
Setelah Tini di periksa, Dokter pun keluar ruangan lalu memanggil keluarga pasien,
"Keluarga pasien?"
"Iya Dok... Kami keluarganya, Dokter bagaimana Anak saya"
"Mohon maaf Bu, Kami tidak bisa menyelamatkan kandungan Bu Tini dengan sangat menyesal Kami memberitahu bahwa pasien mengalami keguguran" Dokter memberitahu dengan raut wajah bersedih.
Pak Herman dan Bu Heni kaget mendengar berita keguguran itu, Bu Heni menutup mulutnya seakan tak percaya sambil menangis kecil, lalu Ia duduk dengan perlahan di kursi sambil berkata,
"Apa Dokter keguguran.. ya Allah Tini keguguran Pah" Bu Heni berkata dengan sedikit tangisan.
Pak Herman yang tak terima dengan keadaan Tini, Dia pun langsung menghampiri Sam dengan maksud tujuan ingin memaki dan memberi pelajaran kepada Sam, Bu Heni pun memanggil suaminya,
"Pah.. Papah mau kemana?" Pak Herman tak menjawab Dia terus berjalan dengan raut wajah yang marah, Bu Heni ingin mengikuti kemana suaminya pergi, namun Tini dari dalam ruangan memanggil
"Mamah.. Papah.." Bu Heni pun masuk tak jadi mengikuti Pak Herman.
Kemudian Pak Herman menghampiri Sam, dan langsung bicara,
"Sam.. lihat karena Kamu, Tini Anak saya mengalami keguguran" Juvi, Sam dan Chandra yang berada disitu terdiam kaget mendegar berita Tini keguguran
"Keguguran.. Tapi kenapa Aku yang di salahkan Pah" ucap Sam yang tak merasa bersalah dengan apa yang di alami Tini
"Ya karena itu, Dia tadi mau menyusul Kamu, tapi Dia jatuh dari tangga dan Saya anggap ini semua adalah kesalahan Kamu" Pak Herman berbicara dengan suara tegas dan penuh amarah, Sam tak terima dirinya di salahkan
"Aku yang buat Tini keguguran?" lalu Sam tertawa sinis kemudian melanjutkan ucapannya,
"Dia yang menyusul Aku, Aku gak menyuruh Dia untuk susul Aku, dan Anda yang mengusir Saya sehingga Tini mengejar Saya, jadi menurut Saya Anda lah penyebabnya yang buat Anak Anda sendiri keguguran" Sam menjawab dengan suara yang tegas agar Pak Herman tak terus menyalahkannya.
Karena Tak terima dengan ucapan Sam lalu Pak Herman mengancam Sam dengan mengatakan,
"Sam sungguh Kamu terlalu sombong, ingat Sam Saya akan buat Kamu menyesal karena sudah mengkhianati Anak saya" setelah mengancam Pak herman pun pergi, baru beberapa langkah pak Herman melangkah, Sam mengatakan sesuatu
"Saya tidak takut dengan ancaman Anda" mendegar ucapan Sam, Pak Herman terus melangkah seakan tak mendengar suara Sam padahal mata dan hatinya kini di penuhi dengan rasa benci.
Melihat perdebatan Sam dengan Pak Herman Chandra pun ikut bicara
"Sam Lo kenapa bicara seperti itu sih"
"Apa yang salah dengan ucapan Gue, Gue gak takut sama orang itu, Gue sudah lama banget tunggu untuk keluar dari rumah itu dan sebentar lagi Gue akan ajukan gugatan cerai untuk Tini, karena sudah gak ada alasan lagi Gue harus bertahan dengan Dia" Sam berbicara dengan suara yang penuh amarah, Bu Anita merasa terganggu mendegar suara keributan di luar, lalu Bu Anita menghampiri mencari tahu apa yang terjadi
"Sam, ada apa sih kok sepertinya tadi Mamah dengar ribut-ribut" Juvi Sam dan Chandra kini saling diam memandang.
__ADS_1
Tidak mungkin Mereka berkata bahwa tadi ada Pak Herman mertua dari Sam, karena Bu Anita belum mengetahui siapa Sam sebenarnya
"Hey.. kok Kalian malah saling pandang gitu, tadi ada apa?" tanya kedua kalinya Bu Anita kepada Sam, Chandra juga Juvi, lalu Sam mencari alasan
"Ini Tante tadi Dokter kasih tahu Kita soal Rahma"
"Rahma kenapa?"
"Rahma sedang di operasi Tante, Dia di vonis Dokter akan susah hamil, karena Rahma juga korban seperti Asri hanya saja Rahma lebih parah terkena tusukan di bagian perut Tante" Chandra menjawab pertanyaan Bu Anita dengan sangat detail.
Bu Anita kaget mendegar hal itu, Bu Anita pun memberikan support kepada Chandra
"Tante ikut prihatin ya dengan apa yang di alami Rahma, Kamu harus kuat ya Chan, Rahma pasti butuh Kamu"
Setalah itu Bu Anita masuk lagi ke dalam ruangan Asri, Sam pun menghela nafas karena lega baru saja dirinya terselamatkan dari pertanyaan yang membuat semua gugup.
Sedangkan Bu Heni kini bersedih melihat keadaan putrinya
"Tini, Kamu yang sabar Nak" Tini tak mengerti apa maksud dari ucapan Ibunya
"Mah.. kenapa Mamah bicara seperti itu, Aku gak kenapa-kenapa kan Mah" tanya Tini dengan ragu-ragu, baru Bu Heni ingin memberitahu soal keguguran kepada Tini, Pak Herman kini masuk ruangan dan langsung menjawab pertanyaan Tini
"Kamu keguguran Tini" Tini menoleh ke arah Pak Herman, matanya kini terbelalak lebar terkejut mendegar jawaban dari Pak Herman
"Itu benar sayang, Kamu keguguran Kamu sudah tidak lagi mengandung Anak Sam" Tini terdiam seperti patung, tak terima dirinya sudah keguguran, Kini Tini teriak histeris
"Gak.. gak... itu gak mungkin, gak mungkin" ucap Tini dengan teriakan yang cukup keras, membuat para suster mendatangi ruangan Tini
"Maaf Bu ini ada apa"
"Sus... tolong, Anak Saya belum menerima kegugurannya, tolong tenangkan Anak saya" kemudian suster menyuntikan obat penenang kepada Tini dan Tini sekarang pingsan tak sadarkan diri.
"Terimakasih Sus... sudah menangani Anak saya" suster menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Tini.
Karena Pak Herman begitu banyak pekerjaan Dia pun kembali ke Kantor tak lupa Dia berpamitan dengan Sang Istri
"Mah.. Maaf Papah harus kembali ke Kantor, Papah harus meeting soal saham, karena ada sedikit masalah di saham perusahaan Kita" Bu Heni menganggukkan kepalanya dan Herman pun pergi dari Rumah Sakit.
Sambil menunggu hasil operasi Rahma, Chandra pun menelpon Bu Yanti untuk memberitahu mengenai keadaan Rahma
"Halo Mah... Aku mau kasih kabar kalau Rahma sekarang ada di Rumah Sakit" Bu Yanti langsung bangun dari tempat duduknya
"Rumah sakit, Rahma sakit apa Chan, sepertinya tadi Dia baik-baik saja" lalu Chandra menceritakan semua kejadian yang Dia lihat di bazar, Bu Yanti kaget dan menangis bersedih
__ADS_1
"Mamah akan segara kesana Chan"
setelah telepon terputus Bu Yanti segera menghubungi Suaminya dan menceritakan apa yang yang terjadi pada Anaknya
"Apa Mah.. ya Allah cobaan apalagi ini Mah, baru saja Rahma merasakan kebahagiaannya kini sekarang Rahma harus terbaring di Rumah Sakit"
Begitu mendengar Rahma sedang operasi Pak Rohman pun ijin untuk pergi sebentar menemui Anaknya. Ketika di loby Pak Rohman berpapasan dengan Pak Herman yang baru saja datang ke Kantor
"Pak Rohman mau kemana ya, sepertinya terburu-buru sekali"
"Saya harus ke Rumah Sakit melihat keadaan Putri Saya" Pak Herman mengingat informasi yang di berikan dari sang mata-mata mengenai insiden penusukan itu
"Oh ya, Saya pun baru ingat Anak bapak tertusuk pisau itu ya, Saya turut simpati ya Pak, dan Saya juga habis dari Rumah Sakit, Anak Saya mengalami keguguran" Pak Herman berpura-pura simpati kepada Pak Rohman
"Astagfirullah Saya ikut prihatin dengan keadaan Anak bapak, semoga di beri kesabaran Ya Pak" kemudian Pak rohman pergi dan Pak Herman pun kembali ke ruang kerjanya.
Setelah sampai Rumah Sakit Bu Yanti langsung bertanya kepada Chandra mengenai keadaan Rahma
"Chandra, Rahma bagaimana, apa operasinya sudah selesai" Bu Yanti berbicara dengan hati yang sedang gelisah
"Tenang dulu Mah, operasinya belum selesai Kita semua juga sedang menunggu kabar mengenai Rahma" lalu Bu Yanti menanyakan siapa pelaku kekejaman itu sehingga Rahma harus mengalami hal ini.
Chandra menjelaskan kasus ini sudah di laporkan ke Polisi
"Mamah sabar ya, Aku yakin polisi akan menangkap orang itu, dan Kita akan tahu apa motif orang itu, melakukan ini kepada Asri juga Rahma"
"Asri.. apa Asri juga korban penganiayaan ini" tanya Bu Yanti, tak lama Bu Anita keluar dari ruangan Asri dan melihat ada Bu Yanti di sini, lalu Bu Anita menyapa Bu Yanti
"Bu Yanti"
"Bu Anita, Saya dengar Asri korban penganiayaan juga"
"Iya Bu... Anak Saya terluka di bagian lengan dan wajahnya cukup memar" Bu Yanti pun terkejut mendengar hal itu, lalu Bu Yanti menangis kecil dan mengatakan
"Tapi Rahma... Dia ditusuk di perut oleh orang itu, betapa kejamnya orang itu" ucap Bu Yanti dengan suara sendu dan bersedih, kemudian Chandra menyahuti percakapan antara Bu Anita dan Bu Yanti
"Mah.. ada satu lagi yang harus Mamah tahu, Dokter tadi bilang kalau hasil diagnosa Rahma itu....." Chandra belum selesai bicara mengenai vonis Dokter, kini Dokter yang menangani Rahma sudah keluar dari ruang operasi, dan memanggil keluarga Pasien,
"Keluarga Pasien Bu Rahma" Bu Yanti pun langsung mendekati Dokter
"Saya Dok.. Saya Ibunya bagaimana keadaan Anak Saya" tanya Bu Yanti dengan rasa khawatir dihatinya
"Alhamdulillah Bu operasinya lancar, semoga Pasien cepat sadar ya, untuk informasi selanjutnya Kita tunggu setelah Ibu Rahma siuman, dan akan Kami lakukan pemeriksaan lebih dalam lagi" lalu Bu Yanti bertanya apakah Rahma sudah bisa di jenguk atau belum
__ADS_1
"Sudah bisa kok Bu tapi bergantian ya, hanya boleh 2 orang yang masuk" ucap tegas Dokter mengenai peraturan menjenguk Pasien sehabis operasi. Bu Yanti pun tanpa menunggu lama langsung masuk duluan untuk melihat Putrinya.