
Keempat anak Aska mulai menunjukkan sikap asli mereka ketika di Jakarta. Sudah sebulan ini mereka tinggal bersama sang Mimo. Juga sekolah yang sa di tempat Gavin bersekolah.
Setiap hari ada saja yang mereka rebutkan sebelum berangkat ke sekolah. Sungguh membuat Jingga pusing.
"Kemarin 'kan sama Pipo udah dibeliin masing-masing. Kenapa harus rebutan lagi?" Sang bunda sudah menaikkan suaranya satu oktaf.
"Itu yang Kak Iam punya Aqis, Bun."
"Ih, apaan? Ini punya Iam."
Aska masuk ke dalam kamar keempat anak-anaknya. Dia sudah menatap tajam ke arah tiga putra juga satu putrinya. Sedangkan tangannya sudah sia arahkan kepada sang istri. Meminta istrinya untuk mengancingkan bagian lengan kemejanya.
"Kalau kalian begini terus, lebih baik Ayah ijinkan Bunda untuk bekerja. Kembali ke JA Jewellery. Dari pada harus mengurus kalian membuat Bunda sakit kepala." Kalimat yang begitu tegas yang Aska ucapkan. Mereka berempat terdiam membisu. Ucapan mereka tidak pernah main-main.
"Selama di Jakarta, apapun yang kalian inginkan selalu ayah turuti. Ayah berusaha untuk membuat kalian bahagia, tapi kenapa kalian malah seakan terus membuat Ayah dan Bunda pusing? Selalu saja ada yang direbutkan. Padahal, masing-masing dari kalian sudah dibelikan secara merata. Apakah kalian tidak ingin membuat Ayah dan Bunda bahagia? Apa kalian bahagia melihat Ayah dan Bunda pusing karena sikap kalian?"
Ayanda menghampiri kamar keempat cucunya. Baru saja mulutnya hendak terbuka, tapi dia urungkan ketika melihat Aska sedang membuat anak-anaknya menunduk dalam. Dia tidak ingin mencampuri pola asuh sang putra.
"Mana cucu-cucu kita?" tanya sang suami ketika Ayanda datang seorang diri.
"Masih di atas. Lagi dikasih kultum sama ayahnya," kelakar Ayanda. Gio pun tersenyum.
"Biarkanlah Aska mendidik anak-anaknya seperti apa. Kita sebagai orang tua jangan pernah mencampuri pola asuh mereka. Setiap orang tua memiliki pola asuh yang berbeda-beda, tapi terbukti bahwa Echa dan Aksa mampu membangun anak-anak mereka menjadi anak-anak yang luar biasa." Ayanda setuju dengan ucapan suaminya.
Walaupun tinggal dalam satu atap yang sama, orang tua tidak boleh mencampuri urusan anak termasuk pola asuh dan didik tehadap cucumya. Ketika Aska tengah memarahi anak-anaknya, Gio dan Ayanda tidak akan pernah membela cucu-cucunya. Itu mereka berdua lakukan agar cucu-cucunya menjadi manusia yang kuat. Tidak sedikit-sedikit mengadu.
Tak lama kemudian, keempat cucu Ayanda dan Gio turun untuk sarapan. Wajah mereka masih sendu dan membuat Ayanda dan Gio tidak tega.
"Kalau gak mau dimarahin Ayah, kalian jangan nakal." Ayanda sudah berkata.
__ADS_1
"Ayah itu orangnya sangat hangat. Kalau sampai Ayah marah berarti kesalahan kalian sudah fatal," tutur Ayanda lagi.
"Dengar ya cucu-cucu Pipo," ucap sang kakek. "Ayah kalian marah bukan karena benci kalian, enggak. Ayah marah karena Ayah sayang kepada kalian. Ayah mengarahkan kalian ke arah sesuatu yang baik. Percaya sama Pipo." Mereka berempat pun mengangguk.
Di kamar kedua orang tua si quartet Jingga sudah menatap suaminya dengan sangat dalam.
"Ayah, tadi apa Ayah gak terlalu keras kepada anak-anak?" Seorang wanita masih memakai hati dalam hal apapun.
"Ada kalanya mereka harus dikerasin. Bukan karena Ayah galak atau gak sayang. Itu harus kita lakukan agar anak-anak tidak semena-mena. Berantem terus itu gak baik, Bun. Sedikit demi sedikit harus kita arahkan." Jingga hanya mengangguk.
.
Sepulang sekolah si quartet meminta sopir yang bertugas untuk mengantar jemput mereka ke sekolah menuju kantor di mana ayahnya bekerja. Mereka menuju lantai di mana tempat ayahnya berada. Pernah beberapa kali mereka diajak ke sini. Jadi, mereka hafal. Security pun bersikap sopan karena dia tahu itu adalah anak dari direktur utama Wiguna Grup Jakarta.
Tibanya di lantai atas mereka bertemu dengan sekretaris sang ayah.
"Tante, Ayah kami ada?" Fahrani tersenyum dan mengangguk..
Mereka berempat melangkahkan kaki menuju ruang sang ayah. Tangan Abdalla mengetik pintu tersebut. Ketika ada jawaban dari dalam barulah mereka masuk.
Aska terkejut ketika empat anaknya lah yang masuk ke ruangannya. Matanya memicing dan dahinya mengkerut.
"Ayah, kami minta maaf," ucap Abdalla yang tak berani menatap sang ayah. Terdengar helaan napas sang ayah dengan begitu kasar. Mereka mendengar langkah kaki mendekat.
"Maafkan Aqis, Ayah." Anak bungsunya sudah berkaca-kaca membuat Aska tidak tega.
"Maafkan Iam juga, Ayah," ucap Ahlam. "Iam janji, akan ngurangin kejahilan Iam ke Aqis."
"Apang juga minta maaf."
__ADS_1
"Mas juga."
Aska memeluk tubuh keempat anaknya yang sudah merasa sangat bersalah.
"Ayah gak minat apa-apa sama kalian. Ayah hanya ingin kalian menjadi anak baik, saling menyayangi satu sama lain dan saling menjaga. Buatlah Bunda bahagia, baru Ayah." Mereka berempat pun mengangguk..
"Ya udah, kalian lebih baik pulang. Ayah ada rapat di luar. Kasihan Bunda nanti nyariin."
Ketika mereka hendak keluar, suara Gavin terdengar memanggil Ahlam. Aska bingung, kenapa keponakannya ini tidak langsung pulang ke rumah? Malah ke kantor.
"Bohlam, mana buperware Mas?" Ahlam terdiam sejenak. Dia mengingat-ingat di mana dia menaruh botol minum sang sepupu.
"Aduh!" Mata Gavin melebar ketika Ahlam hanya berkata aduh.
"Ada gak?" sergah Gavin. Ahlam menggeleng.
"Bohlam!" seri Gavin sambil berkacak pinggang. "Itu benda keramat milik Mommy Mas. Mana limited edition lagi," omelnya.
"Kayaknya ketinggalan, Mas." Ahlam berkata dengan sangat hati-hati.
"Syukurin, besok bawa kendi buat minum," ejek Ghea. Gavin pun mengerang kesal..
"Jangan minta seribu dollar," potong Aska ketika Gavin hendak membuka suara. "Ini bukan Singapore, ini Indonesia. Jadi, gak nyimpen dollaran.
"Uncle!!"
...***To Be Continue***...
Boleh minta komen?
__ADS_1
Kalo ada typo mohon maaf. Nulisnya jam 2 pagi soalnya