
Lia terdiam memandang Bu Alya, rasa-rasanya Dia ingin menolak perintah itu, namun.. Ia tak ingin jika dirinya selalu di bilang tak menghargai Mertua
"Kamu mau kan Lia menuruti Mamah" Bu Alya meminta kepada Lia dengan suara lembut, membuat hati Lia bisa menolak perintah itu
"Baik.. Aku akan bersihkan kamar mandi ini" Lia pun segera masuk kamar mandi dan mulai menyikat sudut ruangan yang sudah berlumut, Kasih merasa tak enak dengan Lia, lalu Kasih berkata pada Bu Alya,
"Bu.. biar saja besok Saya yang bersihkan, kasihan Mbak Lia, Dia lagi hamil mana besok Dia harus kerja"
"Aduh.. Kasih.. Saya dulu juga sedang hamil Makmun masih kerja di Kantor, malamnya masih beres-beres di rumah, bukan berarti lagi hamil itu malas mengerjakan sesuatu" Bu Alya berkata seakan-akan dirinya yang paling benar.
Lia mendengar semua perkataan itu, Lia hanya bisa sabar saat ini menghadapi sikap Ibu mertuanya.
"Sudah Kamu lebih baik istirahat, Saya juga mau istirahat, Lia... Mamah tinggal ya, kalau sudah selesai jangan lupa di siram yang bersih, supaya besok kamar mandinya sudah bersih dan nyaman di gunakan" Lia tak menjawab Dia terus menyikat dinding toilet.
Setalah Bu Alya pergi Kasih pun berbicara pada Lia
"Mbak Lia.. maafkan Saya ya Mbak, harusnya ini jadi pekerjaan Saya"
"Iya gak apa-apa kok Kasih.. Saya sudah biasa dengan sikap Mamah yang seperti itu" lalu Kasih mengatakan jika dirinya saja yang akan melanjutkan pekerjaan itu.
Namun Lia menolak Lia tak ingin di katakan sebagai Menantu yang tidak menghargai Ibu mertua.
"Sudah sana Kamu lebih baik istirahat, Aku bisa kok kerjakan ini hingga selesai" Karena Lia kekeh tetap ingin membersihkan Kasih pun menundukkan kepalanya, kemudian Ia masuk ke dalam kamarnya.
Selesai merokok Makmun juga Pak Helmi ingin masuk untuk beristirahat, Ketika sudah berada di kamar Makmun tak melihat Lia ada di tempat tidur
"Sayang..." Makmun memanggil sambil berjalan mencari Lia di sudut ruangan.
Karena tak menemukan juga keberadaannya, Ia pun berjalan mencari ke dapur. Bahkan di dapur pun Ia tak menemukan Lia
"Kamu dimana sih.." ketika hendak melangkah Makmun mendegar suara seperti orang sedang menyikat sesuatu.
Suara itu terdengar jelas dari kamar mandi, Dia pun penasaran dan ingin melihat, saat di buka pintu kamar mandi Makmun kaget melihat Istrinya sedang menyikat membersihkan sela-sela dinding kamar mandi
"Lia.. Kamu sedang apa" Lia pun menoleh
"Eh... Sayang.. Aku sedang membersihkan kamar mandi, dindingnya sudah mulai berlumut, lantainya juga.." Makmun terdiam tak mengerti mengapa malam-malam begini Istrinya terpikir untuk membersihkan kamar mandi.
"Sudah ayo.. Kita masuk kamar, ini sudah malam kalau Kamu masuk angin bagaimana..?" Makmun merasa khawatir, sebab Lia saat ini tengah mengandung dan tidak boleh terlalu capek.
"Nanti Mun.. sebentar lagi selesai, kalau Aku tidak selesaikan sekarang juga, Mamah bisa marah nanti" Makmun mengerutkan keningnya sambil bertanya-tanya dalam hati
"Mamah marah, maksud Kamu bagaimana?" Lia hanya tersenyum tak menjawab, di pikirannya jika Ia mengatakan yang sebenarnya, sudah pasti Makmun tidak akan terima jika dirinya di suruh seperti ini.
"Nah.. kalau begini sudah selesai" Lia menyiram air ke seluruh sudut ruang kamar mandi.
Kini kamar mandi pun terlihat bersih terang dan mengkilap.
"Sudah..? kalau sudah Kita ke kamar istirahat" Lia pun mencuci tangannya kemudian berjalan bersama Makmun menuju kamar.
Setelah berbaring di atas kasur Makmun pun menanyakan lagi tentang Ibunya
"Sayang.. tadi Kamu bicara apa sih..? Aku kurang mengerti"
__ADS_1
"Sudah.. lebih baik Kita istirahat, besok Kita sibuk loh.." Lia tersenyum lalu mengecup bibir Makmun kemudian Ia menutup tubuhnya dengan selimut.
Sedangkan Makmun masih kepikiran dengan kata-kata Istrinya tadi saat sedang membersihkan kamar mandi.
Setelah menemani dan mengobati luka Sam, Juvi pun pamit untuk pulang
"Sam.. Gue pulang ya, besok Gue kesini lagi"
"Iya Juv.. thanks banget ya, Lo sudah temani Gue dan bantu Gue mencari Asri tadi"
"Iya Sam.. Lo, Asri, Lia, dan Chandra Kalian semua teman Gue, dan Gue akan selalu bantu Kalian jika Gue mampu, Lo hati-hati ya jaga diri, Gue pulang" Juvi pun keluar dari ruangan Sam, Juvi sudah merasa tenang Asri sudah di temukan dan sekarang Bu Anita juga Chandra sudah ada di sana untuk menjaganya.
Juvi mengirim pesan kepada Chandra jika Ia pulang duluan, setelah itu Juvi berjalan dan menuggu taksi di pinggir jalan.
Chandra mendapati pesan dari Rahma yang menanyakan tentang kabar Asri. Chandra merasa Asri saat ini sudah dalam keadaan aman, Dia pun berpamitan pada Bu Anita
"Tante.. Aku pulang ya, besok ada acara launching, Aku harus pagi datang kesana, Asri juga saat ini sudah aman, jadi Aku gak merasa khawatir lagi"
"Iya Chan.. Chandra..Tante terimakasih sekali, berkat Kamu Asri selamat dari insiden mengerikan itu"
"Iya Tante sama-sama untuk Asri apapun itu, jika Aku bisa.. pasti Aku akan selalu bantu Asri" Bu Anita terenyuh dengan kata-kata Chandra, setalah itu Chandra pun pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Setelah meminum obat Asri tertidur pulas, sepertinya efek obat atau mungkin karena rasa lelah karena merasakan sakit di seluruh tubuhnya, Bu Anita kini bersedih melihat kondisi Putrinya seperti ini
"Ya Allah Nak.. Kamu yang Mamah jaga dari kecil hingga sekarang, dan Sekarang Kamu seperti hanya karena seorang lelaki yang berstatus suami orang, ampuni Aku ya Allah, mungkin ini karma karena perbuatan ku dulu, Maafkan Mamah Nak..." Bu Anita sungguh merasa perih dalam hatinya, melihat Asri jadi seperti ini.
Hari terus berjalan, di pagi yang cerah ini Kasih memutuskan untuk mencari suaminya itu, Dia meminta izin kepada Bu Alya untuk pergi sebentar mencari Suaminya
"Bu.. Saya boleh minta izin, Saya ingin mencari Suami Saya hari ini"
"Iya Bu.. tapi Aku berangkat nanti sehabis Dzuhur saja" lalu Bu Alya meminta pada Makmun untuk mengantar Kasih mencari suaminya
"Mun.. Kamu antar Kasih cari Suaminya bisa tidak?" Kasih merasa tak enak dengan tawaran Bu Alya
"Jangan Bu.. Pak Makmun kan kerja" Lia dari tadi menyimak percakapan Kasih dan Bu Alya, Ia terpikirkan untuk mengajak Kasih ikut ke acara launching.
"Mun.. bagaimana kalau Kita ajak Kasih ke acara launching, acara itu kan boleh di hadiri oleh keluarga karyawan"
"Kamu serius, tapi Dia kan sedang ingin mencari Suaminya"
"Justru itu Dia pernah bilang sama Kamu katanya Suaminya dulu anak dari pemilik perusahaan, bisa saja hari ini Suami Kasih hadir di acara launching, ini kan acara besar.. Retro pasti mengundang banyak relasi dan perusahaan-perusahaan besar" ide Lia sungguh brilian Makmun pun menyetujui untuk mengajak Kasih ke acara launching.
"Bagaiman Mah.. Mamah mau ikut ke acaranya bersama Kasih"
"Boleh.. Mamah akan temani Kasih, Kasih... Kamu setuju kan Kita hadir di acara kantornya makmun" Kasih pun tersenyum dan menjawab Iya untuk ikut ke acara tersebut.
Setalah itu Mereka bersiap untuk berangkat, Kasih sangat mengharapkan jika usahanya kali ini tidak sia-sia, di sepanjang perjalanan Kasih berdoa dalam hatinya
"Ya Allah.. semoga benar saja dengan yang di ucapkan Mbak Lia, jika Andi akan hadir di acara itu" Bu Alya menggenggam tangan Kasih sambil tersenyum, hal itu sungguh membuat hati Lia menjadi cemburu
"Aku menantu Mamah Alya juga Istri dari Anaknya, tapi kenapa Mamah terlihat lebih Sayang dengan orang lain.. ya Allah apa salahku hingga Mamah tak bisa mencintai Aku layaknya seorang Anak" tak terasa Lia meneteskan air matanya, Ia pun dengan cepat menghapus air mata dari pipinya menghadap ke kaca jendela mobil.
Tini tak tahu jika orang suruhannya sudah di tangkap polisi dan kini Mereka sedang menjalani proses interogasi dengan ketat.
__ADS_1
Setelah salah satu mengatakan jika Tini adalah dalang di balik semua ini, Polisi pun dengan segera bergegas menuju kediaman Ruang Herman Sanjaya.
Keluarga Tini semua sedang sarapan, Pak Herman pun mengajak Anaknya untuk hadir di acara launching
"Tini... Kamu mau ikut ke acara Kantor hari ini" semenjak terpisah dari Sam, Tini merasakan hampa dalam hidupnya
"Gak Pah.. Aku mau dirumah saja" jawab Tini dengan suara lesu tak bersemangat.
Lalu Andi berusaha menyemangati sepupunya itu dengan mengajakny bercanda, namun Tini tetap saja masih terlihat lesu tak bergairah
"Aku menyerah deh.." ucap Andi sambil tertawa kecil. Lalu Pak Herman menanyakan kapan kedatangan Heri di Jakarta Papah dari Andi
"Katanya lusa Papah berangkat dari Singapura, saat ini sedang banyak pekerjaan om"
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi, Bu Heni langsung menuju ke depan dan membukakan pintu. Saat di buka Bu Heni terkejut melihat 3 polisi berada di depan rumahnya
"Maaf Pak.. ini ada keperluan apa ya Pak.? Bu Heni bertanya dengan rasa penasaran
"Selamat pagi, apa benar ini kediaman Rumah Ibu Kartini?" Bu Heni menganggukkan kepala lalu bertanya lagi
"Memangnya Tini anak Saya melakukan apa Pak..hingga Kalian mencari Anak Saya"
"Kami datang kesini untuk menangkap saudari Kartini atas tuduhan Pembunuhan berencana dan penganiayaan terhadap saudari Asri Antasari, ini surat penangkapan untuk Ibu Tini" Polisi berbicara sambil memberikan surat penangkapan itu kepada Bu Heni.
Bu Heni tercengang syok ketika membaca surat itu memang untuk Tini, lalu Bu Heni memanggil Mereka dengan berteriak
"Pah...Andi.. Tini..." saat mendengar teriakan Bu Heni memanggil nama Mereka, Mereka bertiga pun segera berjalan menghampiri Bu Heni
"Ada apa sih Mah..?" tanya Pak Herman.
Mereka bertiga terdiam kaget melihat para Polisi ada di depan Rumah
"Mah.. ini ada apa..?" lalu salah satu polisi menjelaskan kedatangannya
"Begini Pak.. Kami datang untuk menangkap Ibu Kartini, karena Dia telah melakukan tindak kejahatan terhadap saudari Asri Antasari" Tini semakin panik ketika namanya di sebut karena telah melakukan kejahatan
"Bukankah Mereka mengatakan berhasil menjalankan misi, tapi kenapa sekarang Polisi datang untuk menangkap Saya" ucap Tini dalam hatinya
Pak Herman pun mengambil surat di tangan Bu Heni dan mulai membacanya
"Tapi kapan kejadian itu Pak..? Anak Saya seharian dirumah tidak kemana-mana, jadi mana mungkin Dia melakukan kejahatan" Pak Herman berbicara membela Anaknya
"Jika ingin membela diri silahkan nanti di Kantor Pak.. saat ini tugas Kamu hanya membawa pelaku" Tini pun berteriak
"Tidak.. Saya tidak melakukan apapun, Saya tidak ingin ikut Kalian" Tini bicara lalu mundur beberapa langkah ke belakang
"Tolong jangan persulit Kami, jika ingin membela diri atau mengajukan bukti silahkan urus di kantor Polisi" lalu dengan sigap Para Polisi menangkap Tini, Tini pun berteriak histeris
"Mah.. Pah.. Aku gak mau di penjara, Pah tolong Aku" Bu Heni dan Pak Herman hanya terdiam bingung harus berbuat apa.
Dia tak mungkin melawan tugas Polisi, lalu Pak Herman mengatakan,
"Kamu tenang Tini.. Papah akan bantu cari jalan keluarnya" Pak Herman berkata dengan suara lantang.
__ADS_1
Saat Tangan Tini di borgol, ponsel Tini terjatuh di lantai, langsung saja Andi mengambilnya dan memeriksa ponsel Tini, siapa tahu Dia mendapat petunjuk mengenai penangkapannya itu.