Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
SEMANGAT KARYAWAN


__ADS_3

Kasih membawakan segelas minuman dan makanan ringan untuk Andi, supaya Ia tak merasa bosan menunggu dirinya selama membersihkan Rumah


"Ini Kamu makan dan minum ya, Aku bekerja dulu"


"Iya yang semangat ya kerjanya" Kasih tersenyum pada Andi lalu Ia masuk ke dalam rumah menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara Bu Anita sedang menghitung uang yang harus dikeluarkan dan juga pesangon bagi Karyawan lama di tokonya.


Tika yang datang menghampiri mengajak ngobrol tentang niat Bu Anita yang ingin menjual Tokonya


"Ya Mau bagaimana lagi Tika, Saya sudah tidak ada uang untuk menggaji Karyawan"


"Bu.. kalau Gaji Kami di bayar setengah dulu juga tidak apa Bu" Bu Anita langsung menatap wajah Tika


"Kamu serius... memangnya semua Karyawan mau di bayar setengah"


"Bu.. Kita karyawan lama mau kok di bayar setengah dulu, dan sebagian karyawan baru juga ada yang mau di bayar setengah, tapi dengan syarat..." saking penasarannya belum selesai Tika bicara Bu Anita langsung bertanya


"Syarat apa Tika"


"Sabar Bu.. Aku baru mau bicara"


"bicaralah ayo cepat"


"Mereka ingin tetap bekerja disini menjadi Karyawan toko Ibu" Bu Anita bukanya senang kini malah melemah


"Kenapa Bu .. bukanya bagus ya"


"Bagus sih.. tapi permasalahannya, Kita tidak punya supplier Tika, selama pengerjaan proyek Pak Faris, Saya menolak sebagian perusahaan yang ingin bekerjasama dengan Saya"


"Aduh.. kenapa Ibu tolak"


"Karena Saya takut tidak keburu menyelesaikan proyek Pak Faris"


"Tapi buktinya sekarang lihat Bu.. Dia sama sekali tidak menghargai kerja keras Ibu"


"Sudahlah Tika, jangan bahas soal itu lagi, Saya sudah muak dengarnya"


Tika yang sampai saat ini tak ingin jika toko ini di jual, Ia pun berusaha meyakinkan Bu Anita untuk tetap semangat, dan Ia mengatakan akan membantu Bu Anita untuk promosi toko ini


"Kita lihat dulu Bu dalam 3 bulan ini, kalau masih tidak ada kemajuan, baru Saya mundur dan menerima jika toko ini harus di jual"


Tika bicara dengan wajah memelas membuat Bu Anita menjadi Iba, setelah berpikir panjang, akhirnya Bu Anita mengiakan usulan dari Tika


"Serius Bu.. Alhmdlilah.. terimakasih banyak ya Bu, untuk sekarang Ibu gaji saja uang yang ada, setelah ini nanti Kami akan mengatur siapa yang yang menjaga toko dan siapa yang pergi promosi mencari supplier"


"Tika.. terimakasih banyak ya solusinya, terimakasih banyak juga Kalian mau mengerti keadaan toko ini"


"Iya Bu.. Kita semua betah kerja disini, jadi akan sangat sayang jika toko ini di jual"


Bu Anita kini jadi tersenyum semangat mendegar para Karyawannya bersemangat dalam membuat toko ini bisa kembali jaya.


Pak Romi sebagai HRD umum kepusingan dalam mengahadapi tekanan para direksi soal investasi, karena manajer keuangan bertugas untuk pengambilan keputusan mengenai investasi, hal ini pun jadi perbincangan para direksi juga bagian divisi lainya, Pak Herman memutuskan untuk meeting siang ini membahas posisi yang Lia tempati


"Romi.. nanti Kita meeting sebentar, panggil bagian manajer penting saja"


"Baik Pak.. Saya kan memberitahu hal ini pada kepala manager"


Sementara Pak Herman tengah menyiapkan surat kontrak untuk PT. Jaya Abadi, Ia memberitahu jika sudah tanda tangan kontrak proyek akan segera di jalankan


"Baik Pak.. Saya yang akan segera ke Jakarta Sekarang"


"Silahkan siapa Saja Pak yang pasti Kita akan memulai jika sudah ada tanda tangan"


Pak Faris segera menuju Jakarta, Ia menitipkan perusahaan sebentar pada Sam


"Sam.. Saya harus ke Jakarta tanda tangan kontrak, Saya titip perusahaan sebentar ya"

__ADS_1


"Baik Pak.. sebisa mungkin Saya akan handle jika ada masalah"


setelah beberapa menit Pak Faris pergi, fahami justru datang ke kantor dengan keadaan mabuk, tentu saja hal ini membuat Sam marah


"Pak Aryo usir Dia, jangan di bawa di ruang UKS atau di ruangan Pak Faris"


"Tapi Pak.. biasanya Kita membawa Pak Fahmi kesana"


"Kali ini dengarkan ucapan Saya, Pak Faris menitipkan perusahaannya kepada Saya, beliau sedang ada kerjasama dengan perusahaan di Jakarta, saat ini beliau sedang tidak ada, kalau anak ini dibawa masuk ke dalam kantor, lalu tiba-tiba ada klien yang datang, bisa rusak nama perusahaan ini.." Sam menjelaskan begitu panjang lebar kepada scurity kantor


"Baik Pak.."


Mau tak mau Mereka mengikuti perintah dari Sam, setelah di bawa keluar Pak scurity menaruhnya di ruangan tunggu satpam, lalu Sam menghampiri


"Tinggalkan Kami berdua"


"Baik Pak.."


Scurity penasaran apa yang akan Sam lakukan pada Putra Pak Faris


"Heh.. Kamu itu laki-laki bukan sih? kenapa kerjaan Kamu hanya bisa mabuk-mabukan dan menghamburkan uang Orang Tua Kamu" Fahmi yang masih sempoyongan menjawab ucapan Sam


"Terserah Gue dong, duit bokap Gue kenapa Lo yang repot"


"Tapi Lo sudah merusak nama perusahaan terutama keluarga Lo, Lo pikir dengan mabuk-mabukan seperti ini Ibu Lo bangga sama Lo" Fahmi yang tadinya merek melek ketika mendengar kata Ibu Dia langsung menatap tajam mata Sam sambil terus cegukan


"Heh.. Lo gak usah ucap nama Ibu di depan Gue, sudah Gue mau ke ruangan Bokap Gue minggir Lo" Sam menghalangi jalan Fahmi


"Lo gak boleh masuk ke kantor lagi, kecuali Lo tidak dalam keadaan mabuk"


"Berani ya Lo sama Gue" tiba-tiba Fahmi memukul wajah Sam


"Sialan.. Lo memang sudah anak durhaka, plus seorang banci tau"


Merasa tak terima dengan perkataan Sam, Fahmi mencoba memukul lagi, namun kini pukulannya di halau oleh Sam, lalu Sam mendorong Fahmi ke belakang dengan kencang hingga Fahmi jatuh terbentur meja


"Lo tinggalkan kantor ini sekarang atau Lo babak belur di tangan Gue, Lo boleh kesini tapi tidak dengan keadaan mabuk ingat itu..."


Sam berbicara dengan tegas terhadap Fahmi, dan Ia meninggalkan Fahmi begitu saja


"Dasar penjilat, baru di kasih kepercayaan menjaga perusahaan sebentar saja, sudah sok berlagak jadi penguasa"


Sam tidak meladeni ucapan yang keluar dari mulut Fahmi, Ia sangat mengerti orang yang tengah mabuk memang ucapannya agak melantur, Ia pun dengan segera mengobati luka di bagian pinggir bibir yang terkena tonjokan tadi.


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Kasih selesai mengerjakan semua pekerjaannya


"Sudah selesai?"


"Sudah.. Aku bisa pergi sekarang, tadi juga sudah izin dengan Bu Alya"


"Baik.. ayo Kita berangkat" Kasih berjalan lurus melewati mobil Andi


"Aduh.. Aku lupa memberitahunya, Kasih.. ayo Kita naik mobil"


"Mobil.. ini mobil Kamu"


"Iya.. ini mobil Ku, memangnya Kamu pikir ini mobil siapa?"


Kasih terdiam bengong merasa heran, bukankah Andi sudah melepas semua fasilitas dari Pak Heri termasuk mobil juga Ia lepaskan


"Kamu bingung ya, dari mana Aku dapat membeli mobil, sedangkan uang tidak punya"


Kasih hanya menganggukkan kepalanya dengan terus bengong


"Masuk dulu di jalan nanti Aku jelaskan"


Kasih pun masuk ke dalam mobil, dan mobil ini lebih terlihat mewah dari mobil sebelumnya

__ADS_1


"Andi.. ayo cepat Kamu jelaskan semua ini sama Aku"


"Iya sayang.." Andi pun langsung menceritakan semua persiapan yang sudah Ia siapkan sebelum terjadi hal seperti ini


"Apa.. jadi Kamu punya tabungan dan mobil juga beli Rumah, tapi kenapa Kalau ada Rumah Kamu harus membeli apartemen Sam"


"Karena Rumah itu bukan disini, rumah itu berada di Wonogiri" Kasih terdiam merasa terharu akan apa yang baru saja Andi katakan


"Ya ampun Andi, jadi semua ini sudah Kamu siapkan"


"Ya.. Aku gak ingin jadi gelandangan menyusahkan Kamu dan keluarga Kamu, paling tidak Aku sudah memberikan Kamu rumah, mobil, juga punya tabungan walau gak banyak isinya"


dengan spontan Kasih memeluk Andi dengan erat dan penuh cinta, Ia jadi teringat kata-kata dari Makmun dan inilah jawabannya.


Tini merasa bingung dengan pernikahan yang semakin hari semakin tak jelas


"Kalau begini tiap hari, Aku mana mungkin bisa punya anak dari Sam, jangankan berhubungan intim, berdekatan saja Sam sepertinya sudah tidak mau lagi, Aku harus cari cara tapi apa ya"


Lalu Tini terpikirkan untuk memberikan Sam obat perangsang bagi pasangan sebelum melakukan hubungan intim


"Ya.. Aku pernah dengar obat itu sangat mujarab, Aku tidak perlu repot lagi menggoda Sam, Aku hanya tinggal menunggu reaksi obat itu, lalu Aku masuk kamar dan bergaya seksi saja, supaya memancing birahi Sam" Tini pun keluar kamar dan melihat-lihat di sekitar, teranyar Bu Fatma sedang menonton tv, lalu Ia menghampiri Bu Fatma


"Ibu.. sedang apa?" Bu Fatma menoleh


"Sedang nonton tv, tumben Kamu keluar kamar, biasanya betah di dalam" Tini merasa tersindir dengan ucapan Bu Fatma


"Aku bosan Bu, jadi ingin keluar cari angin"


"Tunggu deh.. dari pada cari angin gak ada hasilnya, lebih baik Kamu ke pasar ya, beliin Ibu bahan-bahan untuk dapur"


"Aku.. ke pasar..?"


Selama ini Tini selalu membeli bahan dapur di supermarket, dan kali ini Ibu mertuanya menyuruhnya pergi ke pasar, tentu Tini menolak


"Gak ah Bu.. Aku gak mau di pasar, Aku biasa beli di supermarket, kalau Ibu setuju Aku belinya di supermarket saja ya"


"Tini.. Sam belum gajian, Kita beli yang murah saja dulu, di pasar banyak sekali yang murah bisa nawar juga"


Tini merasa jijik jika harus belanja di pasar, tapi karena Ia ingin mencaritahu dimana obat perangsang itu di jual, Tini pun mengiakan saja permintaan Ibu mertuanya untuk ke pasar


"Ya sudah Bu, Aku akan membeli bahan dapur di pasar"


Bu Fatma pun senang Tini mau di mintai tolong


"Ini uangnya Kamu beli cabai, cabai rawit, bawah merah bawang putih, sama bumbu dapur ya"


"Baik Bu.. Aku pergi dulu ya"


Di dalam mobil, Tini harus mencari tahu info kemana tentang obat itu


"Ah.. sebaiknya Aku belanja dulu saja, setelah itu baru mencari obat itu"


Ketika Ia sampai di pasar, Tini turun dari mobil namun wajahnya seperti tak nyaman berada di pasar


"Aduh.. ngapain Aku harus kesini, kumuh.. kotor.. ikh.. sudah ah.. Aku lebih baik ke supermarket kalau kurang uang belanja pakai uang Aku saja" namun ketika hendak ingin masuk mobil, Tini mendegar percakapan seseorang yang sedang mengobrol tentang obat yang sedari tadi Ia cari, seseorang itu berbicara,


"Ampuh banget deh pokoknya, obat perangsang dari Bimo top care"


"Wah.. Gue mau dong satu, untuk nanti malam, Gue main dengan pacar Gue" merasa penasaran Tini menghampiri orang tersebut


"Ekhem..." Mereka melihat Tini dari atas hingga bawah


"Kenapa... kok Kalian melihat Aku seperti itu"


"Tidak ada apa-apa kok, ada apa ya tiba-tiba datang kesini"


Tini sebenarnya malas berurusan dengan orang-orang seperti ini, Mereka terlihat seperti anak berandalan.

__ADS_1


__ADS_2