Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
146. Setan


__ADS_3

"Anteu, tenapa dalanna taya Olan abit tunat?"


Pernyataan dari Gavin membuat Jingga terkejut juga Aska yang bingung harus menjawab apa. Mata Aska sudah memberikan kode kepada abangnya yang tengah menggendong tubuh Gavin.


"Katanya lapar, ayo kita makan."


Aksa mengalihkan pikiran sang putra karena dia tahu Gavin akan terus mencecar pertanyaan hingga semuanya terjawab dan diterima oleh otaknya. Aleena baru saja bergabung bersama mereka.


Riana hanya mengulum senyum karena beberapa kali melihat Jingga meringis. Aska pun berusaha untuk terus membuat istrinya nyaman. Setelah selesai makan malam, seperti biasa Gavin akan meminta menonton film kartun kesukaannya


"Hanya satu jam," tegas sang ayah. "Setelah itu langsung tidur."


Anak itu pun mengangguk patuh. Dia segera berlari bersama Aleena ke arah ruang keluarga.


"Makanya kalau main itu safety," ujar Aksa ketika anak dan keponakannya sudah tidak ada di ruang makan.


Aska tidak mendengarkannya. Dia malah membawa Jingga ke kamar. Meletakkan tubuh Jingga dengan sangat hati-hati.


"Masih sakit?" tanya sang suami.


"Perih, panas," jawabnya.


Aska merasa bersalah akan hal ini. Dia malah menawarkan untuk mengompres donat sang istri.


"Emang donat aku lagi demam," kesalnya


Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Pada akhirnya Aska hanya menemani sang istri dengan terus berada di sampingnya.


"Kalau tadi udah kerasa sakit, kenapa terus dipaksa terus?" tanya Aska. Tangannya sudah membelai lembut rambut sang istri tercinta.


"Aku hanya ingin memuaskan kamu, Bang." Lengkungan senyum terukir di wajah Aska mendengar penuturan Jingga.


"Aku ingin Bang As puas akan service ku."


Aska mengecup bibir Jingga dengan singkat. Dia mengusap lembut pipi Jingga.


"Aku selalu puas dengan pelayanan kamu, Sayang. Jangan siksa diri kamu," tutur Aska.


Jingga pun menggeleng. Dia menatap ke arah sang suami dan tangannya menyentuh pipi Aska yang begitu mulus.


"Aku ingin seperti Mbak Riana. Selalu membuat wajah Bang Aksa berseri setiap pagi. Rambutnya pun selalu basah setiap pagi, dan seperti vitamin tambahan untuknya semangat bekerja."


Sudah Aska duga, ternyata ada campur tangan kakak iparnya akan perubahan sikap istrinya di ranjang.


"Riana mengajarkan apa ke kamu?" sergah Aska.


Mata Jingga melebar mendengar sergahan sang suami. Dia tidak menyangka bahwa Aska bisa mengetahui itu. Sorot matanya meminta Jingga untuk tidak berdusta.


"Aku tahu Riana, dia bukan orang yang pelit akan ilmu."

__ADS_1


Jingga tdiak bisa berkutik. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan video yang Riana kirim. Kini, Aska yang terkejut.


"Otak Riana udah gak polos lagi," gumam Aska. "Video ini mah sudah diakui seperti ada horornya, bisa buat orang yang nonton ingin melakukannya dan tidak ingin berhenti."


Jingga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aska. Dia juga sangat tahu bahwa otak Riana sudah terkontaminasi oleh abangnya.


"Tadi Mbak Riana ngirim pesan ke aku. Dia juga baru aja main tiga ronde, tapi fisiknya biasa saja," lanjutnya. "Kok aku malah kaya manusia tanpa tulang begini, ya. Padahal cuma dua ronde," keluhnya.


"Kamu belum terlatih, Sayang." Jingga pun mengangguk.


"Aku harap, kamu tidak melakukan itu lagi," papar Aska. Sesungguhnya dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan sang istri tercinta. Apalagi istrinya itu tengah hamil muda.


"Kata Mbak Riana, kalau di luar wanita itu memang menjadi seorang istri juga ibu. Namun, ketika di dalam kamar wanita itu harus menjadi seorang kupu-kupu malam agar bisa memuaskan dahaga suami tercinta."


Sungguh Aska tidak percaya dengan keliaran sang kakak iparnya. Perempuan polos kini berubah menjadi wanita yang bringas.


.


"Kenapa kamu gak bilang sama Mommy atau Daddy?" sergah Ayanda.


Aksa hanya tersenyum dan menatap hangat ke arah ibunya melalui sambungan telepon.


"Kalau Abang bilang, pasti Mommy dan Daddy tidak akan mengijinkan Abang. Maka dari itu, lebih baik Abang minta maaf daripada meminta ijin," kekeh Aksa.


Ayanda hanya menghela napas kasar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, suaminya pun tidak melarangnya.


"Jaga istri dan anak kamu ketika jauh dari Daddy dan Mommy."


"Tentu, Dad," sahut Aksa sangat percaya diri. "Kalau Abang tidak bisa menjaga anak dan istri Abang, Mommy dan Daddy bisa menarik keluarga kecil Abang kembali ke rumah Daddy."


Giondra benar-benar sangat salut kepada putra pertamanya itu. Sangat bertanggung jawab dan memiliki keyakinan yang luar biasa. Memang benar penilaian orang-orang atas Aksara yang digadang-gadang the next Genta Wiguna.


"Daddy percaya sama kamu."


Aksa pun tersenyum lebar mendengar ucapan dari sang ayah.


"Mom, Abang janji, pasti Abang, Riana dan Empin akan sering main ke rumah ini."


"Rumah itu akan sepi," keluh sang ibu yang kini sudah memenuhi layar ponselnya.


"Adek pasti akan memberikan cucu-cucu yang lucu dan akan meramaikan rumah besar itu."


Raut wajah ibunya tidak bisa berbohong. Bibirnya memang tersenyum, tetapi matanya mengatakan apa yang sejujurnya dia rasakan.


"Jangan sedih, Mom. Kapanpun Mommy kangen sama Empin, Mommy bisa membawanya," tukas Aksa.


Ayanda mengangguk pelan. Dia pun mencoba untuk tersenyum dan sentuhan lembut di punggung tangannya dari Gio membuat Ayanda sedikit merasa tenang.


.

__ADS_1


"Bini lu udah mendingan?"


Aska yang tengah berada di dapur yang minim cahaya pun sedikit terkejut mendengar ucapan sang Abang. Dia pun menoleh ke arah Aksa yang tengah membawa gelas kosong.


"Bini lu parah banget," balas Aska. Aksa hanya tersenyum.


Dia mendekat ke arah sang adik dan meletakkan sebuah obat di samping Aska. Dahi Aska mengkerut serta menatap kembarannya.


"Jangan bilang ini obat kuat."


Plak!


Aksa memukul kepala Aska dari belakang. Sungguh otaknya sangat ngeres.


"Tanpa gua kasih obat kuat, durasi main lu lebih lama dari gua," ujar Aksa. Aska pun tertawa sambil mengusap kepala belakangnya.


"Kalau gua ngasih obat kuat sama lu, sama aja gua melakukan pembunuhan berencana." Tawa Aska pun menggelegar mendengar ucapan dari Aksara.


"Kasih ke bini lu. Itu penghilang nyeri khusus kevirginan."


Aska menelisik wajah Aksa secara mendalam. Tatapannya pun tajam.


"Jangan bilang kalau Riana pernah ngalamin ini juga," tebak Aska.


"Pikir aja sendiri. Kenapa gua punya obat ini karena gua bukan tukang obat."


Lagi-lagi Aska tertawa. Dia sangat bahagia ketika melihat Aksa bersungut-sungut. Inilah yang akan dia rindukan jika sang Abang pergi dari rumah ini.


"Pantes aja keponakan gua mulutnya pedas. Bapaknya aja mulutnya kayak cabe setan," omel Aska.


"Lebih setan lagi tingkah lu!" sarkas Aksa.


"Kenapa bawa-bawa setan?"


Dua saudara kembar itupun menoleh ke belakang.


"Aaargg!! Setan!!"


Dua manusia berwajah sama itu berteriak kompak dan berlari meninggalkan dapur yang minim pencahayaan.


Perempuan kecil bermata merah dan berwajah putih karena tengah memakai masker wajah khusus anak-anak menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aneh," ucapnya. "Orang Kakak Na haus."


...****************...


Komen atuh ...


Sedih tahu komen cuma sedikit. 🤧

__ADS_1


__ADS_2