
Tukang salar sepuluh dollar sudah tepar karena kekenyangan. Aksa dan Riana tertawa melihat putra pertama mereka. Begitu juga dengan Aska dan Jingga. Aska menggendong tubuh keponakannya yang cukup berat.
"Aku tuh aneh sama kamu, Bang As. Setiap kali Empin malakin pasti Bang As kesal. Lima menit kemudian malah udah bercanda lagi. Terus uangnya juga pasti langsung dikasih ke Empin," ujar Jingga heran.
Aska yang sudah melajukan mobilnya pun tertawa mendengar ucapan Jingga. Dia melirik ke arah belakang di mana Gavin tengah tertidur dengan nyaman di pangkuan Tini. Kedua orang tua Gavin tengah mengambil baju untuk acara nanti sore dan menitipkan Gavin kepada Aska dan Jingga.
"Gak ada yang bisa marah sama anak itu," sahut Aska. "Auranya dia itu boss banget," tambahnya. Jingga setuju dengan ucapan sang suami. Gavin seperti memiliki aura tersembunyi yang membuat semua orang menganggukkan kepala kepadanya.
Tibanya di rumah besar, Aska membawa tubuh Gavin ke kamarnya. Dia menyuruh Tini untuk menjaga Gavin. Sedangkan dia sudah masuk ke kamar. Sang istri sedang membersihkan riasannya.
"Kamu belajar apa lagi dari Riana?" Aska sudah memeluk istrinya dari belakang. Dahi Jingga pun mengkerut mendengar ucapan dari sang suami yang menjelma menjadi cenayang.
"Gak belajar apa-apa," jawab Jingga.
Aska meletakkan dagunya di bahu Jingga. Menatap pantulan diri mereka berdua di depan cermin.
"Jangan bohong, Sayang." Aska semakin mengeratkan pelukannya. "Pasti ada alasan 'kan kenapa kamu memilih untuk tidak ke kantor."
Jingga menatap sang suami dengan menengokkan kepalanya. Dia tersenyum manis dan berkata, "rahasia."
Aska mencebikkan bibirnya dan pura-pura marah kepada Jingga. Dia memilih meninggalakan Jingga dan membuat Jingga kalang kabut. Mengejar Aska dan memeluknya dari belakang.
"Jangan marah."
"Kalau kamu menyembunyikan rahasia dari aku, aku juga akan menyembunyikan rahasia dari kamu," ancam Aska tanpa membalikkan tubuhnya.
"Jangan!"
Jingga berlari ke arah depan Aska dan membuat mata Aska melebar.
"Jangan lari-lari!" cegah Aska sedikit berteriak.
Terdengar ringisan yang keluar dari mulut Jingga membuat Aska panik seketika.
"Sayang, kamu kenapa?" Aska sudah menyentuh perut Jingga dengan wajah cemas.
"Ayah marah sama Bunda. Jadi, Adek bayinya ngamuk di dalam sini," kata Jingga dibuat sesedih mungkin.
__ADS_1
Tanpa Jingga duga, Aska berlutut di depan Jingga dan mencium perut istrinya.
"Maafin Ayah, Sayang. Bunda kamu yang nakal."
Masih saja Aska menyalahkan Jingga dan membuat Jingga memukul pundak suaminya.
"Tuh, Ayah malah dipukul Bunda, Sayang," adunya ke arah perut sang istri.
"Ayah gak mau peluk Bunda?"
Mendengar lontaran kata dari bibir Jingga yang berbeda, membuat Aska tersenyum lebar.
"Bisa diulang lagi?" Aska sudah berdiri dan menatap wajah istrinya.
"Ayah gak mau peluk Bunda?" Tangan Jingga sudah direntangkan dan membuat Aska segera memeluk tubuh istrinya.
"Love you, Bunda."
"Love you more, Ayah."
Mereka saling tatap dengan deru napas yang terengah-engah. Bibir mereka pun tersenyum dengan begitu lebar. Tangan Jingga sudah mulai membuka satu per satu kancing kemeja yang Aska gunakan. Begitu juga dengan Aska yang sudah menjelajahi leherr jenjang istrinya. Membubuhkan sesuatu yang manis di sana hingga tanpa dia sadar meninggalkan noda merah yang terlihat sangat nyata. Namun, keseruan juga kesyahduan yang tengah mereka lakukan tak membuat mereka sadar akan hal itu.
Bersatu dalam rasa cinta dan sayang yang menggebu. Bernyanyi dengan melodi yang berbeda, tetapi menyiratkan akan kenikmatan yang luar biasa. Tangan yang terus bersatu juga ada dua benda keramat yang tengah saling berpacu dengan ritme yang bervariasi.
Kucuran keringat tak menandakan mereka lelah. Mereka semakin asyik menyelam dalam sebuah kenikmatan yang selalu minta diulang. Apalagi, Jingga sudah seperti ahli sekarang. Mampu membuat dahaga yang suaminya derita hilang seketika.
Selimut yang berantakan, bantal yang sudah tergeletak di lantai menandakan betapa garangnya mereka berdua.
"Mau keluar, Sayang?" tanya Aska masih dalam posisi memompa.
Setelah empat puluh lima menit tubuh Jingga terasa bergetar hebat. Dia tak mampu berkata. Hanya derasnya cairan yang mengalir yang menjadi jawaban dari Jingga. Namun, Aska tidak memberi jeda dan terus berpacu hingga istrinya merasa ingin berteriak dalam keadaan tenggorokan tercekat. Hanya cengkeraman keras yang dia berikan dengan menekan tubuh suaminya semakin dalam agar aliran itu bisa dirasakan oleh suaminya. Denyutan hebat pun Aska rasakan dan semakin membuat Aska bringas. Menyerang bibir istrinya tanpa ampun hingga untuk ketiga kalinya desiran aneh yang sudah di ubun-ubun ingin Jingga meluapkan.
"Bang As!"
"Iya, Sayang. Barengan, ya."
Mereka berdua bisa bernapas lega karena sudah mengeluarkan sesuatu yang mengganjal yang ada di tubuh mereka. Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Ingin Aska mengulangnya lagi, tetapi dia melihat ke arah jam dinding yang sudah hampir sore. Dia membiarkan istrinya beristirahat.
__ADS_1
"Capek," gumam Jingga dengan mata tertutup.
"Enak gak?" tanya Aska yang sudah meletakkan tangannya di bawah kepala Jingga sebagai bantalan.
Jingga membuka matanya, menatap suaminya dengan intens. Dia menjawab dengan mengecup bibir Aska dengan sangat hangat hingga suaminya memejamkan mata untuk meresapi juga membalas perbuatan manis istrinya.
Aska pun tersenyum ketika pagutan itu terlepas. Dia mengecup kening Jingga dengan sangat dalam.
"Makasih, Bunda. Sudah mengijinkan Ayah untuk menjenguk Adek."
Jingga tertawa dan dia menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami. "Sama-sama Ayah."
.
Aska merasakan ada yang tengah bergerak di bawah selimut sana. Dia tak ingin membuka mata takut istrinya malu karena dia yakin istrinya ingin menambah permainan lagi.
"Ughh!"
Dahi orang yang ada di bawah selimut itu mengkerut. Dia yang baru saja menaiki tempat tidur dan masuk melalui bawah selimut dibuat bingung oleh suara aneh yang keluar dari mulut Aska. Dia pun menoleh ke arah kirinya. Matanya melebar dan mulutnya menganga.
Refleks dia melihat ke arah bawah perutnya. Dia termenung sejenak. Kemudian, dia teringat akan ukuran sesuatu yang berharga di bawah perutnya. Dia melipat keempat jarinya dan menyisakan jari kelingking yang masih berdiri. Merasa penasaran, dia mengukur benda lembek bagai squishi itu dengan jari telunjuknya. Lagi-lagi suara aneh terdengar.
Gelengan kepala dia berikan. Kini, dia mengukur dengan jengkalan. Kepalanya pun mengangguk. Kemudian, dia terpana pada sesuatu yang menggantung di bawah sana. Dia menutup mulutnya karena di matanya itu benda itu sangat lucu.
"Telul puyuh keliput taya tate-tate."
Suara itu samar terdengar di telinga Aska. Matanya mulai dia buka dan dia tidak melihat istrinya di sampingnya.
"Totisnya lembet!" Jari telunjuk dan ibu jarinya sudah menyentil ujung pisang tanduk.
"Aw!" teriak Aska. Aska membuka selimutnya dan benar dugaannya. Belum juga Aska membuka suara, anak itu sudah berbicara dengan sangat lancar.
"Tenapa bobo dak patai Badu? Tuh, totis antel tedininan dadina lembet."
...****************...
Komennya mana?
__ADS_1