya tidak tahu Pak Sam tapi Kalian berdoa saja ya, semoga Kita cepat dapat donor jantung dengan segera" Dokter meyakinkan kepada Sam juga Bu Fatma, setelah itu Dokter pun pergi melanjutkan pekerjaannya.


lalu Sam tersenyum pada Ibunya dan berkata,


"Ibu.. jangan khawatir Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan donor jantung itu" Bu Fatma hanya terdiam melihat antusias Anaknya yang ingin membuat sehat Ibunya, lalu Arif berpamitan untuk berangkat kuliah,


"Mas... Bu... Aku berangkat kuliah dulu ya, Aku ada jadwal pagi"


"Ya.. Kamu yang rajin kuliahnya" dan Bu Fatma menyahuti


"Kamu hati-hati...sudah sarapan belum"


"Sudah Bu.. tadi beli nasi bungkus" setelah itu Arif pun bersaliman dengan Bu Fatma juga Sam.


Tiba-tiba ponsel Sam berbunyi dan ternyata itu notifikasi Wa dari pengadilan agama, bahwa jadwal sidangnya yang pertama akan dilakukan Minggu depan, Sam pun tersenyum melihat pesan tersebut,. lalu dia berkata,


"Akhirnya... semoga semuanya di lancarkan" ucap Sam berdoa dalam hatinya


"Pesan dari siapa Nak..?" tanya Bu Fatma


"Dari pengadilan agama Bu.. Sekarang Aku sudah mengajukan gugatan untuk Tini, dan jadwal sidangnya Minggu depan, Ibu... doakan Sam ya, semoga semuanya di lancarkan" Sam meminta doa untuk kelancaran sidang pertamanya, Bu Fatma agak terkejut dengan kabar ini, merasa Anaknya kini berani mengambil langkah


"Sam... apa Kamu sudah siap untuk bercerai dari Tini" tanya Bu Fatma dengan suara pelan.

__ADS_1


kemudian Sam menceritakan semua yang terjadi di Jakarta dari hamilnya Tini hingga keguguran, kemudian sampai Bu Anita Ibu Asri tahu tentang statusnya.


__ADS_2