Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
255. Duka Mendalam


__ADS_3

"Mungkin ini pemakaman diperuntukkan manusia yang dzalim dan kena karma," jawab Rion dengan begitu ketus.


"Termasuk lu dong."


Rion menggeplak punggung Arya dan pria itu malah terkekeh. Untung saja mereka masih jauh dari liang lahatnya dokter Eki.


"Lu gak mau jengukin," ledek Arya.


"Gak lah."


Ada sebuah rasa kecewa yang mendalam di hati sang duda. Dia tidak habis pikir dia mendapatkan karma dari tingkahnya yang dulu. Dikhianati dan rasanya teramat sakit. Namun, biarlah rasa kecewa itu menguar seiring berjalannya waktu. Namun, untuk menjenguk sepertinya dia belum mau.


Echa memeluk tubuh suaminya ketika jenazah dimasukkan ke liang lahat. Dia sangat merasakan kesedihan yang Jingga rasakan. Walaupun dia tidak histeris, tetap saja kesedihan itu tidak bisa dibohongi.


"Ay, apakah nanti aku akan sanggup ketika Tuhan memanggil Ayah? Membayangkannya saja aku tidak bisa." Tangan Echa melingkar di pinggang sang suami dengan begitu erat. "Akankah aku akan bisa setegar Jingga?"


Aska merangkul pundak Jingga. Tubuh istrinya terlihat sangat lemah. Dia tidak menyangka apa yang dikatakan oleh Aleesa benar adanya. Ayahnya dipanggil sang maha kuasa. Juga awan hitam kini sudah menurunkan hujannya berupa air mata kesedihan


"Kita harus ikhlas, ya." Aska mencoba menguatkan hati istrinya.


Ketika semua orang sudah pergi, tinggal Jingga dan Aska. Juga keluarga yang masih berada di pemakaman. Jingga terus mengusap lembut nisan kayu yang ada di pusara sang ayah.


"Kenapa waktu kita bersama terlalu singkat, Yah?" Betapa pedih kalimat yang Jingga utarakan. Riana dan Echa segera memeluk tubuh sang ayah tercinta. Mereka berdua ingin memiliki waktu lebih banyak lagi bersama sang ayah tercinta.


"Maafkan aku, Ayah. Belum bisa membahagiakan Ayah. Belum bisa menjadi anak yang berbakti. Maafkan aku."


"Dih, ngapain si Jingga minta maaf ke bapaknya. Harusnya si Eki yang sujud di kaki dia," ucap Arya pelan. Dia terkadang geregetan dengan apa yang sudah dilakukan dokter Eki.


.


Kehilangan seseorang yang berharga untuknya untuk kesekian kali membuat Jingga hanya bisa meratapi nasibnya. Terkadang dia berpikir jikalau Tuhan itu tega kepadanya. Mengambil apa yang baru dia dapatkan. Namun, dia juga harus berpikir logis jikalau Tuhan tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan.


"Bun, makan dulu." Aska sudah membawa nampan berisi mir rebus yang Jingga inginkan. Semenjak ayahnya pergi, Jingga terlihat layu.

__ADS_1


"Makasih, Ayah."


Kebetulan keempat anaknya sedang dibawa Echa dan Radit ke rumah Nesha juga Rindra. Jadi, Aska bisa berbicara serius dengan sang istri.


"Mau sampai kapan kayak begini?" tanya Aska. Jingga yang baru saja hendak memasukkan mie ke dalam mulutnya tersentak. Dia menatap ke arah Askara.


"Yang tiada tidak akan pernah kembali ke sedia kala." Sebuah ucapan yang mampu membuat Jingga terdiam. "Pergi ke pangkuan ilahi menandakan bahwa dia tidak akan pernah kembali. Mau kamu nangis darah pun Ayah tidak akan hidup lagi."


Bukannya ketus atau kejam terhadap istrinya. Aska juga sudah lelah menghadapi Jingga yang membuatnya pusing. Jika, ibunya rungsing sudah pasti anaknya juga akan rewel. Belum lagi tubuh Jingga yang semakin hari semakin kurus.


"Kalau Bunda sayang sama Ayah juga anak-anak. Ikhlaskanlah Ayah Eki. Kembali fokus mengurus kami," tukasnya.


Jingga tersentak, dia menatap Aska dengan nanar. Ada rasa bersalah yang menjalar di hatinya.


"Anak-anak butuh Bunda. Ayah juga butuh Bunda." Air mata Jingga mengalir dengan begitu derasnya. Dia segera memeluk tubuh suaminya. Puluhan kata maaf terucap dari mulut Jingga. Namun, Aska hanya tersenyum saja.


.


"Mas, Abang, Kakak." Jingga sudah memasang wajah garang. Namun, mereka bertiga malah tertawa riang.


Jingga hanya menghela napas kasar. Dia malah duduk memperhatikan keempat anaknya itu. Tidak melarang maupun memarahi. Jingga malah memvideokan kelakuan si Mas Gehu, Bang Cireng dan Kakak cimol. Juga tidak ketinggalan dedek bala-bala.


"Kelakuan anak-anak Askara yang luar biasa. Sehari menghabiskan satu botol besar bedak bayi."


Begitulah yang diketikan Jingga kepada sang suami. Dia juga mengirim video tersebut ke grup chat keluarga. Bukannya para penghuni itu marah, mereka malah tertawa dan mengetikkan kata gemas.


"Kalau kalian udahan mainannya, bilang Bunda, ya." Ada seorang ibu yang seperti itu. "Bunda mau merem dulu sebentar."


Sudah biasa, itulah yang Jingga rasakan. Anaknya semakin dilarang semakin menjadi. Ketika mereka selesai dengan acara main bedak, mereka akan merangkak menuju Jingga.


"Bubun." Balqis sudah membangunkan Jingga. Wajahnya bak hantu.


"Mas, Abang, Kakak, udahan juga belum?" Mendengar suara sang ibu mereka pun merangkak ke arah Jingga. Menandakan mereka telah selesai bermain.

__ADS_1


Kemudian, Jingga membuka baju keempat anaknya dan hanya menyisakan diapers. Satu per satu si quartet dibawa ke kamar mandi. Dia tidak memandikannya secara bersamaan. Itu akan membuat acara mandi lebih lama.


Echa dan Riana malah sangat salut kepada Jingga. Adik mereka itu mampu mengurus keempat anaknya sendiri tanpa bantuan baby sitter. Ibu mertuanya pun jarang ada di rumah karena harus menemani Giondra mengecek perusahaan.


Setelah semuanya dimandikan, Jingga mulai memakaikan baju satu per satu keempat anaknya. Abdalla, Ahlam dan Arfan serta Balqis menjelma menjadi anak-anak yang pendiam dan penurut. Selesai semuanya, Jingga mulai membuatkan susu untuk keempat anaknya. Mereka tengah menonton kartun Ninja Hatori. Keempat anak Aska dan Jingga diracuni tontonan tersebut oleh Gavin.


Sang ibu bisa bernapas lega ketika keempat anaknya sedang asyik menyusu. Dia pun duduk di kursi malas di samping empat buah hati yang tengah anteng di tempat bersantai mereka.


"Cepat tidur, krucil. Bunda ingin ngelempengin pinggang sambil tidur sebentar." Sebuah keinginan yang hanya bisa dia ungkapkam di dalam hati.


Perlahan mata mereka berempat pun terlihat mengantuk. Ditambah kasur santai si quartet bisa bergerak seperti diayun-ayun. Suhu AC pun semakin diturunkan agar mereka semua semakin terlena dan terlelap.


Lengkungan senyum terukir di wajah Jingga. Akhirnya dia bisa istirahat juga. Maklum saja Jingga terlihat seperti emak-emak di luaran sana. Tidak seperti istri pengusaha kaya pada umumnya.


Susu di botol keempat anaknya pun sudah habis. Jingga mengambil satu per satu botol susu tersebut. Lalu, mencucinya. Selesai semuanya Jingga pun tersenyum bahagia.


"Waktunya istirahat." Dia sudah mensenyapkan ponselnya dan mulai mengatur kursi malas tersebut.


"Selamat tidur, Nak." Jingga tersenyum dan mulai memejamkan mata.


"Mail ... Oh ... Mail ...."


Mata Jingga terjaga kembali mendengar teriakan itu.


"Gozalu Gozalu itulah asalnya. Pembela kebenalan dan keadilan. Hai Ninja Gozalu."


"Ma-ma-ma-mas." Jingga menoleh ke arah samping. Keempat anaknya ternyata terjaga kembali. Membuat sang ibu terlihat kesal.


"Empin!!"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2