Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
225. Perihal Memaafkan


__ADS_3

"Saya bawa keluarganya."


Empat dokter yang tengah melingkari pasien itupun menoleh. Mereka menatap bingung ke arah Fahri yang datang membawa seorang perempuan. Berbeda dengan Radit yang terlihat sangat tenang sekali. Menatap Jingga dengan tatapan tak terbaca.


Jingga mematung mendengar ucapan dari Fahri. Juga dia tidak bisa berkutik ketika semua mata para dokter yang ada di ruangan tersebut tertuju padanya sekarang.


"Ke-kenapa?" Suara Jingga teramat pelan dan nyaris tidak terdengar.


"A-ada apa ini?" tanyanya lagi dengan suara yang bergetar dan mata yang sudah nanar.


Fahri menatap intens ke arah Radit, dokter itupun mulai menatap ke arah tiga rekan dokternya sehingga mereka semua perlahan mundur ke belakang.


Dahi Jingga mengkerut ketika tubuh seseorang terbaring lemah di atas tempat tidur. Dia masih belum mengerti dengan apa yang sudah terjadi.


"Kemarilah!"


Suara Radit membuat jantung Jingga berdegup sangat kencang. Kini, ucapan para dokter itu memutari kepalanya.


Sebatang kara, ketikdsempurnaan dan di mana anaknya? Otaknya mulai mencari jawaban atas ucapan para dokter ketika makan siang tadi.


"Jingga, kemarilah!" Radit meminta Jingga untuk kedua kalinya. Permintaannya yang pertama hanya dijawab dengan terdiam membeku.


Perlahan kepala Jingga menggeleng, tetapi Radit malah tersenyum. Dialah yang melangkah menuju Jingga.


"Ikutlah!" Lagi-lagi Jingga menggeleng. Hatinya sudah tak karuhan sekarang.


"Kamu penasaran 'kan?" Tatapan Jingga yang tengah tertuju pada seseorang yang berada di atas tempat tidur pun berpaling. Kini, dia menatap ke arah sang kakak ipar.


"Jangan jadikan rasa penasaran kamu menjadi sebuah penyesalan."


Deg.


Kalimat terakhir yang Radit ucapkan begitu menusuk ulu hatinya. Seperti sebuah clue menuju teka-teki yang harus dia pecahkan. Jingga sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya.


Siapa? Ada apa? Kenapa? Pertanyaan itu yang tengah memutari kepala dan hatinya saat ini. Hingga Radit menarik lembut tangan adik iparnya hingga membuat Jingga tersadar. Namun, langkah kakinya sudah maju ke depan.


Pandangan mata Jingga masih tidak bisa berpaling dari sosok yang tengah terbaring. Berharap itu adalah orang yang tidak dia kenal.

__ADS_1


Lima meter.


Empat meter.


Tiga meter.


Dua meter.


Langkah kakinya terhenti begitu saja. Tubuhnya mematung dan matanya sudah tidak bisa berdusta. Namun, Jingga terus menyangkal dengan kepala yang menggeleng.


"Enggak." Begitu lemah ucapan dari Jingga tersebut.


Radit yang tengah menarik tangan adik iparnya merasakan bahwa tubuh Jingga bergetar cukup hebat. Dia memberikan kode kepada Fahri untuk memanggil dokter obgyn. Dia takut akan terjadi sesuatu dengan Jingga.


"Bukankah wanita hamil ini adik ipar Anda, dok?" Salah seorang dokter yang penasaran akhirnya membuka suara. Radit hanya menjawabnya dengan anggukan singkat.


"Maksud dari pria itu yang mengatakan bahwa dia membawa keluarga pasien ini siapa?" tanya dokter yang lain.


Radit menoleh ke arah Jingga yang masih berada di sampingnya. Matanya tidak berkedip dan masih memandangi wajah ayahnya dengan sekujur badan yang dipenuhi alat bantu medis.


"Dia," jawab Radit seraya menatap Jingga. "Jingga Andhira adalah anak kandung dokter Eki."


"Lihatlah, Jingga!" Radit pun berujar.


"Nyawa ayahmu ada di tanganmu sekarang. Hanya pihak keluargalah yang mampu memutuskan." Radit menjeda ucapannya sejenak. "Tetap dipasang alat bantu, atau dilepaskan sekarang." Jingga masih terdiam.


"Seburuk apapun ayahmu, dia tetap orang yang membuat kamu lahir ke dunia ini. Darahnya pun mengalir pada tubuhmu."


Tes.


Bulir bening pun menetes dari pelupuk matanya. Perkataan Radit sama dengan Echa.


"Kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan. Mudah sekali berbicara perihal memaafkan. Padahal aku sendiri tidak bisa memaafkannya, hatiku sangat sakit dibuatnya."


Nada lirih pun terdengar. Bukannya marah, Radit malah tertawa mendengar ucapan dari Jingga.


"Jangan melihat hanya dari luarnya saja, Jingga. Budayakan mengenali mereka." Jingga kini menatap ke arah Raditya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


"Saya dan istri saya pernah merasakan sakit hati kepada sosok seorang ayah."


Deg.


Jingga semakin menatap intens kepada sang kakak ipar. Namun, Radit sudah meluruskan pandangannya ke arah dokter Eki.


"Kamu lebih beruntung dari saya. Masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Sedangkan saya-" Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Saya lahir ke dunia bertepatan dengan ibu saya meninggalakan Dunia."


Bukan hanya Jingga yang terkejut. Tidak dokter yang berada di sana pun tidak menyangka.


"Terlahir sebagai anak piatu dan tumbuh sebagai anak yang dianggap membawa sial. Bukankah itu sangat menyakitkan? Terlebih saya selalu disalahkan akan hal apapun. Mencoba untuk mengalah pun tetap saja salah."


Jingga tercengang mendengar ucapan dari Raditya Addhitama. Dia kira hidupnya saja yang menderita. Ternyata ada yang lebih menderita dari dirinya.


"Semakin bertambah umur dan menginjak dewasa saya semakin sadar jikalau memaafkan adalah kunci dari sebuah ketenangan hati."


Jingga menghela napas kasar. Dia pun ikut memandang wajah ayahnya yang sudah seperti mayat.


"Jika, kesakitan itu tidak terlalu dalam dan besar. Mungkin memaafkan itu hal yang mudah," balas Jingga. "Tapi, ini lain cerita."


Radit tersenyum mendengar ucapan dari Jingga. Ternyata adik iparnya ini cukup keras kepala.


"Semua keputusannya ada di kamu. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang dokter. Membantu kesembuhan pasien."


"Saya tidak merasa membawanya ke sini. Harusnya Bang Radit meminta pertanggung jawaban kepada yang membawanya."


Lagi-lagi Radit pun tersenyum. Dia menatap ke arah tiga orang dokter yang masih berada di sana. Sebuah kode dari Radit membuat mereka mengangguk patuh.


"Waktunya sudah selesai ya, dok." Seorang dokter menghampiri ranjang pesakitan dokter Eki. Dua orang lagi memeriksa semua alat bantu yang menopang hidup dokter laknat tersebut.


"Sudah siap?" tanya salah seorang dokter. Dua orang dokter pun menjawab dengan sebuah anggukan.


Mata Jingga melebar ketika melihat tangan dari salah seorang dokter menyentuh alat bantu organ vital.


"Jangan lepaskan!"

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2