
Dokter Eki terus memeluk figura yang berisi foto Melati dan juga Jingga. Kedua anaknya yang dia bedakan. Dia lebih sayang kepada Melati dibandingkan kepada Jingga. Jingga hanya dianggap aib bagi keluarga Mandala dan pada akhirnya dia dikucilkan oleh semua anggota keluarga Mandala.
Dokter Eki tengah berada di teras kontrakan. Matanya nanar ketika melihat ada seorang ayah yang tengah mengajak anaknya bermain. Anak yang tidak sempurna sama seperti kedua cucunya. Namun, pria itu terlihat amat bahagia. Terus bercanda dan mengajarkan anak itu berlari dengan menggunakan tongkat.
"Bapak! Aku bisa lari."
Kalimat itu yang mampu dokter Eki dengar. Anak perempuan itu terlihat sangat bahagia. Sama halnya dengan pria itu. Dia berlari menghampiri anaknya dan memeluknya. Menciuminya tanpa ada rasa benci di wajah pria itu.
"Bapak sayang kamu."
Hati dokter Eki mencelos mendengar ucapan dari pria itu. Dia teringat akan dosa-dosanya terhadap Jingga juga kedua cucunya yang dia anggap aib. Dia menatap nanar ke arah wajah Jingga yang ada di figura yang dia peluk. Terlihat matanya berkaca-kaca.
"Nak, apakah kamu sangat membenci Ayah?" gumamnya.
Suara yang penuh penyesalan yang keluar dari mulut dokter Eki. Dia benar-benar menyesal kali ini. Dia sudah menyia-nyiakan anak yang sayang kepadanya. Dia teringat ketika Jingga dengan tulus merawat dokter Eki yang tengah sakit. Dia sudah tidak bisa turun dari tempat tidur. Dari buang air kecil hingga buang air besar dilakukan di atas tempat tidur. Hanya Jingga yang mau membersihkannya. Lelah yang mendera tubuh Jingga tidak membuatnya mengabaikan ayahnya.
"Kamu anak yang berbakti, Nak. Maafkan Ayah."
Kalimat itu yang keluar dari mulut seorang dokter Eki Mandala. Semalaman ini dia tidak bisa tidur karena teringat akan perlakuan jahatnya kepada sang putri. Dia teringat ketiga air mata Jingga menetes dan berlutut di kakinya. Namun, hatinya sama sekali tidak terketuk. Padahal Jingga hanya meminta dokter Eki untuk membiayai sekolahnya.
"Ayah, aku mohon."
Jingga berlutut di kaki Eki dan disaksikan oleh sang nenek. Hanya meminta dibiayai dan dirawat karena sang ibu baru tiga hari tiada. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Namun, hati Eki benar-benar sangat keras. Tidak ada rasa iba meskipun Jingga anaknya. Dia malah mendorong tubuh Jingga hingga Jingga terjengkang ke belakang.
"Ayah, aku mohon."
Jingga masih memohon di saat tubuhnya sudah terbaring di lantai. Naasnya, dia malah diseret oleh security rumah yang bekerja di sana.
"Ayah! Aku hanya ingin masih sekolah."
Jingga berbicara dengan tangis sambil diseret oleh security. Dia anak dokter Eki, tetapi dia mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dan menyakitkan dari ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Ayah!"
Sekarang ini dokter Eki meletakkan tangannya di atas dada. Betapa kejamnya dia saat dulu kepada Jingga. Anak yang tidak pernah dia lihat juga dia urus sedari dia lahir ke dunia. Dia terus mengabaikan Jingga hingga dia dewasa. Ketika Jingga dalam kondisi banyak uang, barulah dia yang mendekat dan merongrong Jingga.
"Penyesalan itu tak datang di awal cerita. Semuanya datang di akhir cerita," tukas Fahri. Dokter Eki hanya terdiam. Dia tengah menyesal saat ini.
nenek. Hanya meminta dibiayai dan dirawat karena sang ibu baru tiga hari tiada. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Namun, hati Eki benar-benar sangat keras. Tidak ada rasa iba meskipun Jingga anaknya. Dia malah mendorong tubuh Jingga hingga Jingga terjengkang ke belakang.
"Ayah, aku mohon."
Jingga masih memohon di saat tubuhnya sudah terbaring di lantai. Naasnya, dia malah diseret oleh security rumah yang bekerja di sana.
"Ayah! Aku hanya ingin masih sekolah."
Jingga berbicara dengan tangis sambil diseret oleh security. Dia anak dokter Eki, tetapi dia mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dan menyakitkan dari ayahnya sendiri.
"Ayah!"
"Penyesalan itu tak datang di awal cerita. Semuanya datang di akhir cerita," tukas Fahri. Dokter Eki hanya terdiam. Dia tengah menyesal saat ini.
"Cobalah lihat anak Anda sekarang," ujar Fahri lagi. Tatapan tajam Fahri berikan kepada dokter Eki. "Anak yang Anda buang malah menjadi wanita sukses. Apalagi sekarang dia memiliki keluarga baru yang sangat menyayanginya, melebihi ayah kandungnya sendiri."
Kalimat sindiran yang Fahri berikan membuat pria yang duduk di kursi roda itu tertunduk pilu. Bayang-bayang kekejamannya muncul lagi di kepala.
"Tuhan itu sudah menegur Anda dengan mengambil kedua kaki Anda. Bukannya sadar Anda malah semakin menjadi. Untung saja Anda memiliki menantu pak Aska. Coba punya menantu Pak Aksa. Saya pastikan Anda sudah masuk ke liang lahat." Fahri berbicara dengan senyum mengejek. Dia orang pertama yang akan menimbun jasad dokter Eki di liang lahat dengan tanah merah.
Suasana mendadak hening. DOkter Eki maupun Fahri tidak membuka suara. Cukup lama mereka sama-sama terdiam, akhirnya dia membuka suara.
"Saya ingin bertemu dengan putri saya." Fahri yang tengah menatap ke arah anak difabel yang sedang bermain dengan ayahnya pun menoleh. Tatapan tak percaya Fahri berikan. Kini, dia semakin menyelidiki wajah dokter Eki. Pria tersebut adalah pria yang cukup licik. Dia tidak boleh lengah,
"Saya serius."
__ADS_1
Hanya senyum sinis yang Fahri berikan. Dia malah menganggap ucapan pria yang ada di sampingnya itu hanyalah bualan saja.
"Apa saya harus percaya kepada Anda?" sergah Fahri.
"Perkataan dengan tindakan terkadang tidak sinkron."
Salah jika dokter Eki mengira jikalau Fahri adalah orang yang mudah dikelabuhi. Dia sangat teliti dan hati-hati. Dia juga jeli jika ada musuh di dalam selimut.
.
Aska menggenggam tangan Jingga dengan tangan sebelahnya memegang stir. Jingga tersenyum ke arah sang suami tercinta yang seakan tahu kegundahan hatinya.
"Apa Abang tahu jika aku merindukan Ayah?"
Drrt.
Ponsel Aska bergetar dan membuat Aska melepaskan genggaman tangannya. Dahinya mengkerut ketika nomor ponsel Aleena yang menghubunginya.
"Iya, Kakak Na."
Jingga menoleh ke arah sang suami. Dahinya ikut mengkerut. Hatinya sudah tidak enak ketika mendengar nama Aleena.
"Iya, Om ke sana sekarang. Kamu cari tempat ramai dulu, ya."
Wajah panik Aska terlihat jelas. Sebelum Jingga bertanya, Aska mengatakan bahwa Aleena tengah diikuti oleh tiga anak punk. Aleena baru selesai berbagi rejeki kepada anak jalanan, tetapi sialnya dia diikuti anak-anak yang biasa membawa Vespa bermuatan sampah.
"Cepat, Bang!"
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1