Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
206. Buket Bunga


__ADS_3

Boleh minta komennya gak? Gratis kok.


...****************...


Suasana haru biru melebur karena ucapan seorang Gavin Agha Wiguna. Malah sekarang mereka tertawa ceria.


"Sebenarnya kami bertiga juga punya hadiah untuk Engkong dan juga Aki," ujar Aleena.


Gio dan Rion saling tatap. Dahi mereka berkerut. Ada sedikit rasa tidak percaya yang mereka rasakan. Namun, rasa tidak percaya itu menguar karena Aleena, Aleesa dan Aleeya membawakan sebuah kado untuk mereka berdua. Sebuah kado berukuran cukup besar seperti berisi figura.


"Ini untuk Engkong," kata Aleeya sambil menyerahkan hadiah itu kepada Rion.


"Ini juga untuk Aki," ujar Aleesa dengan senyum manisnya.


"Makasih," sahut Gio dengan wajah gembira.


Aleena sudah membawa hadiah yang sama dan hadiah itu dia serahkan kepada ayahnya.


"Ada juga hadiah untuk Opa." Suara Aleena sudah melemah. Dia tertunduk lesu.


Radit segera memeluk tubuh Aleena. Dia sangat tahu jikalau Aleena sangat dekat dengan Addhitama. Ayah dan anak ini tengah merasakan rindu yang mendalam pada sosok yang sangat mereka sayangi.


"Tolong ambil hadiah ini, Ba. Simpanlah di rumah Opa." Radit mengangguk mendengar ucapan dari Aleena.


"Boleh Engkong buka?" Saking penasarannya Rion menjelma layaknya anak kecil. Ketiga cucunya pun mengangguk memperbolehkannya.

__ADS_1


Terdengar suara robekan kertas. Rion dan Gio sedang membuka hadiah dari ketiga cucunya. Mereka berdua tak percaya dengan apa yang mereka berdua terima. Sebuah lukisan indah dan dibawahnya tertera nama Aleesa. Gambar Gio tengah bersama mereka bertiga.


"Cantik sekali," puji Gio tanpa berdusta. Aleesa tersenyum seraya menundukkan kepalanya untuk sejenak.


Rion tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang dia lihat di depan matanya. Sungguh lukisan terindah yang pernah dia lihat.


"Engkong suka?" Aleeya takut jika sang kakek tidak suka.


"Sangat suka," jawabnya tanpa berpaling sedikit pun dari lukisan yang Aleesa buat.


"Itu juga isunya lukisan untuk Opa," tutur Aleesa. "Hanya saja-"


Mendengar ucapan Aleesa yang terdengar pilu membuat Radit penasaran. Dia segera membuka hadiah dari Aleesa tersebut, dan matanya melebar ketika melihat apa yang dia terima. Lukisan indah gambar ayahnya dengan ketiga putranya. Hati Radit sedih melihatnya. Apalagi, di sana mereka terlihat tengah tertawa bersama.


Radit tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putri. Dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada sang putri tercinta.


"Makasih, Kakak Sa."


Aleesa ikut bahagia mendengarnya. Dia memeluk tubuh ayahnya dan diikuti oleh kedua putrinya yang lain.


"Tetap kompak seperti ini, ya," ujar Radit. "Jangan bertengkar apalagi menyangkut masalah laki-laki."


Sebuah peringatan sejak dini yang Radit berikan. Ketika mereka beranjak remaja sudah pasti akan mengalami pubertas. Di mana mereka akan menyukai lawan jenisnya. Satu hal yang Radit takutkan jika ada di antara anaknya mencintai laki-laki yang sama.


"Mas juga punya hadiah untuk Engkong dan juga Pipo," ujar Gavin.

__ADS_1


Anak kecil berusia empat tahun itu segera berlari kembali ke dalam rumah. Dia kembali dengan membawa dua buket bunga. Rion sudah senang karena sudah pasti isi di dalam buket itu sama seperti Aksara.


"Pantesan dari tadi tangan gua gatal," bisik Rion kepada Gio. Sang besan dari Rion hanya menggelengkan kepala. Semakin tua kelakuannya semakin parah saja.


"Ini buat Pipo." Sang cucu sengaja memberikan buket bunga itu dalam keadaan terbalik. Jadi, tidak bisa dilihat oleh kakeknya.


"Ini buat Engkong." Anak itu memberikan buket bunga dengan cara yang sama kepada sang pipo.


"Boleh Engkong lihat?" Sebuah anggukan menjadi jawaban, dengan cepat dia membalikkan buket bunga tersebut dan matanya melebar ketika melihat uang berwarna abu-abu yang Gavin rangkai menjadi buket bunga yang indah.


"Makasih, Mas." Gio mengusap lembut ujung kepala Gavin dan disambut oleh senyuman yang sangat manis di wajahnya.


"Lu dapat apaan?" Rion tak segan mengambil buket bunga yang Gio pegang.


Kedua alisnya menukik sangat tajam ketika melihat lembaran uang yang Gavin berikan untuk sang kakek.


"Kenapa beda?" Rion mencoba memprotes. Pasalnya Gio diberikan lembaran uang berwarna merah. Sedangkan dia beri lembaran uang berwarna abu.


"Ya bedalah," sahut Gavin santai. "Pipo itu loyal sama Mas. Setiap ngasih uang jajan pasti uang lembalan melah," jelasnya. "Benalkan Pipo?" tanya Gavin kepada sang kakek. Gio pun mengangguk.


"Jadi, kalau Engkong kamu sukanya ngasih yang dua ribuan?" sergah Askara.


"Iya, katanya cukup buat beli pelmen kaki," jawab Gavin. "Engkong Pelit!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2