
Keharuan Jingga dan Ayanda melebur tatkala terdengar teriakan dari tiga Tarzan cilik. Siapa lagi jika bukan Aleeya, Aleesa dan Aleena. Mereka baru pulang sekolah karena ada tambahan pelajaran. Tidak biasanya mereka pulang ke rumah besar ini. Ayanda segera keluar dari kamar Jingga dan berteriak ke arah si triplets yang ada di lantai bawah.
"Mimo di atas."
Rumah besar itu mendadak seperti hutan di mana penghuninya berteriak bagai Tarzan. Ketiga anak Echa berlari menaiki anak tangga dan berhambur memeluk tubuh sang nenek. Wajah riang mereka nampak terlihat jelas.
"Tumben ke sini?" Ayanda curiga bahwa ketiga anak ini disuruh oleh Askara untuk menghibur sang Tante.
"Pengen makan telur buatan Mimo " jawab manja Aleeya.
"Iya, Mimo. Kakak Sa juga rindu telur mata sapi buatan Mimo." Aleesa sudah bergelayut manja di tangan Ayanda.
Aleena melongokkan kepalanya ke dalam kamar sang Tante. Jingga tersenyum ke arah Aleena dan mampu Aleena sedikit mundur. Dia takut jika akan terjadi penganiayaan secara halus lagi. Apalagi, rambut mereka baru sedikit panjang.
"Maafkan Kakak Na, Kak Jing-jing. Lebih baik Kakak Na kabur."
Jingga malah tertawa melihat tingkah konyol keponakan dari Aska itu. Di kehamilan kali ini dia senang sekali mengerjai empat keponakannya yang lucu-lucu. Semakin mereka murka, Jingga semakin bahagia.
"Kalian punya dendam apa sih ke Kakak triplets?" Jingga berkata sembari mengusap lembut perutnya yang sudah membukit. Anak-anaknya senang sekali mengerjai para sepupu merek.
Mereka berempat menuju dapur. Ketiga anak Echa dan Radit itu segera memeriksa stok telur yang ada di dapur. Mereka tersenyum ketika melihat banyak telur omega yang berjejer di lemari pendingin. Belum lagi di tempat khusus penyimpanan telur.
"Emangnya di rumah kalian Bubu gak stok telur?" tanya Ayanda yang sudah menghidupkan kompor.
"Ada," jawab mereka bertiga serentak.
Ayanda menatap ke arah tiga cucunya tersebut. Meminta penjelasan lebih lagi. Namun, ketiga anak itu seolah acuh dan tidak ada alasan lagi. Merekam sudah berkata dengan sangkat jujue. Di sisi lain dia juga merasa senang karena ketiga cucunya hadir di rumahnya. Menambah keramaian yang ada.
"Mimo, kerupuk udang ada gak?" tanya Aleesa.
"Kakak Na mau kerupuk Bangka."
"Mbak, tolong gorengkan kerupuk udang," titah Nyonya besar. Kerupuk adalah makanan pendamping yang harus ada ketika si triplets datang ke rumah ini.
"Mimo, gorengin nugget sama sosis juga, ya," pinta Aleesa.
__ADS_1
Bukannya marah Ayanda malah tertawa. Beginilah ketiga cucunya. Mereka adalah anak-anak yang makannya mudah. Hanya pakai telur dan kecap pun jadi ditambah kerupuk.
Masing-masing dari mereka menginginkan tiga butir telur mata sapi. Namanya keluarga kaya, mau telur mahal atau murah tidak pernah memperdulikan harga. Asal ketiga cucunya senang itu sudah lebih dari cukup.
Satu botol kecap malika sudah ada di hadapan mereka bertiga. Saos sambal merk XYZ sudah ada juga. Tidak ketinggalan saos tomat merk belibus tersedia di atas meja. Kerupuk Bangka sudah Aleena nikmati, begitu juga kerupuk udang yang sudah Aleeya cemili.
Sosis kezzeler kesukaan mereka sudah tersedia. Begitu juga dengan nuggetnya. Lauk utamanya pun sudah berada di atas piring. Mereka bertiga sudah menelan air liur. Tidak sabar ingin segera mengeksekusi.
Menu sederhana yang paling si triplets sukai. Mereka membubuhkan kecap di atas nasi juga telur. Kemudian, diaduk dan segera mereka lahap.
Jingga yang turun karena lapar ikut menelan saliva melihat sang keponakan makan dengan begitu enaknya walaupun hanya dengan telur, sosis, nugget dan kecap. Ayanda yang memperhatikan menantunya itu segera bertanya seraya mengusap lembut pundak Jingga.
"Kamu mau juga?" Jingga menganggukkan kepalanya tanpa menoleh.
"Telurnya berapa?" tanya mertuanya lagi.
"Dua, tapi didadar ya, Mom. Kasih daun bawang yang banyak." Jingga berkata dengan riang gembira.
Ayanda menggelengkan kepalanya. Ternyata calon anak-anak Aska pecinta telur juga sama seperti si triplets.
"Goreng sendiri," ucap Aleeya yang sudah menarik piring berisi sosis. Aleesa pun ikut menarik piring berisi nugget, dan Aleena menarik bungkusan keripik Bangka juga toples berisi kerupuk udang.
Ayanda tertawa melihat tingkah ketiga cucunya. Dia sangat terhibur dengan melihat tingkah Jingga layaknya anak kecil.
"Semoga kalian sehat terus di dalam perut ibu kalian. Mimo ingin melihat kalian." Sebuah doa yang dipanjatkan oleh Ayanda untuk cucu-cucunya yang masih berada di dalam perut.
Jingga mencoba makan ala si triplets. Dia teringat akan masa kecilnya yang sering sekali memakan telur dadar dengan kecap manis. Rasanya teramat nikmat walaupun hanya makanan sederhana seperti itu.
Ibu hamil itupun makan dengan begitu lahapnya. Selang lima menit nasi di piring sudah tak tersisa. Begitu juga dengan telurnya. Jingga hendak membuat kembali telur dadar. Namun, dilarang oleh sang mertua.
"Biar Mommy yang buatkan." Jingga pun tersenyum bahagia.
Dia tidak tinggal diam, dia mengambil sosis kezzeler dan memotong serong. Ayanda melirik ke arah Jingga. "Mau digoreng juga?" Jingga menggeleng.
"Mau aku tumis sama telur buat teman telur dadarnya." Ayanda malah menggelengkan kepala. Kenapa keluarganya kini seperti keluarga telur?
__ADS_1
Jingga masih berkutat dengan wajah dan spatula sedangkan sang mertua sudah selesai dengan dadar telur pesanan Jingga.
"Kak Jing-jing, wanginya harum." Jingga mencebikkan bibirnya.
Kemudian, dia menoleh dan menatap ke arah ketiga keponakannya. "Gak boleh minta."
"PELIT!"
Ayanda malah terbahak mendengar ucapan dari Jingga tersebut. Jingga dan si triplets malah menjelma menjadi musuh bebuyutan. Namun, dia malah terhibur dengan kelakuan menantu juga cucunya. Ayanda maupun si triplets tengah memperhatikan Jingga menikmati makanannya. Mereka kompak menggelengkan kepala ketika melihat Jingga makan. Seperti orang kesetanan.
"Rakus banget," ujar Aleeya.
"Wajarlah, empat mulut yang ada di di dalam kandungannya," timpal Aleesa.
Suara deru mesin terdengar di luar. Ayanda melihat ke arah jam dinding. Tidak mungkin Aska dan suaminya pulang jam segini.
"Assalamualikum."
Suara anak laki-laki membuat Ayanda segera keluar dari dapur. Dia menyambut Gavin yang baru saja datang. Dia mencari sosok adiknya juga ibunya. Namun, Gavin menggeleng. Dia seolah tahu apa yang neneknya cari.
"Mas datang sendili." Ayanda tersenyum dan mengusap lembut rambut Gavin.
"Mas ingin makan pakai telul. Telulnya tiga."
Ayanda malah terbahak mendengar penuturan dari Gavin. Cucu-cucunya kali ini sangatlah lucu. Bisa begitu kompak menginginkan telur.
"Kebetulan, di dapur ada Kakak kembar tiga."
Anak itu terlihat bahagia dan segera menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sang Tante berada di meja makan itu juga. Jingga nampak sangat bahagia melihat Gavin. Dia pun menghampiri Gavin dan sontak Gavin berlari menjauh.
"Pait, pait, pait!"
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1