
Tak terpikirkan Andi akan tinggal dimana sekarang, tiba-tiba Sam menelpon Andi menanyakan akan tinggal dimana, sementara Dia tak membawa uang sepeserpun.
"Kamu tenang Sam, Aku masih punya tabungan, ya walaupun gak banyak, tapi yang pasti Aku akan secepatnya mencari pekerjaan"
"Aku punya apartemen di daerah Kebayoran kalau Kamu mau, silahkan Kamu pakai Andi, tempat itu kosong, alangkah baiknya Kamu yang tempati dan rawat tempat itu"
"Oh ya.. Kamu punya apartemen Aku baru tahu"
"Itu hadiah dari Pak Ammar klien Aku di Bandung sewaktu Aku masih bekerja di Retro, niatnya Aku ingin menjualnya, tapi belum ada yang mau"
"Jual pada Ku saja, bagaimana..?" tapi nanti setelah Aku mendapat pekerjaan, baru Aku akan bayar dengan menyicil"
Sebenarnya Sam masih ragu untuk menjual apartemen itu, tapi jika Andi membutuhkannya pasti Sam akan menjualnya untuk membantu Andi.
"Halo Sam, bagaimana?"
"Ya.. silahkan saja, Kamu tempati saja ya apartemen ku" setelah itu panggilan di akhiri, Tini seperti tidak suka jika Sam membantu Andi, Ia berkomentar seharusnya tak perlu ikut campur.
"Kalau Papah tahu bagaimana Aku menjelaskannya" ucap Tini dengan nada ketus
"Katakan saja Aku yang membantu, Andi orang baik, layak Aku bantu, lagi pula Ia sedang memperjuangkan cintanya, biarkan saja mereka menikmati masa Mereka"
"Terserah Kamu saja Sam"
Setelah beberapa jam akhirnya Mereka sampai di Cirebon.
Sedangkan Andi kini menempati apartemen Sam, Ia pun beristirahat dan besok ia akan mulai mencari pekerjaan.
Setelah berada di rumah, Makmun menghampiri Kasih yang sedang duduk terdiam di meja makan dengan melamun
"Kasih.. Kamu kenapa, habis pulang dari acara Andi kok malah lemas begitu"
"Ceritanya panjang Mas, yang pasti saat ini Andi sudah pergi dari Rumah Pak Herman dan melepas semua fasilitas yang selama ini Ia pakai" Makmun terkejut dengan cerita Kasih
"Apa... tapi apa alasannya?"
"Karena Ia memilih Aku, untuk menjadi Istrinya, dan Ia menolak perjodohan dari Papahnya"
"Ya ampun... sampai begitu ya, Kamu harusnya bangga Kasih, Andi melakukan itu semua untuk Kamu, Dia sedang memperjuangkan cinta Kamu begitu kan?"
"Tapi Aku tak tega Mas.. Dia dari kecil sudah mendapatkan semuanya dan sekarang tiba-tiba Ia melepas dan jadi orang biasa"
"Memangnya apa yang Kamu takutkan?"
"Aku takut Dia tak sanggup, Aku takut Aku akan menjadi beban baginya"
"Sudahlah kalau Dia berani bertindak sejauh ini, Aku yakin Dia sudah mempersiapkan semuanya" Kasih menoleh memandang Makmun, Ia merasa tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Makmun
"Mempersiapkan semuanya?"
"Sudah Kamu lebih baik istirahat, besok kan harus bekerja lagi" Makmun pun meninggalkan Kasih dengan senyuman kecil saat berjalan.
Kasih hanya terdiam mencerna ucapan Makmun tentang mempersiapkan semuanya, lalu Ia dengan segera menghubungi Andi dan menanyakan apartemen yang Sam berikan.
"Andi.. apartemennya bagaimana nyaman, mewah atau jelek seperti kontrakan" Andi tertawa mendengar ucapan Kasih
"Kasih Kamu kenapa sih bertanya seperti itu"
"Ya tidak ada apa-apa sih.. Aku hanya takut Kamu tidak betah tinggal di tempat yang kecil tak ber-AC"
"Apartemen Sam bagus, sama seperti kontrakan, hanya saja ini di dalam gedung, mirip dengan rumah susun yang ada di Jakarta"
"Oh ya.. ajak Aku dong ke apartemen Sam, Aku ingin melihat suasananya"
"Boleh...tapi nanti ya, setelah Kita menikah.. Kamu akan tinggal disini selamnya" Kasih sangat gembira dengan janji yang di ucapkan Andi, lalu Andi menyuruh Kasih untuk beristirahat, karena besok Andi akan mencari pekerjaan untuk mewujudkan impian pernikahan Kita.
Lagi-lagi Rahma mencium aroma parfum itu untuk ketiga kalinya, merasa penasaran Ia memberanikan diri bertanya pada Chandra soal lemburnya selama 3 hari ini.
"Chan.. Aku ingin bertanya boleh?"
__ADS_1
"Boleh.. Kamu ingin bertanya tentang apa?"
"Sudah 3 hari ini Kamu kan lembur, lemburnya di ruangan Kamu atau dimana?" Chandra diam memikirkan sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan pertanyaan Rahma
"Kamu kenapa tanya hal itu"
"Aku ingin tahu saja"
Chandra bingung harus menjawab seperti apa, karena Ia tak tahu apa yang ada di dalam pikiran Rahma, juga selama ini Ia tak menceritakan jika dirinya lembur di rumah Asri
"Kamu tidak percaya jika Aku lembur, Rahma Kamu tenang ya, Aku tidak mungkin berbuat aneh-aneh di luar sana, Aku masih menghargai pernikahan ini, dan masih harus banyak belajar mencintai Kamu"
Bicara selembut itu saja sudah meluluhkan hati Rahma, bagaimana mungkin Rahma menanyakan lagi kejanggalan hatinya soal aroma parfum itu.
"Baik.. Aku percaya sama Kamu Chan.."
"Ya sudah Kita tidur ya" Rahma sebenarnya belum merasa lega, karena jawaban aroma parfum itu belum terjawab, tapi Chandra meyakinkan hatinya jika Ia tak akan macam-macam di luaran Sana
"Kenapa masih bengong, ayo tidur"
"Iya Chan.."
Dari pada bingung memikirkan hal yang tidak jelas, Rahma pun berusaha untuk melupakan sejenak kejanggalan hatinya.
Pagi hari tiba, Bu Anita mempersiapkan sarapan untuk Asri, setelah itu Ia berangkat ke toko sebentar untuk mengurus gaji dan pesangon Karyawannya.
Asri keluar kamar Ia tak lagi memakai kursi roda, Ia ingin berusaha berjalan dengan menggunakan tongkat, melihat hal itu Bu Anita pun kagum merasa terharu
"Ya ampun Kamu sudah bisa berjalan Nak?" Bu Anita bicara dengan raut wajah sedih namun terlihat bahagia
"Iya Mah.. Aku ingin melamar pekerjaan, jadi Aku mau berjalan menggunakan tongkat"
"Apa.. mencari pekerjaan, tidak perlu Asri.. Kamu masih belum lancar berjalan, sudah lah Nak.. Kamu jangan ikut stres dengan masalah Mamah.."
"Oh ya Mah.. semalam Chandra memberikan ini" Asri mengeluarkan sejumlah uang disodorkan kepada Ibunya
"Katanya membayar gaji Aku selama 3 hari membantu pekerjaannya"
"Asri.. Mamah ini tahu kisaran gaji apalagi hanya untuk membantu tidak akan sebanyak ini"
"Aku juga sudah bilang begitu Mah..tapi Chandra mengatakan pakailah ini untuk membantu Mamah"
Bu Anita jadi tak enak dengan Chandra, baginya Chandra sudah banyak membantu dari menolong Asri, lalu membantu berlatih berjalan hingga memberikan pekerjaan walaupun bukan resmi, dalam hatinya apa Ia pantas menerima bantuan uang ini.
"Mah.. sudah pakailah ini, untuk menggaji karyawan, Candra ikhlas memberikan ini untuk Aku"
karena Bu Anita membutuhkannya mau tak mau Ia menerima bantuan ini
"Baiklah..." lalu Bu Anita pamit pergi ke toko untuk menyelesaikan urusannya
"Mamah ke toko dulu ya, Kamu di rumah saja dulu, lusa baru boleh mencari pekerjaan"
"Baiklah Mah.."
Asri tak bisa diam saja seperti ini, selagi Bu Anita pergi Ia berusaha mencari pekerjaan lewat sosmed dan mengirim banyak lamaran pekerjaan melalui via email
"Semoga saja ada yang tembus"
Namun sayang nama Asri Antasari sudah tercatat dalam daftar hitam Karyawan dengan kelakuan tidak baik, Asri lupa akan hal itu, tapi Ia terus semangat mengirim lamaran ke seluruh perusahaan yang ada di Jakarta.
Chandra tengah sarapan pagi, lalu Rahma menanyakan lagi apakah hari ini akan lembur atau tidak
"Ya.. hari ini Aku lembur pulang jam 8 seperti biasa"
"Sampai kapan Chan.. Kamu lembur seperti ini?"
"Sampai tugas laporan keuangan Ku kelar, dan posisi Lia ada ada yang menggantikan"
"Lia belum sadar juga ya"
__ADS_1
"Ya begitulah, Aku juga tidak tahu sampai kapan Dia koma" lalu Pak Rohman yang sedang sarapan menyahuti percakapan Chandra dan Rahma
"Chan.. kalau sampai 2 Minggu Lia tidak sadarkan diri, dan pekerjaannya menjadi terbengkalai, Papah yakin direksi dan bagian HRD pasti akan menindak lanjuti soal ini"
"Maksud Papah..?" Chandra sudah merasakan sesuatu yang tidak beres
"Ya tindak lanjut, kalau Lia pasti akan di berhentikan alias.. di pecat tapi dengan terhormat, mendapatkan pesangon dan gaji terakhir Dia"
"Oh jadi begitu ya Pah.."
Setelah selesai sarapan Chandra pun pamit berangkat, lalu di ikuti Pak Rohman dari belakang.
Sementara Andi tengah bersiap untuk mencari pekerjaan
"Kemana dulu ya, Aku coba ke PT. Asahi dulu deh"
Andi pun bergegas berangkat ke perusahaan yang di tuju, setelah sampai di tempat, Andi langsung menaruh lamaran di bagian Reseptionis
"Silahkan menunggu kabarnya ya Pak, biasanya 2 hari baru di kasih kabar, karena atasan Kita akan menyeleksi calon karyawan yang cocok pada bidangnya"
"Baik Mbak.. kalau begitu Saya permisi" dalam hati Andi mengatakan
"Yaah... 2 hari terlalu lama, sebaiknya Aku ke dealer dulu mengambil mobil yang Aku titipkan disana"
Andi pun menuju dealer untuk mengambil mobil, supaya Ia lebih mudah untuk pergi kesana kemari.
Setelah sampai Ia langsung menggunakan mobil tersebut
"Terimakasih Pak telah menjaga pesanan Saya"
"Sama-sama Pak Andi, semoga Anda nyaman dengan fitur-fitur yang ada di dalam mobil ini" Andi segera mendatangi rumah Makmun menjemput Kasih untuk ikut ke apartemen Sam.
Setelah sampai, Ia turun dari mobil lalu mengetuk Rumah Makmun, Makmun yang kebetulan ingin berangkat kerja, Ia pun membukakan pintu
"Andi.. pagi-pagi sudah kesini" Andi tersenyum merasa malu
"Maaf Mun, sepertinya Aku mengganggu Kasih bekerja ya?"
"Oh tidak.. bukan itu maksud Aku, maksud Aku, tumben sekali pagi-pagi kesini, biasanya sore atau malam begitu kan"
"Ya... tapi karena Aku saat ini tidak sedang bekerja, jadi Aku berniat untuk mengajak Kasih ke apartemennya Sam"
"Sam.. memangnya kenapa dengan apartemen Sam?"
"Tidak ada apa-apa, Aku sekarang tinggal disana, dan Aku akan membeli apartemen itu, setelah Aku mendapat pekerjaan"
Makmun melihat jam tangannya, Ia merasa harus berangkat sekarang agar tak terlambat datang
"Aku ingin mengobrol banyak sih sama Kamu, tapi.. Aku harus berangkat bekerja, maaf ya"
"Tidak apa-apa Mun, berangkat saja, lain kali Kita mengobrol"
"Aku sudah dengar cerita Kamu dari Kasih, Aku berdoa semoga Kamu dan Kasih segera dipersatukan"
"Terimakasih atas doanya, Aku juga doakan semoga Lia Istri Kamu cepat sadar dari koma, dan bisa berkumpul dengan keluarganya lagi" Mereka berdua mengucapkan amiin bersamaan, dan Makmun segera berangkat sedangkan Andi memanggil Kasih dengan suara pelan.
Merasa ada yang memanggil, Kasih pun keluar untuk menemui asal suara itu
"Andi.. Kamu kesini..?"
"Ya...Aku mau mengajak Kamu ke apartemen Sam, bagaimana bisa tidak?" Kasih sebenarnya mau.. namun Ia harus bersih-bersih rumah dulu, Dia tidak mungkin pergi dengan meninggalkan keadaan rumah yang berantakan dan belum memasak, pasti akan kena omel nanti oleh Bu Alya
"Ya sudah.. Aku tunggu Kamu di luar saja"
"Hah.. serius.. ya sudah Aku buatkan minuman dulu ya, Kamu tunggu disini sebentar"
"Iya"
Andi merasa kagum akan semangat Kasih dalam bekerja, Ia jadi tak sabar ingin segera menikahnya agar Kasih tidak perlu lagi menjadi Asisten rumah tangga seperti ini.
__ADS_1