Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
272. Tidak Mau Mengantar


__ADS_3

Larangan Gavin tak membuat Aska membatalkan kepergiannya. Ini adalah tugas yang harus dia emban. Membuktikan kepada semua orang dia pasti bisa. Dia tidak ingin megecewakan ayah serta keluarganya.


"Jangan pergi, Uncle. Jangan pergi!" Kalimat itu lagi yang diucapkan oleh Gavin. Namun, Aska hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Uncle harus pergi, Mas." Anak itu berlari menjauhi Aska dan membuat Aksa mengejarnya.


"Mas," panggil Aksa.


"Mas ingin pulang." Anak itu terduduk di undakan anak tangga teras rumah sang kakek. Suaranya terdengar sangat pilu.


Keinginan Gavin Aksa turuti, Anak itu masih saja tetap terdiam. Aksa dan Riana terus mengajak bicara. Namun, mulut anak itu seakan tertutup rapat.


"Mas," panggil sang ibu ketika mereka sudah ada imsi kamar. Riana sudah mengusap lembut rambut Gavin. Anak itu seakan sudah tahu ibunya akan membahas apa.


"Mas mau tidur, Mom. Good night. Riana menatap ke arah Aksa yang juga ada di kamar sang putra.


Aksa hanya berbicara melalui sorot matanya. Meminta sang istri untuk keluar dari kamar Gavin.


"Bagaimana ini, Dad?" tanya Riana ketika keluar dari kamar Gabin. Aksa menghela napas kasar.


"Berat untuk Empin. Bagaimanapun Aska adalah ayah kedua untuknya. Ditambah mereka berdua sangat dekat. Jadi, biarkan Empin sendiri dulu. Kita tidak bisa memaksa dia untuk bisa menerima."


Apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Sulit untuk putranya itu menerima keputusan dari sang kakek. Dia juga sangat tahu bagaimana kedekatan Gavin dengan Aska yang sesungguhnya.


Di dalam kamar yang hanya menyisakan lampu temaram, seorang bocah duduk di tepian tempat tidur. Kepalanya menunduk dalam. Air matanya mulai menetes.


"Kenapa Uncle harus pergi?" Anak itu tengah bertanya pada diri sendiri.


"Uncle tetap harus pergi, Mas. Gak bisa ditunda ataupun dibatalkan. Uncle juga ingin seperti Daddy kamu dan juga Pipo. Uncle juga ingin kayak kamu jadi anak Sultan."


Gavin teringat dengan apa yang dikatakan oleh sang paman. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak ingin Aska pergi. Dia masih ingin bermain bersama si kuartet. Memarahi Ahlam, mengikat Arfan dan juga menjahili Abdalla yang selalu diam.


"Mas di sini sama siapa, Uncle? Mas cuma berdua doang sama Adek." Anak itu menangis sesenggukan. Betapa dia tidak ingin berpisah dengan empat sepupunya. Kehadiran si kuartet membawa suasan sendiri untuk Gavin.


.


Pagi hari, Riana sudah masuk ke dalam kamar Gavin. Putranya sudah terbangun, tapi masih memakai piyama yang semalam. Biasanya dia sudah tampan di jam segini.


"Mas, kenapa belum mandi? Kita 'kan mau ke Bandara. Mau antar uncle." Gavin menggeleng.

__ADS_1


"Mas gak mau ikut." Riana terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Kenapa?" Lagi-lagi anak itu membungkam mulutnya. Riana pun terpaksa mengangguk ketika Gavin tak kunjung membuka suaea. Dia tidak boleh memaksa.


Turun ke lantai bawah di mana sang suami sudah bersama Ghea di meja makan.


"Mas mana?" tanya Aksara.


"Dia belum mandi." Aksa nampak terkejut mendengar laporan dari sang istri. "Dia juga gak mau ikut antar Kak Aska," lanjutnya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska. Dia pun beranjak dari meja makan menghampiri putra pertamanya di kamar


"Mas," panggil Aksara.


Putranya menoleh dengan wajah yang sangat sendu. Aksa menghampiri Gavin dan duduk tepat di sampingnya.


"Mandi, ya. Kita antar Uncle ke Bandara." Gavin pun menggeleng.


"Kenapa?" Aksa bertanya dengan sangat lembut.


"Mas gak mau lihat Uncle. Mas gak mau lihat Anteu dan Mas--"


Aksa memeluk tubuh putranya. Tangis Gavin pun pecah, tangannya memeluk erat pinggang sang ayah. Gavin tidak akan pernah bisa mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan kepada orang lain. Hanya ayahnya yang menjadi tempatnya untuk mengadu.


"Pipo tega," ujar Gavin beban suara bergetar. Aksa malah tersenyum. Dia mengusap lembut punggung putraa pertama.


"Pipo tidak tega. Pipo hanya menjalankan sebuah amanat yang kakek buyut berikan sebelum kakek buyut meninggal." Aksa mulai memberikan penjelasan. Dia yakin anaknya mampu mengerti.


"Lihat Daddy!" titahnya.


Gavin melonggarkan pelukannya dan menatap ke arah sang ayah. Senyum penuh kehangatan yang ayahnya berikan.


"Ketika Mas besar nanti, pasti Mas mengalami apa yang tengah dihadapi oleh Uncle sekarang," jelasnya. "Daddy akan menyuruh Mas belajar di luar negeri, meninggalkan Mommy, Daddy dan Adek. Apa perintah Daddy itu akan Mas tolak?" Anak itu berpikir sejenak. Tak lama, dia menggeleng sebagai jawaban.


"Gak boleh nolak perintah orang tua," tambahnya.


"Kenapa?"


"Daddy nyuruh Mas untuk belajar di luar negeri. Jadi, Mas gak boleh nolak." Anak itu berkata dengan begitu lemah. "Ketika orang tua menyuruh dalam hal kebaikan, anak manapun tidak boleh membangkang."

__ADS_1


Pesan yang selalu Aksa berikan kepada Gavin. Aksa tidak memaksa anaknya menjadi dewasa sebelum waktunya, tidak. Dia hanya ingin anaknya paham dengan realita yang ada.


"Kalau menurut, Mas. Ketika Pipo menyuruh Uncle pergi ke Singapura untuk mengurus perusahaan kakek buyut. Apakah Uncle harus Nolak?" Lagi-lagi anak itu menggeleng.


"Tapi, kenapa harus pergi semuanya? Kalau Uncle, Anteu dan si kuamplet pergi mereka akan jarang ke sini." Anak itu terisak lagi.


"Jika, Daddy harus megurus perusahaan yang ada di Australia selama empat tahun. Apakah Mommy mau ditinggal Daddy? Apakah Mas mau ditinggal Daddy? Apakah Adek juga mau ditinggal Daddy?" Anak itu Menggeleng lagi.


"Jadi--"


"Kalau Daddy pergi jauh dalam waktu yang lama, Mommy, Mas dan Adek harus ikut," jawabnya. Aksa mengusap rambut sang putra. Betapa jeniusnya anaknya itu.


"Itulah yang dilakukan Anteu. Anteu gak mau pisah lama sama Uncle. Si kuartet juga pasti gak mau ditinggal ayahnya lama-lama. Maka dari itu, mereka semua ikut dan tinggal untuk empat tahun ke depan."


"Mas gak ada teman," keluhnya.


"Kak Rangga ada. Mas bisa main bersama Kak Rangga. Mas juga bisa mengunjungi si kuartet ke Singapura ketika Daddy libur."


Namun, wajah anak itu masih muram. Hatinya sulit untuk berpisah jauh dnegan sang paman. Hatinya tidak bisa jauh dari empat sepupunya yang ramai.


"Kita harus mengantar Uncle. Uncle dan Anteu pasti sedih kalau gak diantar Mas. Mas tetap anak pertama untuk Uncle. Malah, ketika Mas ada di perut Mommy, Uncle lah yang selalu memanjakan Mas karena pada waktu itu Daddy sedang tugas di Aussie. Jadi, Mas gak boleh ngecewain Uncle."


Anak itu menimbang-nimbang. Akhirnya dia mengangguk dan membuat Aksa tersenyum lebar.


"Sekarang Mas mandi, ya. Daddy dan Mommy tunggu Mas di bawah." Anak itupun mengangguk.


Riana masih menunggu suaminya turun ke lantai bawah. Ketika langkah kalau terdengar Riana egera menghampiri Aksa.


"Bagaimana?"


"Mau." Ada kelegaan di hati Riana.


Di sepanjang perjalanan, Gavin masih saja terdiam. Sikap ramainya tidak dia tunjukkan. Seakan dia masih menyimpan sedih yang mendalam. Mobil pun berbelok masuk ke halaman rumah besar milik Giondra. Mobil mewah yang dibawa kelaurga Gio sudah terparkir di halaman.


"Empin!" Aska berlari ke arah sang keponakan. Dia memeluk tubuh Gavin. Namun, tidak ada balasan dari anak itu.


Aska pun melonggarkan pelukannya. Dia menatap sendu ke arah Gavin. "Uncle janji, Uncle akan sering-sering ke sini nengokin Empin dan Adek. Terus kita beli telur gulung yang banyak."


"Huwa!" Tangis Gavin pun pecah. Semua anggota keluarga merasakan betapa dekatnya Gavin dan Aska hingga dua laki-laki beda usia itu seakan sulit untuk meninggalkan satu sama lain.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2