Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
281. Harus Ditunda


__ADS_3

Perpisahan pun harus terjadi. Aska, Jingga, Abdalla, Ahlam Arfan dan juga Balqis mereka harus kembali ke Singapura. Tempat di mana Aska harus berjuang untuk menstabilkan sebuah perusahaan besar yang nantinya akan menjadi miliknya. Sebuah pengorbanan yang pastinya akan menghasilkan sebuah kebahagiaan besar. Tidak untuk sekarang tapi untuk di masa depan.


Kali ini Gavin mengantar sang paman juga sang tante serta empat sepupunya menuju bandara. Wajah mereka nampak biasa, tapi hati mereka kompak bersedih. mereka menahan tangis karena mereka tidak ingin para orang dewasa tahu bagaimana hati mereka sesungguhnya. Terutama Gavin, anak itu seperti memasang peringatan pada dirinya haram untuk menangis.


Keharuan hampir tercipta namun Aska mampu menahan diri. Aska tidak ingin kedua orang tuanya juga keluarganya bersedih lagi. Dia ingin belajar untuk membiasakan diri jauh dari keluarga.


"Adek hanya di Singapura dua jam juga sampai," ujarnya. Ayanda mengangguk, dia pun dilarang menangis oleh suaminya.


"Jangan membuat Aska semakin berat seperti memikul beban di pundak. Biarkan dia pergi, bertanggung jawab pada keluarganya. Terlahir dari keluarga kaya, bukan berarti harus dimanja. Semuanya harus bekerja keras karena tidak ada manusia yang langsung sukses. Semuanya harus berjuang dari nol."


Empat anak Aska terlihat sangat kuat. Mereka kuat menahan tangis seperti sudah terbiasa. Mereka pun menguatkan diri ketika melakukan salam perpisahan kepada kakak sepupu mereka,yakni Gavin.


"Mas, janji ... nanti Mas akan jenguk kalian di sana." Kini giliran Gavin menjanjikan kepada empat anak Aska.


Kesedihan yang mendalam Gavin rasakan ketika keempat sepupunya mulai menaiki pesawat yang sudah menjemput mereka. Lambaian tangan mereka membuat hati Gavin semakin menangis sangat keras.


.


Perlahan-lahan seiring berjalannya waktu, keluarga Aska pun mulai terbiasa tinggal di Singapura. Hari berganti Minggu, Minggu berganti san bulan berganti tahun. Tak terasa hari ini tepat empat tahun mereka berada di Singapura. Keempat anak Aska dan Jingga sudah berteriak gembira ketika wkatu mereka di Singapura sudah selesai.


"Yeay! Kita kembali ke Jakarta!" Betapa antusiasnya keempat anak Aska tersebut. Terutama Arfan.


Kebahagiaan keempat anak Aska terhenti ketika sang ayah masuk ke dalam kamar. Wajah ayahnya terlihat sangat sendu dan mereka berempat pun saling pandang. Mereka merasakan ada sesuatu hal yang telah terjadi.


"Ada apa, Yah?" tanya Abdalla, si anak yang terlahir pertama di antara ketiga saudara kembarnya.


"Maafkan, Ayah." Kalimat yang membuat hati mereka berempat berubah seketika. "Waktu Ayah di Singapura diperpanjang lagi sekitar dua sampai tiga tahun ke depan."

__ADS_1


Kompak mereka tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum kebahagiaan. Melainkan senyum kesedihan.


"Ya sudah. Kami enggak akan masukin baju-baju kami ke dalam koper." Balqis berbicara dengan sangat lembut. Juga dengan nada yang sangat lemah, menandakan bahwa dia kecewa.


"Itu perintah dari Pipo dan juga Uncle," jelasnya lagi.


Keempat anaknya pun mengangguk. Mereka tidak ingin membahas perihal kepulangan mereka ke Jakarta yang harus ditunda lagi.


"Iya, nggak apa-apa, Yah. Kami mengerti," ucap Ahlam, si anak pemurah senyum.


Arfan juga tersenyum, tapi hatinya menjerit sangat kesal. Terkadang dia menyalahkan sang kakek juga sang paman. Namun, dia juga kadang berpikir bahwa perusahaan ini nantinya akan menjadi milik ayahnya, dan juga akan turun kepada anak-anaknya. Salah satunya dirinya. Jadi dia harus mensupport ayahnya.


Ahlam dan Arfan sedang duduk di bawah pohon rindang di depan rumah Aska dan Jingga. Ahlam tengah memandangi langit biru sedangkan Arfan dia sedang bersandar di batang pohon besar. Mereka tengah melamun. Raga mereka memang di Singapura, tapi jiwa mereka ada di Jakarta.


Kok aku capek ya, Bang," keluhnya. "Sampai kapan harus terus berpura-pura seperti ini?" Sang adik mengeluh, mengeluarkan apa yang tengah dia rasakan. Ahlam tersenyum dia pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Arfan.


"Sampai Kapan?" sahutnya. "Setelah dua tahun pasti akan bertambah lagi. Kemungkinan besar kita akan tetap di sini." Arfan sudah mulai frustasi dengan sebuah janji yang tidak pernah terealisasi. Janji yang selalu ayahnya ingkari.


"Bisa jadi. Kuatkan hatimu Pang-pang." Ahlam mene menepuk pundak Arfan seraya tersenyum.


"Harus sekuat apa lagi, Bang? Kayak iron man," balasnya. Alhamdulillah tawa terbahak mendengar ucapan sang adik.


Si petakilan dan si biyang onar sudah sangat lama menahan apa yang ingin dia lakukan. Arfan menjadi orang lain karena dia tidak ingin melihat bundanya kelelahan karena ulahnya. Padahal dia ingin seperti burung yang terbang di langit sana terbang bebas melintasi awan.


"Aku ingin terbang bebas di angkasa," ejekan alam saat Ahlam bernyanyi soundtrack Doraemon.


"Hei maling-maling bumbu." Mereka pun tergelak. Ahlam dan Arfan memang satu server mereka tipe orang yang tidak mau diam dan juga suka bercanda. Beda halnya dengan sang kakak yang selalu serius dan juga dingin melihat dia tersenyum pun mungkin sangat jarang.

__ADS_1


Di dalam kamar Abdalla dan Balqis tengah belajar. Sedari tadi Balqis tidak fokus, pikirannya sedang berkelana entah ke mana. Abdalla menegurnya, Balqis tersenyum. Kemudian mengerjakan tugasnya lagi.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Abdalla. Balqis tidak menjawab hanya sorot matanya yang mengungkapkan apa yang tengah dirasakan.


Abdalla hanya bisa mengusap lembut puncak rambut sang adik. Dia memberikan ketenangan. Namun adiknya malah menangis. Memeluk tubuhnya dengan begitu erat.


"Sabar ya, Dek." Hanya kalimat itu yang mampu Abdalla katakan.


"Adek ingin bermain dengan Kak Ghea, Mas," ucapnya dengan begitu lirih. Suaranya pun berat


"Kita doakan semoga perusahaan Ayah cepat stabil dan kita bisa kembali ke sana lagi. Balqis pun mengangguk.


Empar anak-anak yang hebat dan mampu meredam perasaan mereka masing-masing. Mereka saling menguatkan agar tidak memperlihatkan kerapuhan mereka kepada kedua orang tua. Mereka tidak ingin melihat sang bunda menangis. Mereka juga tidak ingin menambah beban pikiran sang ayah. Mereka tahu ayahnya sedang berjuang untuk masa depan mereka.


Mereka juga sering melihat ibunya keluar kamar dengan mata yang merah. Mereka tidak bertanya, tapi mereka tahu apa yang terjadi dengan hati sang Bunda. Dari situlah mereka berempat berjanji tidak akan pernah membuat Bunda mereka kerepotan mengurus mereka berempat. Mereka harus saling menutupi keburukan mereka satu sama lain. Mereka harus saling melindungi, juga mereka harus saling menjaga. Apalagi Balqis adalah anak perempuan satu-satunya. Ketiga kakaknya sangat menjaga Balqis.


Pernah sekali Balqis dibully karena gambar Balqis teramat buruk hingga adiknya menangis. Arfan si biang onar yang maju paling depan untuk melindungi adiknya. Dia mendorong tubuh anak laki-laki yang membully Balqis hingga kening anak itu mengeluarkan darah, dan harus dijahit di rumah sakit. Ketika guru memanggil Ayah dan bundanya, Arfan menghadapi itu dengan sangat berani. Ketika gurunya menjelaskan apa kesalahan Arfan dia mengakui. Namun, dia juga berani untuk membeberkan apa alasannya mendorong tubuh anak laki-laki itu. Anak itu menjelaskan secara gamblang dan sesuai apa yang terjadi. Tidak menambahkan, ataupun mengurangi. Arfan pun tidak masalah jikalau tindakannya akan membuat kedua orang tuanya marah.


"Maaf." Arfan menundukkan kepala ketika kedua orang tuanya keluar dari ruang guru.


Ini kali pertama kedua orang tuanya dipanggil pihak sekolah. Sudah pasti kedua orang tuanya akan marah. Apalagi melihat wajah sang ayah yang terlihat begitu lelah.


"Ayah dan Bunda boleh pukul Kakak. Boleh marahi, Kakak. Kakak akan terima. Kakak salah, sudah buat anak itu celaka."


"Siapa yang mengajarkan kamu nakal?" suara sang ayah sudah terdengar sangat marah.


"Tidak ada, Yah. Kakak hanya ingin melindungi Aqis. Kakak tidak ingin melihat adik kakak dibully. Apalagi sampai menangis. Kakak akan berada di barisan paling depan untuk membelanya. Apapun resikonya akan Kakak hadapi karena ayah dan bunda pernah bilang, sebagai seorang kakak harus bisa melindungi adik-adiknya. Itulah yang kakak lakukan kepada Aqis."

__ADS_1


__ADS_2